Rabu, 14 Mei 2008

Ada masalah apa dengan Lahan Kering

ADA MASALAH APA DI LAHAN KERING???

A. PENDAHULUAN


Pada bulan April 1987, World Commission on Environment and Development menyelesaikan tugasnya menyusun konsep pembangunan berkelanjutan. Dunia yang saat itu sedang dirundung kemelut lingkungan, segera menyambut konsep baru ini dengan penuh harapan. Pemerintah Indonesia pun segera mengadopsi konsep tersebut. Pada bagian awalnya, laporan yang dikeluarkan komisi tersebut-yang berjudul "Our Common Future"-
Kini 21 tahun sejak lahirnya konsep Pembangunan Berkelanjutan telah berakhir. Apakah lingkungan hidup menjadi semakin baik sejak berlakunya Pembangunan Berkelanjutan? Dari media akhir-akhir ini saja bisa disaksikan, betapa besar bencana alam seperti kekeringan yang saat ini terjadi di mana-mana. Di pihak lain, bencana banjir juga cenderung meningkat. Belakangan juga muncul kebakaran, longsor dan kenaikan air pasang laut. Makin rusaknya lahan pertanian, makin meluasnya "kawasan mati" di berbagai laut akibat aliran limbah kimia dari daratan, hancurnya dasar laut karena penggunaan pukat harimau, serta tingginya tingkat perusakan di sepanjang pantai.
Berbagai kecenderungan yang mengkhawatirkan; antara lain 50% lahan basah (wetland) sudah musnah, 58% terumbu karang dalam keadaan terancam, 80% grassland terancam penurunan kualitas, 20% lahan terancam menjadi padang pasir dan penyediaan air tanah makin menipis dimana-mana. Sementara itu, Vital Signs menyebutkan pula tentang pengurasan sumber daya alam lainnya yang terus melaju serta bumi yang terus semakin panas.
Berdasarkan Statistik Kehutanan 1993, selama delapan tahun hingga tahun 2001 luas hutan telah mengalami penyusutan sebesar 32.2 juta hektar. Data resmi terakhir menyatakan bahwa kawasan hutan yang rusak di seluruh Indonesia mencapai 43 juta hektar, dengan laju deforestasi rata2 1,6 -2.4 juta hektar/tahun. Untuk sumberdaya pesisir dan laut, situasi juga tidak lebih baik dari sumberdaya daratan. Terumbu karang di Indonesia semakin menyusut akibat penangkapan ikan dengan cara yang merusak dan berlebihan, pencemaran, pembangunan kawasan pesisir dan sedimentasi. Antara 1989 dan 2000, terumbu dengan tutupan karang menyusut dari 36% menjadi 29%. Luas hutan bakau berkurang dari 5.2 juta hektar pada tahun 1982 menjadi 3.2 juta hektar pada 1987 dan menciut lagi menjadi 2.4 juta hektar pada 1993 akibat maraknya konversi bagi kegiatan budidaya.
Setelah dua puluh satu tahun, pelaksanaan Pembangunan Berkelanjutan pada tingkat global dapat dikatakan gagal. Indikatornya adalah pada tingkat global kualitas lingkungan masih tetap menurun, sebagian besar manusia masih hidup jauh dari tingkat pemenuhan kebutuhan dan aspirasinya, sedang sebagian yang lain hidup di luar batas kemampuan lingkungan dan sumber daya alamnya.
Ada tiga kemungkinan gagalnya pertanian berkelanjutan : (1) kesalahan yang terletak sejak dari konsep, (2) kesalahan strategi, atau (3) kesalahan pada pelaksanaan pembangunan berkelanjutan.
Namun untuk mengatasinya masih ada jalan. Paling tidak, ada tiga langkah yang perlu dilakukan. Yang pertama adalah menyadari kelemahan strategi pembangunan berkelanjutan. Yang kedua adalah menyertakan mereka yang ada di titik-titik strategis serta politisi yang pragmatis untuk menyusun agenda peningkatan kekuatan politik. Ketiga, membuat kesepakatan tentang agenda tersebut di antara para pelestari dan pecinta lingkungan.

Untuk dapat lebih memahami fakta kegagalan pertanian berkelanjutan, ada baiknya kita melakukan kajian empiris, berupa fakta kondisi pertanian di sebuah Kabupaten, tepatnya di Kabupeten ****** Tengah, yang dulu pernah terkenal dengan swasembada beras melalui program ”Gogo Rancah”. Kini swasembada beras itu telah pergi dan hanya tinggal lahan kering yang gersang dan tandus, dengan produktifitas yang rendah. Data kondisi ekologi, sosial dan ekonominya sbb :

1. Penduduk

Laju pertambahan penduduk di Kabupaten ****** Tengah menuntut pertambahan kebutuhan akan pangan, sandang dan papan. Jumlah penduduk berdasarkan sensus tahun 2000 berjumlah 745.758 jiwa pada luasan wilayah 120.839 ha yang berarti 1 jiwa didukung oleh 0,16 ha atau 1 ha harus menghidupi 6,2 orang.
Sektor Pertanian di Kabupaten ****** Tengah, masih menjadi sektor andalan dalam penyerapan tenaga kerja. Pada tahun 2003 penyerapan tenaga kerja pada sektor ini sebesar 260.425 jiwa (65,12 %) dari jumlah penduduk 745.578 jiwa.

Tabel
Table
: 1

Jumlah Penduduk dan Rumahtangga Kabupaten ****** Tengah Hasil Sensus Penduduk 2000 (SP 2000)
Population and Family HouseResult of Population Census 2000 in ****** Tengah Regency

Kecamatan
Jumlah Rumah tangga
Laki-laki
(L)
Perempuan (P)
L + P
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
Jumlah
203.223
352.761
392.817
745.578

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten ****** Tengah
Source Statistical Board of ****** Tengah Regency
2. Pangan dan Papan

Pertambahan penduduk, ternyata tidak diikuti dengan peningkatan produktifitas pangan. Sebagai contoh produktifitas pangan berupa padi sawah menurun terus, pada tahun 2000 produktifitas sebesar 47,01 ton/ha, kemudian menurun menjadi 46,93 ton/ha pada tahun 2001 dan pada tahun 2006 menurun menjadi 46,33 ton/ha.

Tabel
Table
: 2
Luas Panen, Rata-Rata Produksi dan Produksi Padi Sawah di Kabupaten ****** Tengah Tahun 2006
Area Harvested, Yield Rate and Production of Wetland Paddy in ****** Tengah Regency

Kecamatan
Districts
Luas Panen
Area Harvested
(Ha)
Rata-Rata Produksi
Yield Rate
(Kw/Ha)
Produksi
Production
(ton)
(1)
(2)
(3)
(4)
Jumlah / Total
78.358
46,33
363.068
2 0 0 1
79.281
46,93
372.030
2 0 0 0
74.895
47,01
352.051

Sumber : Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten ****** Tengah
Source Food Crops Agricultural and Livestock Service of ****** Tengah Regency










Data yang lain adalah ketidakseimbangan luas hutan. Dari luas wilayah 120.839 Ha, vegetasi hutan hanya 22.392,7 Ha atau hanya 18,5% dari idealnya luas hutan suatu ekosistem minimal 30%. Luas yang sangat terbatas, diperparah oleh degradasi kerusakan hutan akibat ilegalloging.



Tabel
Table
: 3
Luas Kawasan Hutan Menurut Jenisnya Di Kabupaten ****** Tengah Tahun 2006
Area of Forest Region by Type in ****** Tengah Regency

Jenis Hutan / Type of Forest
Luas / Area (Ha)
(1)
(2)
1. Hutan Produksi
3.300
2. Hutan Lindung
12.268,7
3. Hutan Suaka Alam
6.824
J u m l a h / T o t a l
22.392,7










3. Sumber Daya Air

Tahun 2005 yang menunjukkan bahwa jumlah sumber mata air yang tersisa adalah 102 mata air. Implikasinya kemudian adalah bahwa hal ini akan mengancam keberlanjutan 70% kegiatan di sektor pertanian dan supplai kebutuhan air minum bagi penduduk di pulau ini. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir telah terjadi penurunan debit sungai. Hal ini terjadi antara lain pada sungai Aik Nyet Sesaot. Pada tahun 1998 tercatat debitnya 27, 30 M3 /detik namun kemudian menurun menjadi 10, 37 M3 /detik pada tahun 2002. Pada periode yang sama, debit air sungai Babak yang semula 8,43 M3/detik menurun menjadi 5,68 M3/ detik. Akibatnya pada saat ini kita mengalami defisit debit air sebesar 130 juta M3. Fenomena lainnya yang semakin memperkuat keadaan itu adalah kondisi/status 18 DAS utama yang kesemuanya "sakit parah", yakni dalam kondisi agak kritis hingga sangat kritis.

Tabel
Table
: 4
Jumlah Mata Air dan Luas Area yang Dialiri Kabupaten ****** Tengah Tahun 2006
Number of Water Resource and Area Covered at ****** Tengah Regency

Kecamatan
Districts
Jumlah Mata Air
No. of Water Resource
Luas yang Diairi
(ha)
(1)
(2)
(3)
Jumlah
102
120.839 Ha

Sumber : Kantor Penamaman Modal dan Lingkungan Hidup Kab. ****** Tengah
Source Capital Invesment dan EnvironmentOffice of ****** Tengah






Jumlah hari hujan 94 hari dengan cura hujan 1.933 mm per tahun.

Tabel
Table
: 5
Rata-rata Hari Hujan dan Curah Hujan per Bulan di Kabupaten ****** Tengah Tahun 2006
Average Number of Rain and Rainfall by Month in ****** Tengah Regency

B u l a n
M o n t h
Hari Hujan
Days of Rain
( Hari/Days )
Curah Hujan
Rainfall
( mm )
(1)
(2)
(3)
1. Januari / January
18
345
2. Pebruari / February
14
287
3. Maret / March
13
204
4. April / April
8
143
5. M e i / M a y
2
24
6. Juni / June
-
-
7. Juli / July
-
-
8. Agustus / August
-
-
9. September / Sept.
1
15
10. Oktober / Oct.
1
19
11. Nopember / Nov.
14
410
12. Desember / Dec.
23
486
Jumlah
94
1.933
Sumber : Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten ****** Tengah
Source Food Crops Agri. and Livestock Service of ****** Tengah Regency





4. Sumberdaya Lahan

Sebagian besar petani tersebut memilki lahan kering yang berbukit-bukit, seluas 68.287 ha (56,5%) dari total lahan yang ada yaitu 120.839 ha.
Lahan kering yang begitu luas 68.287 Ha, hanya 3.123 yang bisa dianami, itupun hanya sekali setahun dengan padi gogo seluas 3.123 Ha, karena bersifat tadah hujan dengan produktifitas yang sangat rendah hanya 2,656 ton/Ha dan total produksi 8.295 ton per tahun.


Tabel
Table
: 6
Luas Tanah Sawah dan Tanah Kering dirinci Menurut di Kabupaten ****** Tengah Tahun 2002
Area of Dryland and Wetland by Kind of Utilization in ****** Tengah Regency


Kecamatan
Districts
J u m l a h / T o t a l

Tanah
sawah
Tanah
Kering
Total

(1)
(2)
(3)
(4)

Jumlah / Total
52.552
68.287
120.839












B. IDENTIFIKASI MASALAH

Masalah Lahan Kering Indonesia
Indonesia mempunyai asset nasional berupa pertanian lahan kering sekitar 111,4 juta ha atau 58,5% dari luas seluruh daratan. Pertanian lahan kering mempunyai kondisi fisik dan potensi lahan sangat beragam dengan kondisi sosial ekonomi petani umumnya kurang mampu dengan sumberdaya lahan pertanian terbatas. Lahan kering merupakan sumberdaya pertanian terbesar ditinjau dari segi luasnya, namun profil usahatani pada agroekosistem ini sebahagian masih diwarnai oleh rendahnya produksi yang berkaitan erat dengan rendahnya produktivitas lahan. Di beberapa daerah telah terjadi degradasi lahan karena kurang cermatnya pengelolaan konvensional dan menyebabkan petani tidak mampu meningkatkan pendapatannya. Berdasarkan kendala-kendala tersebut, maka untuk menjamin produksi pertanian yang cukup tinggi secara berkelanjutan diperlukan suatu konsep yang aktual dan perencanaan yang tepat untuk memanfaatkan sumberdaya lahan khususnya lahan kering.
Usahatani lahan kering, dalam keadaan alamiah memiliki berbagai kondisi yang menghambat pengembangannya antara lain; keterbatasan air, kesuburan tanah yang rendah, peka terhadap erosi, topografi bergelombang sampai berbukit, produktivitas lahan rendah, dan ketersediaan sarana yang kurang memadai serta sulit dalam memasarkan hasil. Oleh karena itu, pengelolaan lahan tersebut hendaknya mencakup lima unsur yaitu : (1) perencanaan penggunaan lahan sesuai dengan kemampuannya, (2) tindakan-tindakan khusus konservasi tanah dan air, (3) menyiapkan tanah dalam keadaan olah yang baik, dan (5) menyediakan unsur hara yang cukup dan seimbang bagi tumbuhan.

Masalah Lahan Kering di Kab. ****** Tengah

Sebagian besar petani di Kabupaten ****** Tengah tersebut memiliki lahan kering yang berbukit-bukit, seluas 68.287 ha (56,5%) dari total lahan yang ada yaitu 120.839 ha.
Keberadaan lahan kritis tersebut, paling tidak mempunyai 2 implikasi penting yang harus diperhatikan dalam sebuah perencanaan, yaitu: (1) Penurunan produktivitas lahan untuk pertanian dan perkebunan. Penurunan produktivitas lahan berdampak pada produksi pangan dan pertanian, sehingga mempunyai dampak langsung pada pendapatan ekonomi, terutama di tingkat masyarakat; (2) Lahan yang kritis kehilangan kemampuan menahan laju erosi dan daya menangkap air. Hal ini juga telah menyebabkan kerusakan fungsi DAS yang pada gilirannya mempengaruhi fluktuasi air dan menyebabkan banjir (di musim hujan) serta kekurangan air (di musim kemarau).
Lahan kering yang begitu luas 68.287 Ha, hanya 3.123 yang bisa ditanami, itupun hanya sekali setahun dengan padi gogo seluas 3.123 Ha, karena bersifat tadah hujan dengan produktifitas yang sangat rendah hanya 2,656 ton/Ha dan total produksi 8.295 ton per tahun.

Tabel
Table
: 7
Luas Panen, Rata-Rata Produksi dan Produksi Padi gogo di Kabupaten ****** Tengah Tahun 2006
Area Harvested, Yield Rate and Production of Dryland Paddy in ****** Tengah Regency

Kecamatan
Districts
Luas Panen
Area Harvested
(Ha)
Rata-Rata Produksi
Yield Rate
(Kw/Ha)
Produksi
Production
(ton)
(1)
(2)
(3)
(4)
Jumlah / Total
3.123
26,56
8.295
Sumber : BPS – ****** Tengah, 2006

Sementara itu, potensi ternak juga sangat besar, khususnya kerbau 13.090 ekor dan sapi 70.246 ekor. Potensi ini bisa disinergikan dengan potensi lahan kering sejumlah 68.287 ha yang dapat berfungsi sebagai ladang pengebalaan, untuk kemudian biomasanya dimanfaatkan untuk meningkatkan bahan organik lahan padi gogo dalam rangka meningkatkan produktifitas padi gogo.


“sistem padi gogo adalah padi ladang dibukit yang tidak tergenang dan ditanam 1-4 minggu sebelum hujan turun dengan membenamkan biji/benih padi pada lubang-lubang tanam. Berbeda lahannya dengan padi gogo rancah/gora yang ditanam disawah yang tergenang dan sama-sama ditanami bijinya sebelum hujan turun untuk rekayasa hujan terbatas”.




















C. KONSEP PERTANIAN BERKELANJUTAN LAHAN KERING

Apa revisi konsep idealnya (aspek ontologis) .....?

Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan dan aspirasi manusia saat ini, tanpa mengurangi potensi pemenuhan kebutuhan dan aspirasi manusia masa mendatang (Our Common Future).
Pembangunan pertanian berkelanjutan adalah proses pembangunan pertanian dalam arti luas dengan berprinsip "memenuhi kebutuhan pangan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan pangan generasi masa depan" atau agriculture of sustainabel development. Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan pertanian berkelanjutan adalah bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial. (seperti gambar dibawah ini).




Pembangunan juga tidak hanya dipahami sebagai pembangunan ekonomi, namun juga sebagai alat untuk mencapai kepuasan intelektual, emosional, moral, dan spiritual". dalam pandangan ini, keragaman budaya merupakan kebijakan keempat dari lingkup kebijakan pembangunan pertanianberkelanjutan.
Pertanian berkelanjutan adalah pertanian yang dirancang secara sistematis menggunakan akal sehat dan usaha keras yang berkesinambungan sehingga pertanian itu sangat poduktif secara terus menerus, merupakan habitat tenaga kerja yang baik untuk jumlah yang besar dan merupakan suatu usaha yang menguntungkan. Dengan demikian, pertanian semacam ini akan menghasilkan produksi pertanian yang cukup tinggi dan memberikan penghasilan yang layak bagi petani secara berkelanjutan, sehingga mereka dapat merancang masa depannya sendiri. Disamping itu, juga harus menghasilkan spektrum produksi yang luas sehingga dapat menyediakan bahan baku berbagai agroindustri dan produk-produk eksport secara lestari. Selanjutnya akan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dengan pendapatan yang cukup tinggi, dengan demikian daerah pertanian ini akan menjadi penyerap hasil-hasil industri
.









Pengelolaan Lahan Kering Berbasis Bioregion
Pada model kepulauan seperti Pulau ******, lahan kering dapat dikelola dengan pendekatan pengelolaan berbasis bioregion, diarahkan pada pengertian politis dalam mempromosikan pengembalian dan pengembangan sistem alam yang secara keseluruhan mendukung masyarakat dan alam di setiap kawasan. Hal tersebut mengarah pada :

komitmen untuk perbaikan sistem alam yang telah rusak;
memperbaiki hubungan spiritual dan budaya antara komunitas, lahan dan proses ekologi, dan;
sebagai tujuan dari kebijakan desentralisasi, pengidentifikasian sendiri dan kesetaraan sosial.
Kawasan bioregion meliputi wilayah tanah dan air yang tidak dibatasi oleh batas politik, tapi dibatasi oleh geografi dari komunitas masyarakat dan sistem ekologi. Sebagai sebuah konsep, bioregion merupakan kesatuan wilayah ekosistem yang diurai sebagai berikut :
Area geografis yang mempunyai karakteristik tanah, batas-batas alam terhadap aliran air, iklim, flora dan fauna tertentu;
Bioregion mengkaitkan ekosistem, geografis masyarakat dan budaya untuk mendorong ikatan sosial yang dapat meningkatkan eko-budaya yang mengakar pada suatu wilayah melebihi ikatan etnis dan birokrasi;
Batas bioregion tidak ditentukan dari “atas” karena bioregion adalah konsep ekologi dan budaya yang sudah ada beserta masyarakat yang ada di wilayah tersebut.
Dalam pengertian sebuah proses, bioregion menekankan kebijakan pengelolaan sumberdaya alam harus didahului proses orientasi dan identifikasi. Melalui proses tersebut, diharapkan masyarakat bertindak arif terhadap lingkungan alam. Dan kebijakan pemerintah dalam mengelola sumberdaya alam dapat mengakomodir keunikan dan karakteristik sosial-budaya setempat.
Kearifan lokal menjadi salah satu pijakan dalam merumuskan konsep bioregion. Masyarakat lokal yang menjadi bagian dan telah mengenal ekosistemnya bisa menjadi pengontrol eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan.
Berbeda dengan konsep ekoregion yang lebih menitikberatkan homogenitas komponen ekologi semata sebagai pengikat kawasan. Ruang dalam bioregion merupakan suatu homeland yang disatukan oleh interaksi dinamis dan ketergantungan komponen ekologi, sosial dan ekonomi yang memungkinkan fungsi-fungsi pendukung kehidupan suatu komunitas dapat terwadahi dan berjalan dengan baik.
Karakteristik pengelolaan bioregion paling tidak harus mencakup pelibatan para pihak [full involvement stakeholders], penerimaan masyarakat [social acceptance], informasi yang satu dan komprehensif [solid and comprehensive information], pengelolaan adaptif [adaptive management], pengembangan keahlian secara kooperatif [cooperative skills development] dan integrasi kelembagaan [institutional integration] .




Analisis Konsep Pengelolaan Lahan Kering Kab. ****** Tengah
1. Batasan Masalah
¨ Potensi lahan kering di Kab. ****** tengah seluas 68.287 ha (56,5%), artinya sebagian besar lahan pertanian di Kabupaten ****** Tengah adalah lahan kering, yaitu lahan marginal dengan faktor pembatas air irigasi. Air irigasinya bersifat non-teknis, yaitu mengandalkan air hujan, sementara air hujan juga secara kuantitas dan kualitas terbatas.
¨ Potensi tersebut baru dimanfaatkan hanya 3.123 ha untuk padi gogo atau padi ladang. Padi ladang yang ditanam berupa biji padi sebelum datangnya musim hujan, ditanam pada lahan yang bukan saja berupa lahan kering, juga merupakan lahan dengan tofografi atau kelerengan yang besar. Hal ini menyebabkan padi ladang/padi gogo dituduh sebagai penyebab degradasi lahan kering menjadi lahan yang berbatu dan tandus.
¨ Bukit-bukit yang dulu hijau oleh hutan, kini menjadi gersang dan tandus, hanya ilalang yang bisa tumbuh dan pada bagian yang kaki bukit ditumbuhi semak belukar. Ternak-ternak pun tidak betah lagi digembalakan karena panas dan rumput yang langka.
¨ Produktifitas padi gogo juga sangat rendah 2,656 ton per ha. Menurun dibandingkan tahun 2002 sebesar 2,726 ton per ha dan pada tahun 2000 sebesar 2, 841 ton/ha. Bila dibandingkan dengan produktifitas padi sawah sebesar 4,633 ton/ha angka produksi padi gogo jauh lebih rendah (data BPS-****** Tengah).





2. Faktor Penyebab Masalah
¨ Jumlah penduduk yang terus meningkat menyebabkan penduduk bermigrasi dari dataran rendah (lembah) ke kawasan perbukitan yang dulunya adalah hutan. Kegagalan KB pada kawasan lahan kering diasumsikan disebabkan oleh kondisi lingkungan ekstrim, yang pada malam hari dingin dan pada siang hari panas. Pemukiman yang tersebar pada kelompok-kelompok perbukitan ****** Bagian Selatan menyebabkan program penyuluhan KB dan akses KB sangat terbatas.
¨ Keterbatas lahan basah yang semakin sempit, menyebabkan petani bermigrasi ke lahan kering. Lahan dengan kelerengan yang besar >45o harusnya tidak digunakan untuk usaha budidaya, namun keterpaksaan dan desakan ekonomi menyebabkan mereka harus membuka ladang untuk padi gogo.
¨ Sistem budidaya dengan pembuatan teras, yang seharusnya mereka lakukan hanya sebatas materi penyuluhan, konstruksi teras ternyata membutuhkan investasi modal dan tenaga kerja yang besar. Kemiskinan menyebabkan mereka berkata “jangankan untuk membuat teras, membeli beras untuk makan saja kadang tidak ada”.
¨ Iklim pada daerah tropis, tidak menguntungkan bagi petani lahan kering, pada musim kemarau mereka bero, hanya umbi-umbian yang masih dapat mereka tanam itupun pada areal terbatas (lembah), sedangkan pada musim hujan datangnya tidak teratur, dengan waktu yang relatif singkat namun intensitas yang kadang sangat besar. Hujan yang besar tidak hanya menyebabkan erosi tanah, namun juga terkadang menghayutkan benih padi yang mereka tanam.


¨ Sistem irigasi tidak dapat menjangkau lahan mereka yang berbukit-bukit, jangankan sumur dangkal, program sumur bor dengan biaya 125jt/unit dan kedalaman 50 m terkadang gagal dan hanya meneteskan air mata. Kelangkaan air tanah ini disebabkan oleh formasi batuan pulau ****** bagian Selatan berada diatas batuan kars (gamping), yang sangat porous dan tidak kedap air.

3. Dampak akibat masalah
¨ Degradasi lahan akibat penanaman padi gogo pada kelerengan besar, berupa erosi tanah sementara solum tanah hanya 10-20 cm. Lahan kering yang dapat ditanami padi gogo menurun dari 3.615 ha pada tahun 2002 menjadi 3.123 ha pada tahun 2006, artinya ada 492 ha lahan kering menjadi “mati” dalam waktu 4 tahun, kemudian tidak bisa lagi ditanami padi gogo karena tanahnya semakin tipis dan tidak subur karena erosi akibat tanah dengan kelerengan yang besar terbuka dari vegetasi/pepohonan.
¨ Sedimentasi di Lembah pun tidak dapat dihindari. Bangunan-bangunan penapung air di lembah (bendung, dam, cek dam) dan saluran irigasinya tidak dapat berfungsi, dimana bangunan penampung air semakin dangkal dengan kapasitas tampungan air yang kecil. Sedimentasi dari erosi pertanaman padi gogo telah menyebabkan bangunan pintu air bendung dan pintu bagi saluran irigasi tidak bisa dibuka dan tdak berfungsi karena tertutup sedimen setinggi 2 meter, fakta ini misalnya dapat diamati di Bendung Tantih Kec. Pujut.
¨ Iklim global yang semakin panas pada musim kemarau, tanah-tanah lahan kering pecah karena kekurangan air, udara terasa panas karena terik matahari dan tanpa pepohonan. Gersang dan tandus, kantong-kantong air menjadi langka, mereka berjalan berkilometer untuk mendapatkan seteguk air minum.
¨ Sosial ekonomi petani, pada wilayah-wilayah lahan kering menjadi petani yang tetap miskin. Selama periode satu tahun, mereka hanya dapat bercocok tanam sekali dalam setahun dengan produktifitas yang rendah, yaitu hanya 2,656 ton/ha. Jika petani gurem kita asumsikan memiliki rata-rata 0,5 ha/KK, maka dengan asumsi harga gabah kering panen Rp.2000/Kg, satu keluarga hanya memperoleh pendapatan kotor 5,3 Juta, bila dikurangi biaya produksi rata-rata 50%, maka mereka hanya memperoleh pendapatan bersih 2,656 juta/tahun atau setara Rp.200.000,/bulan. Kita dapat membayangkan kondisi pangan mereka yang kemudian terkena kasus gizi buruh pada tahun 2005, rumah (papan) mereka yang semi permanen dari atap ilalang, lantai tanah dan dinding pagar bambu, dan sandang, pakaian mereka yang lusuh dan hanya terganti sekali setahun.




Masalah Lahan Kering
Air irigasi Terbatas
Produktifitas rendah





Penyebab Masalah
Kegagalan KB
Budidaya tanpa teras
Topografi berbukit
Batuan porous “kars”
Dampak lanjutan
Degradasi lahan
Iklim pemanasan global
Sedimentasi
Kemiskinan petani



D. STRATEGI PERTANIAN BERKELANJUTAN LAHAN KERING
.
Bagaimana strategi peyempurnaannya (Aspek Epistimologi).....?

Untuk mewujudkan itu pertanian berkelanjutan dibutuhkan sebuah strategi dengan paradigma revisi “shif” yang bersifat :
Strateginya disesuaikan dengan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat setempat atau teknologi pertanian spesifik masyarakat lokal. Sumber-sumber kehidupan harus dilihat sebagai sumber penghidupan yang utuh dimana fungsi ekologi, sosial, ekonomi dan budaya melekat padanya. ; karena persoalan SDA saling berkaitan erat satu persoalan dengan berbagai persoalan lain seperti kemiskinan, kebijakan dan kondisi spesifik sosial ekonomi dan agroekosistem serta persoalan sosial budaya;
Pemberian kemerdekaan kepada petani untuk memilih jenis tanaman yang ditanam, dengan beberapa alternatif tanaman pasar yang bersesuaian dengan kapasitas lahan atau hasil evalusi lahan, dimana aspek-aspek ekologi lingkungan, pasar dan minat petani harus dijadikan penentu jenis tanaman yang akan dibudidayakan. Budidaya tanaman padi gogo harus di kaji ulang dalam sebuah kajian evalusi kesesuai lahan. Pemaksaan terhadap kapasitas lahan akan menyebabkan kerusakan lahan yang lebih parah, sehingga petani tidak wajib menanam padi untuk makan beras, bila memang hal itu tidak cocok;
Komoditas pertanian yang dikembangkan juga harus merupakan wujud dari potensi sumberdaya alam yang ada artinya semua potensi harus dimanfaatkan secara optimal, holistik, terpadu dan saling mendukung antara peternakan, pertanian dan kehutanan. Ego sektoral dalam pemanfaatan lahan harus dibumihanguskan;
Kebijakan terhadap jenis pemanfaatan ruang untuk ketahanan pangan harus ditetapkan statusnya dengan keputusan tetap sebagai areal pertanian dan tidak boleh dikonversi untuk peruntukan lainnya, kecuali dengan alasan penting dan dengan ijin khusus. Ini untuk mencegah konversi lahan pertanian yang subur atau dalam status sebagai lahan pangan.

Strategi Model Agro-Silvo-Pasture

Wanatani atau agroforest adalah sebuah strategi optimalisasi pemanfaatan sumberdaya, suatu bentuk pengelolaan sumberdaya yang memadukan kegiatan pengelolaan hutan atau pohon kayu-kayuan dengan penanaman komoditas atau tanaman jangka pendek, seperti tanaman pertanian. Model-model wanatani bervariasi mulai dari wanatani sederhana berupa kombinasi penanaman sejenis pohon dengan satu-dua jenis komoditas pertanian, hingga ke wanatani kompleks yang memadukan pengelolaan banyak spesies pohon dengan aneka jenis tanaman pertanian, dan bahkan juga dengan ternak atau perikanan. Aneka bentuk wanatani ini sebetulnya mencerminkan strategi pengelolaan sumberdaya oleh petani.
Sebuah unit lahan kering harus dimanfaatkan secara optimal. Ruang atau space adalah sesuatu yang terbatas dan bernilai ekonomi. Konsep usaha tani dengan tanaman budidaya pertanian, ternak dan tanaman hutan adalah sebuah alternatif untuk lahan kering. Subsitusi perpaduan ini didasarkan pada pertimbangan sbb:
Didesain sesuai dengan budaya masyarakat, yang senang beternak, membutuhkan pangan, dan membutuhkan kayu;
Sistem ini mencoba melakukan optimalisasi pemanfaatan lahan dalam arti space (ruang) serta optimalisasi dalam pemanfaatan ruang dalam efisiensi waktu;
Perpaduan ini adalah upaya integrasi sistem ekologi yang simbiosis mutualisme antara tanaman pangan, ternak dan tanaman keras yang saling menguntungkan;

Tanaman Pangan :
- Tanaman pangan, pada musim kemarau membutuhkan tanaman keras (pohon) untuk naungan terhadap sinar matahari yang terlalu terik dan mengurangi penguapan;
- Tanaman pangan pada musim hujan membutuhkan tanaman keras yang dapat meningkatkan infiltrasi air hujan, sehingga kandungan air tanah yang masuk ke dalam tanah lebih besar dari laju aliran permukaannya;
- Tanaman pangan membutuhkan ternak yang dapat menambah unsur hara tanah dari kotoran dan urinenya.

Ternak
- Beternak seperti sapi dan kerbau adalah tradisi nenek moyang petani;
- Ternak dapat memanfaatkan sisa bagian tanaman dari hasil panen tanaman pangan dan atau rumput yang menjamur dimusim hujan;
- Ternak pada saat musim kemarau, dimana rumput dan jerami padi sulit didapatkan, bisa memanfaatkan pangkasan daun tanaman keras.
- Kandang perlu ditempatkan di puncak bukit (ukuran bukit antara 4 -15 ha), maka supaya ternak tidak mengganggu pertanaman tanaman pangan, maka perlu pembuatan jalur/jalan keluar masuk ternak dari kandang ke padang pengembalaan. Kecuali pada masa bera ternak dibiarkan berkeliaran. Supaya kotoran dan urine ternak dari kandang terdistribusi dengan baik ke pertanaman, maka perlu dibuatkan saluran pembuangan limbah ke pertanaman, disertai dengan saluran pengendapan sejajar kontur. Supaya kotoran dan urine ternak dapat tersapu bersama air hujan, sebagian kandang tidak perlu diberi atap.

Tanaman Keras
- Tanaman keras dapat memanfaatkan pupuk tanaman pangan yang terbuang;
- Tanaman keras juga dapat memanfaatkan kotoran dan urine ternak tanpa pengolahan dahulu menjadi kompos;
- Tanaman keras adalah tabungan jangka panjang >25 tahun ke depan. Sedangkan ternak adalah tabungan jangka menengah 5-10 tahun. Tanaman pangan adalah lumbung pangan setiap tahunnya.
- Dalam pelaksanaan sebagian lahan bahkan harus dihutankan secara total. Sistem perlindungan lahan total dengan pohon dapat dilakukan dipuncak bukit pada kelerengan >45o, bagian dari lahan ini dijadikan sukarelawan dalam rangka “Integrated Watershed Management Plan”.

Bagaimana upaya sinergi antar subsistem dan sistem?

Bagaimana mengelola kelerengan

¨ Kelerengan yang besar dengan gaya gravitasi menyebabkan kecepatan aliran air hujan menggerus permukaan tanah. Sistem teras pada padi gogo kurang dimungkinkan karena solum tanah yang relatif tipis hanya 10 – 20 cm. Jika dibuatkan teras maka batuan induk pada bagian atas akan tersingkap, sehingga tidak mungkin ditanami lagi.
¨ Potensi batuan gunung berupa bongkah-bongkah batu ukuran 20-40 cm, dapat dijadikan alternatif sebagai talud teras. Namun tidak semua tempat memiliki potensi batu gunung.
¨ Penanaman pohon sejajar kontur merupakan alternatif lain yang dapat dikembangkan. Jenis tanaman legum baik untuk fungsi konservasi, jenis tanaman kayu seperti sengon, jati dan mahoni berfungsi ekonomi >4 jt/m3 pada usia diatas 15 tahun atau jenis tanaman makanan ternak. Namun demikian agar tidak mengganggu tanaman padi gogo pemangkasan harus rutin dilakukan.

Bagaimana mengelola hara tanah

Ø Pemberian pupuk kimia kurang efisien, karena sebagain besar mengalami penguapan sebagai akibat lahan yang kering (tidak tergenang) dan sebagain besar lainnya hanyut terbawa erosi. Untuk itu pemberian pupuk kimia seukupnya (dosis tetap) tetapi diberikan secara bertahap setiap minggu untuk lebih efisien.
Ø Kandungan bahan organik tanah juga sangat rendah, sehingga disamping bahan organik dari kandang, juga harus didukung dengan minimalisasi pengambilan jerami dan pemangkasan pohon pelindung secara periodik.

Bagaimana budidaya tanaman keras

Salah satu alternatif yang bisa dikembangkan untuk kelestarian hara tanah, fungsi konservasi air, pakan ternak dan nilai ekonomi kayu, maka penanaman tanaman keras sejajar kontur, yang dapat mengangkat hara tanah bagian bawah ke permukaan dan daunnya dapat menjadi bahan pakan ternak atau bahan organik yang terdekomposisi dipermukaan;
Jarak tanaman keras antar lorong antara 5-10 meter dan antar tanaman dalam barisan kontur antara 2-5 meter.

Bagaimana mengolah tanah
o Sistem padi gogo dengan pembakaran lahan, telah menyebakan tanah menjadi keras, dan kematian mikrobiologi tanah;
o Sistem pembakaran lahan harus dihindari dengan melakukan pengolahan tanah minimal. Semak-semak pada akhir masa bero harus dibersihkan dan diolah menjadi pupuk kompos atau dibenamkan pada parit-parit sejajar kontur dibawah pertanaman tanaman keras;
o Kehidupan mikroorganisme tanah dapat sekaligus ditingkatkan melalui upaya penambahan bahan organik dan memelihara ternak diatas bukit seperti dijelaskan diatas.

Bagaimana mengelola air tanah
v pengelolaan air hujan yang terbatas bisa dimanfaatkan oleh tanaman secara optimal melalui pemakaian mulsa, penahanan laju erosi, pengurangan penguapan dan upaya penampungan air di pucak bukit dan dilembah;
v Analisis terhadap data curah hujan memungkinkan kita melakukan perencanaan penanaman tepat waktu, sehingga diupayakan tanaman padi gogo dapat berproduksi secara optimal dan terhindar dari kekeringan;
v Sistem konservasi air dengan membuat bak-bak penampungan air dapat diupayakan untuk bisa dilakukannya penanaman kedua pasca padi gogo sehingga pola tanamnya lebih optimal (padi gogo-bero-bero) menjadi (padi-palawija-bero);
v Pembangunan sumur bor air bawah tanah dapat dijadikan alternatif, bilamana ditemukan adanya potensi air bawah tanah pada cekungan air tanah walaupun keberadaanya bersifat sporadis karena berada pada kondisi geologi kawasan kars.

Bagaimana kelayakan ekonomi

1. Tanaman pangan; bila dipilih tanaman pangan tetap padi ladang, maka diharapkan ada peningkatan produktifitas akibat simbiosis mutualisme komponen ekologi, dari 2,656 ton/ha, diharapkan menjadi sekitar 3,5 ton/ha, artinya setara dengan 7 jt/tahun, dikurangi biaya produksi, petani masih memperoleh sekitar 350 ribu/bulan.
2. Ternak, jika setiap petani memiliki 10 ternak yang modalnya pinjaman (kredit lunak), maka dalam satu tahun beranak 10 dan petani memperoleh 5 ekor atau setara 5 jt/tahun atau setara ada tambahan 400 ribu/bulan;
3. Tanaman keras, jika dalam satu hektar ditanam mahoni dengan jarak antar lorong 10 meter dan jarang antar tanaman sejajar kontur 2 meter, maka diperoleh 10 x 50 pohon = 500 pohon. Pada usia 30 tahun setiap pohon setara 1m3 atau 3jt atau setara 1,5 M atau setara 50jt/th atau setara 4 jt/bulan, mungkin kelihatan muluk, tetapi sebagian petani sudah membuktikannya.












E. INTRODUKSI PERTANIAN BERKELANJUTAN DALAM AKSI PETANI

Aspek nilai apa yang dapat mendorong petani melakukan konsep ini?
(Aspek Aksiologi)

Paradigma pembangunan berkelanjutan tidak hanya memperoleh tantangan di tingkat konsep dan strategi, tetapi juga menghadapi kendala serius dalam mobilisasi dan operasionalisasi. Tidak dapat disangkal lagi, bahwa sinergi dan sinkronisasi dalam pengelolaan sumber daya alam pertanian dan lingkungan memerlukan suatu perumusan sistem insentif yang dapat menghasilkan respons positif dari petani.
Pertanian berkelanjutan harus dikemas menjadi sebuah mimpi atau cita-cita petani. Sebuah mimpi yang diinginkan oleh setiap petani. Mimpi itu dikampanyekan oleh penyuluh pertanian dengan ciri-ciri produks sbb:
¨ Produksi usahatani dapat lebih tinggi, sehingga petani tetap bergairah melanjutkan usahanya;
¨ Pendapatan petani akan naik, sehingga petani dapat mendisain masa depan keluarganya dari pendapatan usahatani;
¨ Teknologi yang diterapkan baik teknologi produksi maupun teknologi konservasi mudah, sehingga diterima dengan senang hati dan diterapkan sesuai kemampuan petani sendiri sehingga sistem usahatani tersebut dapat diteruskan tanpa intervensi dari luar;
¨ Komoditi yang diusahakan cukup beragam, sesuai kondisi biofisik, sosial dan ekonomi;
¨ Erosi lebih kecil dari erosi yang dapat ditoleransikan, sehingga produksi yang tinggi tetap dapat dipertahankan atau ditingkatkan dengan fungsi hidrologis tetap terpelihara dengan baik;
¨ Sistem penguasaan/pemilikan lahan dapat dijamin, melalui sertifikasi gratis (PRONA dan PRODA), sehingga menjamin keamanan investasi jangka panjang dan menggairahkan petani untuk tetap berusahatani.

Ini adalah aspek terberat dalam setiap introduction atau program pembangunan, sehingga kajian aspek aksiologi sangat terkait dengan nilai-nilai sosial, ekonomi, budaya dan agama masyrakat. Berbeda dengan aspek sebelumnya yaitu aspek efistimologi yang lebih bernuansa teknis. Untuk itu solusi sistem ini harus dirancang dengan hati-hati melalui beberapa pendekatan sbb:

Pemberdayaan Masyarakat;
¨ Pra-proses; setiap uraian dari gagasan konsep ini harus lahir dari pernyataan mayarakat. Memulai program ini dengan komunikasi melalui publik hearing untuk menanyakan kepada petani apakah mereka setuju dengan konsep ini, tanaman pangan apa yang mereka pilih dari alternatif kesesuaian lahan yang kita berikan, tanaman kehutanan apa yang mereka sukai, ternak apa yang mereka inginkan dan pertanyaan lainnya yang merupakan what need you?? Sehingga terkesan kita tidak membangun mereka, tetapi mereka membangun dirinya dan konsep ini harus lahir dan matang dari mereka dan kita para pihak hanya fasilitasi saja;
¨ Proses; setiap proses dalam program pembangunan pertanian lahan kering harus dilakukan secara bersama-sama antara pemerintah, LSM, peneliti (akademisi), sehingga proses parternya berjalan. Pendampingan bernilai gotong royong, kerja bersama dan saling kontrol;
¨ Pasca-proses; tidak ada proses tanpa umpan balik, sehingga evaluasi adalah input untuk penyempurnaan setiap program pembangunan pertanian berkelanjutan;
¨ Pemikiran Liar; sebagian petani juga harus dipensiunkan untuk mengurangi tekanan penduduk terhadap lahan atau mengurangi jumlah petani melalui penyediaan lapangan kerja alternatif di sektor non-pertanian. Untuk itu pengembangan agribisnis dalam arti luar di pedesaan merupakan langkah tepat.

Kelembagaan dan Kapasitas SDM Petani
Ø Petani membutuhkan teman untuk berkeluh kesah, mereka sangat labil bila sendiri. Gabungan Kelompok Tani, menjelma menjadi sebuah Badan Usaha Milik Petani adalah sebuah upaya untuk menyatukan petani dalam satu sistem yang akan mensuplai kebutuhan input produksi dan pemasaran hasil, serta upaya bersama untuk dapat menyelesaikan berbagai masalah petani yang tidak dapat mereka selesaikan secara individu, misalnya pengembangan infrastruktur irigasi atau jalan usaha tani;
Ø Prasyarat sistem ini dapat berjalan baik adalah peningkatan kapasitas SDM petani dalam arti yang sesungguhnya. Program penyuluhan, diklat, bimbingan teoritis dan empiris, serta self-education adalah mutlak untuk kesadaran diri dan perubahan pola pikir.

Kemitraan
v Petani lahan kering tetap adalah seorang petani, mereka tetap membutuhkan pengusaha yang akan bermitra dengan BUMP dalam mensuplai input produksi maupun dalam pengolahan dan pemasaran hasil pertanian, peternakan dan hasil kayu. Penguasaan pasar oleh petani sangat penting dalam penentuan tujuan akhir bertani yaitu margin keutungan yang mengunungkan secara bisnis dan investasi bukan sebaliknya.

Dukungan Pemerintah
v Pemerintah dan Pemerintah Daerah perlu membantu petani dalam akses permodalan, pelatihan, bimbingan dan dukungan infrastruktur;

Dukungan stake holder lainnya
o Akademisi dan peneliti, perlu terus memberikan pengabdian kepada masyarakat bukan hanya sebatas program KKN seremony, tetapi juga secara aktif dan dinamis melakukan riset-riset untuk pengembangan pertanian berkelanjutan;
o Pers, diharapkan menggunakan jaring informasinya dalam rangka peningkatan kapasitas dan pengetahuan petani melalui berita-berita yang bertema inovasi teknologi pertanian;
o LSM, juga sebagian harus turun gunung, tidak hanya terbuai dalam retorika demontrasi diperkotaan, tetapi sebagian harus rela menjadi sukarelawan pemberdayaan petani miskin;
o Tokoh Agama dan tokoh adat; penduduk pulau ****** adalah mayoritas islam, statemen para ulama (tuan guru) “merusak lingkungan adalah dosa dan menanam pohon adalah ibadah” adalah sebuah motivasi yang dapat mendorong petani melakukan program ini. Begitu juga dengan pembuatan awik-awik hukum adat yang melarang penebangan pohon adalah sebuah pendekatan yang dapat dilakukan.




Dukungan Regulasi
Mengingat pentingnya sumber-sumber kehidupan bagi keberlanjutan penghidupan Indonesia, maka perlu dilakukan reformasi kebijakan pembangunan pertanian yang meliputi:
¨ Penguatan perangkat hukum (legal framework) melalui pemenuhan hak atas lingkungan pertanian yang baik, hak ekonomi (hak penentuan harga produk petani), hak sosial dan budaya petani dalam Deklarasi Umum HAM;
¨ Penguatan kelembagaan (Institutional framework); Intensitas pengurasan sumber daya alam dan perusakan lingkungan hidup dimungkinkan karena penataan kelembagaan di tingkat pemerintah Departemen Pertanian yang rapuh dan berubah-ubah, kelembagaan petani yang marginal dan kelembagaan pendukung lainnya yang ogah-ogahan dengan pembangunan pertanian;
¨ Pemberlakuan kebijakan yang bersifat mendesak (urgent action) melalui moratorium peraturan perundang-undangan sektoral, moratorium perizinan pemanfaatan sumber daya alam pertanian, pembentukan kelembagaan khusus yang bersifat independen untuk menyelesaikan kasus-kasus sengketa sumber daya alam pertanian dan melakukan evaluasi menyeluruh atas proses otonomi daerah dalam pengelolaan sumberdaya alam pertanian dalam arti luas.





F. PENUTUP

v Reformasi agraria adalah strategi pendukung untuk memfasilitasi pertanian berkelanjutan sebagai basis dari agribisnis di pedesaan. Termasuk dalam hal ini antara lain: kepastian kepemilikan lahan yang menjadi salah satu faktor resiko usaha pertanian saat ini, pencegahan fragmentasi dan upaya konsolidasi lahan pertanian, pengendalian konversi lahan pertanian, serta pengaturan sistem sakap-menyakap dan bagi hasil lahan pertanian;
v Keterkaitan antar wilayah darat-laut, hulu-hilir, antar sektor pertanian dan kehutanan, antara permukaan dan bawah permukaan, maupun antar tingkat dan unit administratif pemerintahan harus menjadi pertimbangan utama dalam penyusunan rencana pembangunan pertanian secara terpadu;
v Ekosistem pulau seperti Pulau ******, harus menjadi acuan dalam penentuan arah pemanfaatan ruang dan hendaknya dilaksanakan secara konsisten dan tegas yang terarah pada kelestarian lingkungan alam dan sosial dan hendaknya dilaksanakan secara konsisten dan tegas;
v Pengelolaan sumberdaya alam (hutan, lahan, air, mineral, serta pesisir dan laut) haruslah menggunakan pendekatan berbasis ekosistem pulau bioregion, yang memadukan secara harmonis tujuan kesejahteraan sosial ekonomi dan tujuan kelestarian lingkungan. Pemilihan model perpaduan wanatani seperti agrosilvopasture adalah bentuk optimalisasi menuju diversifikasi jalan kesejahteraan petani;
v Penguatan kapasitas kelembagaan dan sumberdaya manusia merupakan kebutuhan yang paling penting dan mendesak sebagai titik awal (entry point) dan prasyarat utama untuk menerapkan prinsip – prinsip tata kelola lingkungan dan sumberdaya yang baik;
v Masyarakat lokal harus menjadi pelaku utama dalam kolaborasi diantara para pemangku kepentingan (stakeholder) dalam pengelolaan sumberdaya alam pertanian nenek moyang mereka;
v Pengembangan "pasar" jasa lingkungan hidup secara umum, yang sebenarnya dapat merupakan mekanisme transfer dari pemanfaat (pembeli) jasa lingkungan hidup kepada penyedia (penjual) jasa lingkungan hidup harus dikembangkan dan didukung oleh semua pemangku kepentingan demi terbangunnya mekanisme tanggungjawab hulu-hilir.



















****** the end of error ******