Rabu, 14 Mei 2008

Perencanaan Tranportasi Di Lahan Basah Sulitkah??

PENGELOLAAN SISTIM TRANSPOTASI

PADA LAHAN BASAH DI INDONESI



I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Luas lahan basah (wetland) di dunia mencapai 8.558.000 km2 atau lebih dari 6% luas permukaan bumi yang terbagi atas zona polar 200.000 km2; Boreal 2.558.000 km2; sub Boreal km2; sub tropis km2 dan zona tropis 2.638.000 km2 (Maltby and Tuner, 1983). Indonesia termasuk kedalam tujuh negara di Asia Pasifik yang mempunyai lahan basah yang didukung oleh keanekaragaman lahan basah yang luas. Luas lahan basah di Indonesia adalah sekitar 38 juta ha.
Lahan basah merupakan salah satu sumberdaya lahan yang sudah, sedang dan akan menjadi sasaran dalam usaha meningkatkan produksi pangan. Lahan basah tersebut mempunyai banyak kelebihan atau keunggulan dibandingkan lahan kering dalam hal untuk keperluan memproduksi pangan dan pemukiman. Lahan basah daerah pesisir (coastal wetland) adalah salah satu tipe lahan basah yang potensial untuk dikembangkan. Namun demikian, dalam pengembangannya harus mempertimbangkan efek global dan lingkungan sekitarnya.

Aktivitas manusia dengan cara mendrain lahan basah menimbulkan terjadinya subsiden dan munculnya lapisan tanah yang mengandung pyrit yang bila teroksidasi akan menghasilkan keasaman dan beracun (Manahan,1994). Hal ini juga terjadi di pantai timur Jambi, Sumatera (dendang, lagan dan simbur naik) sebagai akibat over drained (Furukawa, 1994). Di sisi lain pengalihan fungsi lahan basah pesisir untuk tempat pemukiman dan perkotaan (coastal city) dimana sekarang terdapat 24 megahydropolis yang berpenduduk lebih dari 10 juta seperti Jakarta, 13,25 juta, Mexico City 25,82 juta, Sao Paulo 23,97 juta dan New York 15,78 juta (Timmerman dan White, 1997). Potensi perkembangan kota pantai di Indonesia cukup besar seperti Semarang, Surabaya, dan beberapa kota di pantai timur Sumatera. Hal ini merupakan ancaman terhadap kelestarian lahan basah. Pengalihan lahan basah terutama lahan basah pesisir untuk tambak khususnya di Asia (Thailand dan Indonesia) yang berkembang pesat, bila tanpa dilakukan restorasi dan pengelolaan yang tepat akan menjadi masalah baik sekarang maupun masa datang.

Oleh karena lahan basah merupakan sumber daya yang dimanfaatkan oleh berbagai pengguna maka diperlukan suatu pengelolaan secara benar, terpadu dan berkelanjutan sehingga mempunyai kontribusi positif bagi kesejahteraan manusia kini dan mendatang.








1.2. Pengertian Lahan Basah

Wetland mempunyai beberapa ciri yang tampak, dan yang paling jelas adalah adanya air yang tetap, tanah wetland yang unik dan ditumbuhi oleh vegetasi yang mampu beradaptasi atau toleran terhadap tanah yang jenuh air. Wetland tidak mudah untuk didefinisikan, namun secara khusus untuk tujuan yang formal karena memiliki selang kondisi hidrologi yang dapat dipertimbangkan, karena wetland berada pada antara lahan kering dan sistem air dalam, dan karena memiliki variasi yang besar dalam ukuran, luasan, dan pengaruh manusia.

Dibawah konvensi Ramsar (Ramsar Convention on Wetlands), lahan basah didefinisikan pada ayat 1.1. dan 2.1 sebagai berikut:
Ayat 1.1: lahan basah adalah area dari marsh, fen, peatland atau perairan, baik alami atau buatan, permanen atau temporer, dengan air yang statis atau mengalir, baik air tawar, payau atau laut, meliputi area perairan laut dengan kedalaman tidak lebih dari 6 meter pada waktu air surut terrendah.
Ayat 2.1: lahan basah mungkin meliputi riparian dan wilayah pesisir yang berdekatan dengan lahan basah, dan pulau atau badan air laut lebih dalam dari 6 meter pada waktu air surut terendah yang membentang di dataran lahan basah

Hidrologi Wetland

Kondisi hidrologi merupakan faktor yang sangat penting untuk mempertahankan struktur dan fungsi wetland, walaupun hubungan sebab akibat yang sederhana namun sulit untuk dipertahankan. Kondisi hidrologi mempengaruhi beberapa faktor abiotik seperti kondisi tanah yang anaerob, ketersediaan hara, dan salinitas pada coastal wetland. Keadaan hidrologi wetland merupakan hasil keseimbangan inflow dan outflow air (water budget), kontur tanah dan kondisi subsurface. Sebagai inflow utama wetland adalah curah hujan, limpasan sungai, aliran permukaan, air tanah dan pasang pada coastal.
Pentingnya hidrologi dalam sistem wetland terutama berhubungan dengan proses ekologi dan kontrol biotik. Perubahan kondisi hidrologi secara langsung memodifikasi atau merubah sifat kimia, fisika sperti ketersediaan hara, salinitas, derajat redok, sifat sedimen dan pH. Kondisi ini akan merubah physiochemichal lingkungan yang berpengaruh terhadap respon biotik (Mitcsh dan Gosselink, 1993).







1.3. Klasifikasi Lahan Basah

Department of Natural Resources Environmental Protection Division (2000) mengklasifikasikan lahan basah ke dalam dua kategori utama yaitu lahan basah pesisir (coastal wetland) dan lahan basah pedalaman/daratan (inland wetland) (Tabel 1).

Kategori Utama
Lokasi
Tipe Lahan basah
Lahan basah Pesisir (Coastal Wetland):
Laut (undiluted salt water)

Pesisir terbuka (open coast)

Lahan basah belukar, salt marsh, rawa mangrove
Estuaria (air asin/tawar)
Estuari (delta, lagoon)
Brackish marsh, lahan basah belukar, salt marsh, rawa mangrove
Lahan basah pedalaman (Inland Wetlands):
Riverine (berassosiasi dengan sungai atau anak sungai)

River channel, flood plain

Bottomlands, fresh water marsh, delta marsh
Lacustrine (berassosiasi dengan danau)
Danau dan delta
Fresh water marsh, hutan dan belukar lahan basah
Palustrine (danau dangkal dan lahan basah air tawar)
Pond, peatland, upland ground water seep
Ephemeral pond, thundra peatland, ground water spring oases, bogs.


Luas lahan basah di Indonesia sekitar 38.000.000 ha, terluas di Asia. Adapun jenis-jenis lahan basah tersebut sbb:
1. Rawa
2. Hutan mangrove
3. Terumbu karang
4. Padang Lamun
5. Danau
6. Muara
7. Sungai
8. Sawah
9. Tambak dan kolam garam





1.4. Fungsi Lahan Basah

Konflik mungkin juga terjadi diantara penilaian masyarakat dan perseorangan. Sebagai contoh, pemilik tanah mungkin tidak menerima keuntungan finansial dari lahan basah terhadap hak miliknya tetapi mungkin memberikan andil buruk terhadap peningkatan kuantitas dan kualitas air untuk masyarakat disuatu perkotaan. Pada kasus tersebut pihak kota dapat membayar pemilik tanah untuk melindungi suatu lahan basah. Pada kasus yang lebih kompleks yang melibatkan spesies lahan basah yang terancam punah yang terdapat di lahan milik perorangan, pemerintah perlu melengkapi satu nilai terhadap preservasi species dan mengatur pengembangan hak milik perorangan tersebut meskipun pemilik tanah tidak memberikan nilai terhadap organisme dan atau lingkungannya yang berada di lahan miliknya.

Lahan basah sangat bervariasi dalam lokasi dan tipe dan tidak mempunyai fungsi yang sama satu dengan lainnya. Menurut MWCP (Minnesota Wetlands Conservation Plan) (1997), lahan basah mempunyai fungsi antara lain:
Penyimpanan dan fluk hidrologis (hydrologic flux and storage): meliputi recharge dan discharge air tanah, sungai, cadangan air tanah dan evapotranspirasi
Produktivitas Bilogis: meliputi produktivitas primer, sekunder, penyimpanan karbon dan fiksassi karbon.
Penyimpanan dan siklus biogeokimia: lahan basah sebagai sumber dan penenggelaman hara, tempat proses oksidasi reduksi, denitrifikasi dan penampungan untuk sedimen dan bahan organik
Dekomposisi: membantu pelepasan karbon, mineralisasi, melepaskan senyawa kimia.
Habitat komunitas kehidupan liar: menyediakan habitat untuk alga, bakteri, fungi, insekta, invertebrata, tumbuhan lahan basah, ikan, kerang, ampibi, reptil, burung, unggas air, dan kehidupan liar lainnya.


Secara Umum Manfaat Lahan Basah :
- mencegah banjir
- mencegah abrasi pantai
- mencegah intrusi air laut
- menghasilkan material alam yang bernialai ekonomis, seperti kayu, bahan obat-obatan, dsb.
- menyediakan kebutuhan manusia akan air minum, irigasi, mck, dsb.
- sebagai sarana transportasi
- sebagai lokasi pendidikan dan penelitian




II. PENGELOLAAN TRANSPORTASI PADA LAHAN BASAH

Transportasi adalah pemindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah wahana yang digerakkan oleh manusia atau mesin. Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Di negara maju, mereka biasanya menggunakan kereta bawah tanah (subway) dan taksi. Penduduk disana jarang yang mempunyai kendaraan pribadi karena mereka sebagian besar menggunakan angkutan umum sebagai transportasi mereka. Transportasi sendiri dibagi 3 yaitu, transportasi darat, laut, dan udara. Transportasi udara merupakan transportasi yang membutuhkan banyak uang untuk memakainya. Selain karena memiliki teknologi yang lebih canggih, transportasi udara merupakan alat transportasi tercepat dibandingkan dengan alat transportasi lainnya.

Jenia tansportasi dan masalahnya di lahan basah :

a. Darat, Pembangunan jalan dan rel kereta api pada lahan basah memiliki kendala tanahnya labil dan sering banjir, sehingga perlu penimbunan dan atau konstruksi beton yang kuat disertai konstruksi cakar ayam tiang beton (jalan laying).
· Sarana
o Angkutan jalan,
o Kereta api
o Lainnya – Angkutan darat selain mobil, bus ataupun sepeda motor yang lazim digunakan oleh masyarakat, umumnya digunakan untuk skala kecil, rekreasi, ataupun sarana sarana di perkampungan baik di kota maupun di desa.
§ sepeda
§ becak
§ bajaj
§ bemo
§ helicak
§ delman
· Prasarana
o Jalan dan jembatan
o Rel
o Terminal
o Stasiun kereta api
o Halte
o ATCS





b. Laut, transportasi air adalah transportasi pilihan utama pada lahan basah baik di danau, rawa maupun pessisir, kendala biaya penimbunan dan konstuksi beton, pendakalan oleh sedimentasi dan korosi yang tinggi, serta akses akan air bersih untuk kapal feri membutuhkan investasi system perpiaan yang panjang dari daerah hulu.

· Sarana
o Kapal
o Feri
o Sampan
· Prasarana
o Pelabuhan
o Galangan kapal

c. Udara, pembangunan udara pada kawasan pesisir seperti bandara ngurah rai, disamping dihadapkan pada persoalan ancaman banjir, tsunami, korosi pesawat dan besarnya arus angina menjadi kendala dalam pembangunan bandara, begitu juga persoalan banjir dan system drainase yang buruk seperti Bandara Soekarno Hatta, serta biaya investasi untuk penimbunan tanahnya.

· Sarana
o Pesawat
· Prasarana
o Bandar udara

Transportasi air sebagai pilihan utama

Karena Indonesia merupakan negara kepulauan, transportasi kapal merupakan sarana penting yang menghubungkan banyak tempat di negara ini. Kapal yang banyak digunakan termasuk kapal kontainer besar, berbagai jenis feri, kapal penumpang, kapal layar, dan kapal bermotor kecil.

Tujuan utama teknik system transportasi adalah untuk menemukan dan menentukan kombinasi yang optimum dari sarana transportasi dan metode untuk pengopersian pada suatu daerah tertentu.

Salah satu pendekatan yang sering digunakan dalam perencanaan system atau proses desain adalah: (1) Defenisi masalah, (2) Kebutuhan atau tujuan yang hendak dicapai dengan perbaikan desain, (3) Spesifikasi alternative penyelesaian masalah, (4) Evaluasi alternatif penyelesaian masalah dan (5) Pemilihan alternative yang terbaik.

Pendekatan dengan melibatkan masyarakat setempat atau terkenal dengan istilah pengelolaan yang didasarkan kepada masyarakat (community based management). Dalam hal ini pihak pemerintah berperan sebagai fasilitator dan penentu pengaturan (regulator) sedangkan masyarakat terlibat langsung dan berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan pengelolaan. Dengan demikian, tujuan dan sasaran yang dicapai akan secara langsung dirasakan oleh masyarakat demikian pula sebaliknya kegagalan dalam pengelolaan.

Proses pengelolaan lahan basah pesisir paada umumnya diawali dengan pertanyaan bagaimana lahan basah pesisir diperlakukan secara baik dan benar; apa luaran yang akan terjadi; keuntungan yang akan diperoleh dan daya tarik bagi stakeholders (pemanfaat); siapa yang berpartisipasi dalam proses dan bagaimana; apa yang akan terjadi jika proses pengelolaan dilaksanakan dan menjadi daya tarik pemanfaat; bagaimana koordinasi diantara pemanfaat yang meliputi identifikasi yang akan menjadi pelaku dan mekanismenya untuk mencapai target bersama; pengambilan keputusan; isu-isu kelembagaan mengenai bagaimana mengelola lahan basah pesisir seefektif mungkin seperti pengelolaan sumber daya lainnya; dan tindakan pemantauan, pengendalian dan pembinaan (MCS).


21. Pertimbangan Lingkungan
Lahan basah pesisir kaya akan jenis flora dan fauna yang memiliki nilai dan fungsi yang penting. Kehidupan organisme tersebut dapat berjalan secara normal jika didukung oleh habitat yang memadai dan sesuai bagi kehidupannya.


22. Pertimbangan Teknis
Pengelolaan secara hati-hati berdasarkan penelitian dari berbagai aspek sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan pemanfaatan rawa. Teknologi pengelolaan lahan rawa meliputi : (1) pengelolaan air; (2) mekanika tanah

1. Pengelolaan Air (Banjir)
Pengelolaan air yang tepat merupakan kunci keberhasilan pengelolaan lahan rawa. Dalam rancangan infrastruktur hidrologi, pengelolaan air dibedakan menjadi : (1) pengelolaan air makro yaitu penguasaan air pada tingkat kawasan rawan banir (2) pengelolaan air mikro, yaitu pengaturan air drainase pada prasarana transportasi.

2. Pengolahan mekanika tanah
Biasanya tanah mineral di lahan rawa itu lembek atau sudah melumpur di waktu lahan digenangi. Oleh karena itu konstruksi prasarana transportasi harus diatur sedemikian rupa sehingga kokoh dan kuat.

2.3. Pertimbangan Sosial dan Ekonomi
Pertimbangan sosial ekonomi akan mempengaruhi perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan lahan basah. Aspek-aspek sosial yang perlu diperhatikan meliputi kepadatan penduduk, distribusi, mata pencaharian, struktur lapangan kerja, dan sistem pengelolaan sumber daya tradisional.

Masalah Utama transportasi pada lahan basah

Untuk mengembangkan insfrastruktur tranportasi pada coastal wetland paerlu dilakukan pertimbangan factor-faktor yang menjadi kendala dalam pelaksanaannya. Hal ini penting untuk membuat suatu kebijakan atau keputuasan yang akn diambil. Beberapa kendalanya adalah sbb :

Terdapat cukup luas di Indonesia, namun lokasinya terpencar-pencar akibat Indonesia sebagai Negara kepulauan;
Topografi lahan basah relative datar, sehingga pengelolaan drainasenya cukup sulit, sering banjir;
Memiliki biodiversity yang khas yang harus dilindungi;
Salinitas tinggi, sehingga mempercepat korosi logam;
Sering tergenang atau banjir
Muka air tanahnya tinggi, sehingga tanahnya labil;
Sulit mendapatkan freshwater untuk keeperluan air transportasi;
Besarnya investasi infrastruktur di lahan basah, karena tanahnya yang labil dan tergenang;
Pada musim kemarau pada lahan gambut juga berpotensi kebakaran;


III. PENUTUP

Wetland merupakan lahan yang memiliki prospek ke depan untuk pengembangan tranportasi namun dalam pengembangannya perlu mempertimbangkan kelestarian lingkungan. Dimana wetland memeilki banyak kelemahan antar lain Salinitas tinggi, Tanahnya sebagian mentah (n > 0,7), Adanya potensi sulfat masam, Sering tergenang (banjir), Muka air tanah tinggi, Sulit mencari fresh water, intrusi air laut, Kurangnya teknologi, Besarnya investasi pembangunan infrastruktur

Beberapa usaha pengelolaan wetland yang telah dilakukan adalah dengan menerapkan Teknologi pengelolaan lahan rawa meliputi : (1) pengelolaan air; (2) pengolahan tanah.














DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2002. Pengelolaan Lahan Basah Pesisir Secara Terpadu dan Berkelanjutan. http://tumoutou.net/702_04212/kel3_0212.htm. Diakses tangal 26 Maret 2008.
Anonim, 2007. Lahan Gambut. http://www.akuarium-tmii.or.id/wetland.html. Diakses tangal 26 Maret 2008.
Walhi, 2003. Walhi Menyerukan Perhatian yang lebih Besar Terhadap Lahan Basah. http://www.walhi.or.id/kampanye/air/lahanbasah/wlh_seru_lahan_basah_131003/. Diakses tanggal 26 Maret 2008.

Misliah, 2007. Penentuan Standar Optimum Pemanfaatan Dermaga Pelabuhan di Indonesia Timur. http://www.unhas.ac.id/~rhiza/mystudents/misliah/misliah1.html. Diakses tanggal 26 Maret 2008.

Walhi, 2003. Ekosistem Lahan Basah. http://www.walhi.or.id/kampanye/air/lahanbasah/lhn_basah_info_040604/. Diakses tanggal 26 Maret 2008.

Anonim, 2007. Lahan Basah (Wetlands). http://www.lablink.or.id/Eko/Wetland/lhbs.htm. Diakses tanggal 26 Maret 2008.
Anonim, 2007. http://id.wikipedia.org/wiki/Transportasi. Diakses tanggal 26 Maret 2008.