Rabu, 14 Mei 2008

Stategi Pertanian Organik

STRATEGI PENGEMBANGAN

PERTANIAN ORGANIK DI INDONESIA

A. PENDAHULUAN

Pertanian organik di definisikan sebagai sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, dengan cara mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro-ekosistem secara alami, sehingga menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan (Anonymous, 2000).
Lebih lanjut IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movements) menjelaskan pertanian organik adalah sistem pertanian yang holistik yang mendukung dan mempercepat biodiversiti, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Sertifikasi produk organik yang dihasilkan, penyimpanan, pengolahan, pasca panen dan pemasaran harus sesuai standar yang ditetapkan oleh badan standardisasi. Penggunaan GMOs (Genetically Modified Organisme) tidak diperbolehkan dalam setiap tahapan pertanian organik mulai produksi hingga pasca panen (Anonymous, 2000).
Petanian Organik adalah sebuah bentuk solusi baru guna menghadapi kebuntuan yang dihadapi Petani sehubungan dengan maraknya intervensi barang-barang sintetis atas dunia pertanian sekarang ini. Dapat kita saksikan, mulai dari pupuk, insektisida, perangsang tumbuh, semuanya telah dibuat dari bahan-bahan yang disintesis dari senyawa-senyawa murni (biasanya un organik) di laboratorium.
Itu semua memang tak selamanya jelek, tetapi pada tempo yang panjang (apalagi jika digunakan dengan tidak hati-hati dan tidak tepat dosis), dimana akumulasi bahan-bahan tersebut menjadi jenuh di tanah, terbukti telah menjadi masalah yang sangat serius. Rantai makanan yang tadinya selalu berputar karena proses degradasi yang baik, tiba-tiba menjadi mandek karena ketidak mampuan alam (bakteri) untuk meluruhkan bahan-bahan sintetis tersebut. Kita sudah mulai melihat kecenderungan tanah menjadi asam dan pengerasan tanah yang disebabkan oleh pupuk urea. Resistennya hampir semua jenis hama terhadap insektisida dan menuntut penggunaan bahan yang berintensitas lebih tinggi untuk dapat membunuhnya.

Menurut Jaker PO (Jaringan Kerja Pertanian Organik) dan IFOAM, ada 4 prinsip dasar dalam membangun gerakan pertanian berkelanjutan :
Prinsip ekologi. Prinsip ini mengembangkan upaya bahwa pola hubungan antara organisme dengan alam adalah satu kesatuan. Upaya-upaya pemanfaatan air, tanah, udara, iklim serta sumber-sumber keanekaragaman hayati di alam harus seoptimal mungkin (tidak mengeksploitasi). Upaya-upaya pelestarian harus sejalan dengan upaya pemanfaatan.
Prinsip teknis produksi dan pengolahan. Prinsip teknis ini merupakan dasar untuk mengupayakan suatu produk organik. Yang termasuk dalam prinsip ini mulai dari transisi lahan model pertanian konvensional ke pertanian berkelanjutan, cara pengelolaannya, pemupukan, pengelolaan hama dan penyakit hingga penggunaan teknologi yang digunakan sejauh mungkin mempertimbangkan kondisi fisik setempat.
Prinsip sosial ekonomis. Prinsip ini menekankan pada penerimaan model pertanian secara sosial dan secara ekonomis menguntungkan petani. Selain itu juga mendorong berkembangnya kearifan lokal, kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, dan mendorong kemandirian petani.
Prinsip politik. Prinsip ini mengutamakan adanya kebijakan yang tidak bertentangan dengan upaya pengembangan pertanian berkelanjutan. Kebijakan ini baik dalam upaya produksi, kebijakan harga, maupun adanya pemasaran yang adil (Dewi, 2006).

Sebagai salah satu contoh adalah teknik bertani sayuran organik, seperti diuraikan di bawah ini.
Tanaman ditanam pada bedengan-bedengan dengan ukuran bervariasi disesuaikan dengan kondisi lahan
Menanam strip rumput di sekeliling bedengan untuk mengawetkan tanah dari erosi dan aliran permukaan
Mengatur dan memilih jenis tanaman sayuran dan legum yang sesuai untuk sistem tumpang sari atau multikultur seperti contoh lobak, bawang daun dengan kacang tanah dalam satu bedengan.
Mengatur rotasi tanaman sayuran dengan tanaman legum dalam setiap musim tanam. Mengembalikan sisa panen/serasah tanaman ke dalam tanah (bentuk segar atau kompos).
Memberikan pupuk organik (pupuk hijau, pupuk kandang, dan lainnya), hingga semua unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman menjadi tersedia.
Menanam kenikir, kemangi, tephrosia, lavender, dan mimba di antara bedengan tanaman sayuran untuk pengendalian hama dan penyakit.
Menjaga kebersihan areal pertanaman

Dalam pertanian organik yang sesuai dengan standar yang ditetapkan secara umum adalah mengikuti aturan berikut:
Menghindari benih/bibit hasil rekayasa genetika. Sebaiknya benih berasal dari kebun pertanian organik,
Menghindari penggunaan pupuk kimia sintetis, zat pengatur tumbuh, pestisida. Pengendalian hama dilakukan dengan cara mekanis, biologis dan rotasi tanaman,
Peningkatan kesuburan tanah dilakukan secara alami melalui penambahan pupuk organik, sisa tanaman, pupuk alam, dan rotasi dengan tanaman legum.
Penanganan pasca panen dan pengawetan bahan pangan menggunakan cara-cara yang alami.


B. INDENTIFIKASI KOPONEN SWOT



SWOT
Uraian
Internal
Strength
Kekuatan
a. Kualitas Produksi Baik
b. Input rendah
c. Kerusakan lahan rendah
d. Produktifitas meningkat jangka panjang
e. Membebaskan petani dari ketergantungan pupuk
f. Biaya produksi rendah
g. Keanekaragaman hayati
Weakness
Kelemahan
a. Kuantitas (produktifitas) rendah
b. Margin keuntungan dinikmati oleh pedagang
c. Merubah kebiasaan petani sulit
d. Membutuhkan volume pupuk yang besar
Eksternal
Opportunity
Peluang
a. Permintaan pasar meningkat
b. Harga produk lebih mahal
c. Industri pupuk organik skala kecil
d. Penyerapan tenaga kerja
e. Pemanfaatan limbah
Threat
Ancaman

a. Pengusaha pupuk kimia & pestisida
b. Permainan jalur distribusi




1. Kelebihan/Strength

a) Dari sudut perspektif ekologi, pertanian organik merupakan suatu upaya manusia memperbaiki hubungannya dengan alam. Bisa dikatakan saat ini manusia sedang berupaya menebus dosanya kepada alam. Sekian puluh tahun petani Indonesia telah “memperkosa” tanah dengan berbagai masukan input anorganik. Berjuta-juta ton bahan anorganik tersebut dijejalkan pada tanah sehingga tanah pun mengalami kejenuhan dan kerusakan. Tidak hanya tanah yang menjadi korban, berbagai spesies hewan maupun jasad renik juga telah lenyap seiring penggunaan pestisida yang membabi buta. Hewan dan jasad renik tidak berdosa tersebut ikut musnah bersama hewan dan jasad renik yang dianggap sebagai hama oleh petani. Padahal sangatlah mungkin beberapa diantaranya justru merupakan musuh alami dari sang hama yang berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

b) Dalam pertanian organik, manusia berusaha memberi manfaat bagi alam berupa upaya pengawetan atas sumber daya dan juga mengurangi rusaknya komunitas ekologi lainnya. Penggunaan pupuk organik adalah salah satu upaya untuk mengurangi kerusakan tanah berupa berkurangnya porositas tanah, akumulasi zat beracun dalam tanah serta matinya jasad renik dalam tanah sebagai akibat penggunaan bahan pupuk anorganik. Penanggulangan hama dan penyakit dengan menggunakan metode alami sangat berperan dalam mengurangi pencemaran lingkungan. Seperti diketahui, penggunaan pestisida selain membunuh hama yang menjadi sasaran juga dapat membunuh musuh alami maupun serangga dan jasad renik yang bermanfaat terhadap kesuburan tanah, tanaman atau proses penyerbukan. Selain itu pencemaran tanah dan air di sekitar lokasi penyemprotan semakin menambah panjang dampak buruk pertanian anorganik.

c) Pertanian organik memungkinkan pemanfaatan limbah rumah tangga dan limbah peternakan sebagai bahan baku pupuk. Kotoran yang dihasilkan oleh hewan ternak yang semula kurang dapat dimanfaatkan, kini dapat diolah menjadi pupuk organik yang mampu mendukung kebutuhan hara tanaman.

d) Pertanian organik merupakan salah satu wujud pertanian berkelanjutan. Penggunaan bahan organik diharapkan akan mengurangi kerusakan tanah sehingga tanah dapat terus memberikan manfaatnya untuk kehidaupan yang akan datang. Penurunan produktivitas dapat dicegah sehingga kemampuan produksi tetap dapat dipertahankan.

e) Pertanian organik juga memungkinkan adanya demokratisasi ekonomi. Seperti salah prinsip dalam perspektif ekologi yang anti kapitalis. Pertanian organik membebaskan petani dari ketergantungan terhadap pengusaha benih dan sarana produksi pertanian lainnya. Pada pertanian biasa, ketergantungan petani terhadap pupuk demikian tingginya, sehingga biaya produksi yang diperlukan untuk melakukan usahatani sangat besar. Kini dengan pertanian organik petani tidak lagi menggunakan pupuk anorganik, pestisida dan benih unggul lagi. Petani dapat mengeksplorasi benih lokal yang memiliki cita rasa khas.

f) Pertanian orgamik juga mendukung pelestarian keanekaragaman hayati. Penggunaan benih unggul atau bahkan benih transgenik menyebabkan hilangnya beberapa varietas tanaman pangan asli Indonesia. Plasma nutfah ini berangsur-angsur hilang tergusur oleh adanya benih unggul yang diklaim memiliki ketahanan terhadap berbagai hama dan penyakit selain pula kemampuan produksinya yang tinggi. Petani dibujuk untuk menanam berbagai jenis benih unggul yang hanya bisa dipakai satu kali tanam saja. Selain keterbatasan itu, petani juga harus memberi berbagai macam input pupuk karena memang benih jenis ini sangat “manja” dan memerlukan asupan nutrisi yang sangat besar. Penerapan pertanian organik diharapkan dapat memunculkan kembali varietas-varietas lokal yang tidak kalah kualitasnya dibandingkan dengan benih unggul.


2. Kekurangan/Weakness

a) Teknologi ramah lingkungan ini juga dikenal dengan istilah soft technology. Terdapat anggapan bahwa pertanian organik miskin teknologi karena tidak menggunakan input anorganik serta mesin-mesin modern, padahal teknologi yang dikembangkan untuk pembuatan pupuk organik dengan melibatkan mikroorganisme juga sebuah teknologi. Sehingga sangat salah apabila ada yang menyatakan bahwa pertanian organik adalah pertanian yang anti teknologi bahkan anti pembangunan.

b) Pengendalian hama dan penyakit tanaman secara alami merupakan hal terberat dalam sistim pertanian. Kegagalan panen merupakan ancaman besar buat petani, sehingga sangat dibutuhkan riset tentang bahan alami yang mengandung bahan insektisida dan penerapannya dalam pertanian. Pengetahuan akan perbaikan lahan dengan sistim pertanian organik sudah diketahui, namun sejauh mana sistim ini menjaga keberlangsungan lahan pertanian perlu diketahui melalui penelitian neraca hara dalam jangka waktu panjang. Kajian di segi pemasaran dan ekonomi juga akan sangat berperan dalam menembus pasar internasional produk organik Indonesia.

c) Produk pertanian organik selama ini memiliki pasar yang tersendiri. Sebagian besar konsumennya ada di kota-kota besar yang terdiri dari kaum ekspatriat dan golongan menengah atas. Harga yang sangat tinggi sebenarnya sangat bertolak belakang dengan prinsip pertanian organik, apalagi distribusi margin yang tidak merata. Harga di tingkat petani berbeda jauh dengan harga di swalayan atau toko yang mengkhususkan menjual produk organik. Seharusnya dengan input yang minimal, pertanian organik mampu menekan biaya sehingga harga produk organik tidak sepantasnya mahal.

d) Memang mungkin akan timbul pertanyaan mengenai efisiensi. Karena untuk kembali ke pupuk kandang dan pupuk hijau, Petani kita kita akan punya alasan keengganan yang cukup mendasar. Penggunaan pupuk kandang akan menyedot jumlah tenaga kerja dan waktu yang banyak karena untuk aplikasi pupuk kandang di lahan, dibutuhkan jumlah pupuk kandang yang sangat banyak (bisa 20 kali lebih banyak dari pupuk kimia). Tentu saja ini berhubungan erat dengan hitung-hitungan ekonomis. Pertanian seperti ini akan menjadi "high cost economy". Dan ini harus dicarikan solusinya.

e) Setelah masalah penyediaan pupuk organik, masalah utama yang lain adalah teknologi budidaya pertanian organik itu sendiri. Teknik bercocok tanam yang benar seperti pemilihan rotasi tanaman dengan mempertimbangkan efek allelopati dan pemutusan siklus hidup hama perlu diketahui. Pengetahuan akan tanaman yang dapat menyumbangkan hara tanaman seperti legum sebagai tanaman penyumbang Nitrogen dan unsur hara lainnya sangatlah membantu untuk kelestarian lahan pertanian organik. Selain itu teknologi pencegahan hama dan penyakit juga sangat diperlukan, terutama pada pembudidayaa pertanian organik di musim hujan.

f) Masyarakat awam menganggap produk organik adalah produk yang bagus tidak hanya dari segi kandungan nutrisi namun juga penampilan produknya. Kenyataannya produk organik itu tidaklah selalu bagus, sebagai contoh daun berlobang dan berukuran kecil, karena tidak menggunakan pestisida dan zat perangsang tumbuh atau pupuk an organik lainnya. Pada tahun awal pertaniannya belum menghasilkan produk yang sesuai harapan.

g) Sebagian petani kita terbiasa menggunakan pupuk an organik yang akan memberikan respon cepat pada tanaman. Seperti misalnya pemupukan Urea akan menghasilkan tanaman yang pertumbuhannya cepat, sementara dengan pemupukan organik pengaruh perubahan pertumbuhan tanaman tergolong lambat. Baru pada musim ketiga dan seterusnya, efek pupuk organik tersebut menunjukkan hasil yang nyata perbedaannya dengan pertanian non organik. Sehingga dapat disimpulkan pertanian organik di tahun-tahun awal akan mengalami banyak kendala dan membutuhkan modal yang cukup untuk bertahan.

3. Peluang/Oppurtunity

a) Tingginya permintaan tersebut tidak dibarengi dengan jumlah produk pertanian organik yang ditawarkan. Komunitas petani organik di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung masih belum mampu memenuhi permintaan produk pertanian organik yang semakin meningkat (Pikiran Rakyat, 13 Maret 2006).

b) Tingginya permintaan menyebabkan harga di pasaran juga melambung. Selain faktor ketidakseimbangan permintaan dan penawaran, salah satu faktor yang membuat produk pertanian organik mahal adalah berbagai kelebihan yang ditawarkan oleh produk pertanian organik. Konsumen yang memahami manfaat produk pertanian organik akan dengan suka rela membayar berapapun harga yang ditawarkan dengan alasan kesehatan.

c) Pertanian organik juga memungkinkan tumbuhnya usaha kecil menengah berupa industri pupuk organik skala kecil. Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan pada pertanian anorganik karena usaha pupuk anorganik membutuhkan modal yang besar baik finansial maupun teknologi. Pertanian organik memacu berkembangnya ekonomi daerah pedesaan. Peternak dapat memanfaatkan kotoran hewan ternaknya menjadi pupuk kandang sehingga dapat menambah pendapatan dan menyerap lebih banyak tenaga kerja. Sampah yang menjadi masalah di kota besar apabila dikelola dengan baik akan dapat menghasilkan produk daur ulang dan juga pupuk kompos.

d) Suatu yang tidak mungkin apabila pertanian organik akan meninggalkan semua unsur yang bernama teknologi dan kembali pada sistem pertanian nenek moyang. Konsep ecotechnology memberikan jawaban terhadap kebutuhan teknologi yang ramah lingkungan. Penggantian input anorganik dengan input organik merupakan salah satu penerapan teknologi ini. Berbagai penemuan pupuk organik yang kemampuannya sama bahkan melebihi pupuk anorganik dapat dijadikan sebagai contoh teknologi pertanian yang ramah lingkungan. Model pengendalian hama dengan musuh alami juga merupakan teknologi yang ramah lingkungan.


e) Permintaan yang tinggi serta harga yang menggiurkan membuat beberapa pengusaha besar pun melirik pertanian organik. Terlepas bahwa mayoritas orang Indonesia masih menyangsikan pertanian organik, namun secara nyata pertanian organik mulai bermunculan. Pemicu utamanya adalah keuntungan ekonomis. Bisnis pertanian organik semakin banyak karena menyimpan keuntungan besar. Sebenarnya kalangan birokrat sekarang pun mulai melirik pertanian organik, tetapi yang menggerakkan mereka bukan soal kesadaran ekologi tetapi lebih karena negara maju banyak yang mencari, artinya peluang meraup devisa.





4. Tantangan/Threat

a) Mahalnya harga produk pertanian organik tidak dapat lepas dari permainan di jalur distribusi. Pihak perantara, yaitu pedagang seringkali menggunakan pendekatan psikologis dalam menentukan harga. Asumsinya adalah produk yang berkualitas, terjamin kesehatannya dan tidak mengandung residu bahan anorganik haruslah berharga mahal.
b) Apabila ditinjau dari sisi ekologi memang tidak ada permasalahan apakah pertanian organik yang berkembang saat ini merupakan buah dari kesadaran ekologi ataukah peluang pasar. Namun demikian, kesejahteraan petani perlu lebih dipikirkan. Jangan sampai pertanian organik merupakan wujud dari kapitalisme gaya baru yang semakin menghisap petani kecil.

c) Sedangkan untuk pemasaran keluar negeri, produk organik Indonesia masih sulit menembus pasar internasional meskipun sudah ada beberapa pengusaha yang pernah menembus pasar international tersebut. Kendala utama adalah sertifikasi produk oleh suatu badan sertifikasi yang sesuai standar suatu negara yang akan di tuju. Akibat keterbatasan sarana dan prasarana terutama terkait dengan standar mutu produk, sebagian besar produk pertanian organik tersebut berbalik memenuhi pasar dalam negeri yang masih memiliki pangsa pasar cukup luas. Yang banyak terjadi adalah masing-masing melabel produknya sebagai produk organik, namun kenyatannya banyak yang masih mencampur pupuk organik dengan pupuk kimia serta menggunakan sedikit pestisida. Petani yang benar-benar melaksanakan pertanian organik tentu saja akan merugi dalam hal ini.
d) Pasar produk organik didunia masih dikuasai Amerika dan Eropa, sebagaimana terlihat dalam Gambar 2. Negara Asia dan kawasan lainnya hanya menyumbang sekitar 3%.

e) Bila dilihat kondisi petani di Indonesia, hampir tidak mungkin mereka mendapatkan label sertifikasi dari suatu lembaga sertifikasi asing maupun dalam negri. Luasan lahan yang dimiliki serta biaya sertifikasi yang tidak terjangkau, menyebabkan mereka tidak mampu mensertifikasi lahannya. Satu-satunya jalan adalah membentuk suatu kelompok petani organik dalam suatu kawasan yang luas yang memenuhi syarat sertifikasi, dengan demikian mereka dapat pembiayaan sertifikasi usaha tani mereka secara gotong royong. Namun ini pun masih sangat tergantung pada kontinuitas produksi mereka.



C. STRATEGI SO, ST, WO DAN WT

¨ Untuk mengurangi kesenjangan distribusi margin, beberapa LSM pendamping petani yang mengembangkan pertanian organik berusaha untuk memotong distribusi pemasaran. Mereka membentuk komunitas petani organik yang tidak hanya melakukan budidaya dengan sistem organik namun juga melakukan usaha pemasaran produknya secara langsung ke konsumen. Harga yang ditawarkan tentu jauh berbeda dengan harga di pasar swalayan. Terdapat dua tujuan dalam melakukan pemasaran langsung, yaitu menambah margin dan juga mensosialisasikan pertanian organik pada masyarakat. Harga yang relatif terjangkau dan komunikasi langsung dengan konsumen diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya produk anorganik. Hasil akhir yang diharapkan tentunya adalah semakin banyak masyarakat yang beralih kepada produk pertanian organik.

¨ Pertanian organik saat ini terus berkembang di Indonesia. Pendorong utamanya adalah kekuatan bisnis, selain permintaan yang besar. Mengingat watak bisnis kapitalistis yang serakah dan tak kenal henti akan keuntungan, maka bisnis pertanian organik perlu diawasi. Terlepas dari kesadaran ekologi atau ekonomi pasar, pertanian organik telah membawa manfaat besar bagi lingkungan. Namun demikian pertanian organik bukan saja soal lingkungan yang lebih baik atau soal kesejahteraan ekonomi petani, tetapi juga menyangkut demokrasi ekonomi. Semoga pertanian organik bukan wujud baru dari sang kapitalisme. Amien.


¨ Aspaindo kini tengah mendorong pemasaran sebanyak enam produk pertanian organik, yaitu beras, sayuran, buah-buahan, rempah-rempah, kopi, dan teh, di mana seorang pengusaha di Bandung siap menampung sekaligus memasarkan. Sedang disusun pula, berbagai divisi yang menangani produk pertanian organik lainnya, mulai subsektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, dan perikanan.

¨ Tapi yang lebih penting untuk kita perhatikan saya kira adalah kerusakan yang ditimbulkan oleh hal ini. Beberapa saat yang lalu bahkan Masyarakat Petani kita (Indonesia) sempat mengajukan gugatan kepada IPB (Institut Pertanian Bogor) agar meminta maaf karena telah mengkampanyekan dan memasyarakatkan gerakan revolusi hijau di Indonesia. Saya kira masa-masa tuntut-menuntut dan tanggung-menanggung sudah harus kita kesampingkan sekarang ini. Ada hal besar yang lebih penting lagi menanti untuk kita selesaikan sekarang ini. Mengubah paradigma berpikir Petani kita tentang pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan (sustainable agriculture), adalah proyek besar yang harusnya menyedot porsi terbesar para insan yang bergelut dengan dunia pertanian di Indonesia ini.


¨ Dengan semakin majunya teknologi pertanian dan mikro biologi, sebetulnya saat ini sudah ada pupuk organik yang dosis aplikasinya sama dengan pupuk kimia. Jadi petani tidak perlu lagi membawa berpuluh-puluh ton pupuk kandang untuk memupuk lahan seluas 1 hektare (dan pupuk ini sekarang sudah bisa diproduksi di Indonesia). Sebagai contoh, untuk memupuk areal penanaman padi seluas 1 hektare, hanya dibutuhkan 500 Kg pupuk organik (garanule / padat) untuk satu kali musim tanam. Sedangkan untuk tanaman sayuran pada lahan kering, hanya dibutuhkan 1,5 s/d 2 ton pupuk organik untuk satu kali musim tanam per hektare-nya (tidak seperti aplikasi pupuk kandang, yang biasanya menghabiskan 15 ton s/d 20 ton pupuk kandang untuk setiap kali musim tanam per hektare-nya). Seakarang ini sudah beredar beberapa merek pupuk organik buatan Indonesia dengan beragam harga dan kwalitas, baik berbentuk cair maupun padat (pril/granule/bubuk).

¨ Begitu juga dengan pestisida dan dan fungisida. Saat ini sudah mulai dirintis pembuatan teh kompos untuk menekan pertumbuhan bakteri patogen (disamping sebagai pupuk tambahan) dan pembuatan insektisida organik dari bahan-bahan racun yang bisa didegradasi oleh alam dalam tempo yang tidak panjang. Bahkan pada produksi sayur-sayuran, sudah mulai diaplikasikan sistim pertanian rumah kaca (sebetulnya mungkin yang lebih tepat adalah rumah plastik; karena dibuat dengan atap plastik) dengan teknologi murah dan sederhana. Semua hal itu sekarang ini sudah bisa didapatkan dengan biaya yang murah dan teknologi yang terjangkau bahkan oleh petani kecil dan berpengetahuan minim sekalipun.



¨ Padahal teknologi pertanian organik adalah teknologi yang sudah kita geluti selam ribuan tahun. Dan lebih lagi bahan-bahan sumbernya, semua ada di seputar kita dalam jumlah yang tidak terbatas. Di Indonesia ini, masih banyak industri-industri organik sederhana yang menghasilkan limbah yang terbuang begitu saja. Pabrik tahu, tempe, kecap, peternakan ayam, sapi, domba, pasar tradisional dan segudang pabrik-pabrik yang menghasilkan limbah organik lainnya yang bisa kita manfaatkan sebagai bahan baku pupuk dan keperluan pertanian lainnya. Teknologinya bisa kita dapatkan di BPPT, LIPI dan banyak lagi LSM-LSM di universitas-universitas terkemuka yang mudah-mudahan mau menyediakannya dengan gratis.


¨ Trend pertanian organik di Indonesia, mulai diperkenalkan oleh beberapa petani yang sudah mapan dan memahami keunggulan sistim pertanian organik tersebut. Beberapa ekspatriat yang sudah lama hidup di Indonesia, memiliki lahan yang luas dan ikut membantu mengembangkan aliran pertanian organik tersebut ke penduduk di sekitarnya. Kemudian beberapa mantan perwira yang memiliki hoby bercocok tanam juga sekarang beramai-ramai mulai membenahi lahan luas yang dimiliki mereka dan mempekerjakan penduduk sekitarnya sekaligus alih teknologi. Disamping itu banyak lembaga non pemerintah (NGO) yang bertujuan mengembangkan sistim pertanian organik di Indonesia melalui pembinaan sumberdaya manusia ataupun bertujuan menggapai pasar organik di luar negri.

¨ Berbagai permasalahan seputar pertanian organik dapat diatasi dengan kesungguhan petani dengan bantuan pemerintah dalam memfasilitasinya, dengan demikian diharapkan sistem pertanian organik dimasa yang akan datang dapat berkembang menjadi salah satu alternatif pemenuhan kebutuhan pangan dalam negeri. Untuk itu diperlukan penelitian mendalam terhadap sistim pertanian organik ini. Banyak bidang penelitian yang terkait dalam mendukung perkembangan pertanian organik. Dimulai dari kajian tentang penyediaan mikroba yang dapat mendekomposisi bahan organik dalam waktu singkat, sehingga penyediaan pupuk organik dapat terpenuhi Kemudian pengetahuan tentang kesesuaian tanaman yang ditanam secara multikultur, dan pemutusan siklus hama dengan rotasi tanaman. Hingga saat ini belum ada hasil penelitian yang dapat menjelaskan hal tersebut, petani hanya mencoba-coba dari beberapa kali pengalaman mereka bercocok tanam tersebut.

Sertifikasi dan Standarisasi

Departemen Pertanian juga telah menyusun standar pertanian organik di Indonesia, tertuang dalam SNI 01-6729-2002. Sistim pertanian organik menganut paham organik proses, artinya semua proses sistim pertanian organik dimulai dari penyiapan lahan hingga pasca panen memenuhi standar budidaya organik, bukan dilihat dari produk organik yang dihasilkan [4]. SNI sistim pangan organik ini merupakan dasar bagi lembaga sertifikasi yang nantinya juga harus di akreditasi oleh Deptan melalui PSA (Pusat Standarisasi dan Akreditasi). SNI Sistem pangan organik disusun dengan mengadopsi seluruh materi dalam dokumen standar CAC/GL 32 ? 1999, Guidelines for the production, processing, labeling and marketing of organikally produced foods dan dimodifikasi sesuai dengan kondisi Indonesia.








D. PENUTUP

Perkembangan pertanian organik di Indonesia dapat menjadi suatu alternatif pemenuhan kebutuhan pangan di Indonesia dalam jangka panjang. Sasaran jangka pendek dari sistim pertanian organik ini adalah kesadaran masyarakat dan petani akan perlunya melestarikan lahan dan menjaga lingkungan dengan mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis seperti pupuk kimia dan pestisida dan berusaha semampunya memanfaatkan bahan-bahan alami disekitar mereka. Dan untuk jangka panjang, potensi pasar produk organik di dunia terbuka lebar bagi Indonesia. Namun demikian potensi lahan yang dapat dijadikan lahan pertanian organik sangat kecil. Sehingga lahan pertanian non organik masih menjadi andalan produksi pangan di Indonesia, namun setidaknya kebutuhan pasar akan produk organik dapat terpenuhi oleh petani.