
Teknologi Informasi SEBAGAI ALAT BANTU
bukan agama atau tuhan baru
oleh Fath Diraja
Penggunaan teknologi informasi seperti GIS untuk pemilihan letak (site selection) dan evaluasi kesesuaian lahan. Teknologi menjadi tools salah satunya untuk tranfer informasi. Informasi kemudian menjadi barang ekonomi (komodity kapitalis ) yang laris manis dipakai untuk menurunkan sejumlah alternatif dalam pengambilan keputusan.
Alternatif ini kemudian diberikan kepada para pengambil keputusan (decision makers) pemerintahan dan swasta untuk dipakai sebagai acuan perencanaan institusi. Berbagai alternatif itu dibuat melaui berbagai model analisys, melalui proses yang murni, teknis, profesional dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan beretika.
Informasi yg ditrafer kemudian dikembangkan tanpa batas, logis, serta melekat resiko didalamnya.
Para pengguna teknologi informasi pun dibius dan menggiring untuk menentukan pilihan yang paling masuk akal dengan risiko yang jelas pula (rasional) dan melupakan dogma. Manusiapun lahir menjadi sekuler dan tak percaya dogma.
Pada sistem seperti ini, terdapat banyak kelompok aliran pemikiran, berbagai grouf aktivitas dan analisis rasio berkembang pesar. Proses pengelolaan data mulai dari pemasukan, pemrosesan, hingga pencetakan keluaran berupa informasi memberikan minset pemikiran manusia menjadi mekanistik anatomik. Proses perbandingan informasi pun dilakukan, melahirkan pemikiran yang pragmatis menguntungkan dalam jangka pendek. Operasi tumpang susun (overlay) informasi merupakan metode yang dominan karena mampu menggabungkan banyak variabel untuk memberikan gambaran yang holistik.
Contohnya multivariabel spasial dalam teknologi perencanaan ruang, menentukan lokasi optimal bagi suatu peruntukan dengan memilih serangkaian variabel yang dipandang berpengaruh besar bagi layak- tidaknya lokasi tersebut. Variabel-variabel itu dapat dikelompokkan menjadi variabel pendukung kelayakan sosial-ekonomi, kelayakan dan fisik. Setiap variabel diberi skor, yang kemudian watak ini membuat manusia menjadi materialis hitung hitungan.
Namun semua hasil dari teknologi informasi yang bertujuan mulia disalahtafsirkan oleh kita. Sebagai contoh hp telah menjadi tuhan baru bagi kita, televisi juga menjadi dewa baru bagi ibu rumah tangga. Internet menjadi kitab baru baru para abg, ya semua ingin menjadi tuhan dan dijadikan tuhan. Lalu kita kemudian munafik dan mempersalahkan agama baru ahmadiyah yang keliru tetapi tak sekeliru kita mempertuhankan dewa teknologi dan agama informasi.
Meskipun demikian teknologi informasi tak bersalah, ia adalah pisau dan kita yang salah menggunakan dan memperlakukan pisau itu. Tinggal kemudian mari kita merevisi pola pikir kita dan menyakini hanya ada satu tuhan dan satu agama milik kita. Agama dan tuhan boleh banyak, tetapi kita harus mampu memelih mana tuhan dan agama boneka mana yang hakiki.
Thans for you..