Budidaya Ikan Juga Butuh Kasih Sayang…
PENDAHULUAN
Peranan teknologi budidaya menjadi semakin penting, baik pada skala global maupun lokal, karena hasil perikanan laut dari hasil tangkapan semakin berkurang, sedangkan kebutuhan dunia akan protein hewani dari laut semakin meningkat. Dari sekian banyak komoditi perikanan, udang masih merupakan andalan ekspor di Sulawesi Selatan, bahkan andalan nasional, dari sub-sektor perikanan. Devisa yang diperoleh dari udang di Sulawesi Selatan menempati urutan ketiga setelah kakao dan nikel. Tingginya permintaan udang dunia terkait dengan pola konsumsi sehat yang diterapkan di negara-negara maju yang menginginkan makanan yang berprotein tinggi, tetapi kadar lemak rendah.
Produksi udang windu (Penaeus monodon) mengalami penurunan yang sangat tajam dalam 10 tahun terakhir sejak munculnya penyakit bintik putih yang disebabkan oleh virus White Spot Syndrome Virus (WSSV). Virus ini dapat menyebabkan kematian massal pada udang windu terutama setelah berumur dua bulan pemeliharaan di tambak dan dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Diperkirakan kerugian mencapai 300 juta USD per tahun akibat infeksi virus ini.
Virus WSSV memiliki kisaran inang yang sangat luas dan bisa menginfeksi hampir semua golongan crustacea yang hidup di perairan, sehingga dapat berfungsi sebagai inang reservoir alami. Akibatnya, sangat sulit melakukan pencegahan masuknya virus melalui inang alami pada sistem budidaya. Produktivitas tambak Sulawesi Selatan, yang luasnya mencapai 98.606 ha, hanya sekitar 26.000 ton/ha/tahun. Sementara, Kabupaten Pinrang yang merupakan salah satu sentra produksi udang Sulawesi Selatan berpotensi memproduksi udang sekitar 31.470 ton/ha/tahun (luas tambak sebanyak 15.735 ha dengan mengacu pada target produksi nasional sebesar 2 ton/ha/tahun). Dengan produksi seperti itu, Kabupaten Pinrang menghasilkan sekitar Rp 2,266 trilyun (asumsi harga udang US $8/kg dan nilai tukar US$ 1 = Rp. 9000). Jika setengah dari luas lahan yang ada saja dapat berproduksi sesuai dengan target nasional, maka penghasilan kabupaten Pinrang dari udang masih sangat besar, lebih dari Rp. 1 trilyun/tahun.
Hasil penelitian yang dilakukan di sentra produksi udang di Sulawesi Selatan mengindikasikan bahwa, sebagian besar tambak yang ada sudah tidak berproduksi dan hanya sebagian petani tambak saja yang melakukan kegiatan produksi meskipun dengan resiko kegagalan yang sangat besar akibat terinfeksi oleh virus WSSV. Berdasarkan hasil isolasi terhadap patogen ditemukan bahwa, virus WSSV menginfeksi hampir semua daerah yang di sampling (Anshary, dkk., 2003) dan mengakibatkan kematian udang secara massal (100%) dalam waktu yang relatif singkat, berkisar 3 sampai 5 hari sejak terinfeksi. Hal ini mengindikasikan bahwa virus ini masih menjadi kendala utama dalam pengembangan budidaya udang di Sulawesi Selatan. Upaya pengendalian yang dilakukan dengan cara skrining dengan PCR terhadap benur udang yang akan ditebar ke tambak tidak menjamin keberhasilan budidaya udang karena banyaknya inang reservoir alami golongan krustasea, seperti udang-udang kecil dan kepiting yang dapat masuk ke dalam tambak bersama dengan air, atau aktivitas makan dari kepiting yang dapat berpindah-pindah dari satu tambak ke tambak lainnya dapat meningkatkan intensitas penyebaran penyakit bintik putih pada udang.
Masuknya spesies udang vannamei (Litopenaeus vannamei) yang diintroduski dari Amerika untuk memacu produksi udang akibat kegagalan panen pada budidaya udang windu, ternyata masih menemukan banyak kendala, terutama untuk budidaya udang secara massal. Ternyata, budidaya udang ini juga bukan tanpa masalah, terutama karena udang ini membawa bibit penyakit yang disebut Taura Syndrome Virus. Virus ini memilki tingkat keganasan yang sama dengan penyakit virus WSSV pada udang windu.
Sampai saat ini pihak pemerintah telah memberikan upaya serius untuk mengatasi persoalan penurunan produksi udang akibat penyakit, antara lain memberikan bantuan permodalan yang disertai bimbimgan teknis dari para pihak, namun hasilnya sampai saat ini masih jauh dari harapan. Menurut hasil penelitian di berbagai negara, rendahnya tingkat keberhasilan budidaya udang terkait dengan adanya faktor-faktor kritis yang selalu muncul di tambak yang dapat memicu berkembangnya penyakit. Budidaya udang yang berhasil adalah yang mampu mengatasi faktor-faktor kritis tersebut.
prinsipnya, budidaya udang yang sehat dan berkesinambungan merupakan manajemen budidaya yang harus memperhatikan berbagai aspek, yaitu penerapan prinsip budidaya udang secara baik, mulai dari persiapan tambak sampai proses pemeliharaannya, dengan menekan sekecil mungkin stressor selama proses pemeliharaan, penerapan biosecurity dengan sempurna agar bibit penyakit tidak masuk ke sistem budidaya – baik vertikal maupun horizontal, menjaga kualitas lingkungan agar tetap baik, serta meningkatkan kesehatan dan daya tahan tubuh udang. Karena itu, mengacu pada hasil-hasil berbagai penelitian yang telah dilakukan, pada Demo Area ini akan diterapkan sistem budidaya udang secara sehat dan berkesinambungan.
Pada uraian lainnya bahwa pengaruh negatif budidaya udang intensif sekarang ini bisa ditanggulangi dengan adanya sistem pembuangan air minimal, tanpa pembuangan air atau resirkulasi tertutup. Sistim-sistim tersebut merupakan alternatif dari sistem produksi siklus terbuka umumnya yang memerlukan pergantian air yang banyak. Sistim-sistim itu dapat mengatasi masalah berat yang dihadapi produksi udang saat ini, setidak-tidaknya mengurangi, kalau tidak bisa sama sekali mencegah masuknya karier penyakit udang ke tambak.
Sampai saat ini, pembudidaya udang yang progresif adalah dengan sistim pembuangan air minimal yang juga dipandang sebagai sistim pengantian air yang sedikit. Penerapan sistim resirkulasi bagi budidaya udang intensif telah diuji dan didemonstrasikan oleh Aquaculture Department of di SEAFDEC (SEAFDEC/AQD) Filippina dan telah juga cukup lama digunakan di Thailand. Sistim resirkulasi ini menjadi populer setelah berjangkitnya wabah bakteri dan virus sindrom bercak putih (white spot syndrome virus WSSV = ), pada saat dimana pembudidaya udang berusaha
membebaskan tambaknya dari sumber-sumber bakteria dan virus yang berasal dari air atau dari sumber luar.
A. Deskripsi Perbaikan Sistim KolamTambak
Sistim pembuangan air minimal dan sistim resirkulasi tertutup pada dasarnya adalah hampir sama, dimana areal budidaya terbagi menjadi unit-unit terpisah a.l. Kolam penampungan air, kolam pembesaran dan kolam pengendapan (juga disebut reservoar) kolam treatment) sebagaimana pada (Gambar 1).
Perbedaannya adalah bahwa pada sistim yang pertama, sejumlah kecil air dibuang dari kolam pembesaran dan dialirkan ke laut setelah melalui kolam treatment. Sedangkan pada sistim kedua, buangan dari kolam pembesaran digunakan lagi atau diresirkulasi setelah melewati kolam treatment. Pada sistim resirkulasi tertutup, air seluruhnya diresirkulasi dengan memompanya dua kali, pertama dari kolam penampungan masuk ke kolam pembesaran, dan yang kedua, dari kolam pengendapan ke kolam pembesaran. Pada sistim pembuangan air minimal, air hanya sekali dipompa, yaitu dari kolam penampungan utama masuk ke kolam pembesaran.
Keterangan: Panah biru menunjukkan sistem pembuangan air minimal.
Panah merah adalah sistem resirkulasi
Sistim pembuangan air minimal dan sistim resirkulasi tertutup mencakup pula pencegahan penyakit dan pembuangan atau pengurangan buangan organik, bakteria berbahaya dan polutan lainnya dari air kotor. Sistim tersebut bersifat ramah lingkungan karena cara ini mengintegrasikan kolam penampungan air, kolam pengendapan, rotasi penanaman, bahan , sistim pendukung kehidupan, dan probiotik biomanipulator, biofilter penampung lumpur.
B. Komponen Dasar Perbaikan Sistim KolamTambak
1. Kolam pembesaran
Umumnya, luas kolam pembesaran sekitar 50 % - 75 % dari luas total fasilitas tambak budidaya udang intensif (Gambar 2). Bentuknya mungkin berbeda-beda, tapi yang paling umum adalah kubus atau persegi panjang, masing-masing seluas 0,5 - 1,0 ha. Pematang kolam pembesaran bisa dari tanah, konkrit (dari semen) 2 atau dilapisi plastik. Udang dipelihara mulai ukuran benih dengan padat tebar 20-60 ekor/m sampai mencapai ukuran konsumsi. Pematang, pintu air dan sistem saluran dirancang dan dibangun guna mampu menampung kedalaman air 100 cm;
Percontohan tambak udang menyarankan untuk menggunakan kolam pembesaran yang kecil dan mudah dikelola seluas 1,25 - 1,0 ha dengan kolam penampungan air seluas 0,08 - 1 ha. Seluruh kolam harus memiliki pintu pemasukan dan pembuangan air tersendiri, guna lancarnya pengaturan air. Sistim pintu air ganda ini dapat terbuat dari saluran kayu, konkrit atau dari PVC. Jalan setapak dari bambu, kayu atau konkrit bisa dibuat di tempat-tempat strategis, tempat memonitor udang atau memberi makan. wadah pakan (0,75 - 1 m) sebanyak 4 - 8 buah ditempatkan untuk kolam seluas 0,5 - 1.0 ha, untuk memonitor pakan yang dimakan udang.
Gbr. 2. Desain tambak udang sistim resirkulasi
2. Kolam penampungan air dengan dan biomanipulator greenwater
Luas kolam penampungan ini paling sedikit 25% dari kolam pembesaran (Gambar 1 dan 3). Air yang masuk seluruhnya ditampung sementara di kolam penampungan untuk paling tidak satu minggu, sebelum dialirkan ke kolam pembesaran. Bila kolam penampungan ini hanya tersedia satu saja, sebaiknya dibagi menjadi dua bagian yang bisa dipakai Bergantian. Pada kolam penampungan inilah salinitas air dapat dikontrol dan disesuaikan.
Kolam penampungan juga membantu mengurangi, kalaupun tidak menghilangkan sama sekali, adanya inang dan pembawa penyakit dari jenis udang-udangan. Air dipompakan masuk ke kolam pembesaran melewati bak saringan untuk mencegah spesies lain dari luar masuk ke kolam.
Gbr. 3. Kolam penampungan air.
.
Kolam penampungan ditebari spesies yang berfungsi sebagai biomanipulator yaitu : tilapia-jantan, bandeng atau belanak. Biomanipulator ini nyata membantu mempertahankan kondisi air kolam dan menimbulkan green water. Ikan ditebar dengan kepadatan 5.000 - 10.000 ekor/ha atau setara dengan volume biomassa sebesar 1,5 - 2,5 ton/ha.
3. Kolam pengendapan dengan sekat dan biofilter
Kolam pengendapan (juga disebut kolam sedimentasi, kolam penampungan buangan atau kolam treatment) berfungsi untuk menampung air buangan dari kolam pembesaran, agar zat hara terlarut dan butiran zat padat melayang dapat berkurang seminimal mungkin sebelum dialirkan kembali ke kolam penampungan.. Saluran pembuangan utama, yang bisa juga berfungsi sebagai tempat pengendapan, harus berukuran lebar dan dalam, guna terjadinya pembuangan yang efisien. Kolam harus mempunyai pintu pengaturan air untuk mencegah air buangan tidak melimpah keluar kolam sebelum zat padat yang melayang mengendap semua.
Gambar: Kolam Pengendapan
Air yang keluar dari kolam pembesaran di treatmen terlebih dahulu melewati sistem sekat yang dipasang di kolam pengendapan. Sekat-sekat ini terbuat dari lembaran plastik atau jaring kawat halus yang memungkinkan terjadinya penyaringan mekanis dan proses sedimentasi pada saat air ber gerak mengalir dengan cara berkelok-kelok (Gambar 5). Gerak air melambat dan zat padat yang melayang mengendap sebelum sampai ke bak saringan.
Untuk meminimalkan konsentrasi zat hara terlarut pada air buangan, filter biologis seperti oyster, kerang dan rumput laut (Gracillaria spp. dan ganggang hijau) digantungkan di kolam pengendapan tersebut.
Bak saringan yang dilengkapi pompa air submersible bertenaga 2 hp dipasang diujung kolam untuk sirkulasi air. Pompa ini beroperasi 12 jam per hari selama 3 kali seminggu tergantung dari kualitas airnya.
4. Penampung lumpur
a. Penampung lumpurdi tengah kolam
Perlengkapan ini berupa kurungan seluas 5% dari areal kolam, yang berdinding jaring ganda ukuran 10m x 10m x 1,5m dan dipasang di tengah kolam pembesaran (Gambar 7). Dengan bantuan kincir berangkai, aliran sirkulasi air bergerak sambil membawa sisa pakan, kotoran udang dan endapan lainnya ke tengah kolam. Udang tertahan jaring hingga tidak ikut masuk bersama air. Penampung lumpur ini memiliki jaring kasar (5 mm) di dalam dan jaring halus (1 mm) di luar, yang terbenam sedalam 50 cm ke dasar kolam dan ditopang oleh batang bambu. Jaring halus yang di sebelah luar diangkat setelah 60 hari di saat udang mencapai ukuran benih, ukuran yang cukup besar untuk tidak masuk ke dalam penampung lumpur. Tilapia, bandeng atau belanak yang ditebar di penampung lumpur ini makan buangan sisa pakan yang terakumulasi.
b. Penampung Lumpur di Sudut
Penampung lumpur jenis ini terdiri dari bahan yang sama, namun dipasang di seluruh sudut kolam. Sudut-sudut tersebut dianggap titik mati dimana sisa buangan terkumpul. Biomanipulator ditebar di tempat ini untuk memanfaatkan buangan yang terakumulasi sebagai makanannya.
5. Suplai Tenaga Listrik
Sumber tenaga listrik untuk suatu kolam budidaya udang intensif harus memiliki kapasitas yang mampu mensuplai listrik yang cukup untuk mengoperasikan penerangan, kincir, pompa listrik, dan peralatan lainnya yang diperlukan blower setiap saat. Umumnya, sistem bertenaga 3-fase dipilih guna meminimalkan pemakaian listrik. Sebuah generator pembangkit listrik harus selalu siap pakai guna menjalankan kincir dan pompa saat terjadi gangguan listrik.
6.Sistim Aerasi
Pengaerasian air kolam dilakukan secara mekanis, dengan menggunakan bahan bakar bensin atau listrik. Aerasi meningkatkan efisensi produksi udang, karena mempertahankan kandungan oksigen pada tingkat optimum. Sirkulasi air kolam secara efisien mencegah stratifikasi dan mengurangi akumulasi senyawa-senyawa nitrogen pada tempat -tempat dimana lumpur terkumpul . Aerasi juga mempertahankan suspensi partikel organik dalam air serta membentuk kumpulan bakteri heterotropik yang menjernihkan air dan membentuk proses mineralisasi bahan-bahan organik terlarut.
Penggunaan kincir berangkai (Gambar 10 dan 11) disarankan untuk budidaya udang intensif yang menggunakan kolam-kolam bujur sangkar atau persegi panjang seluas masing-masing 0,5 - 1,0 ha. Kincir berangkai dapat mencakup permukaan air yang lebih luas dan dapat secara cukup mengaerasi dan mensirkulasikan air di kolam pembesaran. Bila dipasang secara tepat, kincir ini bisa menimbulkan arus air memusat yang membawa bahan organik ke tengah dasar kolam, sehingga daerah pinggiran kolam menjadi bersih, tempat dimana udang bisa bergerak dan makan.
Adalah penting agar petambak memperhatikan efisiensi, kekuatan dan kemudahan perawatan aerator saat membeli peralatan tersebut. Sebuah aerator kincir dengan rangkaian 10 - 15 kipas bisa dioperasikan secara efisien dengan menggunakan suatu pengurang kecepatan buatan pabrik dengan rasio 1 : 40, yang tersambung ke sebuah mesin diesel mekanik (8hp) atau ke sebuah motor listrik (1 hp)
Sistim aerasi di dasar kolam (Gambar 12) juga disarankan sebagai alternatif penggunaan kincir pada budidaya udang intensif. Sistem ini meningkatkan konsentrasi oksigen terlarut di dasar kolam dan di seluruh badan air. Sistem aerasi ini memakai pipa PVC (berdiameter 10 mm) yang berlubang-lubang kecil, yang mengarah ke bawah dan tegak terpasang sepanjang dasar kolamdengan jarak 2 - 10m antara satu sama lain. Pipa-pipa tersebut tersambung ke blower bertenaga 2 hp.
7.Pompa Air
Bila arus air dari sumber terdekat tidak cukup untuk mengisi kolam penampungan, perlu digunakan pompa air listrik atau bertenaga bahan bakar manapun yang tersedia dan berharga pantas (Gambar 13). Pompa air terdiri dari bermacam-macam jenis dan merupakan komponen yang mutlak harus ada pada budidaya tambak udang intensif.
8. Bak Saringan
Pemasangan bak saringan di kolam penampungan air merupakan perbaikan dari penggunaan jaring atau kantong saringan yang umumnya digunakan. Dibuat dari bahan lokal yang ada, bak saringan ini mudah dibuat dan dioperasikan. Bak dibuat dari kayu lapis, dilubangi pada sisi-sisi dan dasarnya, dan diisi lapisan-lapisan pasir, kerikil halus atau tumbukan cangkang kerang (Gambar 14). Pompa air submersible dipasang pada bagian tertinggi saringan yang mengalirkan air masuk ke kolam pembesaran. Bila dipasang dengan benar, bak saringan ini akan secara efektif menahan spesies ikan atau udang yang tidak dikehendaki, yang mungkin merupakan inang pembawa penyakit udang. Pada sistim resirkulasi tertutup, bak saringan yang lain dengan sistim pompa tersendiri dipasang di kolam pengendapan untuk mengalirkan kembali air yang sudah di-treatment ke kolam pembesaran.
9.Peralatan Monitoring
Adalah penting untuk melengkapi fasilitas tambak dengan peralatan dasar (Gambar 15)seperti (pengukur salinitas), termometer (pengukur suhu), refractometer secchi disk (pengukur kecerahan air), pH meter dan pengukur oksigen terlarut. Peralatan tersebut harus ada agar kualitas air di kolam dapat tetap dipertahankan pada tingkat optimum.
Persiapan Kolam
Pada awal setiap pemeliharaan, kolam harus disiapkan secara benar guna mencapai kondisi kolam yang optimum, yang diperlukan bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup dan benih udang yang ditebar. Karena udang hidup di dasar Post Larvae (PL) kolam, tanah yang pekat, buangan atau kotoran di dasar kolam yang terkumpul selama pemeliharaan sebelumnya harus dibuang. Juga penting untuk membuang binatang pesaing dan inang pembawa penyakit, memperbaiki pH tanah dan menumbuhkan pakan alami di kolam. Kondisi sedemikian bisa dicapai melalui pengeringan, pengadukkan dan perataan dasar kolam, pemberian kapur dan pemupukkan serta persiapan pengairan kolam Tanah dasar kolam tambak udang harus berpasir dan bertanah liat dengan sifat dan karakteristik sebagai berikut :
pH : 7,0 - 8,5
Kandungan bahan organik : < 4%
Kandungan besi : < 400 ppm (mg/l)
Warna : Coklat
Prosedur
1. Keringkan kolam dengan sempurna dan ratakan dasarnya. Bila perlu, gali saluran di sepanjang pinggir kolam yang menurun ke arah pintu dan atau di tengah pengeluaran air guna memungkinkan pengeluaran air keluar dan pengeringan
Keringkan kolam sampai dasarnya pecah-pecah (Gambar 17), agar oksidasi cepat terjadi, gas-gas yang beracun keluar dan spesies yang tidak dikehendaki mati.
Buang endapan kotor dari dasar kolam. Buang ke tempat dimana endapan kotor nantinya tidak akan masuk lagi ke kolam kalau hujan datang
Bilas kolam dengan cara mengisinya dengan air sedalam 30 cm selama 24 jam, lalu buang airnya keluar sampai habis sama sekali.
Taburkan 2 ton/ha kapur pertanian (CaCO ) atau 0,5 - 1 ton/ha kapur tohor Ca(OH) untuk menetralkan keasaman tanah dasar kolam.
Aduk dasar kolam agar kapur dan tanah tercampur rata dan agar proses oksidasi terjadi pada lapisan atas dasar kolam setebal 10 - 20 cm.
Padatkan dasar kolam dengan alat pemadat tanah manual ataupun dorongan kayu bulat. Pemadatan ini dapat juga terjadi karena tekanan badan air. Caranya adalah dengan meninggikan kedalaman air sampai semaksimal mungkin dan mendiamkannya selama seminggu. Air kemudian dialirkan keluar dan dasar kolam dengan sendirinya akan mengeras. Cara ini tidak banyak memerlukan tenaga, tetapi waktunya lebih lama.
Pasang penampung lumpur berdinding ganda di tengah dan di sudut-sudut setiap kolam pembesaran. Angkat jaring luar yang halus luar setelah 60 hari udang PL ditebar, saatmana udang sudah tumbuh lebih besar.
Pasang kawat nilon halus (ukuran 0,5 cm) seperti jaring tenis di sepanjang dasar kolam untuk memperluas permukaan air sebanyak 35 - 50 % dan untuk tempatmenempelnya jasad pakan alami. Posisi jaring inimengarah ke pipa pengeluaran air yangmenuju ke kolam pengendapan. Pemasangan jaring ini harus setinggi 25 cm dari dasar kolam.
Persiapan Air
Air dari kolam penampungan dipompa dan dipupuk agar terjadi plankton blooming yang diharapkan, dalam kondisi air diaerasi. Hal ini dilakukan paling sedikit 3 - 5 hari
sebelum udang ditebar.
Prosedur :
Pasang 4 unit aerator kincir listrik atau bertenaga bahan bakar untuk setiap 1 ha kolam. Letakan posisinya sejauh 5mdari pinggir kolam dan berjarak sekitar 40m satu sama lain untuk menciptakan arus memutar.
Isi kolam dengan air yang telah disaring dari kolam penampungan melalui aliran gravitasi atau dengan pompa.
Saat kedalaman air mencapai 30 cm, untuk membunuh predator dan pesaing, taburkan saponin sebanyak 50 kg/ha saat suasana cerah atau 100 kg/ha saat mendung. Buang binatang yang mati dan isi kolam dengan air yang berasal dari kolam penampungan paling sedikit sedalam 100 cm.
Sebarkan pupuk kandang kering dari kotoran ayam atau sapi sebanyak 300 kg/ha bersama pupuk urea (45-0-0) sebanyak 18 kg/ha dengan metoda “kantong”. Untuk membuat kantong ini, isilah karung berlubang-lubang (misalnya karung bekas kantong pakan) dengan 25 kg pupuk kandang yang dicampur dengan 2 kg urea. Kemudian tutup dan ikat karung dengan kuat, lalu benamkan ke dalam air secara menggantungkannya ke batang bambu (Gambar 20). Pasanglah kantong-kantong ini di tempat-tempat strategis, sebaiknya di depan setiap kincir . Kantong ini akan sedikit demi sedikit mengeluarkan zat hara ke dalam air kolam, sehingga akan menimbulkan bayangan warna tertentu pada air kolam dalam waktu 5 hari. Warna sedemikian menunjukkan terjadi keserasian yang baik antara plankton hewani dan nabati di air. Angkat dan buang kantong ini segera setelah blooming plankton telah stabil.
Kalau blooming plankton tidak terjadi, ganti 20 - 30% air kolam dan tambahkan lagi 10 - 15 kg/ha urea. Bila terdapat plankton di tambak sekitar, ambil blooming air kolam sekitar tadi untuk dipindahkan ke kolam pembesaran sehingga bisa menginokulasi pertumbuhan plankton. Hasil penelitian di Thailand memperlihatkan bahwa seminggu setelah memasukkan bongkahan saponin sebanyak 25 kg/ (=156 kg/ha), kecerahan air bertambah 10 cm. Bila kecerahan air kurang dari 80 cm dalam waktu 3 hari, tidak perlu lagi menambahkan pupuk karena zat hara dalam air sudah cukup untuk menumbuhkan plankton. Bila warna air kolam tidak seperti yang diharapkan, perlu ditambahkan pupuk anorganik untuk mempercepat tumbuhnya plankton. Pupuk yang digunakan dan ukurannya adalah :
Urea (40-0-0) : 2,0 kg/ (=12,90 kg/ha)
Pupuk phospat : 1,5 kg/ (= 9,40 kg/ha)
6. Letakkan keramba jaring yang ditebari tilapia, bandeng atau belanak dalam penampung lumpur dengan sedikitnya 2.000 kg/ha untuk bisa standing biomass memproduksi green water yang cukup. Disarankan air yang akan ditebari udang harus mempunyai kualitas sifat fisika kimia sebagai berikut :
Oksigen terlarut : > 4 ppm
Ammonia : < 0,1 ppm
Salinitas : 25 - 30 ppt
pH : 7,5 - 8,5
Suhu : 28 - 32 C
Alkalinitas : > 80 ppm
Kecerahan : 35 - 45 cm
Warna air : hijau kecoklatan
Penebaran danAklimatisasi
Pada stadia PL atau benih, udang sangat peka. Walaupun dengan persiapan kolam yang sangat baik, benih udang dapat mati saat ditebar jika tidak sehat, bila waktu penebaran tidak ideal, atau bila kualitas air saat pengangkutan sangat berbeda dengan kualitas air kolam. Padat tebar seharusnya 20 - 60 benih/ha. Waktu membeli benih, pastikan bahwa benih tersebut berkualitas prima dengan sifat-sifat karakteristik sebagai berikut :
Berenang melawan arus bila air di baskom diaduk dan bereaksi pada penepukan air dan bayangan yang lewat
Berenang secara horisontal dan tidak vertikal seperti seakan-akan kehabisan nafas
Bertubuh lurus
Berukuran seragam
Berukuran panjang paling sedikit 12mmpada stadia PL18
Mempunyai otot-otot perut yang jernih
Memiliki lambung penuh
Memiliki rasio 1 : 4 antara lambung dan otot
Memperoleh sertifikat bebas dan virus bercak putih yang monodon baculovirus
dikeluarkan oleh laboratorium diagnostik melalui pemeriksaan Polymerase
Jadwalkan penebaran udang di awal pagi hari saat suhu antara 27 - 32 C. Sediakan baskom, ember dan serokan sebelum udang tiba. Pasang dua buah nampan untuk kontrol kelangsungan hidup (1x1m) di setiap kolam yang akan ditebari udang.
Prosedur aklimatisasi
1. Biarkan kantong plastik berisi benih udang yang masih tertutup mengapung di air kolam yang akan ditebari (Gambar 22) selama 30 - 60 menit.
2. Pilih 2 - 3 buah kantong untuk penghitungan dan tuangkan isi tiap kantong ke baskom. Hitunglah benih di tiap baskom dan cari rata-ratanya dari 3 kali hitungan.
3. Periksa suhu, salinitas, dan pH dari air tempat pengangkutan setiap 15 menit.
4. Sebagai patokan, biarkan aklimatisasi berlangsung selama 15 menit untuk setiap perbedaan suhu 1 C, salinitas 1 ppt dan pH 0,1 unit.
5. Buka sisa kantong plastik lainnya dan sedikit demi sedikit tambahkan atau cipratkan air kolam kedalam kantong.
6. Teruskan menambah air kolam secara perlahan-lahan sampai salinitas, suhu dan pHdari air di dalam kantong pengangkutan dan kolam menjadi sama.
7. Tebarkan 100 ekor benih dalam setiap hapa untuk kontrol kelangsungan hidup udang.
8. Biarkan sisa benih keluar berenang sendiri dari kantong ke kolam.
Sebagai dasar penentuan lamanya aklimatisasi, gunakan selalu perbedaan kualtitas air yang terbesar antara kolam dan wadah pengangkutan. Bila perbedaan suhu o adalah 2 C tapi perbedaan salinitasnya 4 ppt dan pH 0,1 unit, lamanya aklimatisasi harus 15x4=60menit. Jangan memperpanjang lama aklimatisasi lebih dari 2 jam karena akan mengakibatkan stress pada udang. Ini berarti bahwa bila salinitas kolam 8 ppt lebih tinggi daripada di hatchery, perlu dilakukan aklimatisasi pendahuluan di hatchery sebelum udang dimasukkan ke wadah pengangkutan. Mintalah agar di hatchery dilakukan aklimatisasi sebelum benih diangkut, agar salinitas air dalam pengangkutan sama dengan salinitas air kolam tempat benih udang akan ditebar. Hitunglah jumlah benih dalam hapa setelah 15 hari, lalu ulang lagi penghitungan setelah 30 hari dan ambil rata-ratanya sebagai perkiraan besar kelangsungan hidup benih di kolam.
Pengelolaan Pakan dan Pemberian Makan
Karena biaya pakan merupakan 40 - 50%dari total biaya produksi operasi budidaya udang intensif, disarankan menggunakan pakan berkualitas baik (dengan kandungan protein yang stabil). Guna memperoleh cara pengelolaan pakan dan pemberian pakan yang efisien, jumlah benih udang di kolam, derajat pertumbuhan dan rasio konversi pakan ( ) harus dimonitor setiap hari. FCR Selama satu bulan pemeliharaan, cara penghitungan yang digunakan sebagai berikut.
Pada saat penebaran, pakan diberikan sebanyak 1-2 kg/100.000 benih. Selanjutnya jumlah pakan disesuaikan tiap hari seperti tertera pada Tabel 1. Pemberian pakan (Gambar 23) ke seluruh areal kolam mengikuti jadwal padaTabel 2.
Setelah 30 hari, jumlah pakan harian dapat diatur dalam dua cara :
1. Jumlah pakan berdasarkan kebutuhan atau,
2. Jumlah pakan yang ideal dihitung berdasarkan perkiraan angka-angka kelangsungan hidup, rata-rata pertambahan berat harian, rata-rata berat badan (BB), dan derajat pemberian pakan.
Penyesuaian Jumlah Pakan Harian Berdasarkan Kebutuhan
Pemberian pakan berdasar kebutuhan termasuk monitoring konsumsi pakan udang yang dilakukan terus menerus dengan memeriksa seluruh wadah pakan, yang dipasang di tempat-tempat strategis di kolam pembesaran. Jumlah wadah pakan tergantung luas kolam (Tabel 3). Berdasarkan rata-rata berat badan yang dihitung dari pengukuran berat badan udang yang tertangkap di wadah pakan setiap 7 hari, jumlah pakan (Tabel 4) dapat dihitung. Pakan diletakkan di wadah setiap saat udang akandiberi makan. Konsumsi pakan di seluruh wadah dimonitor beberapa jam setelah pakan diletakkan (Tabel 2 dan 6). Jumlah wadah yang pakannya semua habis dibagi. Dengan Berdasarkan data-data tersebut, jumlah pakan jumlah total wadah disesuaikan mengikuti Tabel 5.
Penyesuaian Jumlah Pakan Berdasar Perkiraan Pakan Yang Ideal
Cara ini paling jelas diterangkan dengan contoh berikut, berupa perkiraan jumlah pakan harian untuk 30 - 37 hari pemeliharaan pada kolam yang ditebari 100.000 kor udang PL. Pada hari ke-30, dicapai kelangsungan hidup 90 %, rata-rata berat badan 2 g dan rata-rata pertambahan berat (pertumbuhan) 0,15 g.
Perkiraan :
Jumlah awal yang ditebar : 100.000 ekor PL
Kelangsungan hidup : 90%
Rata-rata berat badan : 2 g
Pada hari pemeliharaan ke-30,
rata-rata pertumbuhan : 0,15 g
Perhitungan :
Proyeksi jumlah pakan harian tertera pada Tabel 8. Derajat pemberian pakan
berdasarkan pada Tabel 6, sedangkan perkiraan pertambahan berat udang tertera padaTabel 7.
Monitoring dan Pencatatan Data
Monitoring harus dilakukan secara teratur terhadap kualitas air, pemberian pakan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang. Tetap lakukan pencatatan data sebagai dasar bagi pengelolaan kualitas air maupun treatment lainnya untuk mempertahankan kondisi kolam yang optimum bagi pertumbuhan udang.
Monitor kedalaman air, kecerahan, suhu, salinitas dan pH dua kali sehari, pada pukul 06.00 - 07.00 dan pukul 14.00 - 15.00
Monitor jumlah bakteria setiap 2 hari (Gambar 25). Gunakan botol luminous bersih dan steril saat mengambil sampel air. Segera bawa sampel ke laboratorium pemeriksaan terdekat untuk dianalisa.
Monitor konsumsi pakan oleh udang dengan memasang 4 - 8 buah wadah pakan (masing-masing seluas1m ) untuk kolam seluas 0,5 - 1,0 ha.
Dengan menggunakan wadah pakan yang sama, monitor kondisi udang berdasar penampilan fisiknya. Gangguan fisik dapat menujukkan adanya tanda-tanda stress, atau dapat juga mengakibatkan stress yang mengarah pada kematian.
Monitor panjang dan rata-rata berat badan udang untuk menentukan apakah mereka tumbuh dan apakah perlu untuk menyesuaikan jumlah pakan.
Tetap mencatat semua parameter yang dimonitor (Gambar 26). Hal ini sangat perlu untuk menanggulangi masalah yang timbul dan untuk menjadi bahan acuan bagi usaha produksi selanjutnya.
Monitoring Pertumbuhan
Mulai bulan kedua pemeliharaan, ambil sampel udang dari wadah pakan untuk pengukuran panjang dan berat dengan interval 1 minggu. Gunakan jaring tebar untuk menangkap sampel udang setiap bulan. Ukur panjang dan berat dari 50 – 100 ekor udang dan hitung rata-rata berat badannya.
Perkiraan Besar Stok
Jumlah udang yang hidup setiap hari dapat diperkirakan dari total konsumsi pakan harian dan rata-rata tingkat konsumsi pakan hariannya. Dengan memperkirakan kelangsungan hidup hariannya, rata-rata tingkat kelangsungan hidup setiap minggu dapat dihitung. Cara lain untuk memperkirakan besarnya stok udang di kolam adalah dengan menghitung jumlah udang yang tertangkap jaring tebar dari 10 tempat yang diacak di kolam. Stok udang yang hidup diperkirakan berdasar pada luas area tebar jaring, total area kolam, dan rata-rata jumlah udang yang tertangkap jaring dalam 10 kali tebar.
Perkiraan Rasio Konversi Pakan (Feed Conversion Ratio :FCR )
HitunglahFCR mingguan dengan menggunakan perkiraan jumlah udang, rata-rata berat badan dan total konsumsi mingguan. Bila angka ini melebihi 1,5, awasi FCR secara teliti konsumsi pakan di wadah dan ikuti rekomendasi penyesuaian jumlah pakan yang diberikan (sesuai Tabel 3 pada Bab Pengelolaan Pakan). Hal ini akan membuat angka tidak terlalu besar bedanya dengan 1,5. FCR
Monitoring Kualitas Air di Kolam-kolam Pembesaran, Penampungan dan Pengendapan Pada Sistem Resirkulasi Tertutup
Parameter kualitas air (termasuk tanah) harus dimonitor secara teratur sebelum selama dan setelah masa pemeliharaan. Monitoring harus meliputi sumber air tambak dan daerah dimana air yang keluar dibuang, guna mencegah penurunan kualitas air alam sekitarnya. Kedua parameter, baik sifat fisika maupun kimia air harus dinalisa termasuk keragaan unsur hara, bakteri dan virus yang ada.
Kualitas Air di Kolam Pembesaran
Sampel air yang akan dianalisa harus diambil dari permukaan air dan dasar kolam. Kecerahan air, salinitas, kondisi cuaca, suhu udara dan air dimonitor setiap hari pada pukul 3 sore, sedangkan pH dan oksigen terlarut diukur 2 kali sehari pada pukul 6 pagi dan pukul 3 sore. Alkalinitas, kandungan ammonia dan nitrit diukur setiap hari Senin, Rabu dan Jumat pada pukul 3 sore. Monitoring selama 24 jam untuk kandungan oksigen terlarut dan suhu air dilakukan seminggu sekali. Balteri koliform di air dan kotoran udang, logam berat dan insektisida di kolam pembesaran dimonitor sekali sebulan.
Kulitas Air Di Kolam Penampungan Dan Kolam Pengendapan
Sama seperti di kolam pembesaran, sampel air untuk dianalisa harus diambil dari permukaan air dan dasar kolam. Kandungan pH, oksigen terlarut, ammonia, nitrat, serta suhu, salinitas dan kecerahan air diukur setiap hari pada pukul 3 sore. Setiap air yang dipompa dari kolam penampungan atau kolam pengendapan masuk ke kolam pembesaran, harus diperiksa dulu untuk pengukuran alkalinitas, kandungan amoniak, nitrit, phospat, klorofil-a, padatan terlarut, Biological Oxigen Demand (BOD) Vibrio spp. , dan jumlah total bakterinya. Berikut adalah tingkat optimum berbagai parameter fisika, kimia dan biologi air yang harus dipertahankan di berbagai bagian sistim sirkulasi tertutup.
Pengaturan Air
Pengoperasian budidaya udang intensif yang berhasil, membutuhkan pemberian pakan dan pengaturan air yang tepat untuk mempertahankan kualitas air yang baik. Masuknya pakan berkualitas dalam jumlah banyak akan menyebabkan perubahan kualitas air kolam. Pakan yang tidak termakan dan kotoran hasil metabolisme akan menambah kandungan hara anorganik dan bahan organik ke dalam air dan ke dasar kolam. Terjadinya kelimpahan plankton di kolam dapat dihubungkan dengan jumlah kotoran organik yang berasal dari pakan udang. dalam kondisi anaerobik, pembusukan mikroba dari bahan organik menghasilkan senyawa organik dan anorganik, seperti phosphat (PO ), nitrit-nitrat (NO -NO) dan karbon dioksida (CO ). Dalam kondisi anaerobik, yang diproduksi adalah ammonia (NH ) dan asam sulfat (HS). Air dari sumber terdekat harus didiamkan dulu di kolam penampungan (reservoar) sebelum dipompa ke kolam pembesaran. Padatan melayang mengendap sedangkan bakteri yang baik dan plankton yang bermanfaat akan berkembang. Kolam penampungan harus ditebari ikan yang secara efektif berfungsi sebagai biomanipulator green water yang memproduksi yang akan menekan pertumbuhan bakteri berbahaya.
Pengaturan Kualitas Air
Kedalaman air tidak boleh kurang dari 1 m, yang ideal adalah 1,5 m. Dengan bertambahnya kedalaman air, bertambah stabil pula lingkungan hidup udang.
Warna air harus hijau kecoklatan, coklat keemasan atau hijau muda. Warnawarna tersebut menunjukkan adanya kandungan plankton yang cukup. Warna air yang hijau kebiruan sampai hijau harus dihindari.
Angka kecerahan di kolam pembesaran harus mencapai 40 - 60 cm selama 60 hari pertama pemeliharaan, yang menurun menjadi 35 - 45 cm mulai hari ke 60 sampai saat panen. Pertahankan angka kecerahan air dalam kisaran yang optimum. Blooming plankton yang baik akan meneduhi badan air, mencegah pertumbuhan ganggang benthos dan menstabilkan suhu air.
Pertahankan konsentrasi kandungan oksigen terlarut agar lebih besar dari 4 ppm. Operasikan aerator kincir bila kandungan oksigen terlarut berada di bawah 4 ppm. Oksigen terlarut secara langsung mempengaruhi selera makan, metabolisme, kesehatan dan kelangsungan hidup udang.
Pertahankan pH air di sekitar 7,5 - 8,5. Bila kurang dari angka ideal ini, gantilah air dan tambahkan kapur dolomit atau kapur pertanian sebanyak 150 - 300 kg/ha. Fluktuasi turun naiknya pHyangmelebihi 0.5/hari akanmematikan udang.
Pertahankan salintas air pada 15 - 25 ppt. Bila bakteria berkembang, luminous turunkan salinitas air sebesar 3,2 ppt/bulan sehinggamenjadi 10 - 15 ppt sampai saat panen. Hal ini akan mengurangi populasi bakteria sampai pada luminous tingkat yang tidak membahayakan.
Jaga suhu air agar tetap antara 28 - 32 C. Suhu air akan stabil di kolam yang airnya dalam.
Kandungan ammonia dan nitrit masing-masing harus kurang dari 0,1 ppm dan 0,2 ppm. Bila angkanya menaik, tingkatkan kandungan oksigen terlarut dengan cara aerasi dan pergantian air.
Kandungan asam sulfat harus kurang dari 0,02 ppm. Asam sulfat ini tidak akan terdapat dalam air yang teroksigen dengan baik.
Alkalinitas harus lebih besar dari 80 ppm.
Kandungan padatan melayang harus kurang dari 20 ppm.
Penggunaan “Green Water“
Adanya blooming plankton yang baik sangat tidak dapat dipisahkan dari suatu budidaya udang yang berhasil. Di kolam, plankton terdiri dari plankton nabati (fitoplankton) dan plankton hewani (zooplankton) yang berukuran mikroskopis. Kualitas dan jumlahnya yang ada, menentukan warna khusus air yang bervariasi dari warna hijau, hijau kekuningan, hijau kecoklatan sampai ke warna coklat, sehingga muncul istilah ‘green water’. Green water bermanfaat untuk udang karena mengurangi penetrasi cahaya ke dasar kolam dimana udang sebagian besar hidup. Intensitas cahaya yang sedikit tidak menimbulkan stress berat pada udang dan udang berselera makan. Intensitas cahaya yang sedemikian juga mencegah tumbuhnya ganggang benthos. Fitoplankton juga membantu mengoksidasi air selama siang hari dan menstabilkan suhu air.
Penggunaan Zat Probiotik
Guna perbaikan substrat secara biologis (bioaugmentation), zat probiotik dapat diberikan di kolam pembesaran dan kolam penampungan untuk mengurangi gas beracun dalam endapan tanah kolam dan di air, serta memungkinkan tumbuhnya bakteri yang bermanfaat. Probiotik terdapat dalam bentuk tepung, cairan ataupun padat. Ikuti petunjuk tingkat pemberian yang disarankan yang tertulis dalam labelnya. Gunakan hanya jenis probiotik yang berkualitas baik, yang bisa berfungsi dalam lingkungan air asin. Monitor jumlah bakteria dua kali seminggu. Ganti air sebanyak 20 - 30 % bila jumlah bakteri bercahaya lebih dari 10 (unit bentukan koloni), luminous cfu meskipun warna air kolam dan kecerahan airnya optimum. gunakan probiotik bagi kolam pembesaran dan kolam penampungan sekali seminggu setelah pergantian air.
Masalah Umum Dan Cara Darurat Untuk Mengatasinya
Kualitas air harus secara cermat dimonitor guna pelaksanaan prosedur yang akan mencegah pengaruh balik yang merugikan terhadap udang yang dipelihara. Berikut adalah masalah-masalah yang umum dihadapi selama pengoperasian tambak dan cara-cara yang disarankan yang harus dilakukan untuk penanggulangannya :
Bila blooming plankton yang terjadi berlebihan dan sangat cepat, gantilah air sebanyak 20 - 30 %.
Bila warna air tiba-tiba menjadi jernih karena sangat berkurangnya populasi fitoplankton, buang sebagian air kolam dan ganti airnya dari kolam penampungan atau kolam sekitar yang planktonnya blooming dengan baik. Tebarkan urea sebanyak 18 kg/ha dan pasang 8 buah kantong, yang masing-masing diisi dengan 30 kg pupuk kotoran ayam, guna mengembalikan warna dan transparansi air ke tingkat optimum. Kematian fitoplankton biasanya terjadi bila bloomingnya tidak dijaga dengan baik.
Dengan menggunakan tangan, buang kumpulan tumbuhan ganggang benthos dan ganggang berfilamen yang mengapung di air. hati-hati jangan sampai benih-benih udang ikut terbuang.
Bila ikan predator atau yang tidak diinginkan terlihat di kolam pembesaran, pindahkan stok ikan yang digunakan sebagai biomanipulator dari dalam penampung lumpur ke keramba jaring di kolam terdekat. Rendahkan kedalaman air menjadi 60 - 80 cm tergantung dari jumlah stok udang yang ada di kolam. Sebarkan bubuk saponin sebanyak 100 - 150 kg/ha bila hari cerah atau 200 – 300 kg/ha bila cuaca mendung. Biarkan semua kincir terus berjalan selama pemberian bubuk biomanipulator saponin tersebut.Dua-tiga hari kemudian, kembalikan ikan ke dalam penampung lumpur.
Apabila pH dan salintas air lebih rendah dari tingkat optimum, tambahkan kapur karbonat sebanyak 4 kg/ (=25 kg/ha) setiap hari sampai tingkat pH yang rai optimum kembali dicapai.
Saat tingkat kandungan ammonia dan nitrit tinggi, perbesar aerasi untuk meningkatkan oksigen terlarut sampai di atas 4 ppm. Bila perlu, kurangi tingkat pemberian pakan sebanyak 10 - 40%.
Penanganan Air Di Kolam Pengendapan
Perbesar aerasi bila kandungan oksigen terlarut berada di bawah 3,5 ppm.
Tebarkan kapur bila pHlebih rendah dari tingkat optimum.
Bersihkan atau ganti karung pasir bila tersumbat. Selama pembersihan tersebut, alirkan kembali air ke dalam kolam pengendapan.
Bila tingkat ammonia dan nitritmeningkat, perbesar aerasi di kolam pembesaran.
Apabila hitungan jumlah total bakteri dan terlalu tinggi, perbesar Vibrio spp aerasi di kolam pengendapan dan bila perlu, ganti karung pasirnya
Tingkatkan aerasi bila angka di kolam pengendapan meningkat. BOD
Tingkatkan sirkulasi air bila ikan atau rumput laut mati di kolam pengendapan.
Aerasi
Aerasi akan menciptakan lingkungan media air kolam yang homogen mencakup suhu, salinitas, oksigen terlarut dan distribusi fitoplankton. Aerasi melepaskan produksi gas-gas beracun di kolam, ke udara. Aerasi juga mempercepat pengaruh pupuk organik dan anorganik terhadap blooming fitoplankton, serta pengaruh saponin dan bahan pupuk lainnya.
Jadwal Pergantian Airpada Sistim Resirkulasi Tertutup
Jadwal pergantian air tergantung dari kualitas air yang ditentukan hanya dengan monitoring yang teratur. Pada sistem resirkulsi, jadwal pergantian air yang direkomendasikan adalah sebagai berikut :
Bulan ke-1 : 5%air diganti setiap 15 hari
Bulan ke-2 : 5%air diganti setiap 10 hari
Bulan ke-3 : 5 - 10%air diganti setiap 7 hari
Bulan ke-4 : 5 - 10%air diganti setiap 5 hari
Pada sistim resirkulasi, pergantian air dimulai saat air dialirkan keluar dari kolam pembesaran ke kolam pengendapan. Setelah melalui kolam pengendapan tersebut, air yang telah di- dipompa kembali ke kolam pembesaran dengan melalui treatment bak saringan. Sebuah aerator berupa kincir dioperasikan di pintu pengeluaran kolam pengendapan untuk mengeluarkan gas-gas beracun. Pemompaan diteruskan sampai jarak kedalaman air yang diinginkan di kolam pembesaran tercapai. Tetapi, pada sistim pembuangan air minimal, hanya satu persen saja air dari kolam pembesaran (biasanya air di lapisan bawah atau yang dekat dasar kolam) yang dialirkan ke kolam pengendapan. Padatan melayang dan bahan organik di air jadinya mengendap di kolam pengendapan tersebut sebelum akhirnya dialirkan ke luar tambak.
Panen
Panen dilakukan tergantung permintaan pasar. Jadi penting bagi petambak untuk memonitor harga yang terjadi di pasar sebelum akhirnya memutuskan untuk panen. Eksportir biasanya menentukan ukuran udang dan jumlah yang dipanen. Mengontrol biaya produksi adalah kewajiban petambak.
Periksalah penghitungan stok udang yang bercangkang lunak (% udang yang baru berganti kulit) 2 - 3 hari sebelum jadwal panen (Gambar 31). Jumlah udang yang bercangkang lunak itu harus tidak boleh lebih dari 2% dari total jumlah yang akan dipanen. Panen harus dilaksanakan tiga hari setelahwaktu pergantian kulit.
Untuk pemanenan, keringkan kolam pembesaran 2 - 3 jam setelah air pasang. Kumpulkan udang dalam jaring atau kantong jaring yang dipasang di pintu air. Sisa udang yang masih ada di kolam diambil dengan tangan setelah air kolam mengering.
Dengan segera, rendam udang ke tangki pendingin dimana suhunya o dipertahankan tetap 0 C dengan hancuran es (Gambar 33). Perendaman di air yang sangat dingin ini menyebabkan udang mati seketika, mencegah “rigor mortis” dan kesegaran udang terjaga.
Dengan segera sortir, timbang dan susun udang dengan es dalam kotak styroform atau fiberglass kedap udara untuk diangkut. Udang disusun berselang-seling dengan lapisan es dari bawah sampai ke atas. Biasanya, pembelilah yang menyortir, menimbang dan menyusun udang.
Daftar Pustaka
Boyd, C. E. 1989. Water quality management and aeration in shrimp farming. Fish. and Allied Aqua. Dept. Series No.2, Alabama Agricultural Experiment Station, Auburn University, Alabama, February 1989.
Boyd, C. E. 1998. Regional review of Environmental issues and aquaculture sustainability. Report on a regional study and workshop on aquaculture sustainability and the environment. Bangkok, Thailand:Asian Development Bank and Network of Aquaculture Centers in Asia-Pacific. p. 222-235.
Boyd, C. E. 2000. Water use in aquaculture. Global Aqua. Advocate. 3(3):12-13.
Chanratchakool, P., J.F. Turnbull, S. Funge-Smith, and C. Limsuan. 1995. Health Management in Shrimp Ponds (2 ed.). Aquatic Animal Health Institute. Bangkok, Thailand.
Parado-Estepa, F. D. 1988. Selection, transport and acclimation of prawn fry. In: Technical Considerations for the Management and Operations of Intensive Prawn
Farms. Chiu,Y.N., L.M. Santos and R.O. Juliano (eds.). U.P. Aqua. Soc., Iloilo City, Phil. p. 81-85.
Chiu, Y.N. 1988. Prawn nutrition and feeding. In: Technical Considerations for the Management and Operations of Intensive Prawn Farms. Chiu,Y.N., L.M. Santos and R.O. Juliano (eds.). U.P. Aqua. Soc., Iloilo City, Phil. p. 86-101.
Chiu,Y.N. 1988. Water quality management for intensive prawn ponds. In Chiu, Y.N., L.M. Santos and R.O. Juliano (eds.). Technical Considerations for the Management and Operations of Intensive Prawn Farms. U.P.Aqua. Soc.,
Iloilo City, Phil. p. 102-128.
Graindorge, V.A. 2000. Diseases management protocols and semi-intensive shrimp farming in Ecuador. Global Aqua. Advocate. 3(2):17-19.
Hopkins, S. J. and J. D. Holloway. 1997. Collection, handling and utilization of sludge deposits from intensive shrimp ponds. Paper presented at the Annual Meeting of theWorld Aqua. Society. Feb. 1997.
Miget, R. 1999. Closed-cycle shrimp farming research project in Texas. Global Aqua. Advocate. 2(2):8.
Prabhu, N.M., A.R. Nazar, S. Rajagopal, and A. S. Khan. 1999. Use of probiotics in water quality management during shrimp culture, CAS in Marine Biology, Annamalai University Parangipettai 608 502 India J-Aquacult-Trop 1999. 14(3):227-236. Tookwinas, S. 2000. Biote
Lampiran Foto: