Selasa, 23 November 2010

MANUSIA MENGEJAR APA

Seorang ahli ekonomi menyatakan bahwa suatu kawasan dikatakan maju bila pertumbuhan ekonomi tinggi, pertumbuhan ekonomi dapat dicapai dengan investasi untuk menaikkan PDRB, menekan inflasi dan menciptakan lapangan kerja.

Namun seorang ahli sosial melihat pertumbuhan ekonomi bukanlah mutlak sebuah kemajuan peradaban manusia, manusia adalah mahluk sosial, sehingga ukuran kemajuan kemanusian subuah kelompok masyarakat ditentukan oleh tingginya akomodasi dan demokrasi dalam pengambilan keputusan, rendahnya komplik dan sengketa, tingginya kebersamaan, toleransi dan gotong royong dan pelesarian gaya hidup lokal dan endemik dalam pergaulan keseharian.

Lalu seorang yang agak sufi beralialiran konservatif dan alumni sarjana lingkungan, menggap bahwa gedung, infrastruktur beserta sampah plastik modernisasi adalah neraka bagi kehancuran bumi, sehingga kemajuan sebuah wilayah diindikasikan oleh natural development, perlindungan biota endemik, stabilitas neraca sumberdaya alam, kebersahajaan, atau bahasa sederhanya bumi yang alami tanpa sentuhan dan rekayasa.

Kemudian ahli infrastruktur datang membangun gedung megah, jalan penghubung untuk mobilisasi, dan bendung untuk mengairi sawah-sawah sehingga produksi pangan berlebih dan menciptakan kemakmuran, ahli tekonogi mengolahnya menjadi berbagai produk pangan instant lalu berubahlah peradaban manusia mulai dari perubahan konsumsi pangan, modernisasi tempat tinggal dan mode-mode busana atau sandang yang terus berubah gaya.

Namun seorang peneliti berdasarkan data statistik memperlihatkan bahwa pada semua tahapan peradaban komposisi orang kaya tetap pada posisi 20% dari jumlah penduduk suatu negara dan menguasai 80% kekayaan negara, hanya 20% kekayaan negara yang terdistribusi pada 80% orang miskin. Pemerintah disetiap negara melakukan berbagai cara penciptaan lapangan kerja, pendidikan gtatis bagi masyrakat miskin, bantuan perumahan sehat, bantuan modal dan dana bergulir, bantuan alat produksi, bantuan beras dan minyak miskin, namun tetap saja angka kemiskinan tinggi, karena karkater sektor hulu seperti petani, nelayan, peternak bukan watak kapitalisme tapi sosok yang qonaah dengan kebersahajaan. Malah dengan pertumbuhan ekonomi dan kapitalisme dan proyek pengentasan kemiskinan, semakin mendorong eksploitasi SDA, peluang pasar dan kesenjangan miskin dan kaya semakin besar, di negara indonesia seorang penduduk kaya memiliki aset 100 triuliun dan seorang penduduk termiskin hanya seorang gelandangan dengan 1 nyawa yang ditawari ginjalnya dibeli 10 juta rupiah.

Apa hasil dari pembangunan peradapan, hanya sebuah perubahan bentuk dan posisi garis kemiskinan, bahkan pajak yang dibanggakan di republik ini yang hampir 800 triliun dari 1000 triul APBN (80%) adalah keringat rakyat yang diambil dari kekayaan pribadi untuk kepentingan 70% gaji dan belanja pegawai, sementara kekayaan bumi, air dan kekayaan dibawah bumi (mineral dan migas) hanya berkontribusi 10% dari APBN yang harusnya dikuasai negara untuk kesejahteraan rakyat, karena sebagian besar 90% dikuasai asing yang hanya dikenakan kewajiban zakat, sehingga amat sulit dapat mensejahterakan rakyat.

Hingga akhirnya kita sadar ternyata hidup ini adalah sandiwara dan pergiliran amanah kekayaan dan kekuasaan, bagi yang amanah ia akan masuk surga dan bagi yang hianat ia akan masuk neraka. Siang malam silih berganti, generasi lahir dan mati, kaya miskin bergiliran, kekuasaan hinggap dimana taqdir berada, lalu akhirnya terus berputar dan berulang seiring waktu dan seorang filosof mengatakan manusia hanya mencari beberapa perubahan dan satu perubahan yang paling berharga yaitu perubahan dari hati yang gerah menjadi hati yang ramah dan itulah kebahagiaan ada didalam diri manusia, sementara diluar dirinya manusia hanya menciptakan perubahan bumi untuk sugesti perubahan hatinya yang juga tidak abadi bahagia, karena ketidak abadian kebahagiaan adalah nilai positif yang harus ada untuk dunia terus berputar.

""""" renungan seorang kandidat yang tak jua bisa dipromosi """""

Selasa, 12 Oktober 2010

RASA HANYUT

Tergoncang
rata berubah gelombang
terlenting batu jalan
tercebur lubang kubangan

Lelah
melelehkan keringat
membasahkan singlet
meletihkan langkah

Muntah
terhambur nasi pagi
demi mengejar hari gelap
demi se untai napas lagi

Bercampur
Rasa lelah
Pikir esok
hati nan rapuh

Hayutlah
mengalir ke hilir bersama debu
tak mungkin kembali ke pangkuan berlereng
haya bila Kuasa menguapkanku terbang bersama awan dan turun sebagai hujan lagi

.............i miz u.......................

Senin, 12 Juli 2010

Pasca bola dunia

Piala dunia telah berakhir dengan goal semata wayang spayol
namun bola tak pernah mau mati, walau ada istilah bola mati
karena Brazil 2014 telah berkemas menjadi tuan bola
bola terus berputar karena ditendang
bola dunia juga ikut berputar karena ditakdirkan
sampai suatu hari kita semua akan tiada...

Lalu akankah kita tersugesti untuk bola
bersandiwara dalam lapangan hijau dunia
berkejaran merebut sebuah hajatan bola
disaat bayi besar dengan punting
disaat anak-anak kumal bermain kelereng
disaat dewasa deg-degan dengan goal bola
kemudian bila telah tua bola mata itu rabun

Indonesia juga bergetar
menggeliat ingin bertarung bola dunia
apa daya postur, gizi dan otak hanya cukup buat bermain ala kampung
berebutan bola laksana ikan mengejar umpan yang terseret arus air
bahkan tak sedikit berkobar ingin berkorban untuk mimpi bola dunia di sini
payah semata, semakin tak logis
bila bermain belum bisa, mungkinkah pantas bola dunia di sini

Lihatlah diri kita
masih kumal dengan rumah kumuh, gizi ambruk, penyakit kudis dan sekolahan reot
pantaskah sebagian kecil yang glamor bermimpi bola dunia dikampung yang miskin
tentu kita harus berbenah, bunuhlah dulu keserakahan dan kezaliman ini
jujurlah pada negeri yang kaya mengapa kini masih miskin
bola dunia, sepatu emas dan stadion megah hanya berharga max 100 triliun
kita memiliki 1000 triul bahkan 10.000 triliun APBN jika kita jujur
mimpi bola dunia adalah mimpi anak kecil dengan celengan bambunya
ada mimpi lebih besar bila kita bisa membuat bola emas dunia
bahan baku emas papua dan sumbawa cukup untuk semua mimpi-mimpi
sekali lagi jika kita tak serakah dan jujur pada negeri ini

this time for afrika, next time for indonesia
bila kita jujur pada negeri ini

*** mimpi bola hati anak negeri ***

Selasa, 06 April 2010

tebaring menatap langit

tanpa bintang
hanya awan putih
kemerlap lampu metropolis

suasana kering
hembusan nafas keletihan
tertekuk keringat berkelana

terkapar
pandangan layu
diselingi batuk udara dingin

asa gelisah
ujung penantian berkabut
sisa semangat laskar berdebu

tuhan tasbihku
gelindingan kelereng nasip
entah kemana akan menepi

ooooohhhhhhhhhhh
aaaaahhhhhhhhhhh
iiiiihhhhhhhhhhh

Jumat, 02 April 2010

meniup angin takdir

hmmmm

tak seindah rencana
tak semudah teori
tak secepat pikiran

fakta hidup yang kalut
kadang tersenyum sesaat
berganti ketidakpastian

dulu enak diceritakan
saat ini gelisah menatap esok
sementara esok penuh rahasia

ihtiar tertumpuk salah print
doa tak terlacak pengabulannya
bahkan takdir juga tak jelas keberpihakannya

manusia sebagian memberontak
tak jarang juga mati tersungkur sakit
hanya sedikit sabar menggerutu hati

akhirnya semua ke satu titik
mati berabu tanah
tinggalah putih dan hitam

***aku ingin jadi tanah putih dalam kuburan bebatuan hitam*****