Selasa, 24 Juni 2008

pesan terakhir aa

JALANAN G ELORA RA_SA

Karya : Si Rakus Ilmu

aku tak tau rasa ini apa
bingung kala akan mati..

aku ingin berumah di langit
tak kembali ke bumi

aku ingin hayut di air
tak diendapkan lumpur

aku ingin dilalap api
tak dijadikan arang

aku ingin diterbangkan angin
tak dijadikan layang

aku ingin bersayap burung
tak ingin patah hati

aku ingin berenang di laut
tak ingin menepi

aku ingin terus memanjat
tak ingin ke masa lalu

aku ingin melangkah cepat
tak ingin berhenti napas

aku ingin terus bermimpi
tak ingin terbangun

aku ingin terus beride
tak ingin gila cinta

aku ingin hirup bahagia
tak ingin mati rasa

aku ingin meminang salju
tak ingin lepaskan cicin

aku ingin semua
tak satupun tersisa

tunggu saja...
walau mungkin itu kecil

>>>> aku hanya ingin... fakta itu bingung<<<<<

Senin, 23 Juni 2008

the kandidat

MERENUNGKAN MAKNA KEKERINGAN DAN BANJIR

“Sebuah Kritikan Terhadap Pengelolaan Air”

Oleh : aa... the kandidat

Abstrak

Indonesia adalah salah satu negara di khatulistiwa yang unik dan berwajah lembab sehingga disebut sebagai hutan tropis, paru-paru dunia yang basah dengan air di udara, namun sebagian pulau pada sub-bagian selatan terkadang batuk kering karena awan disapu oleh angin dari samudra Indonesia yang kering. Curah hujan yang tinggi pada sebagian tahun menyebabkan kita tertawa dalam banjir dan terik katulistiwa pada sebagian sisa tahun menyebabkan kita menangis dengan kekeringan. Tradisi banjir dan kering yang silih berganti, tak membuat kita sadar, betapa kita hoby, enjoy dan cuek dengan banjir dan kering, bahkan sebagian kita tak mau peduli dengan sebuah makna air sebagai sumber keindahan hidup bila dikelola dengan baik.

Pakar air tanah UGM, Dr. Heru mengatakan bahwa persoalan air pada masa yang akan datang adalah bukan pada hakekat masalah alamiah air, tetapi pada manajemen pengelolaannya, masalah air bukan pada jumlahnya karena jumlah air relatif tetap dalam siklus hidrologi, tetapi yang lebih penting adalah masalah kualitas dan distribusinya. Berangkat dari pernyataan itu, perlu kiranya kita renungkan banjir dan kekeringan dalam sebuh pemikiran yang filosofis akan makna kedua peristiwa itu sebagai proses belajar dalam realitas hari ini untuk masa depan.

Paradigma pengelolaan air bukan hanya holistik antara hulu-hilir, air permukaan-air tanah, antara sektor-sektor lainnya, antara wilayah-wilayah tetangga, tetapi air adalah molekul yang bisa berwujud cair, padat dan gas. Perlu sebuah keseimbangan dalam pengelolaan air bukan hanya pada pengelolaan distribusi tetapi juga produksi (daerah resapan), bukan hanya kuantitas tetapi juga kualitas dan yang paling baru kita harus pikirkan memadukan antara drainase untuk mengeringkan kota dan irigasi untuk mengairi/membasahi tanah sawah.

Pengelolaan irigasi dengan konsep bendung (menahan air sungai) atau bendungan (menampung air) yang kemudian disalurkan melalui saluran induk, saluran sekunder, tersier ( 1 bok tersier + 300 ha) dan kwarter ke petak sawah harus dilihat sebagai sebuah mekanisme yang kompleks. Sebuah debit bendung misalnya dengan debit pada pintu bendung 10 m3 tidak selalu dapat mengairi sawah seluas 10.000 ha dengan asumsi 1 lt/dt/ha setara 1 m3 untuk 1000 ha, banyak faktor internal dan eksternal yang terjadi. Pada dearah hulu terjadi perubahan curah hujan dan terjadi gangguan pada daerah resapan, begitu pula sepanjang saluran banyak terjadi illegal flow baik sengaja melalui pencurian air maupun secara tidak sengaja oleh infiltrasi akibat tanah pasir atau batuan sedimen yang porous, serta pada daerah persawahan yang juga tidak lepas dari mekanisme evapotranpirasi maupun proses –proses lainnya seperti jenis tanah dan tanaman yang berbeda membutuhkan model pengelolaan yang berbeda.

Pengelolaan draenase juga mengalami kendala yang juga tidak sederhana, pada daerah sumber, air draenase mengalami gangguan kualitas yang beragam baik secara kimia, fisika dan biologi, air draenase tersebut mengalami penurunan kualitas yang hampir tidak seindah air lagi. Pada saluran drainase juga terjadi sedimentasi yang sangat hebat, melebihi laju sedimentasi pada saluran irigasi akibat erosi yang misalnya mencapai lebih dari 20 ton/ha/tahun atau sekitar setinggi > 0,8cm/tahun (asumsi luasan 1 ha 100mx100m dengan BD 1,2) yang kemudian terakumulasi di saluran yang tentu saja lebih tebal dan besar.

Menurut pakar konservasi air Dr. Agnes, pengelolaan erosi tanah dan konservasi air adalah bagaimana kita memproteksi atau mengurangi terjadinya dispersi, transportasi dan sedimentasi. Berat jenis air 1gr/cm3 lebih rendah bila dibandingkan tanah 1,2 gr/cm3 artinya harusnya air tidak menggerus tanah, tetapi air meresap ke dalam pori tanah melalui tutupan tajuk yang rapat untuk mencegah dispersi, walaupun pada akhirnya run off harus ada. Pengelolaan transportasi bisa diminimalkan bila kelerengan ideal irigasi 3-5% dan drainase 5-10% dipertahankan, bahkan mungkin akan lebih baik bila kemiringan itu tidak homogen tetapi berjenjang. Sedangkan pengelolaan sedimentasi adalah persoalan alamiah yang harusnya dikelola dimana mestinya sedimentasi itu terakumulasi, bila pada sistem irigasi mungkin akan subur bila sedimentasi itu di sawah sebagai pupuk dan pada sistem draenase, sedimentasi akan baik pada daerah rawa kota yang secara alamiah akan mengurangi biaya timbunan pada pembangunan sebuah infrastruktur kota di daerah lembah atau rawa.

Pada sistem drainase yang memiliki sedimentasi besar dengan kulitas air yang rendah ini diperparah oleh lemahnya desain drainase. Idealnya sistem darainase serupa dengan desain irigasi dengan arah terbalik. Desain drenase harusnya dirancang mulai dari saluran kwarter sekeliling rumah, saluran tersier di depan rumah, saluran sekunder pada sebuah kompleks perumahan dan saluran induk menuju titik buangan berupa sungai, laut atau danau untuk resapan kota. Hitungan produksi air domestik kota 200lt/orang/hari harusnya mampu dijadikan rujukan sebuah ukuran ideal sistem draenase bebas banjir.

Merenungkan kondisi diatas ada beberapa saran dalam rangka megurangi potensi kekeringan dan banjir. Pada pola pengelolaan irigasi akan aman bila dilakukan perancangan modeling pola distribusi air dengan berbagai type pola tanam dan jenis tanaman, dengan mempertimbangkan data debit dalam time series minimal 10 tahunan, dan mempertimbangkan porositas saluran akibat kondisi tanah dan batuan serta faktor lainnya, serta mempertimbangkan kondisi, struktur dan topografi persawahan.
Sedangkan pada sistem draenase kota yang bebas banjir, perlu dilakukan desain saluran yang berjenjang dengan ukuran sesuai debit puncak air buangan ditambah pertimbangan curah hujan maksimum. Hal ini perlu didukung oleh kebijakan penggunaan atap rumah yang menyerap air yang memungkinkan penguapan maksimum air diudara, perlu adanya halaman untuk resapan. Memperbesar infiltrasi melalui penggunaan paping bloc atau rumput dan menghindari adanya rabat beton. Memperbesar perkolasi air tanah melalalui sumur resapan, kebijakan satu rumah satu pohon. Keharusan saluran draenase rumah dan pemukiman serta pemeliharaan drainase, khususnya draenase tertutup. Membangun draenase sekunder dan induk sejajar sungai serta membangun danau resapan dan hutan kota. Konsep kota besar tanpa sekat zona resapan adalah keliru, kita mestinya memimpikan setiap zona kota dikelilingi hutan kota.

Pernyataan terkahir saya adalah memimpikan sebuah keterpaduan irigasi dan draenase. Kota bisa dijadikan sebuah mata air baru untuk irigasi. Setiap rumah adalah pohon yang meneteskan air. Bila ini dikelola maka air draenase dari pemukiman kota akan mampu melahirkan sebuah bendungan dari mata air domestik penduduk, bayangkan saja jika penduduk sebuah kota 1 jt ha, maka produksi air buangan draenase mencapai 200 jt liter/hari, belum ditambah air hujan dalam areal kota.
Mari kita merenungkan sebuah ide tentang gunung adalah menara air, puncak gunung adalah sebuah resapan hujan, dimana gunung menahan awan lalu jadilah hujan kemudian hujan masuk ke hutan. Mata air muncul dipinggir hutan, lalu pemukiman dibangun dilereng dan sawah dibangun di wilayah datar sampai pesisir. Prof. Arifin pakar ilmu sosial menyatakan bahwa kota yang dibangun di daerah pesisir akan menjelma menjadi kota yang banjir, semraut dan kotor dengan budaya yang kasar, tapi semakin ke arah gunung kota akan menjelma menjadi surga dengan masyarakat yang ramah, cobalah bandingkan kota pelabuhan dengan kota diatas bukit mediterania.

“air itu heksagonal yg idah, bila kita kelola ia bisa jadi surga water boom”

Minggu, 22 Juni 2008

online system planning

SISTEM INFORMASI ONLINE DAN HIRARKI
UNTUK EVALUASI DAN RE-PLANING WILAYAH
Oleh : Aa.... (the kandidad)

Abstrak

Potensi wilayah di Indonesia menyebar dari sabang sampai merauke pada 33 propinsi dan tiga ratusan kabupaten. Potensi ini seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung program kesejahteran masyarakat dalam suatu sistem negara kesejahteraan. Salah satu kendala pengembangan wilayah di Indonesia adalah keterbatasan sumberdaya manusia, serta wilayah yang terbentang luas dan menyebar. Untuk itu system informasi geografi diharapkan mampu memberikan makna dalam pengelolaan sumberdaya secara spasial sehingga lebih efisien, efektif dan produktif untuk berbagai manfaat.

Indonesia mempunyai asset nasional berupa sumberdaya lahan dan lautan yang sangat luas. Wilayah di Indonesia mempunyai kondisi fisik dan potensi lahan sangat beragam dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat umumnya miskin. Lahan atau space merupakan sumberdaya strategis ditinjau dari segi nilai dan manfaatnya, namun profil setiap koordinat dari lahan kita belum ada, sehingga sebahagian besar wilayah masih diwarnai kasus pencurian, baik illegal logging, illegal fishing, illegal mining atau kasus pencurian sumberdaya lainnya. Hal ini menyebabkan di beberapa daerah telah terjadi degradasi lahan karena kurang cermatnya pengelolaan sumberdaya yang masih dilakukan secara konvensional dan menyebabkan masyarakat dan negara mengalami kerugian dan tidak mampu berproduksi optimal untuk dapat meningkatkan pendapatannya.

Pengembangan wilayah/daerah, dalam keadaan alamiah memiliki berbagai kondisi yang menghambat pengembangannya antara lain; keterbatasan space, kesuburan lahan yang rendah, kepekaan terhadap erosi, topografi bergelombang sampai berbukit, produktivitas lahan rendah, dan ketersediaan infrastruktur yang kurang memadai serta sulit dalam memasarkan hasil, serta kurangnya penataan zona secara konsisten. Namun kendala utama adalah informasi yang akurat, tepat waktu dan cukup, sehingga sering terjadi kondisi sumberdaya limit, kebijakan yang salah akibat input yang salah, manajemen pengelolaan yang kurang optimal, persaingan penggunaan lahan antar sektor, kecendrungan peruntukan lahan (land use) yang keliru, sehingga menyebabkan sering gagal dalam implementasinya.

Kondisi ini menyebabkan kemajuan daerah sangat lambat dan tertinggal jauh dari ibu kota negara.. Kondisi ibu kota yang semakin padat, sesak, kumuh dan macet menunjukkan persoalan pengembangan sumberdaya di daerah telah gagal. Pada sisi pembangunan, memang telah ada upaya untuk mengembangankan wilayah/daerah, namun pada sisi distribusi, terjadi ketimbangan yang tidak selaras antara kota dan daerah serta antara daerah dan daerah. Sistem informasi diharapkan mampu menjadi solusi yang memadukan keterpaduan, analisis informasi dan keruangan secara hirarki.

Konsep pengembangan wilayah di Indonesia, terdapat beberapa landasan teori yang turut mewarnai keberadaannya. Pertama adalah Walter Isard sebagai pelopor Ilmu Wilayah yang mengkaji terjadinya hubungan sebab-akibat dari faktor-faktor utama pembentuk ruang wilayah, yakni faktor fisik, sosial-ekonomi, dan budaya. Kedua adalah Hirschmann yang memunculkan teori polarization effect dan trickling-down effect dengan argumen bahwa perkembangan suatu wilayah tidak terjadi secara bersamaan (unbalanced development). Ketiga adalah Myrdal dengan teori yang menjelaskan hubungan antara wilayah maju dan wilayah belakangnya dengan menggunakan istilah backwash and spread effect.

Pada tulisan ini, lebih fokus untuk membahasan pendapat Friedmann yang lebih menekankan pada pembentukan hirarki guna mempermudah pengembangan sistem pembangunan yang kemudian dikenal dengan teori pusat pertumbuhan. Terakhir adalah Douglass yang memperkenalkan model keterkaitan desa – kota (rural–urban linkages) dalam pengembangan wilayah.


Sistem informasi GIS berbeda dengan sistem informasi pada umumnya dan membuatnya dapat memberikan penjelasan tentang suatu peristiwa (ilegal loging, ilegang mining, ilegal fishing dan peristiwa dinamika lainnya), membuat peramalan kejadian (prediksi kekeringan, prediksi bencana, prediksi keberhasilan dan lainnya), dan perencanaan strategis lainnya untuk pengembangan wilayah perdesaan.

Pada aplikasi pengembangan wilayah terbelakang, GIS bisa digunakan untuk memutuskan di sub-wilayah mana yang perlu dikembangkan, yang memiliki daya ungkit tinggi serta memiliki keserasian dengan sub-wilayah lainnya berdasarkan atas data-data spasial wilayah dan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Keterpaduan sector dan pengelolaan sumberdaya

Sistem informasi dalam pengembangan wilayah diharapkan mampu memberikan keterpaduan pengelolaan antar sector, misalnya keseimbangan antara ruang untuk hutan lindung, hutan produksi, hutan konservasi, wilayah pertambangan, perikanan, pertanian dan wilayah pemukiman. Hal ini memungkinkan terjadinya keserasian ekologis antara sumberdaya, baik sumberdaya terbaharukan, tidak terbaharukan dan sumberdaya buatan.

Meningkatkan pengintegrasian organisasi

Salah satu ciri organisasi birokrasi Indonesia adalah besar dan tersebar, pada suatu wilayah terdapat banyak organisasi, namun tidak terkoordinasi, tumpang tindih dan tidak efisien. Sistem on-line system (wireless), mampu menjadi pusat informasi dan komando sehingga diperoleh keterpaduan kinerja organisasi yang ada dengan menghubungkan berbagai perangkat data secara bersamaan berdasarkan geografis, memfasilitasi informasi antar bagian/wilayah, untuk saling termanfaatkan dan dikomunikasikan.

GIS adalah sebuah sarana untuk pengambilan data, menganalisanya, dari kumpulan data berbasis pemetaan untuk mendukung proses pengambilan keputusan. Teknologi GIS dapat membantu berbagai kegiatan pekerjaan seperti keputusan luas tanam aman berdasarkan informasi debit, membantu memecahkan masalah kompliks peruntukan lahan atau keputusan tentang lokasi pembangunan sebuah infrastruktur.

Membantu mendesain ulang wilayah secara heksagonal

Dimulai dengan membuat database. gambar peta yang sudah ada bisa digambar dengan digitizer, dan informasi tertentu kemudian bisa diterjemahkan ke dalam GIS. Suatu daerah dapat di desain ulang dan dibagi-bagi dalam sub-wilayah berbentuk heksagonal (seperti keterpaduan pada heksagonal molekul air ataupun heksagonal pada sarang lebah). Batas-batas pelayanan suatu wilayah heksagonal dipetakan pada berbagai lokasi, pada skala skala tertentu untuk menjelaskan suatu karakteristik khusus atau fungsi spesifiki suatu sub-wilayah.

Manajemen Infrastruktur Wilayah
GIS digunakan untuk mengelola dan menganalisa berbagai informasi dengan geografi sebagai komponen utamanya. Informasi digunakan untuk mengelola bendung, jalan, bangunan kantor, pabrik, jaringan PDAM, telpon, listrik dan fasilitas lainnya. GIS bisa dimanfaatkan untuk menentukan lokasi dari suatu aset dan keterkaitannya atau kedekatannya antara satu dengan lainnya terhadap peristiwa atau aset yang lainnya.

sebuah benang merah...

Berpijak pada kondisi empiris yang ada, maka perlu dilakukan re-desain dalam pengembangan wilayah perkotaan dan pedesaan, yang seyogyanya pembangunan tidak hanya diselenggarakan untuk memenuhi tujuan-tujuan sektoral yang bersifat parsial, namun lebih dari itu, pembangunan diselenggarakan untuk memenuhi tujuan-tujuan pengembangan wilayah yang bersifat komprehensif dan holistik dengan mempertimbangkan keserasian antara berbagai sumber daya sebagai unsur utama pembentuk ruang (sumberdaya alam, buatan, manusia dan sistem aktivitas), yang didukung oleh sistem hukum yang jelas, tegas dan konsisten serta didukung oleh sistem kelembagaan yang melingkupinya.

///the end of pura-pura bego///

Sabtu, 21 Juni 2008

bila aku pergi..

KALA CINTA TAK BERBISIK

Karya : sang pengembara ilmu

bila aku tak ingin pergi
tapi setetes ilmu menarikku

bila aku pergi
aku ingin kembali lagi

bila aku tak kembali
aku ingin lahir lagi

bila aku sepi sendiri
aku ingin sapamu

bila kau tak menyapa
aku ingin mati saja

bila aku lama
mestinya kau menanti

bila aku rindu
semoga hatimu juga

bila aku setia
harusnya kau tak main mata

bila aku menatap langit
maka seyumlah pada bulan

bila aku dibawah terik
baiknya kau tarik mendung

bila aku tidur
ingatlah bibir aku saja

bila aku mimpi
bersediakan kau temani basah

bila aku kembali
semoga kau teriak ria

bila aku bertamu
sudi kiranya dijamu xx

^^^ cinta diuji kala kita berpisah ^^^

Jumat, 20 Juni 2008

asal usul si miskin

MERENUNGKAN LAHIRNYA KEMISKINANAN

“miskin itu penting, tapi jika banyak ia jadikan manusia tidak manusiawi”

Oleh :

Aa.. yang juga miskin

1. Mengamati siapa saja yang umunya miskin
Mari kita melihat sekeliling kita siapakah secara umum kelompok masyarakat miskin. Mereka secara relatif yang miskin adalah sbb :
- Kelompok buruh, pekerja kasar yang menjual keringatnya dengan sedikit keahlian, hanya bermodalkan tenaga, seperti buruh pabrik, buruh bangunan, tukang kayu, tukang batu, tukang gali, tukang becak;
- Kelompok produsen disektor hulu, yang kurang dihargai karena mereka berproduksi mengandalkan proses alam, masyarakat melihat proses alam adalah murah, seperti petani dan nelayan;
- Kelompok cacat, mereka yang secara fisik memiliki kendala untuk bekerja keras, seperti orang jompo, orang cacat, buta, tuli, bisu, janda tua dll;
- Kelompok frustasi, yaitu kelompok yang tidak lagi mampu bersaing, mereka adalah pengemis, gelandangan dan anak jalanan;
- Kelompok yang miskin keterampilan, miskin semangat, miskin alat dan moda, mereka yang tidak memiliki sesuatu selain nyawa, mereka yang pasrah, mereka yang tidak berpendidikan, mereka terbelakang, mereka yang hanya memiliki khayalan dan mimpi.
Kemiskinan lahir bersamaan dengan keterbatasan sebagian manusia dalam mencukupi kebutuhannya. Sejarah mencatat bahwa kemiskinan telah ada sejak lama pada hampir semua peradaban manusia. Pada bangsa apa manapun terdapat golongan berkecukupan dan golongan melarat, tinggal bagaimana kita melakukan proporsionalisasi yang seimbang. Karena golongan yang berkecukupan selalu semakin makmur tanpa batas, sedangkan golongan yang melarat selalu semakin kurus sehingga hanpir-hampir tercampak di atas tanah, tak berdaya. Inilah yang harus kita pikirkan, bukan membumihanguskan 100% kemiskinan, karena kita tetap membutuhkan seorang babu.

2. Melihat kemiskinan dengan Teori Karl Marx
2.1. Kemiskinan akibat dari angkatan kerja cadangan dan upah rendah
Marx percaya bahwa Kapitalisme akan hancur. Kehancuran itu tergantung dengan hukum yang mengendalikannya dan keadaan tertentu dalam sejarah. Krisis akan berlangsung dalam bentuk resesi setelah terjadinya kemakmuran dimana terdapat sedikit pengangguran dan upah cukup tinggi. Dalam ekonomi kapitalisme akan terjadi pengangguran yang kronis dengan adanya “angkatan kerja cadangan” dalam industri yang juga disebut penduduk surplus relatif, yaitu buruh yang jumlahnya terus meningkat akibat mekanisasi yang bertindak sebagai penekan upah yang tetap. Menurut Marx Buruh juga merupakan komoditi, tetapi sifatnya lain dibanding dengan komoditi lainnya dalam hubungan harga dan nilai. Perbedaannya adalah jika dalam komoditi harga naik, maka modal akan mengalir kepada komoditi tersebut. Hal ini tidak bisa terjadi dalam buruh, tak seorangpun dapat memproduksi buruh jika harganya naik.
Pemintaan buruh yang naik, menyebabkan angkatan kerja cadangan akan terserap ke pasar dan upah akan semakin rendah. Angkatan kerja cadangan ini menghalangi naiknya upah buruh. Keadaan ini telah menyebabkan terjadinya kemiskinan fisik (emiseration) atau, pemfakiran (pauperisation). Pemfakiran diistilahkan oleh Marx sebagai rumah sakit terhadap buruh dan bobot mati terhadap angkatan cadangan. Konsep ini juga menjadi sasaran kritik terhadap teori Marx. Meningkatnya angkatan cadangan akan semakin mempermiskin buruh. Ada dua tema yang sering menjadi pusat analisis Marx salah satunya bahwa kapitalisme akan menciptakan disparitas pendapatan yang luar biasa antara buruh dan pemilik modal, dan kapitalisme akan memproduksi angkatan cadangan yang terus terpuruk dalam kemiskinan. Proses pemiskinan ini menciptakan apa yang disebut sebagai penindasan terhadap buruh. Pemiskinan ini juga disebabkan karena paradox yang terjadi dimana para kapitalis terus menimbun kekayaan, sementara upah buruh tidak pernah naik diatas tingkat kehidupan cukup. Disinilah terjadinya suatu kontradiksi internal dalam kapitalisme. Pemiskinan selanjutnya menjadi sumber (acuan) terhadap proses keterasingan terhadap pembagian kerja.

2.2. Kemiskinan akibat konsentrasi dan sentralisasi modal
Kapitalisme menciptakan konsentrasi dan sentralisasi modal. Konsetrasi modal merupakan proses akumulasi modal yang dikontrol oleh individu. Sedang sentralisasi berkaitan dengan penyatuan modal. Kondisi ini dibarengi dengan sikap persaingan antara para kapitalis yang memaksa mereka untuk menurunkan harga. Persaingan ini akan dimenangkan oleh kapitalis besar yang menguasai banyak sumber dan bisa lebih efisien. Sentralisasi modal juga mendapat dukungan kredit dari perbangkan. Sentralisasi modal akan memindahkan modal dari tangan individu kapitalis melalui sistem perbankkan. Sistem perbankkan merupakan perusahaan kapitalis yang menghilangkan sifat pribadi modal. Konsentrasi dan sentralisasi modal ini berjalan seiring dengan berkembangnya modal korporasi, yaitu suatu model usaha yang menekankan kepada modal bersama (persero) yang oleh Marx dianggap sebagai suatu perkembangan mutakhir dari kapitalisme. Sistem persero ini juga memisahkan antara pemilik modal dengan para pekerja (manajer). Para pemilik modal ini mengambil alih banyak kekayaan dari para pemroduksi. Persero menciptakan suatu pengendalian monopoli baru dan menciptakan hubungan penindasan yang baru. Kapitalisme sebagai suatu sistem yang tidak stabil, dibangun diatas antagonisme, dan kontradiksi yang berpusat pada hubungan yang asimetris terhadap buruh – upah – modal. Situasi ini akan mendorong terhadap kehancuran kapitalisme. Proses perkembangan kapitalisme akan melahirkan suatu perobahan sosial yang obyektif dalm menciptakan kesadaran proletariat yang mentransformasi kearah praksis revolusioner. Kemiskinan relatif dari buruh, kesengasaraan fisik angkatan cadangan, penyusuan upah, dan pengangguran yang cepat menumbuhkan potensi terhadap terjadinya revolusi. Pada saat yang sama para buruh menciptakan suatu asosiasi (organisasi kolektif) yang menjadi landasan terhadap terbentuknya sosialisme.
Memang pekerja kemudian bisa saja memiliki saham, namun dia minoritas dan merupakan kelompok besar yang sulit kompka. Bunga dari usaha kapitalisme ternyata tidak dapat dinimati oleh pekerja, karena pekerja tidak memiliki waktu tunggu gaji atau upah, para pemiliki modal melakukan investasi dengan bunga bank dan berbagai resiko kegagalan yang tidak ditanggung buruh. Manfaat produksi yg kurang besar dari kapitalisme tidak dirasakan oleh buruh, sehingga tetap saja mereka menjadi level terendah dari sebuah stratifikasi social masyarakat yang tetap miskin.
Pada kasus kemiskinan buruh tani, bentuk dan cara berproduksi mereka yang mengandalkan siklus alam yang lambat menyebabkan proses pembentukan modal tidak seimbang dengan laju inflasi oleh sector industri sehingga proses petani menjadi kaya juga sangat jarang dan lambat, bahkan seorang petani yang kaya dimasa tuanya harus rela membagi modalnya kepada anaknya yang banyak dimana sebuah wasiat menjelang kematian harus mereka lakukan.
Sementara pada pembentukan modal sector industri yang cepat, tenaga kerja dianggap tidak sepenting modal dan mesin karena manusia atau buruh bisa digantikan oleh mesin atau bakan tenaga kerja bisa diperdagangkan antara Negara “fenomena tenaga kerja Indonesia” misalnya yang sangat murah dan merusak harga pasaran buruh dunia. Buruh kemudian digaji hanya dilihat berdasarkan jam kerja tanpa dilihat nilai servis (talenda, inovasi atau seni yang meraka lakukan). Kemiskinan buruh disektor industri akhirnya terjadi, dimana mereka hanya sedikit kaya pada saat mereka kerja keras dan lembur (usia produktif jam kerja), namun setelah TKI pulang kampong dan tua, mereka biasanya kembali miskin, hanya sekedar bisa memperbaiki rumah saja tetapi dalam jangka panjang mereka tetap menjadi orang miskin.
Masyarakat tanpa kelas, dimana setiap orang memiliki alat produksi misalnya landreford membagikan tanah hanya bersifat sementara. Hukum alam akan membuat energi akan berakumulasi kembali pada sekelompok orang karena modal atau energi bersifat dinamis. Ia dipertukarkan dan bergerak, setiap orang memiliki kemampuan mengelola modal, sehingga landreform pada akhirnya akan hayut seperti hayutnya tanah oleh erosi air ke muara sungai. Tetapi proses pemerataan memang perlu dilakukan sekali-kali pada saat dimana akumulasi modal mencapai ketidakseimbangan yang ekstrim.

3. Melihat Kemiskinan dari Teori Emile Durkheim

Pembagian Kerja menyebabkan kemiskinan kaum tidak terpelajar

Emile Durkheim dalam bukunya “Pembagian Kerja dalam Masyarakat” (1893), berpendapat bahwa masyarakat berevolusi mirip dengan organisme hidup, bergerak dari sebuah keadaan yang sederhana kepada yang lebih kompleks yang mirip dengan cara kerja mesin-mesin yang rumit. Kondisi ini terus berkembang dengan kemajuan sosial, evolusionisme sosial, dan darwinisme sosial. Ia berpendapat bahwa masyarakat-masyarakat tradisional bersifat ‘mekanis’ dan dipersatukan oleh kenyataan bahwa setiap orang lebih kurang sama, dan karenanya mempunyai banyak kesamaan di antara sesamanya. Dalam masyarakat tradisional, kata Durkheim, kesadaran kolektif sepenuhnya mencakup kesadaran individual - norma-norma sosial kuat dan perilaku sosial diatur dengan rapi sehingga kemiskinan pada masyarakat tradisonal lebih abstrak.

Namun pada masyarakat modern, pembagian kerja yang sangat kompleks menghasilkan solidaritas 'organik'. Spesialisasi yang berbeda-beda dalam bidang pekerjaan dan peranan sosial menciptakan ketergantungan yang mengikat orang kepada sesamanya, karena mereka tidak lagi dapat memenuhi seluruh kebutuhan mereka sendiri. Seorang dokter tergantung kepada pembantu, apa yang terjadi para pekerja di level terbawah yang berpendidikan rendah memperoleh gaji yang paling rendah dan yang paling professional mendapat gaji yang tinggi dan harus dilayani. Akibat dari pembagian kerja yang semakin rumit ini, menyebabkan kelompok pekerja kasar semakin banyak dan pekerja professional dan spesialis semakin terbatas, akibatnya kemiskinan melekat dan melanda kelompok pekerja rendah tanpa skill.

4. Melihat kemiskinan dengan teori Max Weber
Kemiskinan terjadi karena lemahnya motivasi
Max Weber mungkin melihat bahwa kemiskinan bukanlah sebuah takdir dan tidak melekat lengket pada setiap individu yang dilahirkan. Walaupun sebagaian orang dilahirkan pada lingkungan dan orang tua yang miskin dengan sedikit atau tanpa warisan modal, tetapi sebenarnya mereka memiliki potensi dan hak yang sama untuk menjadi kaya. Motivasi yang melahirkan masyarakat singapura dan jepang yang miskin akan sumberdaya alam untuk melakukan inovasi dan menciptakan kreatifitas teknologi. Justru pada lingkungan yang maeginal dan miskinlah seharusnya sebuah power atau spririt untuk bekerja keras itu berpotensi untuk lahir. Pada lingkungan yang marginal, manusia memiliki respons yang alami untuk merekayasa lingkungannya untuk dapat survive dan bertahan hidup, dibandingkan pada lingkungan yang remah limpah roh jinawi, individu akan cendrung manja dan malas. Manusia dilahirkan sama dan setiap individu harus melihat alam sebagai sebuah hamparan rizki yang maha luas, didarat dan dilaut. Tujuh lautan saja tidak mampu menuliskan begitu banyak energi alam dalam flora, fauna dan benda mati lainnya, lalu mengapa orang miskin hanya terpaku dan diam menggu kematiannya dalam kemiskinan tanpa ia berusaha untuk bertebaran dimuka bumi yang luas ini. Migrasi adalah solusi untuk sebuah kegagalan kemiskinan.
Adanya dogma atau pemikiran kaum sufi, yang melahirkan kelompok masyarakat yg apatis menikmati kemiskinan, dan lebih mementingkan kekayaan hati adalah sebuah dogma yang tidak salah dan tidak juga bisa dikatakan benar. Manusia dijadikan khalifah di bumi harusnya dimaknai oleh kaum sufi islam atau rahib katolik konservatif atau kaum biksu budha sebagai sesuatu yang bernuansa egoisme individu dan melupakan masyarakat miskin dieskitarnya bahkan mengabaikan sanak keluarga dan darah dagingnya sendiri. Kaya hati harusnya tidak berarti harus menyederhanakan diri dan melepaskan atribut dunia, pada level yang tertinggi dari kekayaan hati adalah bagaimana seharusnya setiap individu gembira dan bahagia hatinya manakala ia mampu berbuat, memberi dan menolong sesamanya yang miskin dan itulah ibadah yang disebut hablumminnas karena tuhan sendiri tidak butuh untuk disembah.
Konsep orang yg terkutuk, dalam filosofi dan sprit protestan dan bahkan saya amati juga pada kelompok hindu bali yang pekerja keras dan rela terbangun dipagi buta adalah sebuah spirit bukan hanya untuk kaya tetapi memaknai hidup sebagai sebuah aktifitas yang bermakna. Kemalasan dan kepasrahan adalah penyakit hati kaum miskin yang tidak ingin terlahirkan ke dunia. Kaum seperti itu layak menurut saya dikatakan terkutuk seperti pendapat Max Weber. Sehingga pengentasan kemiskinan sebenarnya harus dimulai dari bagaimana membangkitkan semangat kaum miskin untuk bangkit bukan memberi sesuap nasi kaum malas dalam bentuk BLT.

5. Kemiskinan dari pandangan banyak orang

Kemiskinan adalah sesuatu yang abstrak untuk distandarisasi secara general dan makro. Kuantifikasi kemiskinan adalah sebuah pendekatan semata untuk mensederhanakan sebuah metodologi modeling pengentasan kemiskinan. Namun kuantifikasi juga harus mempertimbangkan hal spesifik setiap masyarakat disetiap tempat. Sehingga ada baiknya kita melihat makna kemiskinan dari berbagai suku dan tempat yang berbeda misalnya sbb:
1. Masyarakat menjadi miskin bukan karena kurang pangan, tetapi miskin dalam bentuk minimnya kemudahan akses atau materi. dari ukuran kehidupan modern pada masa kini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kemudahan-kemudahan lainnya yang tersedia pada jaman modern, mereka hanya terbatas mengakses sebuah produk moedrnisasi, tetapi masih bisa bertahan hidup dengan memanfaatkan proses alam berupa air sungai, oksigen udara, dedaunan dll;
2. Kemiskinan sebagai suatu penyakit sosial ekonomi tidak hanya dialami oleh negara-negara yang sedang berkembang, tetapi juga negara-negara maju, seperti Inggris dan Amerika Serikat. Negara Inggris mengalami kemiskinan di penghujung tahun 1700-an pada era kebangkitan revolusi industri yang muncul di Eropah. Pada masa itu kaum miskin di Inggris berasal dari tenaga-tenaga kerja pabrik yang sebelumnya sebagai petani yang mendapatkan upah rendah, sehingga kemampuan daya belinya juga rendah. Mereka umumnya tinggal di permukiman kumuh yang rawan terhadap penyakit sosial lainnya, seperti prostitusi, kriminalitas, pengangguran. Ruang yang terbatas akibat kepadatan yang berlebihan menyebabkan kemiskinan;
3. Kemiskinan juga bisa terjadi secara alamiah dan karena buatan. Kemiskinan alamiah terjadi antara lain bencana alam atau kemiskinan fisik akibat cacat tubuh. Kemiskinan "buatan" terjadi karena lembaga-lembaga yang ada di masyarakat membuat sebagian anggota masyarakat tidak mampu menguasai sarana ekonomi dan berbagai fasilitas lain yang tersedia, hingga mereka tetap miskin;
4. Kemiskinan penduduk akibat dari berbagai aspek, sosial, ekonomi, psikologi dan politik. Aspek sosial terutama akibat terbatasnya interaksi sosial dan penguasaan informasi. Aspek ekonomi akan tampak pada terbatasnya pemilikan alat produksi, upah kecil, daya tawar rendah, tabungan nihil, lemah mengantisipasi peluang. Dari aspek psikologi terutama akibat rasa rendah diri, fatalisme, malas, dan rasa terisolir. Sedangkan, dari aspek politik berkaitan dengan kecilnya akses terhadap berbagai fasilitas dan kesempatan, diskriminatif, posisi lemah dalam proses pengambil keputusan;
5. Kemiskinan juga dapat dibedakan menjadi tiga pengertian: kemiskinan absolut, kemiskinan relatif dan kemiskinan kultural. Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum: pangan, sandang, kesehatan, papan, pendidikan. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya. Sedang miskin kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari fihak lain yang membantunya;
6. Kemiskinan menurut pemerintah menggunakan indikator ekonomi secara teoritis dapat dihitung dengan menggunakan tiga pendekatan, yaitu pendekatan produksi, pendapatan, dan pengeluaran. Sementara ini BPS l menarik garis kemiskinan lebih focus adalah pendekatan pengeluaran. Pada tahun 1998, penduduk perkotaan ditetapkan sebesar Rp. 96.959 per kapita per bulan dan penduduk miskin perdesaan sebesar Rp. 72.780 per kapita per bulan. Dengan perhitungan uang tersebut dapat dibelanjakan untuk memenuhi konsumsi setara dengan 2.100 kalori per kapita per hari, ditambah dengan pemenuhan kebutuhan pokok minimum lainnya, seperti sandang, kesehatan, pendidikan, transportasi;
7. Dalam bukunya The Affluent Society, John Kenneth Galbraith melihat kemiskinan di Amerika Serikat terdiri dari tiga macam, yakni kemiskinan umum, kemiskinan kepulauan, dan kemiskinan kasus. Pakar ekonomi lainnya melihat secara global, yakni kemiskinan massal/kolektif, kemiskinan musiman (cyclical), dan kemiskinan individu.
Kemiskinan kolektif dapat terjadi pada suatu daerah atau negara yang mengalami kekurangan pangan. Kebodohan dan eksploitasi manusia dinilai sebagai penyebab keadaan itu. Kemiskinan musiman atau periodik dapat terjadi manakala daya beli masyarakat menurun atau rendah. Misalnya sebagaimana, sekarang terjadi di Indonesia. Sedangkan, kemiskinan individu dapat terjadi pada setiap orang, terutama kaum cacat fisik atau mental, anak-anak yatim, kelompok lanjut usia;
8. Kemiskinan juga dilihat dalam perspektif tunggal, yakni “kemiskinan pendapatan” atau “income-poverty” (Chambers, 1997). Pendekatan ini banyak dikritik oleh para pakar ilmu sosial sebagai pendekatan yang kurang bisa menggambarkan potret kemiskinan secara lengkap. Kemiskinan seakan-akan hanyalah masalah ekonomi yang ditunjukkan oleh rendahnya pendapatan seseorang atau keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya;
9. Kemiskinan juga dilihat akibat menurunnya kualitas hidup masyarakaat akibat terpaan krisis ekonomi atau krisis politik;
10. Kemiskinan juga terjadi akibat multiplier effects, akibat tatanan kemasyarakatan secara menyeluruh. Berbagai peristiwa konflik misalnya, menunjukkan bahwa ternyata persoalan kemiskinan bukanlah semata-mata dipengaruhi ketahanan ekonomi yang ditampilkan oleh rendahnya daya beli masyarakat, melainkan pula dipengaruhi oleh ketahanan sosial masyarakat dan ketahanan politik nasional misalnya kebijakan naiknya harga BBM;
11. Kemiskinan merupakan konsep yang berwayuh wajah, bermatra multidimensional. Ellis (1984:242-245), misalnya, menunjukkan bahwa dimensi kemiskinan menyangkut aspek ekonomi, politik dan sosial-psikologis. Secara ekonomi, kemiskinan dapat didefinisikan sebagai kekurangan sumberdaya yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejahteraan sekelompok orang. Sumberdaya dalam konteks ini menyangkut tidak hanya aspek finansial, melainkan pula semua jenis kekayaan (wealth) yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam arti luas. Berdasarkan konsepsi ini, maka kemiskinan dapat diukur secara langsung dengan menetapkan persediaan sumberdaya yang dimiliki melalui penggunaan standar baku yang dikenal dengan garis kemiskinan (poverty line);
12. Secara politik, kemiskinan dilihat dari tingkat akses terhadap kekuasaan (power). Kekuasaan dalam pengertian ini mencakup tatanan sistem politik yang dapat menentukan kemampuan sekelompok orang dalam menjangkau dan menggunakan sumberdaya. Sehingga masyarakat miskin biasanya adalah yang jauh dari pusat kekuasaan karena kekuasaan adalah tangan baja untuk mengeruh sumberdaya yang tersedia;
13. Kemiskinan secara sosial-psikologis menunjuk pada kekurangan jaringan dan struktur sosial yang mendukung dalam mendapatkan kesempatan-kesempatan peningkatan produktivitas. Dimensi kemiskinan ini juga dapat diartikan sebagai kemiskinan yang disebabkan oleh adanya faktor-faktor penghambat yang mencegah atau merintangi seseorang dalam memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang ada di masyarakat. Faktor-faktor penghambat tersebut secara umum meliputi faktor internal dan eksternal. Faktor internal datang dari dalam diri si miskin itu sendiri, seperti rendahnya pendidikan atau adanya hambatan budaya. Teori “kemiskinan budaya” (cultural poverty) yang dikemukakan Oscar Lewis, misalnya, menyatakan bahwa kemiskinan dapat muncul sebagai akibat adanya nilai-nilai atau kebudayaan yang dianut oleh orang-orang miskin, seperti malas, mudah menyerah pada nasib, kurang memiliki etos kerja dsb. Faktor eksternal datang dari luar kemampuan orang yang bersangkutan, seperti birokrasi atau peraturan-peraturan resmi yang dapat menghambat seseorang dalam memanfaatkan sumberdaya. Kemiskinan model ini seringkali diistilahkan dengan kemiskinan struktural. Menurut pandangan ini, kemiskinan terjadi bukan dikarenakan “ketidakmauan” si miskin untuk bekerja (malas), melainkan karena “ketidakmampuan” sistem dan struktur sosial dalam menydiakan kesempatan-kesempatan yang memungkinkan si miskin dapat bekerja. Konsepsi kemiskinan yang bersifat multidimensional ini kiranya lebih tepat jika digunakan sebagai pisau analisis dalam mendefinisikan kemiskinan dan merumuskan kebijakan penanganan kemiskinan;
14. Data dari BPS (1999) juga memperlihatkan bahwa selama periode 1996-1998, telah terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin secara hampir sama di wilayah pedesaan dan perkotaan, yaitu menjadi sebesar 62,72% untuk wilayah pedesaan dan 61,1% untuk wilayah perkotaan. Secara agregat, presentasi peningkatan penduduk miskin terhadap total populasi memang lebih besar di wilayah pedesaan (7,78%) dibandingkan dengan di perkotaan (4,72%). Akan tetapi, selama dua tahun terakhir ini secara absolut jumlah orang miskin meningkat sekitar 140% atau 10,4 juta jiwa di wilayah perkotaan, sedangkan di pedesaan sekitar 105% atau 16,6 juta jiwa (lihat Remi dan Tjiptoherijanto, 2002). Data di atas mengindikasikan bahwa krisis telah membuat penderitaan penduduk perkotaan lebih parah ketimbang penduduk pedesan. Menurut Thorbecke (1999) setidaknya ada dua penjelasan atas hal ini: Pertama, krisis cenderung memberi pengaruh lebih buruk pada beberapa sektor ekonomi utama di perkotaan, seperti perdagangan, perbankan dan konstruksi. Sektor-sektor ini membawa dampak negatif dan memperparah pengangguran di perkotaan. Kedua, pertambahan harga bahan makanan kurang berpengaruh terhadap penduduk pedesaan, karena mereka masih dapat memenuhi kebutuhan dasarnya melalui sistem produksi subsisten yang dihasilkan dan dikonsumsi sendiri. Hal ini tidak terjadi pada masyarakat perkotaan dimana sistem produksi subsisten, khususnya yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan makanan, tidak terlalu dominan pada masyarakat perkotaan;
15. Angka kemiskinan alamiah di Indonesia mencapai 21 juta orang, meliputi gelandangan, pengemis, anak jalanan, yatim piatu, jompo terlantar, dan penyandang cacat yang tidak memiliki pekerjaan atau memiliki pekerjaan namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara umum kondisi ini lebih memprihatinkan ketimbang orang miskin buatan. Selain memiliki kekurangan pangan, sandang dan papan, kelompok rentan (vulnerable group) ini mengalami pula ketelantaran psikologis, sosial dan politik;
16. Selain kelompok di atas, terdapat juga kecenderungan dimana krisis ekonomi telah meningkatkan jumlah orang yang bekerja di sektor informal. Merosotnya pertumbuhan ekonomi, dilikuidasinya sejumlah kantor swasta dan pemerintah, dan dirampingkannya struktur industri formal telah mendorong orang untuk memasuki sektor informal yang lebih fleksibel. Studi ILO (1998) memperkirakan bahwa selama periode krisis antara tahun 1997 dan 1998, pemutusan hubungan kerja terhadap 5,4 juta pekerja pada sektor industri modern telah menurunkan jumlah pekerja formal dari 35 persen menjadi 30 persen. Menurut Tambunan (2000), sedikitnya setengah dari para penganggur baru tersebut diserap oleh sektor informal dan industri kecil dan rumah-tangga lainnya. Pada sektor informal perkotaan, khususnya yang menyangkut kasus pedagang kaki lima, peningkatannya bahkan lebih dramatis lagi. Di Jakarta dan Bandung, misalnya, pada periode akhir 1996-1999 pertumbuhan pedagang kaki lima mencapai 300 persen (Kompas, 23 November 1998; Pikiran Rakyat, 11 October 1999). Dilihat dari jumlah dan potensinya, pekerja sektor informal ini sangat besar. Namun demikian, seperti halnya dua kelompok masyarakat di atas, kondisi sosial ekonomi pekerja sektor informal masih berada dalam kondisi miskin dan rentan dan penuh resiko karena labil;
17. Menurut Goenawan Sumodiningrat, kesenjangan dan kemiskinan dilihat dari segi penyebabnya dapat dibedakan menjadi tiga bagian: pertama, kesenjangan dan kemiskinan natural yaitu kesenjangan dan kemiskinan yang disebabkan oleh factor-faktor alamiah, seperti perbedaan usia, perbedaan tingkat kesehatan, perbedaan georgrafis tempat tinggal dan lain-lain. Kedua, kesenjangan dan kemiskinan cultural, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh perbedaan adat budaya seperti etika kerja, pola hidup dan sebagainya. Ketiga, kesenjangan dan kemiskinan structural yang disebabkan oleh factor-faktor buatan manusia, misalnya kebijakan pemerintah pada perekonomian yang bersifat diskriminatif, kolutif dan koruptif, distribusi pendapatan yang tidak merata hingga tatanan ekonomi dunia yang timpang dan lain-lain;
18. Sebagian ahli ekonomi yang mengemukakan bahwa penyebab kemiskinan hanya ada dua macam. Pertama, kemiskinan akibat struktur yang oleh Alfian disebut sebagai kemiskinan structural yang didefinisikan sebagai “kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat karena struktur social masyarakat itu tidak dapat ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang tersedia bagi mereka.” Contohya adalah kasus busung lapar di NTB dan Sulsel, di mana daerah tersebut sebetulnya merupakan lumbung pangan dan senantiasa mengalami surplus pangan. Secara ironis dan apik, Andrea Hirata juga berhasil menggambarkannya melalui tetralogi Laskar Pelanginya yang menggambarkan kondisi masyarakat Pulau Belitong yang menderita kemiskinan di tengah-tengah kekayaan timah yang melimpah di tanah tersebut. Dalam kedua kasus tersebut, penduduk local tidak memiliki akses untuk mengelola kekayaan alam sendiri. Mereka bekerja sebagai buruh (petani dan penambang timah), sedangkan modal dan sumber daya dikuasai oleh tuan tanah dan pemilik modal;
19. Selanjutnya, kemiskinan ini akan menyebabkan seseorang melekat pada dirinya “ketidakberuntungan”, bagi kehidupannya sendiri, keluarganya serta komunitas miskin tersebut. Lima “ketidakberuntungan” tersebut adalah: kemiskinan (poverty), fisik yang lemah (physical weakness), kerentaan (vulnerability), keterisolasian (isolation), dan ketidakberdayaan (powerlessness). Di sisi lain, kemiskinan juga menimbulkan masalah dalam skala besar kenegaraan. Dengan meningkatnya jumlah penduduk miskin, beban pemerintah menjadi semakin bertambah sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang berkomitmen bahwa “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”, yang hingga enam puluh tahun lebih merdeka dari penjajah, belum bisa merealisasikannya, dan ini masih hanya sebuah lagu retorika hukum dan nyanyian kampanye komoditas politik semata;

20. Secara konseptual pekerjaan sosial memandang bahwa kemiskinan merupakan persoalan-persoalan multidimensional, yang bermatra ekonomi-sosial dan individual-struktural. Berdasarkan perspektif ini, ada tiga kategori kemiskinan yang menjadi pusat perhatian pekerjaan sosial, yaitu :

• Kelompok yang paling miskin (destitute) atau yang sering didefinisikan sebagai fakir miskin. Kelompok ini secara absolut memiliki pendapatan dibawah garis kemiskinan (umumnya tidak memiliki sumber pendapatan sama sekali) serta tidak memiliki akses terhadap berbagai pelayanan sosial.
• Kelompok miskin (poor). Kelompok ini memiliki pendapatan dibawah garis kemiskinan namun secara relatif memiliki akses terhadap pelayanan sosial dasar (misalnya, masih memiliki sumber-sumber finansial, memiliki pendidikan dasar atau tidak buta hurup,).
• Kelompok rentan (vulnerable group). Kelompok ini dapat dikategorikan bebas dari kemesikinan, karena memiliki kehidupan yang relatif lebih baik ketimbang kelompok destitute maupun miskin. Namun sebenarnya kelompok yang sering disebut “near poor” (agak miskin) ini masih rentan terhadap berbagai perubahan sosial di sekitarnya. Mereka seringkali berpindah dari status “rentan” menjadi “miskin” dan bahhkan “destitute” bila terjadi krisis ekonomi dan tidak mendapat pertolongan sosial.


Penutup

Penyebab kemiskinan sangat kompleks, sehingga perspektif dalam melihat kemiskinan pun harus dilihat berdasarkan persoalan real dalam masyarakat tersebut. Masyarakat mana yang harus secara langsung mendapat suntikan dana, dan mana yang harus disiapkan pancing (pemdidikan, pelatihan dan lapangan kerja) atau masyarakat mana yang memerlukan motivasi.

Para pendukung teori modernisasi meyakini bahwa ilmu-ilmu sosial bersifat universal, yaitu bahwa pemahaman, analisa, perumusan, dan pemecahan masalah suatu negara bisa diterapkan pada negara lain. Jika modernisasi bisa dilakukan di Barat, maka ia niscaya juga bisa diterapkan pada negara-negara non-Barat. Namun ternyata juga tidak semua benar, ada lokasi universalitas ilmu social itu juga memiliki pengecualian.


++++ the end off the big poor ++++

Rabu, 18 Juni 2008

sebuah pengakuan

aku hanya lemah

karya : aa sendiri

aku manusia jelata
terserak pinggir kolong

aku bukan nabi
hanya hati compang

aku payah lutut
terkadang juga ogahan

aku kecil mata
seperti debu jalanan

aku pendek kata
kadang ingin mati suri

aku kurus pucat
mungkin kurang makan

aku bego rayu
sering salah potong

aku coklat tua
kulitnya usang baju

aku muka basi
wajah mirip terasi

aku lucu aneh
membikin sayatan tangis

aku miskin seyum
bila hari terik

///aku mengaku salah dan mohon maaf///

aku bukan cahaya

DIA HANYA BAYANGAN

Karya : aku dan dia

aku hoby jambu
dia doyan dodol

dia ungu
aku mirip biru

aku terbit di timur
dia muncul di barat

dia pohon pagi
aku bayang senja

aku sakit hati
dia mules haid

dia terseyum malu
aku tertawa lucu

aku meremas kata
dia sms cinta

dia telpon
aku jadi rindu

aku dekat
dia jadi rapat

dia menjauh
aku dikejauhan

aku bisu
dia ikut diam

dia pergi
aku turut hilang

aku marah
dia pura ngambek

dia terbang
akupun melayang

aku dewasa
dia malah anak tk

dia ragu
aku tambah yakin

aku berbeda
dia ingin sama

dia berdebat
aku negosiasi

aku ngalah
dia malah marah

dia bermimpi
aku tak bisa tidur


^^^ jalani aja dulu, waktu masih ada ^^^

Selasa, 17 Juni 2008

Sebuah mimpi kami

Sebuah Cerpen…

BULAN BERMANDIKAN MADU

Karya : Pemimpi basah……

Pesta itu cukup meriah, tapi aku tak dapat mengingat kemegahannya, yang kuingat aku keringat dingin, bukan karena panas, tapi karena bersalaman dengan tamu ratusan kali…

Mas “slamat ya” kata temen kuliahku dina, ia terlihat seyum namun juga iri, usianya telah menginjak 30-an tapi belum juga menikah. Lalu kulihat omta, ia juga hadir “ntar malam hati-hati ya, ntar keseleo” aku tak menjawabnya hanya terseyum. Namun tak kulihat wajah ina, mungkin ia cemburu melihatku menihah, ia mantan fansku yang kutolak.. Tamu terkahirpun bersalaman, aku tak mengenalnya ia lelaki kurus dengan langkah loyo, ia hanya terseyum namun seyum itu agak berat, dideket istriku ia bergumam, maafku aku ya.. aku tak tau maknanya, mungkinkah ia mantan pacarnya yang ia ceritakan. Namun aku tak peduli, itu masa lalu dan hari ini yang pasti ia telah menjadi milikku..

Siang itu pukul 14.00, hari masih terik, baju penganten kulepaskan dan kusempatkan aku mencium keningnya, ia diam tanpa perlawanan, ingin kulanjutkan mencium bibirnya, namun tak enak hati, mertuaku terlihat hilir mudik mengemas dekorasi dan perawabotan pesta…. Kubisik kata “ayo dik, cepet, nanti ketinggalan pesawat, kita akan segera berangkat ke bali” ia pun mengangguk dan mencopot bajunya pengantennya dan berganti sebuah baju kaos ungu, bertuliskan “just for you”… kulihat lekuk dadanya mengeras, mungkin ia juga teransang kebelet banget… kutarik segera tangannya, kamipun bergegas meninggalkan ruangan ganti…

“mama kami pergi dulu ya”.... “papa kami pamit” itu kali pertama aku mencium tangan mertuaku "hati-hati ya" kata mama… kamipun bergegas ke bandara… pesawat kami satu jam lagi. Sebuah taxi biru menunggu diluar, sopirnya terlihat keringatan karena terik didepan gedung serba guna itu “pak!.. cepetan ya, jangan sampai ketinggalan pesawat”… ia duduk disampingku sambil terseyum seoalah melepaskan keraguannya selama ini… aku kembali ingin memeluknya tapi sopir taxi itu sesekali melihat kaca spion, aku tak tau apa ia iri, tapi ia tua, mungkin ia pengen manten lagi… Aku hanya meremas tangannya, ia pun menggenggam erat, seakan tak akan rela melepaskan aku pergi…

“para penumpang pesawat tujuan denpasar, diharapkan segera memasuki ruang tunggu, karena pesawat akan segera diberangkatkan”… kami semakin bergegas, hasratku hilang sejenak… istriku membawa satu koper dan aku hanya membawa tas ransel, pakaian kami belum disatukan, karena baru hari ini kami boleh berdekatan setelah beberapa hari dipisahkan kamar… Akupun menyodorkan tiket… pintu masuk kulewati… akupun kemudian cek in “berdua mas” kata petugas lion air…aku bilang “ya mbak” sambil terseyum, petugas yang cantik itupun menatap Tanya.. ia mungkin juga iri melihat keserasian wajah kami…. Akupun segera berlari, loket boarding pas dilewati lagi.. kubayar Rp 60 ribu berdua, biasanya aq naik pesawat sendiri cukup Rp.30 ribu saja…. Kami duduk hanya sebentar kulihat ia masih terseyum, namun napasnya terlihat mulai sesak, mungkin ia mulai grogi…

“silahkan mas” kata pramugari… akupun mencari no kursi itu 8a dan 8c, ya persis kami duduk berdua didekat kaca kecil, “adik aja yang dipinggir” ia pun mengangguk dan terseyum… itu kali pertama aku memanggilnya adik di dekatnya langsung… kami pacaran 4 tahun tapi hanya sekali pernah berjumpa, itupun hanya sesaat hanya untuk memastikan ia ada dan cantik, karena saat itu ia tak mau dicium, katanya ditabung aja untuk MP (malam pertama red)…

Kamipun duduk terdiam sejenak… kubuka percakapan.. “adik, adik tadi udah makan”.. ia pun menggeleng “ kalau begitu makan roti ini aja, ntar gak ada tenaga”… ia pun meraihnya… aku kembali meremas tangannya… kuberanikan diri merebahkan kepalanya di dadaku… ia pun pasrah… ia menelan roti itu dengan pelan, sambil membayangkan apa yang akan terjadi nantii…

“taxi”…. “mas”… sebuah taxi merapat.. “antarkan ke pantai kuta ya, hotel sahid” ia pun mengangguk dan memasukkan koper dan ranselku ke bagasi… kamipun harus duduk berdua kembali dikursi taxi yang kedua, sambil harus gigit jari…

“petugas hotel menyapa ramah, kulihat sebuah bunga kamboja terselip ditelinganya, itu adalah ciri pramuniaga hotel di bali… “slamat sore pak, mau pesan kamar” akupun mengangguk “aku pesan ekslusif room”… ia pun menyodorkan sebuah kertas “tolong mas tulis namanya”… akupun menyerahkanya kembali bersama deposit cost.. untuk satu malam Rp.500 ribu. Kamipun bergegas mengikuti langkah petugas juru kunci hotel, aku tak mau jauh, aku berjalan sambil menggandeng istriku..kutaruh tanganku dipinggangnya, iapun agak terkejut.. mungkin ia tak menyangka aku begitu berani, iapun membalas mesra..…ternyata kamar kami persis berhadapan dengan laut pantai kuta… “silahkan mas” akupun bergegas masuk… petugas itupun hilir mudik, akhirnya kuusir ia untuk segera pergi dengan selembar uang tips Rp. 20 rb… ia pun terseyum dan pergi sambil basa basi “makasi mas, semoga berbahagia”….

Kututup pintu itu dengan 2 kali kunci… namun aku tak menyangka istriku yang dari tadi diam, dan lemas, ternyata langsung menyergapku dari belakang dan memelukku …akupun membalas, ia berbisik “ayo cepet cemas” … akupun membuang ranselku… Kulihat malam baru tiba, terlihat langit masih merah pertanda mega masih menahan malam… namun aku tak peduli, akupun menggendongnya, terasa berat namun hasratku membuat ia ringan, kulemparkan ia kekasur itu… iapun rebah menengadah.. namun begitu aku akan melumat bibirnya… ia pun intrupsi.. maaf ya aku pipis dulu…. Akupun mengangguk… aku menunggu sambil menatap pintu wc itu…terasa lama…



.....free memory ............... SENSOR........




Malamm itu hampir tak pernah tidur, mungkin kuulang hingga delapan kali…. Hingga fajar menyapa pagi…. Kamipun beranjak ke kamar mandi…. Kebetulan hotel itu dengan air hangat,,,, kami saling menyabuni…. Ia pun tertawa riang,,, lepas dan bahagia…. Akupun menggeledek pinggangnya hingga ia jingkrat karena geliii… lama dikamar mandi…. Kami akhirnya melakukannya lagi dikolam itu……. Kulihat air maniku mengapung di bak itu…….

Kamipun menuju restoran hotel, mengambil sarapan gratis, aku mengambil nasi goreng dengan telur mata sapi, istriku memesan roti bakar keju dengan jus jeruk… kami lama bercanda dan bercerita sambil menguyah aneka buah, tak ada lagi cerita sedih masa lalu, diskusi penuh dengan cerita humor saja….


Kami keluar berjalan ke pantai….. kami pun mandi…. Pagi itu masih sepi.. hanya beberapa orang berjalan di pasir putih itu. Pantai kuta bali sangat landai…. Seakan lapangan sepak bola dari pasir putih agak hitam….. kami pun tak sengaja melakukannya lagi di dalam air laut, terasa sulit tapi kupaksa bisa……

Kami pun beranjak membilas badan dipancuran…… lalu aku mengajaknya ke kolam hotel…… disana aku hanya bisa merabanya karena petugas hotel melirik mengintippp....

Siang itu kami berjalan, menyuri jalan pantai kute, hingga tiba di sebuah pasar seni yang mungil, kami berbelanja sekedar cenderamata, sebuah kalung kerang… aku memasangkannya hinggga istriku terseyum kesekian kalinya….

Kamipun berjalan pulang, hari sudah amat siang…. Kami singgah di depan hotel, disamping sebuah ruko,,, ada sebuah warung padang,,, kamipun makan dengan gembira… sesekali ia mencubitku…. Ia semakin geli dan ingin main lagiiiiii

Kamipun bergegas ke kamar hotel dan tanpa basa basi dan persyaratan lagi, kami bersenggama lagiii hingga sore tiba….. magrib tiba, kami keluar sejenak dan makan di restoran hotel dengan lilin ala pangeran jogja…… aku menyuapinya hingga ia tersipu bahagia….

Hari seperti itu berjalan terus, hingga 6 hari di bali usai….. hingga 3 botol madu dari ibu mertua tinggal botolnya, hingga lutut kami terasa lemah……. Kami pun harus pulang ke rumah melanjutkan hari-hari-hari indah dirumah kami, aku bekerja disebuah kantor pemerintah, ia juga bekerja disebuah perusahaan swasta…… pulang kerja terkadang kami langsung bersenggama…. Hingga akhirnya kami memiliki dua putra yang 1 gagah seperti aku dan yang satu cantik seperti istriku….. sebuah keluarga yang bahagia dalam kesederhanaan……

+++++ we dream +++++

tangisan rindu

CINTA LILIN
Karya : aa diam

aku tak ingin apapun
aku tak meminta lagi
aku tak perlu dikasihani

tanpa pesanmu aku masih bisa berkata
tanpa suaramu aku masih bisa berteriak
tanpa wajahmu aku masih bisa bersolek

aku ingin tegar
aku lebih baik bisu
tanpa kata minta lagi

aku bisa ada tanpa siapapun
aku akan tiada tanpa teman
aku cukup memeluk aku

lilin berkaca cinta
ia memberi cahaya
namun menenteskan air panas

rindu lilin bukan raba
cinta lilin bukan nafsu
hasrat lilin bukan hewan

kita adalah manusia
kita tak mungkin jadi malaikat
kita mungkin akan jadi aneh

Minggu, 15 Juni 2008

bidadari di atas mendung

PUTRI SALJU UNGU

Karya : aa aja

Hari itu kurang terik
Mendung juga tak hitam
Angin bertiup agak alon

Aku bermimpi
Bermain di awan
dengan seutas imajinasi

Aku bertemu putri yg kucari
Ia berbaju ungu
Tanpa balutan lipstik lagi

Ia membuka bajunya
Aku terkesima
Hampir roboh khayal

Kulitnya putih
Lekuk dadanya indah
Pahanya panjang

Rambutnya terurai lepas
Kukunya transparan darah
Ia memanggilku aa..

Kukecup keningnya
Kukupas hatinya
Terlihat goresan kecil masa lalu

Aku geram dengan dia
Dia yg menggores kaca itu
Dia tak punya warisan malu

Aku menghiburnya
Kudongengkan kera menyusui
Ia berkata lucu juga

Aku menggendongnya
Ia manja manis
Ia rela luluh

Aku memasang bajunya
Kubisikan pesan
Bukan untuk hari ini

Mungkin tiba kala
Aku akan membuka sendiri baju ungu
Akan kuhabiskan hingga tetes liur terakhir sirna


” aa menyangimu, seperti aa menyangi gelas agar tak pecah ”

manusia menikahi bumi

SEBUAH RENUNGAN SOSIAL YANG BERPIJAK

Abstrak

Saya mengawali komentar saya dengan ucapan terima kasih kepada Para Maha Guru yang Sangat Terpelajar, yang telah memberikan nuansa berpikir lain tentang dunia kemasyarakatan. Ilmu Alam terasa kaku tanpa pemahaman makna dari ilmu sosial. Ilmu sosial menjadi tidak membumi manakala tidak berpijak pada ilmu Alam. Kedua-duanya adalah saudara kandung yang harus dipahami dalam suatu paradigma berpikir yang filosofis namun realistis.

Saya ingin memperlihatkan beberapa catatan yang penting tentang kekuatan pemikiran teori sosial namun juga gagal dalam implementasinya, untuk saya ingat dan kita luruskan yaitu sebagai berikut :

1. Pemikiran Emile Durkeim tentang pembagian kerja pada masyarakat industri ternyata secara tidak sadar telah mendorong stratifikasi sosial, para pekerja ahli dengan skillnya telah memperoleh lebih banyak pendapatan, sementara pekerja buruh dengan cucuran keringatnya telah melahirkan kemiskinan. Kasus bunuh diri adalah satu fakta kegagalan kekuatan sosial pada sebagain individu yang terasing. Gagasan Durkheim tentang metodologi melihat sebuah realitas sosial melalui fakta sosial tidak mampu melahirkan sebuah masyarakat yang lebih humanis atau masyarakat yang dapat memahami kelebihan dan kekuarangannya. Peran profesionalisme ternyata juga gagal membangun masyarakat yang lebih beradap dewasa ini.

2. Pemikiran Karl Marx yang radikal cendrung emosional artinya perubahan sosial bersifat menyeluruh, cepat dan bersifat kekerasan (revolusioner). Masyarakat Borjuis dan negara penuh kelemahan. Liberalisme, kapitalisme dan demokrasi sebagai sumber kebobrokan masyarakat. Menurut Marx faham liberalisme melindungi kerakusan yang mengakibatkan terhadap penindasan. Cara menghilangkan penindasan dengan menghilangkan “hak milik pribadi”. Karena hak milik ini digunakan sebagai alat penindasan. Liberalisme dalam bidang politik menghasilkan demokrasi dalam bidang ekonomi menghasilkan kapitalisme. Inti dari demokrasi adalah yang baik buat masyarkat ditentukan oleh masyarakat sendiri. Dalam Kapitalisme terjadi swastanisasi . Masyarakat diganti dengan pasar bebas . Penguasa ekonomi adalah pemilik uang . Dalam hal ini dicirikan bahwa masyarakat itu terdiri dari kelas menengah yang – rakus dan penuh ambisi. Apakah kemudian Marx mampu membumihanguskan kapitalisme dengan sosialisme..?

3. Pemikiran Max Weber melalui rumusan “the protestan of etic and the sprit of capitalism” ternyata sangat jauh dari rasionalisme yang menjadi roh pemikirannya. Rasionalisme ekonomi kapitalisme dan rasionalisme organisasi hanya mampu berada dalam alam ide. Pada kenyataannya manusia semakin rakus tamak, terbukti dengan semakin komplesnya stratifikasi dan kesenjangan pendapatan yang melahirkan kemiskinan ganda. Max weber ternyata hanya mampu melihat makna rasionalisme dalam pemikiran masyarakat protestan, tanpa mampu mengimplementasikan dalam sebuah konsep konkrit rasionalisme ekonomi kapitalis yang sosialis.

Akhirnya saya sadar bahwa, ketiga tokoh klasik maha guru sosiologi di atas baru sampai tahap membuka tabir pemikiran kita tentang sebuah masyarakat yang ideal dalam pemikiran dan kita sebagai generasi saat ini dituntut untuk dapat membumikan pemikiran itu dalam sebuah konsep yang rasional, logis dan realistis.

Negara Federal Indonesia, 15 Juni 2008

Jumat, 13 Juni 2008

Basahnya Putri Cindrella

HUJAN DIUJUNG KEMARAU
Karya : Petani Miskin

Hati lama gersang
Tanah lama kering
Alam lama sunyi

Hari itu tiba jua
Tanpa sapa awan
Hujan tua tiba

Satukan retak
Hayutkan debu
Hapuskan terik

Kodok nyanyi merdu
Belalang lompat ria
Kupu-kupu bersayap pelangi

Haripun penuh bunga
Malam ramai bintang
Waktupun penuh bayangnya

Ia tersenyum sendiri
Dikamar memeluk guling
Hatinya bercermin jenaka

Hari esok menanti
Setitik harapan bisu
Dihiasi langit asmara

Embun berkaca kabut
Air membelai bebatuan
Malam merayu bulan

Ia terlentang manja
Tangannya meremas peluh
Kakinya menggeliat rindu

""""" cinta terasa banget, kala ia pergi lama """""

Dinginnya Bukit Barisan

DIA HANYA RAGU...
Karya : Seorang Filosof

Sesali 1 perbedaan
Membuatmu hanya ragu
Langkahnya semakin layu

Ragumu jadi malu
Ragumu berujud bisu
Ragumu karna beda baju

Aku telah asa
Aku akan pergi
Aku mungkin tak ada lagi

Mega akan bertamu
Keriput semakin merapat
Sesal tak akan bearti

Lanjutkan saja ragumu
Lanjutkan saja egomu
Lanjutkan saja mimpimu

Aku hanya sebuah puisi
nyanyian suara hati
lebih indah dari diam

Dia pergi tanpa jejak kata
Aku pun pergi tanpa jejak cinta
mungkin kita hanya papasan...

^^^^^ dingin itu tetap beku, bila tak dibawa ke terik ^^^^^

Rabu, 11 Juni 2008

Rebahnya Permaisuri Biru

Andai Malam Pertama Datang..
Karya : Sang Pemimpi

Ketika akad itu tiba
Tangan berjabat gemetar
Mata menatap berkaca
Hati jatuh berbunga

malam kunjung lama
siang terasa panjang
famili tak jua pulang
kami tak tahan raba

Malam itu purnama
sepotong lilin menyala
ranjang biru bisu
bergoyang bukan gempa

Aku membuka bajunya
sambil berbisik lirih
adik...
ini waktu yg ditunggu

Angin semakin dingin
jangrik bernyanyi pikuk
anjing terdiam liur
kodok juga tergoda

Gerimis mulai turun
menyapu dosa muda
tergeletak ia pasrah
akupun merapat jua

Kancing itu lepas
kuraba halusnya kulit
kucium farfum wangi
kuremas relung rawan

Malam pun ikut hayut
rayu jadi bisu
hanya desah napas
permaisuri terpejam

Bulan mengintip malu
ia terseyum sipul
permaisuri rebah
bersimbah darah perawan

Perjaka muda lepas
gelora raga terpendam
memancar air deras
terpercik di rahim suci

Fajar jadi grogi
ia menyapa pagi
dua sejoli lunglai
penuh seyum puas

@@@@@ mimpi itu mudah, nyata itu mahal @@@@@

Selasa, 10 Juni 2008

GIS untuk irigasi

PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI
UNTUK PENGELOLAAN IRIGASI
PADA LAHAN KERING DI INDONESIA
Oleh : aa...kandidat doktor bidang air aja...

Abstrak

Potensi lahan kering di Indonesia cukup luas yaitu 58,5% total luas lahan yang ada. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung program ketahanan pangan Nasional. Salah satu kendala pengembangan lahan kering di Indonesia adalah keterbatasan air irigasi. Untuk itu system informasi geografi diharapkan mampu memberikan solusi dalam pengelolaan air irigasi secara keruangan sehingga lebih efisien, efektif dan produktif untuk produksi pertanian.
Sistem informasi Geografi untuk aplikasi irigasi dibangun dengan menyediakan komponen perangkat keras, perangkat lunak, data dan informasi, manajemen dan penggunanya (user). Sistem ini dibangun pada sebuah wilayah propinsi atau kabupaten, kemudian diperkuat di beberapa lokasi simpul seperti kecamatan atau kantor bendung, sehingga diperoleh komunikasi yang baik antara pusat data dan operasi lapangan.
Sistem informasi diharapkan mampu menjawab tantangan pengelolaan air irigasi yang selama ini dilakukan secara manual dan tradisional. Sistem irigasi dikelola melalui input data lokasi pelanggan (sawah), unsur bangunan bendung, daerah resapan air, unsur debit air tersedia, unsur jaringan irigasi (saluran primer, sekunder dan tersier) serta realitas social dan ekonomi masyrakat.
Data-data tersebut kemudian dianalisis melalui sebuah analisis modeling untuk berbagai penggunaan. Aplikasi GIS untuk manajemen irigasi dapat dimanfaatkan untuk perencanaan konservasi daerah resapan, pembangunan dan pengembangan bendung, perencanaan rehabilitasi dan pemeliharaan jaringan irigasi, kegiatan operasi distribusi air irigasi, optimalisasi organisasi irigasi, pengambilan keputusan strategis, manajemen transit air irigasi antar bendung, dan manajemen penanganan kekeringan.

Beberapa Aplikasi GIS Irigasi
Meningkatkan pengintegrasian organisasi

Salah satu ciri organisasi irigasi adalah besar dan tersebar, pada suatu wilayah terdapat banyak daerah irigasi, banyak petugas juru pintu bendung, juru irigasi, penjaga pintu air dan masyarakat pemakai air (P3A). Sistem on-line system (wireless), GIS mampu menjadi pusat informasi dan komando sehingga diperoleh keterpaduan dalam peningkatan kinerja manajemen terhadap organisasi maupun pengelolaan sumberdayanya air yang terbatas. GIS memiliki kemampuan untuk menghubungkan berbagai perangkat data secara bersamaan berdasarkan geografis, memfasilitasi informasi antar bagian/wilayah, untuk saling termanfaatkan dan dikomunikasikan.

Membuat keputusan-keputusan lebih sempurna
GIS bukan sebuah sistem yang mampu membuat keputusan secara otomatis. GIS hanya sebuah sarana untuk pengambilan data, menganalisanya, dari kumpulan data berbasis pemetaan untuk mendukung proses pengambilan keputusan. Teknologi GIS irigasi dapat membantu berbagai kegiatan pekerjaan seperti keputusan luas tanam aman berdasrkan informasi debit, membantu memecahkan masalah yang berkaitan dengan kekeringan, atau keputusan tentang lokasi jaringan irigasi mana yang perlu direhabilitasi. GIS juga bisa digunakan untuk membantu meraih keputusan mengenai lokasi bendung baru yang memiliki sesedikit mungkin dampak lingkungan atau minimal dalam pembebasan lahan pemukiman, berada di lokasi yang memiliki resiko paling sedikit, dan berada pada posisi topografi yang optimal untuk mengairi areal yang paling luas.

Membantu membuat peta daerah irigasi.
Peta merupakan kunci pada GIS. Proses untuk membuat (menggambar) peta dengan GIS jauh lebih fleksibel, bahkan dibanding dengan menggambar peta secara manual, atau dengan pendekatan kartografi yang serba otomatis.
Dimulai dengan membuat database. gambar peta yang sudah ada bisa digambar dengan digitizer, dan informasi tertentu kemudian bisa diterjemahkan ke dalam GIS. Database kartografi daerah irigasi berbasis GIS dapat bersambungan dan bebas skala. Peta-peta kemudian bisa diciptakan terpusat di berbagai lokasi, dengan sembarang skala, dan menunjukkan informasi terpilih, yang mencerminkan secara efektif untuk menjelaskan suatu karakteristik khusus suatu daerah irigasi.

Manajemen Prasarana irigasi
GIS digunakan untuk mengelola dan menganalisa berbagai informasi dengan geografi sebagai komponen utamanya. Informasi digunakan untuk mengelola bendung, jalan inspeksi irigasi, rumah jaga pengairan, daerah pasang surut bendung, dan fasilitas lainnya. GIS bisa dimanfaatkan untuk menentukan lokasi dari suatu aset dan keterkaitannya atau kedekatannya antara satu dengan lainnya terhadap peristiwa atau aset yang lainnya, di mana hal tersebut merupakan faktor-faktor kritis yang harus diperhatikan untuk memutuskan suatu kelestarian asset yang begitu berharga, sebagai contoh harga satu pintu buah pintu air type A kalau hilang sekitar 15 juta, dapat dibayangkan bila satu daerah irigasi ada 25 pintu air, maka satu kabupaten bisa memiliki 250 pintu air yang harus dipantau keberadaannya.

Manajemen distribusi air
Sebuah kegiatan operasi irigasi yang efisien membutuhkan sebuah jadwal distribusi air yang adil, cukup, akurat dan tepat waktu. Misalnya untuk mengetahui sudah sampai di manakah sebuah aliran air irigasi, memungkinkan untuk pemantauan air, sehingga asset air dan staf yang terbatas dapat lebih optimal dan hemat. Kepuasan pelanggan (petani), posisi, respons yang cepat, pendayagunaan yang efektif, serta kemungkinan untuk mengalihkan kelebihan air dan berbagai kemungkinan yang bisa diraih secara cepat. GIS dapat membantu memantau kapasitas sistem, katup-katup, efisiensi, serta distribusi menyeluruh dari air di dalam sistem. Misalnya debit pintu bendung 1 M3 per detik, setara dengan 1000 liter/detik, maka dapat mengairi 1000 ha per harinya (standar kebutuhan padi 1 liter/detik/hari).

Manajemen Transit air
Perencanaan rute air irigasi, pengiriman bantuan cepat untuk kekeringan, analisa pelayanan mendesak, dan pola transit antar bendung, akan diperoleh keuntungan dengan cara melakukan pemahaman sebaik-baiknya terhadap model jalur transit, rute air, dan lokasi. Rute perjalanan air dapat dikelola secara langsung melalui database jaringan irigasi dan dikaitkan terhadap areal persawahan seperti pada sistem database dari sebuah skedul.

Mengelola Gagal Tanam dan Gagal Panen
GIS dapat digunakan untuk membantu mengelola sumberdaya pertanian dan perkebunan skala kawasan yang luas secara optimal dengan resiko gagal tanam dan gagal panen minimum. GIS menetapkan masa tanam yang tepat, memprediksi masa panen, mengembangkan sistem rotasi tanam, dan melakukan perhitungan secara tahunan terhadap debit, curah hujan dan scenario pola tanam dan jenis tanaman yang paling menguntungkan secara ekonomi dan teknis.

Jumat, 06 Juni 2008

Jogja sendiri lagi

SENDIRI MENDAKI MERAPI
Karya : Sang Penjelajah

Pagi itu bersahaja
Jogja terbangun lebih pagi
Fajar menyapu petang
Mentari terseyum segar

Aku sendiri menapak kaliurang
Melangkah menatap merapi
Berharap sejuta rasa
Tanpa bualan dusta lagi

Nenek tua memberiku sapa
Tukang becak mengemas tikar kardusnya
Bibi pulen bergegas ke pasar
Mas tarto mendorong jualannya

Kaki merapi penuh pasir
Tadi malam lahar mengalir
Marah yang penuh kasih
Tuk para penambang miskin

Kulihat alam tak lagi pilu
Kulihat ilalang tak lagi menangis
Kulihat batu tak lagi murung
Kulihat pasir tak lagi gersang

Kusapa embun ia pun malu
Kusapa nyiur ia melambai
Kusapa air ia mengalir
Kusapa angin ia membelai

Sendiri berjalan bebas
Searah jalan setapak
Mencari ketinggian sunyi
Tuk menatap lembah damai

Dipuncak….
kumelukis langit
Kumerayu putri malu
Kubercanda siulan burung
Kumencium bunga hutan

Aku percaya hanya pada alam
Ia terseyum tanpa dusta….….

Cinta di cermin

CINTA TANPA CERMIN
Karya : Sang Pengelana

Glora rasa
Separuh ria
Gerah siang
Mesra malam

Itu ilusi cermin…

Kupegang jemari, tangan tak sampai
Kucium pipi, hidung tak mancung
Kutatap mata, wajah terhalang
Kubisik kata, hanya perantara

Pesanpun kusam
Suarapun sayup
Puisipun bosan
Rindupun terpendam

Bertemu terikat tali
Bertandang terkena siri

Jauh mesra
Rindu hampa

Tertawa pergi
Tangis datang

Cermin itu pecah
Hanya tinggal air bening
Itulah fakta
Itulah taqdir

Kumelangkah tanpa arah
Kuikuti suara alam
Kunyakini garis lengkung
Kukembali terlahir lagi

Sendiri itu dekat
Sendiri itu cinta
Sendiri itu indah
Sendiri itu jujur

>>>>>>>> the end of love play <<<<<<<<

Sandiwara itu sia

SANDIWARA DUSTA

Karya : Sang Pengembala

Skenario itu salah lagi...
pecahkan bersama
biar tak ada tersangka
“cut” kata sutradara

Kau pecahkan kaca
Kau hancurkan muka
Kau hamburkan kata
Kau siramkan dusta

Pening…
Tetes air mata maya
Badan lunglai rata
Semua hanya sia

Dia buta mata
Dia tuli suara
Dia bisu kata
Tapi kau lebih ekstrim lagi

Aku kecewa
Tak bisa terima
Maaf itu langka
Dusta itu sakit

Siapa lagi
Kapan saja
Dimana pun
Kau tebar pesona

Kau punya sejuta hati
Hati kilat ludah
Hati terlalu asa
Raga haus cinta

Aku tak percaya lagi
Kepolosanmu hanya sedetik
Kamar ilalangku lebih bermakna
Sendiri tanpa nyanyian dusta

^^^^^ kejujuran itu tak abadi ^^^^^

Kamis, 05 Juni 2008

Titik itu diam

KAPAN TITIK MENJADI KATA

Karya : Si Pengemis

Kumenunggu..
Hatimu tak jua menyapa
Trauma itu amat kuat

Kumenanti..
Seyummu tak jua mekar
Orang penuh usil

Kumerayu..
Biar sedih mu hanyut
Engkau sudah kebal

Kusemakin letih..
Koma pun samar
Kata tak jua ada

Aku protes!!!!!

Kapan titik jadi koma
Kapan koma jadi kata
Kapan kata jadi nyata
Kapan nyata itu ada

Aku mengenalmu meski hanya maya
Aku melihatmu meski hanya bayang
Aku mendengarmu meski hanya jauh
Aku menyukaimu meski kata hati

Apa arti semua ini bila hatimu mati
Apa guna semua ini bila egomu tinggi

Aku hanya ingin satu kata
Titik yang pasti…

***** samar itu kejam *****

Rabu, 04 Juni 2008

pasar bebas benarkah?

PERDAGANGAN INTERNASIONAL DAN
KETIDAKBERDAYAAN NEGARA BERKEMBANG


Ada beberapa hal yang dapat disimpulkan dari persolan ketidakberdayaan Negara berkembang seperti Indonesia dalam menghadapi perdagangan internasional yang didominasi oleh Negara industri sbb:

1. Ketidakseimbangan nilai tukar mata uang, dimana nilai tukar mata uang Negara berkebang sangat rendah berkisar 1: 1.000 – 100.000, ini suatu perbandingan yang tidak adil, sehingga neraca perdagangan Negara berkembangg selalu lebih besar import dari nilai eksport. Hal yang dapat dilakukan adalah memperkuat Negara persekutuan, seperti membentuk Uni-Asia atau Uni-Afrika;
2. Ketidakseimbangan harga jual, dimana nilai produksi Negara berkembang yang umumnya berupa bahan baku mineral, pertanian, kayu, perikanan, ternak dll, bila dibarter dengan produk Negara industri seperti produks elektronik, otomotif, makanan jadi, dll, tidak seimbang. Sebagai contoh kayu 1 m3 hanya dihargai 3 juta rupiah, bila dibandingkan dengan produk hp yang kecil hanya 100 gram mungkin terlalu tidak adil. Sehingga perlu dilakukan proporsionalisasi harga produk bahan baku dan barang jadi secara seimbang;
3. Negara berkembang berada pada tekanan issue lingkungan, seperti kerusakan hutan, namun Negara industri penghasil gas karbon, tidak pernah memberikan konvensasi atau membayar jasa dari nilai lingkungan dari hutan berupa oksigen. Negara industri seperti Amerika pada saat Konprensi Pemanasan Global tahun 2007 lalu bahkan meninggalkan ruangan siding karena menolak untuk membayar oksigen dari hutan Negara berkembang. Artinya Negara industri juga harus memberikan konpensasi nilai lingkungan (jasa lingkungan dari Negara berkembang);
4. Standarisasi ISO, pada produk barang dan jasa dalam perdagangan internasional cendrung menguntungkan Negara industri, hal ini menyebabkan banyak produk dari Negara berkembang tidak diterima di Negara industri tetapi sebaliknya produk dari Negara industri dengan leluasa masuk ke Negara berkembang. Standarisasi yang dibuat sering tidak adil dan mengabaikan ketidakberdayaan dan kapasitas Negara berkembang yang lemah, tentu saja ini sulit dibandingkan, miaslnya imanajemen control pada produk Negara industri dengan tekbologi yang canggih dan SDM yang professional bila dibandingkan dengan system tradisonal dan SDM yang pas-pasan di Negara berkembang. Standarisasi sperti ISO 9000, atau ekolabeling dalam perdagangan internasional mestinya diberlakukan secara bertahap dan berjenjang dengan memperhatikan kondisi Negara berkembang;
5. Era Mcdonalisasi atau perdagangan hak cipta atau merk harus diperlakukan secara bijaksana, seperti misalnya KFC atau the cola cala, di Indonesia, hampir semua bahan baku, proses dan sarana serta prasarananya berasal dari produk local, hanya merk, standard dan hak cipta dari Amerika, namun tidak adilnya bagian mereka dari margin keuntungan terlalu besar bila dihitung dari segi investasi nilai asettnya. Hal ini menyebakan perdagangan internasional menguras habis Negara berkemabang. Hanya dengan modal merk negera industri kemudian tertidur lelap dan berekreasi keliling dunia dari hasil penjualan merk seperti KFC dan Coca cola, sesuatu yang amat kapitalis, serakah dan tidak adil.
6. Akhirnya apa.., Negara berkembang menjadi konsumen produk Negara industri. Penjajahan ekonomi terjadi di Negara berkembang akibat perdagangan internasional baik penjajahan pasar maupun penjajahan dalam eksploitasi sumberdaya alam misalnya di sector pertambangan dan migas oleh Negara industri. Saya berpendapat bahwa perdagangan internasional telah menjadikan Negara berkembang kehilangan harga dirinya, dunia menjadi homogen dalam kebutuhan akan produk barang dan jasa, bahkan menjadi relative semakin homogen dalam merk dan tren.

Selasa, 03 Juni 2008

Sebuah Nama

SEBUAH NAMA
Karya : Sang kawan

Dalam hati terdalam
Terukir sebuah nama
Diwajahnya terpancar cahaya
Indah tak terlukiskan kanpas
Ia sejuk bagai embun
tuturnya penuh kearifan, kelembutan dan kasing syang

Berharap setitik tapak di hatinya..
Tempat berlabuh sebuah harapan
Harapan yang tak bermata, tpi bermakna

Cinta yang bertepi
Kasih sayang dalam persahaban abadi

jangan disalahkan
ia lahir dari relung hati
ini sebuah takdir senja..

akan bersambung ... seiring surya

$$$$ from some one to some one $$$$

Cinta tak lagi buta

MERPATI AKHIRNYA PUNYA HATI
Karya Al-fath Diraja

Kusapa, ia menyahut
Kuseyumi, ia tersipu
kupancing, ia pun jujur
kukenalan, ia menyambar

Ia tanya umur, aku bilang belum tua
Ia tanya uang, aku bilang sudah kerja
Ia tanya asal, aku bilang bukan desa
Ia tanya kulit, aku bilang hitam manis

Kutatap muka, matanya terpana
Kupegang jari, tangannya meremas
Kucium kening, pipinya merona
Kubisik cinta, suaranya mendesah

Kuceritakan pagi, mentari terseyum
Kuceritakan malam, bulan tersipu
Kuceritakan hutan, pohon mengangguk
Kuceritakan laut, ikan melompat

Kukirim pesan, ia berbunga
Kukirim suara, ia manja
kukirim coklat, ia lengket
kukirim rayu, ia mati suri

aku buat rindu, ia sayang
aku buat ulah, ia ngambek
aku buat minta, ia beri
aku buat lucu, ia tertawa


##### cinta memang gila #####

Senin, 02 Juni 2008

Sepi sendiri

SENDIRI DIKAMAR KOS
Karya al-fath diraja

Kulihat cecak ia hanya diam,
Kulihat nyamuk ia hanya terbang,
Kulihat semut ia masih sibuk,
Kulih kecoak ia masih dansa,

Kuhidupkan laptop ia juga murung
Kuhidupkan hp ia juga letih
Kuhidupkan musik ia juga lirih
Kuhidupan tv ia juga tak menarik

Kuseduh kopi, ia hanya pahit
Kucelup roti, ia hanya lemas
Kurebus mie, ia hanya malas
Kutelan permen, ia hanya enegg

Kubuka jendela, angin tak bertiup
Kubuka pintu, tamu tak berkunjung
Kubuka baju, hujan tambah lebat
Kubuka hati, tak ada juga menyapa

Aku intrupsi, malaikat juga sepi
Aku berteriak, didnding juga tuli
Aku menyanyi, telinga tak ada lagi
Aku diam, malam semakin sunyi

Kupatahkan pensil, itu tambah jengkel
Kupukul meja, itu tambah dongkol
Kutendang botol, itu tambah monyong
Kubenturkan kepala, itu tambah konyol

Kuingin belanja, bulan telah tua
Kuingin mandi, air telah dingin
Kuingin telpon, ia telah pergi
Kuingin marah, ia tak ada lagi

Kutarik selimut, mata tak terpejam
Kubalik badan, kasur tak terusik
Kupeluk bantal, badan tak juga binal
Kutelusuri mimpi, basah tak juga nyata


#### manusia ada kala hatinya berbunga ####

Kupu kupu merana

KUpu-KUpu MEMINANG kuRA-kuRA

Karya al-fath diraja

Kupu-kupu sisa
Gilasan roda gila

Kura-kura biru
turunan peri laut

kupu-kupu meninang
kura kura pura malu

jua, tak juga berkaca
bicara, tak juga mencerca
canda, tak juga menyiksa
cerita, tak juga nyata

jadi juga tidak
tidak juga asa
berbeda dalam alam
berbeda dalam lara

kugapai hujan ia pun menangis
kubelai bulan ia pun murung
kupegang petir ia pun marah
kugenggam belut ia pun lepas

kura-kura trauma
sembunyi dalam cangkang egosinya
kupu-kupu letih
terbang dalam udara pilu

kura-kura tersenyum
penuh dendam terpendam
kupu kupu tertawa
mendekati gila

asa terasa
pilu melulu
tegar tak segar
sabar tak kelar

@@@@ munafik itu lucu @@@@

Si senja miskin ciuman

SENJA INGIN MENCIUM PAGI

Karya al-fath diraja

Aku ingin memanjat langit, tapi tak ada tangga
Aku ingin terbang ke awan, tapi sayapku patah
Aku ingin mengarungi laut, tapi layarku pecah
Aku ingin melanglang jalan, tapi kakiku patah

Kucari tanah ia hanya coklat
Kucari air ia hanya kopi
Kucari batu ia hanya keras kepala
Kucari pohon ia hanya lapuk

Kutemu bintang ia juga bimbang
Kutemu bulan ia juga hilang
Kutemu mentari ia juga terik
Kutemu planet ia juga aneh

Terlambat sudah…
Senja telah tua
Pagi juga jauh
Malam akan sepi

Kujadi angin, ia mati rasa
Kujadi tuyul, ia lari lara
Kujadi pelangi, ia anak tk
Kujadi hujan, ia tak keluar

Aku ingin berhenti tapi jatungku ada
Aku ingin ke surga tapi belum dibuka
Aku ke kuburan tapi bukan mimpi
Aku hanya bersama aku…..

Aku asa asi
Lama akan basi
pagi tak ada lagi
Pagi terakhir telah pergi
Tinggalkan gelengan sunyi…



#### musnahkan egoisme usia ####

Puisi untuk nenek

SIAPA YANG MAU DINIKAHI NENEKKU??
Karya al-fath diraja

Ia nenekku…
Aura cantiknya masih tersisa
terlupakan virus waktu

Ia janda tua…
Segelnya masih utuh
sang kakek mati sebelum berjamu

Ia berharta…
Penuh kalung mutiara hati
warisan kakek zaman belanda

Ia solehah..
Tasbihnya berkomat zikir
alumni pesantern kuno

Siapa yg mau dinikahinya??

Kutanya malam ia juga buta
Kutanya siang ia juga bisu
Kuntanya air ia juga tuli
Kutanya monyet ia juga tak peduli

Kujawab doa namun juga pasrah
Kujawab dukun namun juga pikun
Kujawab kiyai namun juga geleng
Kujawab nasfsu namun juga absen

Kubeli iklan tapi juga gagal
Kubeli hadiah tapi juga t’ berfaedah
Kubeli maklar tapi juga bedebah
Kubeli jimat tapi juga tamat

Aku terharu maru
Biru burung
Gendah gendang
Gundah dendam

Aku masih nenanti
Nenek sudah ingin mati
Aku bertanya, siapa punya kunci

***** jodoh bukan datang bulan *****