Menyimak Ajaran Karl Marx,
Lenin yg salah menginterpretasikan sosialisme menjadi komunisme
a. Biografi
Karl Heinrich Marx (Trier, Jerman, 5 Mei 1818 – London, 14 Maret 1883) adalah seorang filsuf, pakar ekonomi, politik dan teori kemasyarakatan dari Prusia. Walaupun Marx menulis tentang banyak hal semasa hidupnya, ia paling terkenal atas analisisnya terhadap sejarah, terutama mengenai pertentangan kelas, yang dapat diringkas sebagai "Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah tentang pertentangan kelas", sebagaimana yang tertulis dalam kalimat pembuka dari Manifesto Komunis.
Kehidupan awal
Karl Marx lahir dalam keluarga Yahudi progresif di Trier, Prusia, (sekarang di Jerman). Ayahnya bernama Herschel, keturunan para rabi, meskipun cenderung seorang deis, yang kemudian meninggalkan agama Yahudi dan beralih ke agama resmi Prusia, Protestan aliran Lutheran yang relatif liberal, untuk menjadi pengacara. Herschel pun mengganti namanya menjadi Heinrich. Saudara Herschel, Samuel — seperti juga leluhurnya— adalah rabi kepala di Trier. Keluarga Marx amat liberal dan rumah Marx sering dikunjungi oleh cendekiawan dan artis masa-masa awal Karl.
Marx terkenal karena analisis nya di bidang sejarah yang dikemukakan nya di kalimat pembuka pada buku ‘Communist Manifesto’ (1848) :” Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah tentang pertentangan kelas.” Marx percaya bahwa kapitalisme yang ada akan digantikan dengan komunisme, masyarakat tanpa kelas setelah beberapa periode dari sosialisme radikal yang menjadikan negara sebagai revolusi keditaktoran proletariat (kaum paling bawah di negara Romawi).
Marx sering dijuluki sebagai bapak dari komunisme, Marx merupakan kaum terpelajar dan politikus. Ia memperdebatkan bahwa analisis tentang kapitalisme miliknya membuktikan bahwa kontradiksi dari kapitalisme akan berakhir dan memberikan jalan untuk komunisme. Di lain tangan, Marx menulis bahwa kapitalisme akan berakhir karena aksi yang terorganisasi dari kelas kerja internasional. “Komunisme untuk kita bukanlah hubungan yang diciptakan oleh negara, tetapi merupakan cara ideal untuk keadaan negara pada saat ini. Hasil dari pergerakan ini kita yang akan mengatur dirinya sendiri secara otomatis.
Komunisme adalah pergerakan yang akan menghilangkan keadaan yang ada pada saat ini. Dan hasil pergerakan ini menciptakan lingkungan yang ada dari saat ini. – Ideologi Jerman- Dalam hidupnya,Marx terkenal sebagai orang yang sukar dimengerti, ide-ide nya mulai menunjukkan pengaruh yang besar dalam perkembangan pekerja segera setelah ia meninggal. Pengaruh ini berkembang karena didorong oleh kemenangan dari Marxist Bolsheviks dalam Revolusi Oktober Rusia. Namun, masih ada beberapa bagian kecil dari dunia ini yang belum mengenal ide Marxian ini sampai pada abad ke-20. Hubungan antara Marx dan Marxism adalah titik kontroversi. Marxism tetap berpengaruh dan kontroversial dalam bidang akademi dan politik sampai saat ini. Dalam bukunya Marx, Das Kapital (2006), penulis biografi Francis Wheen mengulangi penelitian David McLellan yang menyatakan bahwa sejak Marxisme tidak berhasil di Barat, hal tersebut tidak menjadikan Marxisme sebagai ideologi formal, namun hal tersebut tidak dihalangi oleh kontrol pemerintah untuk dipelajari.
Pendidikan
Marx menjalani sekolah di rumah sampai ia berumur 13 tahun. Setelah lulus dari Gymnasium Trier, Marx melanjutkan pendidikan nya di Universitas Bonn jurusan hukum pada tahun 1835 pada usia nya yang ke-17, dimana ia bergabung dengan klub minuman keras Trier Tavern yang mengakibatkan ia mendapat nilai yang buruk. Marx tertarik untuk belajar kesustraan dan filosofi, namun ayahnya tidak menyetujuinya karena ia tak percaya bahwa anaknya akan berhasil memotivasi dirinya sendiri untuk mendapatkan gelar sarjana. Pada tahun berikutnya, ayahnya memaksa Karl Marx untuk pindah ke universitas yang lebih baik, yaitu Friedrich-Wilhelms-Universität di Berlin. Pada saat itu, Marx menulis banyak puisi dan esai tentang kehidupan, menggunakan bahasa teologi yang diwarisi dari ayahnya seperti ‘The Deity’ namun ia juga menerapkan filosofi atheis dari Young Hegelian yang terkenal di Berlin pada saat itu. Marx mendapat gelar Doktor pada tahun 1841 dengan tesis nya yang berjudul ‘The Difference Between the Democritean and Epicurean Philosophy of Nature’ namun, ia harus menyerahkan disertasi nya ke Universitas Jena karena Marx menyadari bahwa status nya sebagai Young Hegelian radikal akan diterima dengan kesan buruk di Berlin.
Marx dan Pemuda Hegelian
Di Berlin, minat Marx beralih ke filsafat, dan bergabung ke lingkaran mahasiswa dan dosen muda yang dikenal sebagai Pemuda Hegelian. Sebagian dari mereka, yang disebut juga sebagai Hegelian-kiri, menggunakan metode dialektika Hegel, yang dipisahkan dari isi teologisnya, sebagai alat yang ampuh untuk melakukan kritik terhadap politik dan agama mapan saat itu.
b. Gagasan dan Pemikiran
Das Kapital (Capital, dalam terjemahan bahasa Inggris, atau Modal) adalah suatu pembahasan yang mendalam tentang ekonomi politik yang ditulis oleh Karl Marx dalam bahasa Jerman. Buku ini merupakan suatu analisis kritis terhadap kapitalisme dan aplikasi praktisnya dalam ekonomi dan juga, dalam bagian tertentu, merupakan kritik terhadap teori-teori terkait lainnya. Jilid pertamanya diterbitkan pada 1867.
Kekuatan pendorong utama kapitalisme, menurut Marx, terdapat dalam eksploitasi dan alienasi tenaga kerja. Sumber utama dari keuntungan baru dan nilai tambahnya adalah bahwa majikan membayar buruh-buruhnya untuk kapasitas kerja mereka menurut nilai pasar, namun nilai komoditi yang dihasilkan oleh para buruh itu melampaui nilai pasar. Para majikan berhak memiliki nilai keluaran (output) yang baru karena mereka memiliki alat-alat produksi (kapital) yang produktif. Dengan menghasilkan keluaran sebagai modal bagi majikan, para buruh terus-menerus mereproduksikan kondisi kapitalisme melalui pekerjaan mereka.
Namun, meskipun Marx sangat prihatin dengan aspek-aspek sosial dari perdagangan, bukunya bukanlah sebuah pembahasan etis, melainkan sebuah upaya (yang tidak selesai) untuk menjelaskan tujuan dari "hukum gerak" ("laws of motion") dari sistem kapitalis secara keseluruhan, asal-usulnya dan masa depannya. Ia bermaksud mengungkapkan sebab-sebab dan dinamika dari akumulasi modal, pertumbuhan tenaga kerja bayaran, transformasi tempat kerja, konsentrasi modal, persaingan, sistem bank dan kredit, kecenderungan tingkat keuntungan untuk menurun, sewa tanah, dan banyak hal lainnya.
Marx memandang komoditi sebagai "bentuk sel" atau satuan bangunan dari masyarakat kapitalis — ini adalah obyek yang berguna bagi orang lain, tetapi dengan nilai jual bagi si pemilik. Karena transaksi komersial tidak menyiratkan moralitas tertentu di luar apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan transaksinya, pertumbuhan pasar menyebabkan dunia ekonomi dan dunia moral-legal menjadi terpisah dalam masyarakat: nilai subyektif moral menjadi terpisah dari nilai obyektif ekonomi.
Ekonomi politik, yang mulanya dianggap sebagai "ilmu moral" yang berkaitan hanya dengan distribusi kekayaan yang adil, atau sebagai suatu "aritmetika politik" untuk pengumpulan pajak, dikalahkan oleh disiplin ilmu ekonomi, hukum dan etika yang terpisah.
Marx percaya bahwa para ekonom politik dapat mempelajari hukum-hukum kapitalisme dalam cara yang "obyektif", kaerna perluasan pasar pada kenyataannya telah mengobyektifikasikan sebagian besar hubungan ekonomi: cash nexus membuang semua ilusi keagamaan dan politik sebelumnya (namun kemudian menggantikannya dengan ilusi jenis lain -- fetishisme komoditi). Marx juga mengatakan bahaw ia memandang "formasi ekonomi masyarakat sebagai suatu proses sejarah alam". Pertumbuhan perdagangan terjadi sebagai suatu proses di mana tak seorangpun dapat menguasai atau mengarahkan, menciptakan suatu kompleks jaringan kesalingterkaitan sosial yang sangat besar secara global. Dengan demikian, suatu "masyarakat" terbentuk "secara ekonomi" sebelum orang benar-benar secara sadar menguasai kapasitas produktif yang sangat besar dan kesalingterkaitan yang telah mereka ciptakan, untuk membangunnya secara kolektif untuk dipergunakan sebaik-baiknya.
Jadi, analisis Marx dalam Das Kapital, difokuskan terutama pada kontradiksi-kontradiksi struktural, daripada antagonisme kelas, yang mencirikan masyarakat kapitalis – “gerakan kontradiktif” berasal pada sifat ganda pekerjaan,” bukannya dalam perjuangan antara tenaga buruh dan modal, atau antara kelas pemilik dan kelas pekerja. Lebih jauh, kontradiksi-kontradiksi ini beroperasi (seperti yang digambarkan oleh Marx dengan menggunakan suatu ungkapan yang dipinjam dari Hegel) “di belakang punggung” kaum kapitalis maupun buruh, artinya, sebagai akibat dari aktivitas-aktivitas mereka, namun demikian tidak dapat diminimalkan ke dalam kesadaran mereka baik sebagai individu maupun sebagai kelas. Oleh karena itu, Das Kapital, tidak mengusulkan suatu teori revolusi (yang dipimpin oleh kelas buruh dan wakil-wakilnya) melainkan teori tentang krisis sebagai kondisi untuk potensi revolusi, atau apa yang dirujuk oleh Marx dalam Manifesto Komunis sebagai "senjata" potensial, "ditempa" oleh para pemilik modal, "berbalik memukul kaum borjuis sendiri" oleh kelas pekerja. Krisis seperti itu, menurut Marx, berakar dalam sifat komoditi yang kontradiktif, bentuk sosial yang paling dasar dari masyarakat kapitalis. Dalam kapitalisme, perbaikan-perbaikan dalam teknologi dan meningkatnya tingkat produktivitas menambah jumlah kekayaan materi (atau nilai pakai) dalam masyarakat sementara pada saat yang bersamaan mengurangi Nilai (ekonomi) dari kekayaan ini, dan dengan demikian merendahkan tingkat keuntungan – suatu kecenderungan yang membawa kepada situasi tertentu, yaitu ciri khas dalam kapitalisme, yakni "kemiskinan di tengah kelimpahan," atau lebih tepatnya, krisis produksi yang berlebihan di tengah konsumsi yang terlalu rendah.
Publikasi
Marx menerbitkan jilid pertama dari Das Kapital pada 1867, tetapi ia meninggal dunia sebelum sempat menyelesaikan jilid kedua dan ketiga yang sudah dibuat naskahnya. Buku-buku ini kemudian disunting oleh teman dan rekan kerjanya Friedrich Engels dan diterbitkan 1885 dan 1894; jilid keempat, yang berjudul, yang disebut Theories of Surplus-Value, pertama-tama disunting dan diterbitkan oleh Karl Kautsky pada 1905-1910. Naskah-naskah persiapan lainnya diterbitkan baru beberapa dasawarsa kemudian.
Pengaruh
Marx mendasarkan karyanya pada para ekonom klasik seperti Adam Smith, David Ricardo, John Stuart Mill dan bahkan Benjamin Franklin. Namun, ia mengolah kembali gagasan-gagasan para pengarang ini, sehingga bukunya merupakan sintesis yang tidak mengikuti gagasan pemikir manapun. Buku ini juga mencerminkan metodologi dialektis yang diterapkan oleh G.W.F. Hegel dalam bukunya The Science of Logic dan The Phenomenology of Mind, dan pengaruh para sosialis Perancis seperti Charles Fourier, Comte de Saint-Simon, dan Pierre-Joseph Proudhon.
Marx sendiri mengatakan bahwa tujuannya adalah "membawa suatu ilmu [artinya, ekonomi politik] melalui kritik kepata suatu titik di mana ia dapat secara dialektis digambarkan", dan dalam cara ini "mengungkapkan hukum gerak masyarakat modern". Dengan memperlihatkan bagaimana perkembangan kapitalis itu adalah pendahulu dari suatu cara produksi sosialis yang baru, ia berusaha memberikan dasar ilmiah bagi gerakan buruh modern. Dalam mempersiapkan bukunya ini, ia mempelajari literatur ekonomi yang tersedia pada masanya selama dua belas tahun, terutama di British Museum di London.
Aristoteles, dan filsafat Yunani pada umumnya, merupakan pengaruh penting lainnya (meskipun seringkali diabaikan) dalam analisis Marx terhadap kapitalisme. Pendidikan Marx di Bonn terpusat pada para penyair Yunani dan Romawi. Disertasi yang diselesaikannya di universitas adalah tentang perbandingan antara filsafat alam dalam karya Demokritus dan Epikurus. Lebih dari itu, sejumlah pakar telah mengajukan pendapatnya bahwa rancangan dasar Das Kapital – termasuk kategori-kategori penggunaan dan nilai tukar, serta "silogisme" untuk sirkulasi sederhana dan diperluas (M-C-M dan M-C-M’) – diambil dari Politik (Aristoteles) dan Etika Nikomakea. Lebih dari itu, gambaran Marx tentang mesin di bawah hubungan-hubungan produksi kapitalis sebagai "otomat" yang bertindak sendiri, adalah sebuah rujukan langsung kepada spekulasi Aristoteles kepada alat-alat yang tidak bernyawa yang mampu mengikuti perintah sebagai kondisi untuk penghapusan perbudakan.
A. Ekonomi Kapitalisme
Saat ini tidak ada yang bisa membantah kedigdayaan rezim kapitalisme mendominasi peradaban dunia global. Berakhirnya perang dingin menyusul ambruknya komunisme-sosialisme Uni Soviet beserta negara-negara satelitnya sering diinterpretasikan sebagai kemenangan kapitalisme. Hampir dalam setiap sektor kehidupan, logika dan budaya kapitalisme hadir menggerakkan aktivitas. Kritik-kritik yang ditujukan terhadap kapitalisme justru bermuara kepada terkooptasinya kritik-kritik tersebut untuk lebih mengukuhkan kapitalisme.
Muncul pertanyaan lain, ke arah mana peradaban manusia akan dibawa oleh kapitalisme. Apakah gerangan yang menyebabkan ideologi ini tetap bertahan, dan bahkan, kian mendominasi dunia? Apakah hegemoni kapitalisme ini merupakan akhir sejarah umat manusia atau sebagai satu-satunya alternatif yang mesti diterima sebagaimana yang diperkirakan oleh Francis Fukuyama dalam The End of History? Masih berpeluangkah proyek emansipasi manusia dari dominasi kapital dan fetisisme komoditas?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, diperlukan pemahaman yang tepat mengenai pengertian hakiki apa itu sesungguhnya kapitalisme.
Pengertian Kapitalisme
Kapitalisme adalah sistem perekonomian yang menekankan peran kapital (modal), yakni kekayaan dalam segala jenisnya, termasuk barang-barang yang digunakan dalam produksi barang lainnya (Bagus, 1996). Ebenstein (1990) menyebut kapitalisme sebagai sistem sosial yang menyeluruh, lebih dari sekedar sistem perekonomian. Ia mengaitkan perkembangan kapitalisme sebagai bagian dari gerakan individualisme. Sedangkan Hayek (1978) memandang kapitalisme sebagai perwujudan liberalisme dalam ekonomi.
Menurut Ayn Rand (1970), kapitalisme adalah "a social system based on the recognition of individual rights, including property rights, in which all property is privately owned". (Suatu sistem sosial yang berbasiskan pada pengakuan atas hak-hak individu, termasuk hak milik di mana semua pemilikan adalah milik privat).
Heilbroner (1991) secara dinamis menyebut kapitalisme sebagai formasi sosial yang memiliki hakekat tertentu dan logika yang historis-unik. Logika formasi sosial yang dimaksud mengacu pada gerakan-gerakan dan perubahan-perubahan dalam proses-proses kehidupan dan konfigurasi-konfigurasi kelembagaan dari suatu masyarakat. Istilah "formasi sosial" yang diperkenalkan oleh Karl Marx ini juga dipakai oleh Jurgen Habermas. Dalam Legitimation Crisis (1988), Habermas menyebut kapitalisme sebagai salah satu empat formasi sosial (primitif, tradisional, kapitalisme, post-kapitalisme).
Sejarah Perkembangan Kapitalisme
Robert E. Lerner dalam Western Civilization (1988) menyebutkan bahwa revolusi komersial dan industri pada dunia modern awal dipengaruhi oleh asumsi-asumsi kapitalisme dan merkantilisme. Direduksi kepada pengertian yang sederhana, kapitalisme adalah sebuah sistem produksi, distribusi, dan pertukaran di mana kekayaan yang terakumulasi diinvestasikan kembali oleh pemilik pribadi untuk memperoleh keuntungan. Kapitalisme adalah sebuah sistem yang didisain untuk mendorong ekspansi komersial melewati batas-batas lokal menuju skala nasional dan internasional. Pengusaha kapitalis mempelajari pola-pola perdagangan internasional, di mana pasar berada dan bagamana memanipulasi pasar untuk keuntungan mereka. Penjelasan Robert Learner ini paralel dengan tudingan Karl Marx bahwa imperialisme adalah kepanjangan tangan dari kapitalisme
.
Sistem kapitalisme, menurut Ebenstein (1990), mulai berkembang di Inggris pada abad 18 M dan kemudian menyebar luas ke kawasan Eropa Barat laut dan Amerika Utara. Risalah terkenal Adam Smith, yaitu The Wealth of Nations (1776), diakui sebagai tonggak utama kapitalisme klasik yang mengekspresikan gagasan "laissez faire" dalam ekonomi. Bertentangan sekali dengan merkantilisme yaitu adanya intervensi pemerintah dalam urusan negara. Smith berpendapat bahwa jalan yang terbaik untuk memperoleh kemakmuran adalah dengan membiarkan individu-individu mengejar kepentingan-kepentingan mereka sendiri tanpa keterlibatan perusahaan-perusahaan negara (Robert Lerner, 1988).
Awal abad 20 kapitalisme harus menghadapi berbagai tekanan dan ketegangan yang tidak diperkirakan sebelumnya. Munculnya kerajaan-kerajaan industri yang cenderung menjadi birokratis uniform dan terjadinya konsentrasinya pemilikan saham oleh segelintir individu kapitalis memaksa pemerintah (Barat) mengintervensi mekanisme pasar melalui kebijakan-kebijakan seperti undang-undang anti-monopoli, sistem perpajakan, dan jaminan kesejahteraan. Fenomena intervensi negara terhadap sistem pasar dan meningkatnya tanggungjawab pemerintah dalam masalah kesejahteraan sosial dan ekonomi merupakan indikasi terjadinya transformasi kapitalisme. Transformasi ini, menurut Ebenstein, dilakukan agar kapitalisme dapat menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan ekonomi dan sosial. Lahirlah konsep negara kemakmuran (welfare state) yang oleh Ebenstein disebut sebagai "perekonomian campuran" (mixed economy) yang mengkombinasikan inisiatif dan milik swasta dengan tanggungjawab negara untuk kemakmuran sosial.
Habermas memandang transformasi itu sebagai peralihan dari kapitalisme liberal kepada kapitalisme lanjut (late capitalism. organized capitalism, advanced capitalism). Dalam Legitimation Crisis (1988), Habermas menyebutkan bahwa state regulated capitalism (nama lain kapitalisme lanjut) mengacu kepada dua fenomena: (a) terjadinya proses konsentrasi ekonomi seperti korporasi-korporasi nasional dan internasional yang menciptakan struktur pasar oligopolistik, dan (b) intervensi negara dalam pasar. Untuk melegitimasi intervensi negara yang secara esensial kontradiktif dengan kapitalisme liberal, maka menurut Habermas, dilakukan repolitisasi massa, sebagai kebalikan dari depolitisasi massa dalam masyarakat kapitalis liberal. Upaya ini terwujud dalam sistem demokrasi formal.
PRINSIP-PRINSIP DASAR KAPITALISME
Tiga Asumsi Kapitalisme Menurut Ayn Rand
Ayn Rand dalam Capitalism (1970) menyebutkan tiga asumsi dasar kapitalisme, yaitu: (a) kebebasan individu, (b) kepentingan diri (selfishness), dan (c) pasar bebas.
Menurut Rand, kebebasan individu merupakan tiang pokok kapitalisme, karena dengan pengakuan hak alami tersebut individu bebas berpikir, berkarya dan berproduksi untuk keberlangsungan hidupnya. Pada gilirannya, pengakuan institusi hak individu memungkinkan individu untuk memenuhi kepentingan dirinya. Menurut Rand, manusia hidup pertama-tama untuk dirinya sendiri, bukan untuk kesejahteraan orang lain. Rand menolak keras kolektivisme, altruisme, mistisisme. Konsep dasar bebas Rand merupakan aplikasi sosial dan pandangan epistemologisnya yang natural mekanistik. Terpengaruh oleh gagasan "the invisible hand" dari Smith, pasar bebas dilihat oleh Rand sebagai proses yang senantiasa berkembang dan selalu menuntut yang terbaik atau paling rasional. Smith pernah berkata: "...free marker forces is allowed to balance equitably the distribution of wealth". (Robert Lerner, 1988).
Akumulasi Kapital
Heilbroner (1991) menelaah secara mendalam pengertian hakiki dari kapital. Apa yang dimaksud dengan kapital sehingga dapat menjelaskan formasi sosial tempat kita hidup sekarang adalah kapitalisme? Heilbroner menolak memperlakukan kapital hanya dalam kategori hal-hal yang material berupa barang atau uang. Menurutnya, jika kapital hanya berupa barang-barang produksi atau uang yang diperlukan guna membeli material dan kerja, maka kapital akan sama tuanya dengan peradaban.
Menurut Heilbroner, kapital adalah faktor yang menggerakkan suatu proses transformasi berlanjut atas kapital-sebagai-uang menjadi kapital-sebagai-komoditi, diikuti oleh suatu transformasi dari kapital-sebagai-komoditi menjadi kapital-sebagai uang yang bertambah. Inilah rumusan M-C-M yang diperkenalkan Marx.
Proses yang berulang dan ekspansif ini memang diarahkan untuk membuat barang-barang dan jasa-jasa dengan pengorganisasian niaga dan produksi. Eksistensi fisik benda dan jasa itu merupakan suatu rintangan yang harus diatasi dengan mengubah komoditi menjadi uang kembali. Bahkan kalau hal itu terjadi, bila sudah terjual, maka uang itu pada gilirannya tidak dianggap sebagai produk akhir dari pencarian tetapi hanya sebagai suatu tahap dalam lingkaran yang tak berakhir.
Karena itu, menurut Heilbroner, kapital bukanlah suatu benda material melainkan suatu proses yang memakai benda-benda material sebagai tahap-tahap dalam eksistensi dinamiknya yang berkelanjutnya. Kapital adalah suatu proses sosial, bukan proses fisik. Kapital memang mengambil bentuk fisik, tetapi maknanya hanya bisa dipahami jika kita memandang bahwa benda-benda material ini mewujudkan dan menyimbolkan suatu totalitas yang meluas.
Rumusan M-C-M (Money-Commodity-Money) yang diskemakan Marx atas metamorfosis yang berulang dan meluas yang dijalani kapital merupakan penemuan Marx terhadap esensi kapitalisme, yaitu akumulasi modal. Dalam pertukaran M-C-M tersebut uang bukan lagi alat tukar, tetapi sebagai komoditas itu sendiri dan menjadi tujuan pertukaran.
Dorongan Untuk Mengakumulasi Kapital (Heilbroner)
Analisis kapital sebagai suatu proses ekspansif seperti yang diuraikan di muka, ditelaah lebih dalam lagi oleh Heilbroner melalui pendekatan psikoanalisis, antropologis, dan sosiologis. Menurut Heilbroner, gagasan kapital sebagai suatu hubungan sosial menyingkapkan inti hubungan itu, yaitu dominasi. Hubungan dominasi memiliki dua kutub. Pertama, ketergantungan sosial kaum yang tak berpunya kepada pemilik kapital di mana tanpa ketergantungan itu kapital tidak memiliki pengaruh apa-apa. Kedua, dorongan tanpa henti dan tanpa puas untuk mengakumulasi kapital.
Heilbroner melontarkan pertanyaan: Apakah alasan pembenaran dari proses tanpa henti ini? Ia menyebutkan bahwa dorongan ini digerakkan oleh keinginan untuk prestise dan kemenonjolan (realisasi diri) 2. Dalam bahasa Abraham Maslow, dorongan mengakumulasi kekayaan yang tidak puas-puas ini merupakan manifestasi aktualisasi diri. Namun, Heilbroner mengingatkan bahwa kebutuhan afektif ini hanyalah suatu kondisi yang perlu (necessary condition) namun belum menjadi syarat cukup (sufficient condition) untuk dorongan mengejar kekayaan. Lalu Heilbroner menemukan bahwa kekayaan memberikan pemiliknya kemampuan untuk mengarahkan dan memobilisasikan kegiatan-kegiatan masyarakat. Ini adalah kekuasaan. Kekayaan adalah suatu kategori sosial yang tidak terpisahkan dari kekuasaan.
Dengan demikian, hakekat kapitalisme menurut Heilbroner, adalah dorongan tiada henti dan tanpa puas untuk mengakumulasi kapital sebagai sublimasi dorongan bawah sadar manusia untuk merealisasi diri, mendominasi, berkuasa. Karena dorongan ini berakar pada jati diri manusia, maka kapitalisme lebih merupakan salah satu modus eksistensi manusia. Mungkin inilah sebabnya mengapa kapitalisme mampu bertahan dan malah menjadi hegemoni peradaban global.
Kekuatan Kapitalisme
Unsur-unsur apa yang dikandung kapitalisme sehingga ia saat ini tetap tangguh? Terdapat beberapa kekuatan yang memungkinkan kapitalisme masih bertahan hingga kini melalui berbagai kritikan tajam dan rintangan.
Pertama, daya adaptasi dan transformasi kapitalisme yang sangat tinggi, sehingga ia mampu menyerap dan memodifikasi setiap kritik dan rintangan untuk memperkuat eksistensinya. Sebagai contoh, bagaimana ancaman pemberontakan kaum buruh yang diramalkan Marx tidak terwujud, karena di satu sisi, kaum buruh mengalami pembekuan kesadaran kritis (reifikasi), dan di lain sisi, kelas borjuasi kapital melalui negara memberikan "kebaikan hati" kepada kaum buruh dengan konsep "welfare state". Pada gilirannya, kaum kapitalis memperoleh persetujuan (consent) untuk mendominasi masyarakat melalui apa yang disebut Gramsci sebagai hegemoni ekonomi, politik, budaya; atau seperti yang disebutkan Heilbroner bahwa rezim kapital memiliki kemampuan untuk memperoleh kepatuhan massa dengan memunculkan "patriotisme" ekonomik.
Kedua, berkaitan dengan yang pertama, tingginya kemampuan adaptasi kapitalisme dapat dilacak kepada waktu inheren pada hakekat kapitalisme, yaitu dorongan untuk berkuasa dan perwujudan diri melalui kekayaan. Atas dasar itulah diantaranya, maka Peter Berger dalam Revolusi Kapitalis (1990) berani bertaruh bahwa masa depan ekonomi dunia berada dalam genggaman kapitalisme.
Ketiga, kreativitas budaya kapitalisme dan kapasitasnya menyerap ide-ide serta toleransi terhadap berbagai pemikiran. Menurut Rand, kebebasan dan hak individu memberi ruang gerak manusia dalam berinovasi dan berkarya demi tercapainya keberlangsungan hidup dan kebahagiaan. Dengan dasar pemikiran ini, Bernard Murchland dalam Humanisme dan Kapitalisme (1992) dengan penuh keyakinan menaruh harapan bahwa kapitalisme demokratis adalah humanisme yang dapat menyelamatkan peradaban manusia di masa depan.
Kelemahan Kapitalisme
Mengacu kepada asumsi-asumsi dasar kapitalisme, klaim-klaim pendukung kapitalisme dan praktek kapitalisme, terdapat beberapa kelemahan mendasar kapitalisme.
Pertama, pandangan epistemologinya yang positivistik mekanistik. Positivisme yang memisahkan fakta dan nilai, bahkan hanya terpaku pada apa yang disebut fenomena fakta dan mengabaikan nilai, terbukti sudah ketidakmampuannya menjelaskan perkembangan sains modern dan kritikan dari fenomenologi hermeneutik (human sciences). Pola pikir positivistik hanya satu dimensi, yaitu dialektika positif, yang pada gilirannya mereduksi kemampuan refleksi kritis manusia untuk menari makna-makna tersembunyi di balik fenomena-fenomena. Herbert Marcuse dalam One Dimensional Man (1991) berkata: "... Kapitalisme, yang didorong oleh teknologi, telah mengembang untuk mengisi semua ruang sosial kita; telah menjadi suatu semesta politis selain psikologis. Kekuasaan totalitarian ini mempertahankan hegemoninya dengan merampas fungsi kritisnya dari semua oposisi, yaitu kemampuannya berpikir negatif mengenai sistem, dan dengan memaksakan kebutuhan-kebutuhan palsu melalui iklan, kendali pasar, dan media. Maka, kebebasan itu sendiri menjadi alat dominasi, dan akal menyembunyikan sisi gelap irasionalitas..."
Kedua, berkaitan dengan yang pertama, asumsi antropologis yang dianut kapitalisme adalah pandangan reduksionis satu dimensi manusia yang berasal dari rasionalisme Aufklarung. Temuan alam bawa sadar psikoanalisis menunjukkan bahwa banyak perilaku manusia tidak didorong oleh kesadaran atau rasionalitas, melainkan oleh ketidaksadaran dan irasionalitas. Asumsi kapitalisme yang mengandaikan bahwa distribusi kekayaan akan terjadi dengan sendirinya bila masyarakat telah makmur (contoh: konsep trickle down effect) melupakan aspek irasionalitas manusia yang serakah dan keji. Dorongan yang tidak pernah puas menumpukkan kapital sebagai watak khas kapitalisme merupakan bentuk patologis megalomania dan narsisisme.
Ketiga, keserakahan mengakumulai kapital berakibat pada eksploitasi yang melampau batas terhadap alam dan sesama manusia, yang pada gilirannya masing-masing menimbulkan krisis ekonologis dan dehumanisasi. Habermas (1988) menyebutkan kapitalisme lanjut menimbulkan ketidakseimbangan ekologis, ketidakseimbangan antropologis (gangguan sistem personaliti), dan ketidakseimbangan internasional.
Keempat, problem moral. Bernard Murchland (1992), seorang pembela gigih kapitalisme, mengakui bahwa masalah yang paling serius yang dihadapi kapitalisme demokratis adalah pengikisan basis moral. Ia lalu menoleh ke negara-negara Timur yang kaya dengan komponen moral kultural. Atas dasar problem etis inilah, maka Mangunwijaya (1998) dengan lantang berkata: "... ternyatalah, bahwa sistem liberal kapitalis, biar sudah direvisi, diadaptasi baru dan diperlunak sekalipun, dibolak-balik diargumentasi dengan fasih ilmiah seribu kepala botak, ternyata hanya dapat berfungsi dengan tumbal-tumbal sekian milyar rakyat dina lemah miskin di seluruh duia, termasuk dan teristimewa Indonesia...."
Kelima, implikasi dari praktek mengkomoditikan segenap ide-ide dan kegiatan-kegiatan sosial budaya, maka terjadilah krisis makna yang pada gilirannya menimbulkan krisis motivasi. Habermas (1988) mengatakan bahwa pada tataran sistem politik, krisis motivasii ni menimbulkan krisis legitimasi, atau menurut istilah Heilbroner (1991) dengan krisis intervensi.
Analisis Heilbroner di muka, jika dikembangkan lebih lanjut secara filosofis, akan membawa kita untuk berkesimpulan bahwa kapitalisme lebih daripada sekedar sistem ekonomi atau sistem sosial. Sebagai peradaban, kapitalisme dapat kita katakan sebagai suatu cara berada manusia, suatu modus eksistensi. Seorang kapitalis adalah orang yang melalui harta kekayaannya ia mewujudkan diri, menyingkap eksistensi diri. Ia mengaktualkan dirinya dengan dan untuk kapital. Dengan kapital, ia berharap memperoleh kekuasaan dan dominasi. Memiliki kapital berarti menguasai dunia. Sains, teknologi, seni, dan agama menjadi subordinasi dan pelayan atau pelegitimasi kapital. Itulah modus eksistensi kapitalisme.
Atas dasar pemikiran di atas, kita dapat memahami mengapa ideologi-ideologi seperti sosialisme, Marxisme, komunisme, humanisme, dan bahkan eksistensialisme-sekuler gagal menghadapi kapitalisme. Kaum sosialis telah gagal memahami kapitalisme sebagai modus eksistensi. Ini dimulai dari Karl Marx sendiri yang melihat kapital hanya sebagai "cara produksi" (modus produksi), konsep sentral yang digunakannya dalam Das Kapital. Akibatnya, banyak analiss dan ramalan Marx yang melenceng. Bahkan sosialisme akhirnya terkooptasi oleh kapitalisme. Konsep "welfare state" yang diterapkan di negara kapitalis adalah salah satu contoh upaya adaptasi kapitalisme merangkul semangat sosialisme ke dalam pangkuannya. Ideologi-ideologi sekuler dunia lainnya sekarang ini hanyalah ibarat anak-anak kapitalisme atau subordinasi kapitalisme global, kapitalisme konsumeris.
Kaum Mazhab Frankfurt sebagai pewaris semangat kritisi sosial Marx yang pada mulanya mencanangkan proyek pembebasan masyarakat dari hegemoni kapitalisme akhirnya juga jatuh kepada pesimisme. Mereka seakan-akan tidak melihat lagi adanya peluang untuk menciptakan dunia alternatif selain dunia ciptaan kapital. Mereka menganggap manusia modern telah kehilangan rasionalitas dan kesadaran kritis. Kini mereka seakan tak mampu lagi bersuara lantang menentang kapitalisme sebagaimana pendahulu mereka, katakanlah misalnya Herbert Marcuse yang menulis One Dimensional Man. Para pendukung teori kritis inipun seakan tidak bereaksi ketika Perter Berger, seorang pembela kapitalisme, dengan arogan mengatakan sosialisme adalah mitos, sedang kapitalisme adalah masa depan manusia.
Sementara itu, analisis Max Weber yang mengaitkan perkembangan kapitalisme dengan etos kerja Protestan kini juga bermuara kepada proses sekulerisasi yang tidak diperkirakan sebelumnya. Pada mulanya, motif religius menggerakkan orang untuk kerja keras, tekun, efisien, dan berprestasi karena perolehan kesuksusan duniawi diartikan sebagai tanda keselamatan ilahi. Namun, proses sekulerisasi terjadi sedemikian rupa sehingga Tuhan dan akhirat perlahan-lahan hilang dari kesadaran manusia. Aktivitas duniawi sama sekali tidak lagi digerakkan oleh motivasi agama, namun semata-mata oleh motif materialistik. Berger menyebutkan Protestanisme sebagai manifestasi yang paling sempurna dari proses dialektik di mana orientasi agama yang bersifat inner-worldly itu "menggali kubur" untuk dirinya sendiri.
Luar biasa memang pesona materi itu sehingga motivasi agama pun akhirnya juga terkooptasi oleh motivasi materialistik.
b.CAPITAL
Barang-dagangan
Kekayaan masyarakat di mana cara produksi kapitalis berkuasa, tercermin dari adanya "Suatu akumulasi barang-dagangan yang sangat luas atau besar," sedangkan satuannya dihitung berdasarkan per buah barang-dagangan. Oleh karena itu penelaahan kita harus mulai dengan analisa terhadap barang-dagangan.
Barang-dagangan, bila dilihat dari tempatnya, pertama-tama adalah suatu obyek/benda yang berada di luar kita, sesuatu, yang karena sifat dan caranya, dapat memuaskan kebutuhan manusia. Tidak menjadi soal apakah sifat kebutuhan tersebut berasal dari perut atau pun fantasi. Tidak dipersoalkan juga bagaimana caranya kebutuhan-kebutuhan terpuaskan oleh obyek tersebut, apakah secara langsung seperti terhadap kebutuhan subsistensi, atau pun secara tidak langsung seperti oleh alat-alat produksi.
Tiap-tiap barang yang berguna, seperti besi, kertas dan sebagainya, seharusnya dipandang dari dua segi, yakni segi kualitas dan kuantitas. Barang-barang tersebut merangkum berbagai sifat, oleh karena itu barang-barang tersebut dapat digunakan dalam berbagai cara. Menemukan berbagai kegunaan barang-barang tersebut merupakan kerja/karya yang bersejarah. Demikian juga bila menemukan standar ukuran (perhitungan kuantitas) sosial kegunaan obyek-obyek tersebut (dalam sifatnya), atau pun karena kebiasaan-kebiasaan (persetujuan sosial).
Kegunaan suatu barang menyebabkan barang tersebut memiliki nilai pakai. Namun pengertian kegunaan tersebut tidak bisa diterapkan pada barang seperti udara. Karena barang-dagangan ditentukan oleh sifat fisiknya, ia tidak akan memiliki eksistensi bila tanpa badan fisiknya (berujud). Oleh karena itu, barang-dagangan seperti besi, gandum, intan, dan sebagainya, sejauh sesuatu yang sifatnya material, adalah juga nilai pakai, sesuatu yang memiliki kegunaan. Sifat barang-dagangan tersebut tidak tergantung dari kerja yang dibutuhkan untuk menghasilkan kualitas kegunaannya. Bila berbicara tentang nilai pakai, kita selalu mengasumsikannya dengan sejumlah kuantitas tertentu, misalnya lusin untuk jam, yard untuk kain, ton untuk besi dan seterusnya. Nilai pakai-nilai pakai barang-dagangan melengkapi sifat materialnya, yang berguna bagi keperluan studi tertentu yakni guna pengetahuan tentang sifat komersil barang-dagangan. Nilai-pakai menjadi kenyataan hanya bila telah digunakan atau dikonsumsi; nilai-pakai merupakan tolok ukur substansi kesejahteraan, apapun bentuk sosialnya. Di dalam bentuk masyarakat yang kita amati, nilai-pakai merupakan perangkum sifat material dari nilai tukar. Nilai tukar, pada pandangan pertama, merupakan cermin dari hubungan kuantitas, sebagai proporsi di mana nilai-pakai suatu jenis barang dipertukarkan dengan nilai-pakai jenis barang lainnya,[6] suatu hubungan yang selalu berubah sesuai dengan waktu dan tempatnya. Oleh karena itu, nilai-tukar muncul sebagai sesuatu yang kebetulan dan relatif semata-mata, dan akibatnya nilai yang intrinsik dan bersenyawa dengan barang-dagangan nampaknya berada dalam posisi contradictio in adjectio (contradiction in terms)[7]. Mari kita lihat dengan lebih mendalam.
Sejumlah barang-dagangan tertentu, misalnya, seperempat kilo gandum dipertukarkan dengan x semir sepatu, y sutra, atau z emas dan sebagainya-singkatnya dipertukarkan dengan barang-dagangan lain dalam proporsi yang sangat berbeda. Dengan demikian gandum tidak hanya memiliki satu nilai tukar, tapi banyak nilai tukar. Tetapi oleh karena x semir sepatu, demikian juga y sutra, atau z emas merupakan nilai tukar dari seperempat kilo gandum, maka x semir sepatu, y sutra, z emas haruslah memiliki nilai tukar yang dapat saling menggantikan satu atau sama lainnya. Oleh karena itu, nilai tukar yang valid (absah) bagi suatu barang-dagangan tertentu haruslah menyatakan kesamaannya; kedua, nilai tukar pada umumnya merupakan suatu cata pernyataan tertentu, bentuk perwujudan tertentu, dari apa yang terkandung di dalamnya, yang dapat saling membedakan.
Selanjutnya ambillah dua contoh barang-dagangan, gandum dan besi. Apa pun proporsi hubungan pertukarannya, ia tetap dapat digambarkan dalam suatu persamaan, di mana sejumlah gandum disamakan dengan sejumlah besi, misalnya seperempat kilo gandum = 100 pon besi. Apa yang bisa dikatakan oleh persamaan tersebut? Apa yang dapat kita pahami dari persamaan tersebut adalah, bahwa dalam dua barang yang berbeda-seperempat kilo gandum dan 100 pon besi-terdapat kesamaan kuantitas yang umum bagi keduanya. Oleh karena itu dua benda harus dapat disamakan dengan benda ketiga, simultan, bukan hanya benda-benda tertentu saja. Masing-masing dari kedua benda tersebut, selama merupakan nilai-tukar, harus dapat direduksi menjadi sama dengan benda yang ketiga.
Suatu contoh geometris yang sederhana akan memperjelas persoalan tersebut. Untuk menghitung dan membandingkan luas semua bentuk garis lurus, kita harus memilah-milahnya dalam segitiga-segitiga. Akan tetapi luas segitiga tersebut harus dinyatakan menjadi sama sekali berbeda dari bentuknya yang kelihatan, yakni, setengah dari hasil perkalian alas dengan tingginya. Demikian juga nilai tukar barang-dagangan harus dapat dinyatakan dan direduksi ke sesuatu yang umum (semuanya harus dapat mewakili masing-masingnya), mereka harus dapat menggambarkan nilai yang lebih kecil atau lebih besar.
Namun sifat umum tersebut bukanlah merupakan sifat geometris, kimia, atau sifat-sifat badaniah tersebut akan menjadi perhatian kita selama dapat memberikan kegunaan (nilai-pakai) terhadap barang-dagangan. Namun pada kenyataannya pertukaran, di segi lainnya, merupakan suatu tindakan yang memiliki karakterisasi sebagai abstraksi nilai pakai barang-dagangan. Satu nilai-pakai akan memiliki kesamaan dengan nilai-pakai lainnya selama mereka berada dalam perbandingan yang selayaknya. Atau, seperti yang dikatakan oleh si tua Barbon, "Suatu macam barang yang satu sama baik seperti yang lainnya, jika nilai-tukarnya sama. Karena tidak ada yang dapat membedakan barang-barang yang nilai-tukarnya sama."[8] Sebagai nilai-pakai, barang-dagangan haruslah memiliki makna kualitas yang berbeda, oleh karena itu tidak mengandung satu atom pun nilai-pakai.
Jika kita mengabaikan nilai-pakai barang-dagangan dalam pertimbangan kita, maka hanya tinggal satu sifat yang ada padanya, yaitu hasil tenaga kerja. Namun bahkan hasil kerja tersebut telah mengalami perubahan di tangan kita. Bila kita mengabstraksi nilai-pakai barang-dagangan, pada saat yang sama juga kita mengabstraksi komponen dan bentuk badaniah yang membuatnya memiliki nilai-pakai; kita tidak lagi menyebutnya meja, rumah, benang, atau barang lainnya yang memiliki kegunaan. Semua keberadaan materialnya menghilang. Juga tidak dapat lagi dikatakan sebagai hasil kerja tukang kayu, tukang bangunan, pemintal, atau hasil kerja produktif lainnya.
Bila kita melenyapkan kualitas kegunaan hasil produksi maka sekaligus kita melenyapkan pula karakter kegunaan berbagai jenis kerja yang tersimpan di dalamnya, dan juga melenyapkan bentuk konkrit bermacam-macam kerja tersebut; hasil produksi tersebut tidak lagi saling membedakan; semuanya direduksi menjadi hasil kerja yang sama, kerja manusia yang abstrak.
Marilah kita lihat apa yang tersisa dari hasil-hasil produksi tersebut; tak ada yang tersisa selain daripada realitas abstrak yang sama, suatu pembekuan belaka dari kerja manusia yang tak memiliki perbedaan, yakni tenaga kerja manusia yang dikeluarkan--dengan mengesampingkan cara bagaimana tenaga kerja itu dikeluarkan. Dalam barang-barang tersebut tersimpan tenaga kerja, yakni terdapat timbunan tenaga kerja manusia di dalamnya. Bila dilihat sebagai kristalisasi substansi sosial, maka kesamaan yang ada pada mereka adalah: nilai.
Di dalam hubungan pertukaran barang-dagangan, nilai-tukar mereka sama sekali tidak tergantung kepada nilai-pakai mereka, itu yang telah kita lihat. Jika kita sekarang mengabstraksikan dari nilai-pakai mereka, maka kita akan mendapatkan nilai mereka seperti yang telah didefinisikan di atas. Oleh karena itu, substansi umum yang terwujud dalam nilai-tukar barang-dagangan, di mana pun mereka dipertukarkan, adalah nilai mereka. Proses penyelidikan lebih lanjut akan menunjukkan bahwa nilai-tukar adalah satu-satunya bentuk di mana nilai barang-dagangan dapat mewujudkan atau mengekspresikan diri. Sekarang, bagaimana pun juga, kita harus mempertimbangkan hakikat nilai yang tidak tergantung dari bendanya.
Suatu nilai-pakai, atau kegunaan benda, oleh karenanya, hanya mempunyai nilai karenanya, hanya mempunyai nilai karena kerja manusia abstrak telah dibekukan atau dimaterialkan ke dalam benda tersebut. Sekarang bagaimana kita mengukur besaran nilainya? Jawabannya, dengan jumlah "substansi pembentuk nilai" yang terkandung di dalamnya, yakni kerja. Jumlah kerja diukur dengan waktu berlangsungnya (lama kerja), dan waktu kerja tersebut memiliki standarnya, misalnya minggu, hari, jam dan seterusnya.
Orang-orang mungkin berfikir bahwa jika nilai suatu barang-dagangan itu ditentukan oleh jumlah waktu kerja yang dikeluarkan untuk memproduksinya, maka semakin malas atau tidak cakapnya seseorang, semakin bernilailah barang-dagangan tersebut, karena makin lebih banyak waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Kerja, bagaimanapun juga, yang membentuk substansi nilai, adalah kerja manusia yang sama, pengeluaran tenaga kerja yang seragam. Jumlah tenaga kerja keseluruhan masyarakat, yang membentuk jumlah nilai total barang-dagangan yang diproduksi oleh masyarakat, dihitung sebagai tenaga kerja massal manusia yang sama, meskipun terdiri dari tenaga kerja perseorangan yang tak terhitung. Setiap tenaga kerja perseorangan tersebut sama dengan tenaga kerja perseorangan lainnya, selama memiliki karakter sebagai tenaga kerja rata-rata masyarakat, dan berfungsi seperti itu (memiliki dampak/akibat terhadap tenaga kerja rata-rata masyarakat); yaitu, tak ada perhitungan waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi barang-dagangan selain daripada kebutuhan waktu rata-rata, apa yang disebut waktu yang dubutuhkan secara sosial. Waktu kerja yang dibutuhkan secara sosial adalah waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi suatu benda dengan syarat-syarat produksi yang normal, serta dengan derajat kecakapan dan intensitas kerja yang lazim. Misalnya di Inggris, setelah digunakan mesin tenun uap untuk merubah sejumlah benang menjadi kain, maka kebutuhan waktu kerja hanyalah tinggal separuh dari yang sebelumnya. Pada kenyataannya tukang tenun bekerja atau membutuhkan waktu kerja yang sama dari yang sebelumnya. Pada kenyataannya tukang tenun bekerja atau membutuhkan waktu kerja yang sema dari yang sebelumnya; tetapi hasil per jam kerjanya kini hanya separuh dari per jam kerja sosial, oleh karenanya berkurang separuh dari nilai yang dahulu.
Jadi, hanya jumlah jam kerja yang dibutuhkan secara sosiallah (the labour time socially necessary) yang menentukan besaran nilai suatu benda, atau jam kerja yang dibutuhkan secara sosial untuk memproduksi sesuatu. Dalam hal ini, setiap satuan barang-dagangan dinilai sebagai sampel rata-rata yang mewakili jenisnya (klasnya). Oleh karenanya, barang-dagangan, di mana di dalamnya mengandung jumlah kerja yang sama, atau yang dapat dihasilkan dalam waktu yang sama, memiliki nilai yang sama. Nilai satu barang-dagangan lainnya dapat dikatakan sebagai hubungan di mana satu sama lainnya memiliki jam kerja yang dubutuhkan untuk memproduksinya. "Sebagai nilai-nilai, semua barang-dagangan hanyalah merupakan ukuran jam kerja yang telah dibekukan atau dimaterialkan."[11]
Jadi nilai suatu barang-dagangan akan tetap bila jam kerja yang dibutuhkan untuk memproduksinya juga tetap. Akan tetapi jam kerja berubah sesuai dengan produktifitas kerja. Produktifitas tersebut ditentukan oleh berbagai situasi, di antaranya, oleh derajat kecakapan rata-rata para pekerja, perkembangan ilmu-pengetahuan dan tingkat aplikasi praktisnya, organisasi sosial produksi, luas dan kemampuan alat-alat produksi, dan kondisi alam. Sebagai contoh, dengan jam kerja yang sama, pada musim yang baik dapat dihasilkan 8 gantang gandum, namun pada yang tidak baik hanya dapat dihasilkan 4 gantang. Karena logam yang dikandungnya berbeda di dua daerah, maka jam kerja yang sama akan menghasilkan jumlah logam yang berbeda. Intan adalah benda yang jarang dipermukaan bumi ini, oleh karena itu akan lebih banyak mengeluarkan waktu kerja untuk mendapatkannya. Oleh karenanya di dalam volume yang kecil mereka menyatakan waktu kerja yang banyak. Jacob meragukan bahwa emas pada suatu saat akan dibayar dengan nilainya yang penuh. Apalagi intan, menurut Eschwege, selama 80 tahun penggaliannya (berakhir tahun 1823) intan Brazilia belum bisa mencapai harga 1½ tahun produk rata-rata perkebunan gula atau kopi Brazilia, meskipun lebih banyak mencurahkan kerja, atau mencurahkan lebih banyak nilai. Dalam tambang yang kaya, jumlah kerja yang sama akan menghasilkan lebih banyak intan, dan nilainya akan merosot. Bila kita berhasil mengubah batu bara menjadi intan, maka nilainya akan di bawah nilai batu bara. Secara umum, makin besar produktivitas kerja maka makin sedikit waktu kerja yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu barang, makin sedikit jumlah kerja yang membeku (dikristalkan) dalam satu barang maka makin kecil pula nilainya; sebaliknya, makin kecil produktivitas kerja maka makin besar waktu kerja yang dubutuhkan untuk menghasilkan satu barang, dan nilainya akan makin besar. Besaran nilai suatu barang demikian berubah berbanding langsung dengan jumlah kerja dan berbanding terbalik dengan produktivitas kerja yang tergabung di dalamnya.
Suatu benda bisa memiliki nilai-pakai, tanpa memiliki nilai. Hal ini bisa terjadi jika kegunaannya bagi manusia bukan dikarenakan kerja (tidak dihubungkan dengan kerja). Misalnya udara, tanah perawan, padang rumput alami, dan sebagainya. Satu benda bisa saja memiliki kegunaan, dan merupakan hasil kerja manusia, namun tidak bisa disebut barang-dagangan. Siapa saja yang memenuhi kebutuhannya sendiri dengan hasil kerjanya sendiri memang menciptakan nilai-pakai, namun bukan menghasilkan barang-dagangan. Untuk menghasilkan barang-dagangan, seseorang tidak saja harus menghasilkan nilai-pakai, tapi nilai-pakai untuk orang lain, nilai-pakai sosial. (Dan sama sekali bukan hanya "untuk orang lain.: Petani abad pertengahan juga menghasilkan pajak padi-padian persepuluh untuk pendeta (Zentkorn). Tetapi kedua jenis pajak tersebut tidak bisa disebut barang-dagangan persyaratannya adalah, pertama, harus dihasilkan untuk orang lain, kedua, memiliki nilai-pakai, dan ketiga, dialihkan melalui pertukaran.[12] Yang terakhir, tak satu pun bisa memiliki nilai, tanpa menjadi obyek kegunaan (tanpa merupakan yang dapat dipakai). Bila sesuatu benda kehilangan gunanya, maka demikian pula kerja yang terkandung di dalamnya; kerja tersebut tidak bisa dihitung sebagai kerja yang menghasilkan nilai.
Watak Rangkap Kerja yang Terkandung dalam Barang-dagangan
Mula-mula barang-dagangan memberikan gambaran kepada kita sebagai dua hal yang kompleks-sebagai nilai-pakai dan nilai-tukar. Kemudian, kita juga melihat bahwa kerja memiliki dua hakikat rangkap; selama kerja itu dinyatakan dalam nilai, ia tidak memiliki watak yang sama sebagai penghasil nilai-pakai. Pertama-tama saya harus membuktikan dan menguji secara kritis hakikat rangkap kerja yang terkandung dalam barang-dagangan. Oleh karena pemahaman terhadap hal tersebut merupakan titik tolak untuk mengerti ruang lingkup ekonomi politik, maka harus lebih jauh mengerti detilnya.
Ambil misalnya dua contoh barang-dagangan, 1 jas dan 10 ello (yard) kain lena. Bila jas nilainya dua kali lipat kain lena, maka 1 jas = 2 W, dan 10 ello kain lena = W.
Jas memiliki nilai-pakai karena dapat memuaskan kebutuhan tertentu. Keberadaannya merupakan hasil dari jenis aktivitas produktif tertentu (untuk menghasilkannya diperlukan satu aktivitas produktif tertentu), hakikatnya ditentukan oleh tujuannya, cara pelaksanaannya, bendanya, alat-alat produksinya, atau karena nyatanya hasil produksi tersebut memiliki nilai-pakai, kita namakan kerja yang berguna. Dalam hal ini, kita hanya akan menganalisanya selama ia memiliki dampak kegunaan.
Jas dan kain lena, secara kualitas, memiliki nilai-pakai yang berbeda, demikian juga dua bentuk kerja yang menghasilkannya, penjahit dan penenun. Seandainya barang-barang tersebut, secara kualitatif, tidak memiliki nilai-pakai yang berbeda, sehingga dengan demikian juga bukan merupakan hasil produksi kerja dengan kualitas yang berbeda, maka mereka tidak mungkin dapat berhadapan/berhubungan sebagai barang-dagangan. Jas tidak ditukar dengan jas juga; satu nilai-pakai tidak akan ditukar dengan nilai-pakai yang sejenis.
Di dalam berbagai macam nilai-pakai terkandung berbagai macam kerja yang berguna, yang dibedakan menurut tatanannya, golongannya, jenis keluarganya dan macamnya, semuanya disebabkan karena adanya pembagian kerja sosial. Pembagian kerja tersebut merupakan syarat yang dubutuhkan untuk menghasilkan barang-dagangan, namun sebaliknya, produksi barang-dagangan bukan merupakan syarat bagi adanya pembagian kerja. Di dalam komunitas masyarakat India kuno sudah terdapat pembagian kerja sosial, namun tak ada yang namanya produksi barang-dagangan.
Contoh yang lebih dekat ada dalam pabrik, kerja telah terbagi secara sostematis, tetapi pembagian kerja tersebut tidak menyebabkan kaum buruh menukarkan hasil produksi perseorangannya. Hasil produksi dapat dikatakan barang-dagangan, yang merupakan hasil kerja yang berbeda, bila masing-masing berdiri sendiri-sendiri dan tidak saling tergantung.
Jadi, di dalam nilai-nilai setiap barang-dagangan tersimpan kerja yang berguna, yakni aktivitas produktif dengan tujuan tertentu. Nilai-pakai tidak dapat berhadapan satu sama lain sebagai barang-dagangan, jika kerja yang berguna, yang ada di dalamnya, tidak berbeda secara kualitatif. Suatu masyarakat dikatakan menghasilkan barang-dagangan secara luas, yakni, masyarakat penghasil barang-dagangan di mana kerjanya (yang menghasilkan nilai-pakai) berbeda secara kualitatif, hasil usaha penghasil perseorangan yang tidak tergantung atau berdiri sendiri, dan kerja yang berbeda secara kualitatif tersebut berkembang ke suatu sistem yang kompleks-suatu pembagian kerja sosial.
Kecuali itu, tidak ada bedanya jas yang dipakai oleh penjahit atau pun oleh langganannya. Dalam kedua kejadian tersebut jas berfungsi sebagai nilai-pakai. Hubungan antara jas dan kerja yang menghasilkannya tidaklah berubah menurut situasi yang ada. Pekerjaan menjahit menjadi profesi khusus, atau suatu cabang dari pembagian kerja sosial yang tidak tergantung. Kebutuhan akan pakaian memaksa manusia memproduksinya, manusia telah memproduksinya beribu-ribu tahun sebelumnya, tanpa harus menjadi penjahit. Akan tetapi jas dan kain lena bukanlah seperti elemen material lainnya-yang secara spontan dihasilkan oleh alam, mereka ada sebagai hasil dari aktivitas produksi tertentu, dengan tujuan tertentu, suatu aktivitas dalam mengolah material alam tertentu guna memenuhi kebutuhan khusus manusia. Oleh karena itu kerja sebagai penghasil nilai-pakai, kerja yang berguna, merupakan syarat, apapun bentuk masyarakatnya, bagi keberadaan ras manusia; suatu keharusan alamiah yang abadi, tanpa itu tak akan ada pertukaran bahan antara manusia dan alam, atau tak akan ada kehidupan.
Nilai-pakai jas, kain lena dan sebagainya, pendek kata barang-dagangan yang berwujud, terdiri dari kombinasi dua elemen-bahan-bahan alam dan kerja. Jika semua kerja yang berguna, yang tersimpan dalam barang-dagangan, dihilangkan maka kini tinggallah bahan dasarnya saja, yang tanpa dikerjakan oleh manusia alam telah menyediakannya. Manusia dalam produksinya dapat bertindak hanya seperti alam itu sendiri, yaitu hanya mengubah bentuk-bentuk bahan. Lebih dari itu, dalam kerja merubah bentuk alam, manusia secara tetap didukung oleh tenaga alam. Dengan demikian, kerja bukanlah satu-satunya sumber kesejahteraan, atau juga bukan satu-satunya sumber nilai-pakai yang dihasilkannya. Seperti apa yang dikatakan oleh William Petty, kerja adalah ayah, dan bumi adalah ibu.
Sekarang kita beralih dari penelaahhan nilai pakai barang-dagangan ke nilai barang-dagangan. Seperti asumsi kita sebelumnya, jas mempunyai nilai dua kali lebih besar dari kain lena. Tetapi itu hanya perbedaan kuantitatif saja, yang untuk sementara ini tidak menarik perhatian kita. Jika satu jas = dua kali 10 ello kain lena, maka 20 ello kain lena = 1 jas. Sejauh mereka memiliki nilai-pakai, jas dan kain lena memiliki substansi yang sama, yaitu ekspresi obyektif dari kerja yang pada esensinya sama. Akan tetapi pekerjaan menenun dan menjahit, secara kualitatif, merupakan kerja yang berjenis.
Dalam masyarakat tertentu terdapat keadaan di mana satu orang yang sama, secara bergantian, melakukan pekerjaan menenun dan menjahit, dalam kasus ini dua bentuk kerja tersebut hanyalah merupakan modifikasi kerja dari individu yang sama, dan belum menjadi fungsi-fungsi yang tetap dan khusus dari individu-individu yang berbeda; sepenuhnya sama seperti jas dan celana yang dibuat oleh penjahit pada waktu yang berbeda, semata-mata merupakan variasi kerja yang dilakukan oleh orang yang sama. Lebih dari itu, dengan sekali lihat saja, dalam masyarakat kapitalis, sesuai dengan perbedaan dalam permintaan, porsi tertentu kerja manusia dipenuhi, pada satu saat, dalam bentuk kerja menjahit, dan dalam saat yang lain, dalam bentuk kerja menenun. Perubahan tersebut tidak mungkin terjadi tanpa gesekan, tapi hal tersebut harus tetap dilakukan.
Bila kita mengabaikan bentuk khusus aktivitas produktif, dengan demikian sekaligus juga mengabaikan watak kegunaan kerja, maka yang tertinggal hanyalah pengeluaran tenaga kerja manusia.
Menjahit dan menenun, walaupun secara kualitatif merupakan aktivitas produktif dari akal, otot, urat-syaraf, tangan dan lain-lain manusia, dan dalam makna tersebut adalah kerja manusia. Keduanya hanyalah merupakan dua cara pengeluaran kerja manusia yang berbeda. Tentu saja, tenaga kerja tersebut, yang tetap sama walau ada modifikasi-modifkasi, harus mencapai tahap perkembangan tertentu sebelum dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuknya. Akan tetapi nilai barang-dagangan merupakan cerminan kerja abstraksi manusia, pengeluaran kerja manusia secara umum. Dan dalam masyarakat seorang jenderal dan bankir memainkan peranan yang besar, sedangkan di lain pihak, manusia lainnya hanya memainkan peran yang kerdil dan patut dikasihani,[14] demikian juga terhadap peran kerja manusia. Ia adalah pengeluaran kerja manusia yang sederhana, yakni, kerja rata-rata, yang tanpa perkembangan khusus pun, terdapat pada setiap organisasi badan manusia. Kerja rata-rata yang sederhana tersebut, memang betul, karakternya berubah-ubah sesuai dengan negri dan waktunya, akan tetapi dalam masyarakat tertentu ia ada. Kerja ahli hanyalah merupakan hasil peningkatan dan pelipatgandaan dari kerja sederhana, sehingga pengurangan jumlah kerja ahli sama dengan penambahan terhadap kerja sederhana. Pengalaman menunjukkan bahwa reduksi tersebut selalu terjadi. Satu barang-dagangan mungkin saja merupakan hasil kerja yang paling ahli, namun nilainya, dengan membandingkannya dengan produk kerja sederhana yang kurang keahliannya, merupakan jumlah tertentu dari kerja sederhana yang kurang keahlian tersebut.
Perbedaan proporsi, karena berbagai jenis kerja yang berbeda direduksi menjadi kerja sederhana, merupakan standar ukuran yang ditetapkan sebagai kebiasaan (muncul seolah-olah sudah ada dari asalnya). Demi penyederhanaan, segala jenis kerja sederhana; Dengan melakukan hal ini kita akan terhindar dari kesalahan dalam membuat reduksi.
Oleh karenanya, sebagaimana kita memandang jas dan akin lena sebagai nilai-nilai yang diabstraksi dari nilai-pakainya masing-masing (yang berbeda), demikian juga kita memandang kerja sebagai cerminan nilai-nilai tersebut: Kita tidak memperdulikan perbedaan bentuk-bentuk kegunaannya, apakah itu menjahit atau pun menenun. Sebagai nilai-pakai, jas dan kain lena, merupakan kombinasi aktivitas produktif tertentu yang menggunakan kain dan benang, sedangkan sebagai nilai, jas dan kain lena, merupakan pembekuan homogen dari kerja yang tak berbeda, oleh karena itu kerja yang terkandung di dalam nilai-nilai tersebut harus diperlakukan bukan karena manfaat produktif yang diberikan oleh kain dan benang, akan tetapi hanya sebagai pengeluaran tenaga kerja manusia. Menjahit dan menenun merupakan faktor-faktor yang harus dipenihu dalam menciptakan nilai-pakai jas dan kain lena, tepatnya karena kedua jenis kerja tersebut memiliki kualitas yang berbeda; tapi sejauh kita hanya mengabstraksi kualitas khususnya, atau sejauh kita hanya menganggap keduanya memiliki kualitas kerja manusia yang sama, maka menjahit dan menenun substansi nilainya terdiri dari bahan yang sama.
Namun jas dan kain lena, bagaimana pun juga, bukan hanya semata-mata nilai, mereka adalah nilai-nilai yang memiliki besaran tertentu, dan berdasarkan asumsi kita, 1 jas memiliki nilai dua kali 10 ello kain lena. Dari mana asal perbedaan nilai-nilai mereka? Jawabannya adalah: karena kain lena hanya mengandung setengah kerja dibanding yang terkandung dalam jas, sehingga untuk menghasilkan jas diperlukan waktu dua kali lebih banyak.
Dalam hubungan dengan nilai-pakai kerja yang terkandung dalam barang-dagangan hanya diperhitungkan secara kualitatif. Sedangkan dalam menghitung nilai kita harus memperlakukannya secara kualitatif, dengan terlebih dahulu mereduksinya sebagai kerja murni dan sederhana. Pertanyaan untuk nilai-pakai adalah: Bagaimana dan Apa? Sedangkan pertanyaan untuk nilai adalah: Bagaimana dan Berapa? Berapa banyak waktu yang digunakan? Oleh karena besaran nilai itu dihitung dari jumlah waktu yang terkandung dalam barang-dagangan, maka semua barang-dagangan, pada proporsi tertentu, pada dasarnya haruslah memiliki nilai yang sama.
Jika kekuatan produktif, yang digunakan oleh berbagai kerja-berfaedah untuk menghasilkan jas, tidak berubah, maka pertambahan nilainya sebanding dengan pertambahan jumlahnya. Bila untuk menghasilkan 1 jas diperlukan waktu x hari kerja, maka untuk menghasilkan 2 jas diperlukan 2x hari kerja, dan seterusnya. Tetapi bagaimana seandainya lamanya kerja berfaedah untuk menghasilkan jas berubah 2 kalinya atau ½nya. Untuk kasus yang pertama (berubah 2 kalinya), nilai 1 jas yang sekarang sama dengan nilai 2 jas dahulu; dalam kasus yang kedua itu jelas terlihat: walaupun 1 jas yang dihasilkan dahulu dan sekarang sama-sama memberikan jas yang sama, dan tenaga kerja yang menghasilkannya memiliki kualitas yang sama, namun jumlah kerja untuk menghasilkannya berubah-ubah.
Pertambahan dalam jumlah nilai-pakai adalah pertambahan dalam kekayaan material. Dengan dua jas, dua manusia bisa berpakaian; dengan satu jas, hanya seorang manusia yang bisa berpakaian. Namun demikian, pertambahan dalam kekayaan material bertalian dengan, pada saat yang sama, penurunan besaran nilai. Gerak yang berlawanan tersebut berakar dari watak rangkap yang dimiliki kerja. Keberadaan tenaga produktif, tentu saja, tergantung dari produktifitasnya. Dengan demikian, kerja-berfaedah akan menjadi sumber kelimpahan hasil-hasil produksi, sesuai dengan naik turunnya produktifitasnya. Di lain pihak, kerja, yang dicerminkan oleh nilai, tidaklah dipengahuri oleh perubahan dalam produktivitas. Ketika kekuatan produktif telah menjadi unsur dari bentuk konkrit kerja-berfaedah, tentu saja kekuatan produktif tersebut tidak lagi ada sangkut-pautnya dengan kerja tersebut karena kini kita telah mengabstraksi bentuk-bentuk konkrit faedahnya. Kekuatan produktif bisa saja bermacam-macam, namun kerja yang sama, yang bekerja pada jumlah waktu yang sama, selalu menghasilkan jumlah nilai yang sama. Akan tetapi tenaga kerja tersebut, pada waktu yang sama, menghasilkan jumlah nilai-pakai yang berbeda; lebih banyak, bila ada peningkatan dalam kekuatan produktif. Perubahan dalam kekuatan produktif yang akan menambah faedah bagi kerja, dan, konsekuensinya, menyebabkan pertambahan jumlah nilai-pakai yang dihasilkan oleh tenaga kerja, sekaligus juga menurunkan jumlah total nilai, perubahan kekuatan produktif dapat memperpendek waktu kerja yang dibutuhkan dalam menghasilkan barang, demikian juga sebaliknya.
Di satu pihak; semua kerja adalah, dalam arti fisiknya, pengeluaran tenaga kerja manusia, dan dalam karakter abstraknya yang sama ia menghasilkan nilai barang-dagangan. Di lain pihak, semua pengeluaran kerja manusia dalam bentuknya yang khusus dan dengan tujuan tertentu, atau dalam karakter konkrit kerja yang berfaedah, menghasilkan nilai-pakai.
c. Doktrin Marx
Keutamaan doktrin Marx adalah ia memunculkan peran historis kaum proletariat sebagai pembangun masyarakat Sosialis. Sudahkah jalannya kejadian di seluruh dunia memperkuat doktrin ini sejak ia diuraikan oleh Karl Marx? Marx pertama kali mengajukannya di tahun 1844. Manifesto Komunis Marx dan Engels, terbit tahun 1848, memberikan sebuah eksposisi yang integral dan sistematis dari doktrin ini, sebuah eksposisi yang bertahan sebagai yang terbaik hingga hari ini. Sejak itu secara jelas sejarah dunia terbagi menjadi tiga periode utama: (1) dari revolusi 1848 sampai Komune Paris (1871); (2) dari Komune Paris sampai revolusi Rusia (1905); (3) sejak revolusi Rusia.
Marilah kita melihat apa yang telah menjadi takdir dari doktrin Marx dalam masing-masing periode ini.
Periode I
Pada permulaan periode pertama, doktrin Marx sama sekali tidak mendominasi. Ia hanya satu dari banyak sekali kelompok atau trend sosialisme. Bentuk-bentuk sosialisme yang mendominasi berada dalam keluarga utama Narodisme kita: ketidakpahaman basis materialis mengenai gerakan historis, ketidakmampuan untuk memilih peran dan signifikasi dari tiap kelas dalam masyarakat kapitalis, penyembunyian sifat kaum borjuis mengenai demokrasi di bawah berbagai ragam bentukan ulang, ungkapan-ungkapan kaum sosialis-semu tentang "rakyat", "keadilan", "hak", dan sebagainya.
Revolusi 1848 telah memberikan pukulan mematikan pada bentuk-bentuk sosialisme pra-Marxian yang riuh rendah, warna-warni, serta banyak lagak. Di semua negara, revolusi membuka kedok bagaimana kelas-kelas sosial yang beraneka ragam dalam tindakannya. Penembakan terhadap buruh-buruh oleh borjuasi republikan di Paris dalam Hari-hari Juni 1848 akhirnya menyingkapkan bahwa kaum proletar sendiri yang sosialis. Kaum borjuis liberal takut kemerdekaan kelas ini seratus kali lebih daripada kelas ini melakukan reaksi macam apapun. Kaum liberal terpaksa perlu menyembah reaksi. Kaum tani berisi abolisi dari orang-orang yang bertahan hidup dari feodalisme dan gabungan para pendukung tatanan, tetapi kadang-kadang terombang-ambing antara demokrasi pekerja dan liberalisme borjuis. Semua doktrin mengenai sosialisme tanpa-kelas dan politik tanpa-kelas terbukti omong kosong semata.
Komune Paris (1871) melengkapi perkembangan perubahan borjuis ini; republik, yaitu bentuk dari organisasi politik yang di dalamnya relasi-relasi kelas muncul dalam bentuk yang paling tidak dapat disembunyikan, sepenuhnya berhutang konsolidasinya pada heroisme kaum proletar.
Di dalam semua negara Eropa lainnya, sebuah perkembangan yang lebih kacau dan kurang komplit menimbulkan akibat serupa --sebuah masyarakat borjuis yang telah mengambil bentuk definitif. Menjelang akhir periode pertama (1848-71) yang merupakan sebuah periode berbagai badai dan revolusi, sosialisme pra-Marxian mati. Partai-partai independen kaum proletar bermunculan: Internasional Pertama (1864-72) dan Partai Sosial-Demokratik Jerman.
Periode II
Periode kedua (1872-1904) dibedakan dari periode pertama oleh karakternya yang "damai", oleh tiadanya berbagai revolusi. Dunia Barat telah selesai dengan revolusi-revolusi borjuis. Dunia Timur belum muncul ke arah itu.
Dunia Barat memasuki fase persiapan "damai" bagi perubahan yang akan tiba. Partai-partai sosialis, yang secara mendasar proletar, dibentuk di mana-mana dan belajar menggunakan parlementerisme borjuis dan menggunakan terbitan harian mereka sendiri, institusi-institusi pendidikan mereka, serikat-serikat pekerja mereka, dan masyarakat-masyarakat kooperatif mereka. Doktrin Marx memperoleh sebuah kemenangan penuh dan mulai tersebar. Penyeleksian dan pengumpulan kekuatan-kekuatan kaum proletar, serta persiapannya untuk menghadapi pertempuran yang akan tiba mencapai kemajuan-kemajuan secara lambat tapi mantap.
Dialektika sejarah adalah sebagaimana bahwa kemenangan teoritis dari Marxisme memaksa musuh-musuhnya menyamarkan diri mereka sebagai kaum Marxis. Liberalisme, bosok di dalam, mencoba untuk membangkitkan kembali dirinya dalam bentuk oportunisme sosialis. Mereka menafsirkan periode penyiapan kekuatan-kekuatan untuk pertempuran-pertempuran besar sebagai penolakan terhadap pertempuran-pertempuran ini. Kemajuan kondisi-kondisi kaum budak untuk melawan perbudakan upah kerja mereka ambil dalam pengertian penjualan hak atas kemerdekaan oleh para budak demi uang dalam jumlah kecil. Mereka berlutut dan memohon adanya "perdamaian sosial" (yaitu perdamaian dengan para pemilik budak), penolakan atas perjuangan kelas, dan lain sebagainya. Mereka memiliki amat banyak pengikut di tengah kaum sosialis yang menjadi anggota parlemen, beraneka pejabat dalam gerakan kelas pekerja, dan kaum cendekiawan yang "bersimpatik".
Periode III
Bagaimanapun, kaum oportunis hampir tidak mungkin memberi ucapan selamat pada diri mereka sendiri atas "perdamaian sosial" dan atas pergolakan-pergolakan yang tidak-merupakan-keharusan di bawah "demokrasi" ketika sebuah sumber baru dari pergolakan besar dunia terbuka di Asia. Revolusi Rusia diikuti oleh revolusi di Turki, Persia, dan Cina. Dalam era yang penuh badai dan "akibat-akibat" darinya di Eropa inilah kita sekarang hidup. Tidak masalah nasib apa dari Republik Cina Besar melawan berbagai macam hyena "beradab" yang sekarang tengah mengasah gigi geligi mereka, tak ada kekuatan di atas bumi dapat menempatkan kembali perbudakan yang lama di Asia ataupun memusnahkan demokrasi yang heroik dari massa di negara-negara Asiatik dan negara-negara semi-Asiatik. Orang-orang tertentu, yang kurang memperhatikan kondisi-kondisi bagi persiapan dan perkembangan perjuangan massa, terperosok dalam keputusasaan dan anarkisme akibat penundaan panjang dalam perjuangan yang menentukan melawan kapitalisme di Eropa. Sekarang kita dapat melihat bagaimana gelap mata dan patah arangnya keputusasaan kaum anarkis ini.
Fakta bahwa Asia, dengan populasinya 800 juta jiwa, telah terseret ke dalam perjuangan demi ideal-ideal yang sama dengan halnya ideal yang diimpikan oleh orang Eropa, harus menginspirasi kita dengan optimisme dan bukan keputusasaan.
Revolusi-revolusi Asiatik telah memperlihatkan lagi kepada kita tentang lemah lunglainya dan betapa rendah budinya liberalisme, kepentingan khusus mengenai kemerdekaan massa demokratik, dan demarkasi yang harus diucapkan dengan jelas antara kaum proletar dengan segala jenis borjuasi. Setelah pengalaman baik Eropa dan Asia, sembarang orang yang bicara mengenai politik-politik non-kelas dan sosialisme non-kelas, selayaknya tanpa basa basi diletakkan dalam sebuah kandang dan dipamerkan berdampingan dengan kanguru-kanguru Australia atau makhluk sejenis itu.
Setelah Asia, Eropa juga telah mulai bangkit, meskipun tidak dengan cara Asiatik. Periode "damai" dari 1872-1904 telah berlalu dan tak akan pernah kembali. Tingginya biaya hidup dan tirani dari perseroan-perseroan sedang menimbulkan penajaman yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam perjuangan ekonomi, yang telah menjadi gerakan bahkan para buruh Inggris yang telah paling dikorup oleh liberalisme. Kita melihat sebuah krisis politik timbul bahkan di Jerman, negara Junker-borjuis yang paling "keras kepala". Persenjataan dan kebijaksanaan yang hingar bingar dari imperialisme membelokkan Eropa modern ke dalam sebuah "kedamaian sosial" yang lebih mirip sebuah tong mesiu. Bersamaan dengan pembusukan partai kaum borjuis, pematangan kaum proletar membuat kemajuan yang mantap dan terus menerus.
Sejak kemunculan Marxisme, tiap periode dari tiga periode besar sejarah dunia telah membawa konfirmasi baru serta kemenangan-kemenangan baru kepada Marxisme. Tetapi masih ada sebuah kemenangan lebih besar menantikan Marxisme, sebagai doktrin kaum proletar, dalam periode sejarah yang akan tiba.
d. Konsep Klas dan Status
Pandangan Marx tentang pemilikan atau penguasaan atas alat-alat produksi selalu merupakan sumber mutlak untuk pembagian kelas. Karakteristik khusus dari kelas-kelas yang berbeda dan sifat hubungan sosial di antara kelas-kelas itu akan berbeda-beda dalam masyarakat yang berbeda-beda atau dalam tahap sejarah yang berbeda-beda pula. Sebagai contoh hubungan sosial antara bangsawan pemilik tanah dan budak pada masa feodal jelas berbeda sifat hubungannya secara substansial antara kelas majikan kapitalis dan buruh proletariat.
Teori tentang pembentukan kelas yang dimaksudkan Marx sebenarnya ada di dalam teori tentang pertentangan kelas sebagai kekuatan yang menggerakkan perubahan sosial, dan model analisa dialektik merupakan inti model bagaimana konflik kelas mengakibatkan perubahan sosial.
Tentang pandangan Weber memang tidak menolak adanya posisi ekonomi sebagai dasar kelas, hanya saja ia menambahkan dua elemen lagi yaitu kehormatan kelompok status (status) dan kekuasaan politik (party). Artinya semua orang tahu bahwa uang (ekonomi) saja tidak cukup diterima di kalangan kelompok status berprestise tinggi. Latar belakang keluarga dan sejarah juga penting. Ketiga dimensi ini bisa tumpang tindih dengan salah satu atau keduanya dengan banyak situasi, namun secara analitis berbeda dan bisa berdiri sendiri.
Weber berpendapat struktur kekuasaan tidak harus setara dengan struktur otoritas. Otoritas adalah kemungkinan seseorang akan ditaati atas dasar suatu kepercayaan akan legitimasi haknya untuk mempengaruhi. Sumbangan Weber sangat besar terhadap konsep stratifikasi sosial karena analisa-analisa masa kini tentang stratifikasi sosial sangat bertalian dengan analisa Weber.
Mengenai pandangan Dahrendorf, ia menolak asumsi Marx mengenai hubungan yang mengharuskan antara pemilikan yang sah dan kontrol yang efektif, Dahrendorf juga menunjuk beberapa ciri khas lainnya yang membedakan masyarakat industri modern (post-kapitalist) dari tahap-tahap awal kapitalisme yang dianalisa Marx. Tekanan Dahrendorf pada struktur otoritas lebih daripada pemilikan alat produksi materiil yang memperlihatkan suatu pergeseran yang penting dari posisi Marx. Ia seperti juga Weber, mengakui pentingnya pembedaan antara kekuasaan dan otoritas.
Aliran Neo-Marxian yang lain adalah Erik Olin Wright yang pandangannya sedikit lebih dekat dengan Weber. Menurut Wright kapitalisme itu lebih teras abstrak atau murni yang benar-benar umum hanya dua kelas yaitu yang berada dalam kontrol produksi ekonomi, borjuis, dan yang berada di luar kontrol produksi, proletariat.
Akhirnya, saya lebih setuju dengan konsep kelas Weber berkaitan dengan status dan partai karena pandangannya lebih komprehensif daripada pandangan Marx
Pengertian Stratifikasi Sosial
Stratifikasi sosial merupakan suatu konsep dalam sosiologi yang melihat bagaimana anggota masyarakat dibedakan berdasarkan status yang dimilikinya. Status yang dimiliki oleh setiap anggota masyarakat ada yang didapat dengan suatu usaha (achievement status) dan ada yang didapat tanpa suatu usaha (ascribed status). Stratifikasi berasal dari kata stratum yang berarti strata atau lapisan dalam bentuk jamak.
Pitirin A. Sorokin mendefinisikan stratifikasi sebagai pembedaan penduduk atau anggota masyarakat ke dalam kelas-kelas secara hierarkis. Sedangkan menurut Bruce J. Cohen sistem stratifikasi akan menempatkan setiap individu pada kelas sosial yang sesuai berdasarkan kualitas yang dimiliki.
Stratifikasi dapat terjadi dengan sendirinya sebagai bagian dari proses pertumbuhan masyarakat, juga dapat dibentuk untuk tercapainya tujuan bersama. Faktor yang menyebabkan stratifikasi sosial dapat tumbuh dengan sendirinya adalah kepandaian, usia, sistem kekerabatan, dan harta dalam batas-batas tertentu.
Mobilitas sosial merupakan perubahan status individu atau kelompok dalam stratifikasi sosial. Mobilitas dapat terbagi atas mobilitas vertikal dan mobilitas horizontal. Mobilitas vertikal juga dapat terbagi dua, mobilitas vertikal intragenerasi, dan mobilitas antargenerasi.
Berkaitan dengan mobilitas ini maka stratifikasi sosial memiliki dua sifat, yaitu stratifikasi terbuka dan stratifikasi tertutup. Pada stratifikasi terbuka kemungkinan terjadinya mobilitas sosial cukup besar, sedangkan pada stratifikasi tertutup kemungkinan terjadinya mobilitas sosial sangat kecil.
Dimensi Stratifikasi Sosial
Untuk menjelaskan stratifikasi sosial ada tiga dimensi yang dapat dipergunakan yaitu : privilege, prestise, dan power. Ketiga dimensi ini dapat dipergunakan sendiri-sendiri, namun juga dapat didigunakan secara bersama.
Karl Marx menggunakan satu dimensi, yaitu privilege atau ekonomi untuk membagi masyarakat industri menjadi dua kelas, yaitu kelas Borjuis dan Proletar. Sedangkan Max Weber, Peter Berger, Jeffries dan Ransford mempergunakan ketiga dimensi tersebut. Dari penggunaan ketiga dimensi tersebut Max Weber memperkenalkan konsep : kelas, kelompok status, dan partai.
Kelas sosial merupakan suatu pembedaan individu atau kelompok berdasarkan kriteria ekonomi. Untuk mendalami kelas sosial ini Soerjono Soekanto memberikan 6 kriteria tradisional.
Menurut Horton and Hunt keberadaan kelas sosial dalam masyarakat berpengaruh terhadap beberapa hal, diantaranya adalah identifikasi diri dan kesadaran kelas sosial, pola-pola keluarga, dan munculnya simbol status dalam masyarakat.
Bentuk stratifikasi dapat dibedakan menjadi bentuk lapisan bersusun yang diantaranya dapat berbentuk piramida, piramida terbalik, dan intan. Selain lapisan bersusun bentuk stratifikasi dapat juga diperlihatkan dalam bentuk melingkar. Bentuk stratifikasi melingkar ini terutama berkaitan dengan dimensi kekuasaan.
Ada tiga cara yang dapat kita lakukan untuk bisa mengetahui bentuk dari stratifikasi sosial. Ketiga cara tersebut adalah dengan pendekatan objektif, pendekatan subyektif, dan pendekatan reputasional
E, Dialektika Materialisme
Basis Marxisme adalah materialisme. Maksudnya, Marxisme dimulai dengan ide bahwa materi adalah esensi dari semua realitas, dan bahwa materi membentuk akal, dan bukan sebaliknya.
Dengan kata lain, pikiran dan segala sesuatu yang dikatakan berasal dari pikiran – misalnya ide-ide tentang seni, hukum, politik, moralitas, dan sebagainya – hal-hal ini pada kenyataannya berasal dari dunia material. 'Akal', yaitu pikiran dan proses berpikir, adalah sebuah produk dari otak; dan otak itu sendiri, yang berarti juga ide-ide, muncul pada suatu tahap tertentu dari perkembangan materi hidup. Jadi, akal adalah produk dari dunia material.
Oleh karena itu, untuk memahami sifat sesungguhnya dari kesadaran dan masyarakat manusia, sebagaimana diungkapkan oleh Marx sendiri, persoalannya adalah "bukan berangkat dari apa yang dikatakan, dikhayalkan, atau dibayangkan oleh manusia… agar sampai pada yang namanya manusia dengan bentuk seperti sekarang; melainkan berangkat dari manusia riil (nyata) dan aktif, dan berdasarkan basis proses-kehidupan riil manusia yang menunjukkan perkembangan refleks-refleks dan gaungan-gaungan ideologis dari proses kehidupan ini. Bayangan-bayangan yang terbentuk dalam otak manusia adalah juga gambaran-gambaran dari proses-kehidupan material, yang secara empiris dapat dibuktikan kebenarannya dan terikat pada premis-premis (dalil) material. Jadi, moralitas, agama, metafisika, dan segala macam ideologi serta bentuk-bentuk kesadaran yang berhubungan (serupa) dengan itu, tidaklah independent (bebas). Moralitas, agama, metafisika, dan segala macam bentuk ideologi itu tidak memiliki sejarah, tidak memiliki perkembangan; tetapi manusia, yang mengembangkan produksi material dan hubungan material mereka, mengubah – seiring dengan eksistensi riil mereka – pemikiran dan produk-produk pemikiran mereka. Kehidupan tidak ditentukan oleh kesadaran, tetapi kesadaran ditentukan oleh kehidupan.
Dalam metode pendekatan pertama (non materialis), titik mulanya adalah kesadaran yang dianggap sebagai individu hidup; dalam metode pendekatan kedua (materialis), yang menyesuaikan diri (terhadap keadaan material) adalah individu-individu hidup riil itu sendiri, sedangkan kesadaran dianggap hanya sebagai kesadaran mereka." (Ideologi Jerman).
Karena itu, seorang materialis selalu berusaha mencari penjelasan bukan hanya tentang ide-ide, melainkan juga tentang gejala-gejala material itu sendiri, dalam hal sebab-sebab material, dan bukan campur tangan supranatural oleh Tuhan, Dewa, atau yang semacam itu. Dan ini adalah aspek yang sangat penting dari Marxisme, yang secara tegas menolak metode-metode pemikiran dan logika yang telah mapan dalam masyarakat kapitalis.
Perkembangan pemikiran ilmiah di negeri-negeri Eropa pada abad ke-17 dan 18 menunjukkan ciri-ciri yang sangat kontradiktif (bertentangan), yang masih tetap khas (serupa) dengan pendekatan para teoritisi borjuis masa kini. Di satu sisi, terdapat perkembangan ke arah metode materialis. Para ilmuwan mencari sebab-sebab. Mereka tidak semata-mata menerima gejala-gejala alam sebagai keajaiban Tuhan, melainkan mencari penjelasan atas gejala-gejala itu. Namun seiring dengan itu, para ilmuwan ini tidak memiliki pemahaman materialis yang konsisten dan menyeluruh; dan sering kali, di balik penjelasan-penjelasan tentang gejala alam, ujung-ujungnya mereka masih mencari kaitannya dengan campur tangan Tuhan dalam proses itu.
Pendekatan seperti itu berarti menerima, atau setidaknya membuka kemungkinan, bahwa dunia material yang kita diami ini dibentuk oleh keuatan dari luar dunia, dan bahwa kesadaran atau ide-ide muncul lebih dahulu, yaitu dalam hal bahwa kesadaran atau ide-ide bisa eksis (ada) secara independent (tidak terikat) pada dunia riil. Pendekatan ini, yang merupakan lawan filosofis dari materialisme, kita sebut 'idealisme'.
Menurut pendekatan idealis ini, perkembangan umat manusia dan masyarakat – baik seni, ilmu pengetahuan, dll. – ditentukan bukan oleh proses material, melainkan oleh perkembangan ide-ide, oleh penyempurnaan atau turun-temurunnya pemikiran manusia. Dan bukanlah kebetulan belaka bahwa pendekatan umum ini, dinyatakan atau tidak, ternyata menyelubungi semua filsafat kapitalisme. Para filsuf dan sejarawan borjuis secara umum menerima sistem yang ada sekarang secara apa adanya. Mereka menerima bahwa kapitalisme adalah suatu sistem yang telah lengkap dan tuntas, yang tidak bisa digantikandengan sebuah sistem yang baru dan lebih maju. Dan mereka berusaha untuk menjelaskan semua sejarah masa lalu sebagai usaha dari umat manusia yang belum maju untuk mencapai semacam 'masyarakat yang sempurna', yang mereka yakin bahwa kapitalisme telah mencapainya atau bisa mencapainya.
Jadi, jika mempelajari karya dari beberapa ilmuwan atau pemikir besar borjuis di masa lalu atau bahkan sekarang, kita dapat melihat betapa mereka cenderung untuk mencampur-adukkan ide-ide materialis dan ide-ide idealis dalam pikiran mereka. Isaac Newton misalnya, yang telah meneliti hukum-hukum mekanik, gerakan planet, dan benda-benda planet, tidak percaya bahwa proses-proses ini ditentukan oleh akal atau pikiran. Namun apa yang dia percaya ialah bahwa tenaga penggerak awal diberikan kepada semua materi, dan bahwa dorongan awal ini ditentukan oleh semacam kekuatan supranatural, yaitu oleh Tuhan.
Hal yang serupa, adalah mungkin bagi banyak ahli biologi saat ini untuk menerima ide bahwa species tumbuhan dan hewan berevolusi dari satu jenis menjadi jenis lainnya, dan bahwa manusia sendiri adalah hasil perkembangan dari species terdahulu. Namun demikian, banyak di antara mereka yang terpaku pada gagasan bahwa terdapat suatu perbedaan kualitatif antara akal manusia dengan akal hewan, yaitu bahwa ada 'jiwa yang abadi' yang meninggalkan tubuh manusia setelah kematiannya. Bahkan beberapa di antara ilmuwan yang paling termahsyur juga mencampuradukkan metode materialis dengan ide-ide idealis seperti ini, yang – kalau kita bicara secara ilmiah – ini sungguh-sungguh terbelakang, serta lebih dekat kepada magic dan takhayul daripada kepada ilmu pengetahuan.
Karena itu, Marxisme mewakili pertentangan yang sistematis dan fundamental dengan idealisme dalam segala bentuknya, dan perkembangan Marxisme mencerminkan suatu pemahaman materialis tentang apa yang tengah terjadi dalam realitas (kenyataan).
DIALEKTIKA
Dialektika secara sederhana adalah logika gerak, atau logika pemahaman umum dari para aktivis dalam gerakan. Kita semua tahu bahwa benda-benda tidaklah diam; dan benda-benda itu berubah. Akan tetapi, ada suatu bentuk logika lain yang bertentangan dengan dialektika, yang kita sebut 'logika formal', yang sekali lagi juga melekat dalam masyarakat kapitalis. Barangkali perlu untuk mulai menjelaskan secara singkat apa yang dimaksud dengan metode ini.
Logika formal didasarkan pada apa yang dikenal sebagai 'hukum identitas', yang menyatakan bahwa 'A' sama dengan 'A' – yaitu bahwa benda-benda adalah seperti itu apa adanya, dan bahwa benda itu berposisi pada hubungan yang tertentu (pasti) satu sama lain. Ada hukum-hukum turunan lain yang didasarkan pada hukum identitas; yaitu misalnya, jika 'A' sama dengan 'A', maka 'A' tidak mungkin sama dengan 'B' atau 'C'.
Secara sekilas, metode pemikiran ini nampak seperti pemahaman umum; dan pada kenyataannya, logika formal telah menjadi alat yang sangat penting, sarana yang sangat penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan revolusi industri, yang membentuk masyarakat sekarang ini. Perkembangan matematika dan aritmatika dasar, misalnya, adalah didasarkan pada logika formal. Anda tidak bisa mengajarkan tabel perkalian atau penjumlahan kepada seorang anak tanpa menggunakan logika formal. Satu ditambah satu sama dengan dua, bukan tiga. Hal yang sama, metode logika formal juga merupakan basis bagi perkembangan ilmu mekanika, kimia, biologi, dll.
Sebagai contoh, pada abad ke-18 ahli biologi Skandinavia, Linnaeus, mengembangkan sebuah sistem klasifikasi untuk semua tumbuhan dan hewan yang dikenal. Linnaeus membagi semua benda hidup ke dalam kelas-kelas, ordO-ordo, dan keluarga; misalnya dalam ordo primata, keluarga hominid, genus homo, dan mewakili species homo sapiens.
Sistem klasifikasi merupakan sebuah langkah maju besar dalam biologi. Untuk pertama kalinya, sistem ini memungkinkan dilakukannya studi mengenai tumbuhan dan hewan yang betul-betul sistematis, untuk membandingkan dan membedakan species hewan dan tumbuhan. Tetapi sistem ini didasarkan pada logika formal. Sistem ini didasarkan pada pernyataan bahwa homo sapiens sama dengan homo sapiens; bahwa musca domestica (lalat) sama dengan musca domestica; bahwa cacing tanah sama dengan cacing tanah; dst. Dengan kata lain, sistem klasifikasi ini adalah sistem yang kaku dan pasti. Menurut sistem ini, tidak mungkin suatu species sama dengan species lain. Atau, jika bisa sama, berarti sistem klasifikasi ini akan gugur.
Hal yang sama diterapkan dalam bidang kimia, dimana teori atom Dalton merupakan langkah maju yang sangat besar. Teori Dalton didasarkan pada ide bahwa materi tersusun atas atom-atom, dan bahwa masing-masing tipe atom sama sekali khusus dan khas untuk tipe itu sendiri – bahwa bentuk dan berat suatu atom adalah khusus untuk unsur tertentu itu, dan tidak sama dengan yang lain.
Setelah Dalton, juga ada sebuah sistem klasifikasi unsur-unsur yang hampir sama kaku-nya dengan sistem Dalton, yang kembali didasarkan pada logika formal yang kaku, yang mengatakan bahwa sebuah atom hidrogen adalah sebuah atom hidrogen; sebuah atom karbon adalah sebuah atom karbon; dsb. Dan jika sebuah atom bisa menjadi atom lainnya, maka keseluruhan sistem klasifikasi ini, yang telah membentuk basis bagi ilmu kimia modern, akan gugur.
Kini penting bagi kita untuk melihat bahwa terdapat keterbatasan-keterbatasan dalam metode logika formal. Logika formal adalah metode sehari-hari yang sangat bermanfaat, dan memungkinkan kita untuk mempunyai perhitungan-perhitungan dalam mengidentifikasi benda-benda. Misalnya, sistem klasifikasi Linnaean masih berguna bagi ahli-ahli biologi; tetapi, terutama sejak munculnya karya Charles Darwin, kita juga jadi bisa melihat kelemahan-kelemahan dalam sistem klasifikasi itu. Sebagai contoh, Darwin menunjukkan bahwa dalam sistem Linnaean, tipe-tipe tumbuhan diberi nama-nama tersendiri sebagai species khusus, namun sebenarnya tipe-tipe tumbuhan itu sangat mirip satu sama lain.
Jadi, bahkan di masa Darwin, sudah mungkin untuk melihat sistem klasifikasi Linnaean, dan mengatakan, 'Oh, ternyata ada yang salah'. Dan tentu saja, karya Darwin sendiri memberikan basis yang sistematis untuk teori evolusi, yang untuk pertama kalinya mengatakan adalah mungkin bagi satu species untuk berubah (bertransformasi) menjadi species lainnya. Dan ini menunjukkan adanya lobang besar dalam sistem Linnaean. Sebelum Darwin, orang menganggap bahwa jumlah species di planet ini tepat sama dengan jumlah species yang diciptakan oleh Tuhan dalam masa enam hari proses penciptaan – kecuali, tentu saja, species-species yang musnah akibat Banjir Besar – dan bahwa species-species itu tetap tidak berubah selama berjuta-juta tahun. Namun Darwin menghasilkan ide perubahan species, sehingga tidak bisa dihindari lagi, metode klasifikasi juga harus diubah.
Apa yang berlaku di bidang biologi juga berlaku di bidang kimia. Di akhir abad ke-19, para pakar kimia menjadi sadar bahwa adalah mungkin bagi satu unsur atom untuk berubah menjadi unsur lainnya. Dengan kata lain, atom tidaklah mutlak bersifat khusus dan tertentu saja pada unsurnya sendiri. Kini kita mengetahui bahwa banyak atom, banyak unsur kimia yang tidak stabil. Sebagai contoh, uranium dan atom-atom radioaktif lainnya akan pecah dalam proses perjalanan waktu, dan menghasilkan atom-atom yang sama sekali berbeda, dan dengan kandungan serta berat kimia yang berbeda pula.
Jadi, kita bisa melihat bahwa metode logika formal mulai gugur dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Akan tetapi, metode dialektika-lah yang menyebabkan bisa ditariknya kesimpulan-kesimpulan dari penemuan-penemuan faktual ini, dan menunjukkan bahwa tidak ada kategori yang mutlak atau pasti, baik di alam ataupun di masyarakat. Sementara seorang yang mengatakan logika formal mengatakan 'A' sama dengan 'A', maka seorang yang dialektis akan mengatakan bahwa 'A' belum tentu sama dengan 'A'. Atau ambillah contoh praktis yang digunakan Trotsky dalam tulisan-tulisannya tentang hal ini: satu ons gula pasir tidak akan tepat sama dengan satu ons gula pasir lainnya. Adalah hal yang baik jika Anda menggunakan patokan takaran seperti itu untuk membeli gula pasir di toko, tetapi jika Anda lihat secara teliti, akan kelihatan bahwa takaran itu tidak tepat sama.
Jadi, kita perlu memiliki suatu bentuk pemahaman, suatu bentuk logika, yang menjelaskan kenyataan bahwa benda-benda, kehidupan, dan masyarakat, berada dalam keadaan pergerakan dan perubahan yang konstan. Dan bentuk logika itu, tentu saja adalah: dialektika.
Akan tetapi, di sisi lain, adalah salah jika kita berpikir bahwa, dialektika menyatakan bahwa proses di alam semesta adalah setara (genap) dan perlahan (gradual). Hukum-hukum dialektika – dan perlu dicatat: konsep-konsep ini kedengaran lebih rumit daripada kenyataan sesungguhnya – hukum-hukum dialektika menjelaskan cara dimana proses-proses perubahan dalam realitas terjadi.
Hukum 1 KUANTITAS MENJADI KUALITAS
Marilah kita mulai dengan hukum transformasi dari kuantitas menjadi kualitas. Hukum ini menyatakan bahwa proses-proses perubahan – gerak di alam semesta – tidaklah perlahan (gradual), dan juga tidak setara. Periode-periode perubahan yang relatif gradual atau perubahan kecil selalu diselingi dengan periode-periode perubahan yang sangat cepat – perubahan semacam ini tidak bisa diukur dengan kuantitas, melainkan hanya bisa diukur dengan kualitas.
Sebagai contoh, kembali kita ambil dari ilmu alam, coba kita bayangkan saat kita memanaskan air. Anda hanya bisa betul-betul mengukur ("melakukan kuantifikasi") dalam hal derajat temperatur/suhu, yaitu perubahan ketika Anda menambahkan panas terhadap air itu. Katakanlah, dari 10 derajat Celcius (ini adalah temperatur normal air keran) menjadi sekitar 98 derajat Celcius, maka perubahan itu akan tetap kuantitatif, yaitu air akan tetap berupa air, walaupun menjadi lebih panas. Tetapi kemudian akan sampai suatu tahap dimana perubahan itu menjadi kualitatif, dan air pun berubah menjadi uap. Anda tidak bisa lagi menjelaskan perubahan itu hanya secara kuantitatif ketika air itu dipanaskan dari 98 derajat menjadi 102 derajat Celcius. Kita harus mengatakan bahwa suatu perubahan kualitatif (air menjadi uap) telah terjadi akibat akumulasi perubahan kuantitatif (menambahkan panas terus-menerus).
Dan inilah yang dimaksud oleh Marx dan Engels ketika mereka menyebutkan transformasi dari kuantitas menjadi kualitas. Hal yang sama dapat dilihat pada perkembangan species. Jika kita melihat ke sekeliling, kita akan mendapati tingkat varitas dari homo sapiens. Varitas itu dapat diukur secara kuantitatif, misalnya tinggi badan, berat badan, warna kulit, panjang hidung, dll. Namun jika perubahan-perubahan evolusioner bergerak maju sampai suatu tahap, dibawah pengaruh perubahan-perubahan lingkungan, maka perubahan-perubahan kuantitatif akan berakumulasi menjadi suatu perubahan kualitatif. Dengan kata lain, Anda tidak akan lagi bisa menandai perubahan pada suatu species hewan atau tumbuhan itu hanya dengan detail-detail (rincian) kuantitatif. Species tersebut akan jadi berbeda secara kualitatif. Sebagai contoh, kita, sebagai suatu species, secara kualitatif berbeda dengan simpanse atau gorila, dan mereka ini pun secara kualitatif berbeda dengan species mamalia lainnya. Dan perbedaan-perbedaan kualitatif itu, lompatan-lompatan evolusioner itu, terjadi akibat perubahan-perubahan kuantitatif di masa lalu.
Ide Marxisme ialah bahwa akan selalu terdapat periode-periode perubahan gradual yang diselingi dengan periode-periode perubahan tiba-tiba. Dalam kehamilan, misalnya, ada suatu periode perkembangan yang gradual, dan kemudian suatu periode perkembangan yang sangat mendadak di penghujung kehamilan itu. Sangat sering kaum Marxis menggunakan analogi (perbandingan) kehamilan untuk menggambarkan perkembangan perang dan revolusi. Hal tersebut menunjukkan lompatan-lompatan kualitatif dalam perkembangan sosial; tetapi perubahan itu muncul sebagai akibat akumulasi kontradiksi-kontradiksi kuantitatif dalam masyarakat.
NEGASI DARI NEGASI
Hukum kedua dari dialektika adalah 'hukum negasi dari negasi', dan sekali lagi, ini kedengaran lebih rumit daripada yang sebenarnya. 'Negasi' dalam hal ini secara sederhana berarti gugurnya sesuatu, kematian suatu benda karena ia bertransformasi (berubah) menjadi benda yang lain. Sebagai contoh, perkembangan masyarakat kelas dalam sejarah kemanusiaan menunjukkan negasi (gugurnya) masyarakat sebelumnya yang tanpa-kelas. Dan di masa yang akan datang, dengan adanya perkembangan komunisme, kita akan mendapati suatu masyarakat tanpa-kelas yang lain, yang ini akan berarti negasi terhadap semua masyarakat kelas yang ada sekarang.
Jadi, hukum negasi dari negasi secara sederhana menyatakan bahwa seiring munculnya suatu sistem (menjadi ada/eksis), maka ia akan memaksa sistem lainnya untuk sirna (mati). Tetapi, ini bukan berarti bahwa sistem yang kedua ini bersifat permanen atau tak bisa berubah. Sistem yang kedua itu sendiri, menjadi ter-negasi-kan akibat perkembangan-perkembangan lebih lanjut dan proses-proses perubahandalam masyarakat. Karena masyarakat kelas telah menjadi negasi dari masyarakat tanpa-kelas, maka masyarakat komunis akan menjadi negasi dari masyarakat kelas – negasi dari negasi.
Konsep lainnya dari dialektika adalah hukum 'interpenetration of opposites' (saling-menerobos dari hal-hal yang bertentangan). Hukum ini secara cukup sederhana menyatakan bahwa proses-proses perubahan terjadi karena adanya kontradiksi-kontradiksi – karena konflik-konflik yang terjadi di antara elemen-elemen yang berbeda, yang melekat dalam semua proses alam maupun sosial.
Barangkali contoh paling tepat dari 'interpenetration of opposites' dalam ilmu pengetahuan alam adalah 'teori quantum'. Teori ini didasarkan atas konsep bahwa energi memiliki karakter ganda – yaitu untuk beberapa tujuan, menurut beberapa eksperimen, energi eksis dalam bentuk gelombang, misalnya gelombang elektro magnetik. Tetapi untuk tujuan-tujuan lain, energi mewujudkan diri sebagai partikel. Dengan kata lain, sama sekali diterima di kalangan ilmuwan bahwa materidan energi sebetulnya bisa eksis dalam dua bentuk yang berbeda pada satu waktu yang sama – di satu sisi, sebagai sejenis gelombang yang tak kelihatan, dan di sisi lain, sebagai sebuah partikel dengan 'quantum' (jumlah) energi tertentu yang ada di dalamnya.
Karena itu, basis dari teori quantum dalam ilmu fisika modern adalah kontradiksi. Namun ada banyak lagi kontradiksi yang dikenal dalam ilmu pengetahuan. Energi elektromagnetik, misalnya, menjadi bergerak akibat dorongan positif dan negatif atas satu sama lain. Magnetisme tergantung pada eksistensi kutub utara dan kutub selatan. Hal-hal ini tidak bisa eksis secara terpisah (sendiri-sendiri). Mereka eksis dan beroperasi justru akibat kekuatan-kekuatan yang bertentangan, yang ada dalam sistem yang satu dan sama.
Hal yang serupa, setiap masyarakat saat ini terdiri atas elemen-elemen berbeda yang bertentangan, yang bergabung bersama dalam satu sistem, yang membuat mustahil bagi masyarakat apapun, di negeri manapun untuk tetap stabil dan tak berubah. Metode dialektis – bertentangan dengan metode logika formal – melatih kita untuk mengidentifikasi (mengenali) kontradiksi-kontradiksi ini, dan dengan demikian berarti mempelajari secara mendalam perubahan yang sedang terjadi.
Kaum Marxis tidak merasa malu untuk mengatakan bahwa terdapat elemen-elemen yang bertentangan dalam setiap proses sosial. Sebaliknya, justru dengan mengenali dan memahami kepentingan-kepentingan yang bertentangan, yang terdapat dalam proses yang sama itu, maka kita akan mampu untuk mengarahkan perubahan yang diinginkan, dan konsekuensinya juga berusaha untuk mengidentifikasi maksud dan tujuan yang perlu dan mungkin dalam situasi seperti itu untuk dirumuskan dari sudut pandang kelas-buruh.
Pada saat yang sama, Marxisme tidaklah mengabaikan logika formal sama sekali. Akan tetapi, adalah penting untuk melihat – dari sudut pandang pemahaman terhadap perkembangan-perkembangan sosial – bahwa logika formal haruslah ditempatkan pada posisi kedua.
Kita semua menggunakan logika formal untuk keperluan sehari-hari. Logika formal memberikan perhitungan-perhitungan yang berguna bagi kita untuk komunikasi dan melaksanakan aktivitas sehari-hari. Kita tidak akan bisa menjalani kehidupan normal tanpa berbasa-basi menggunakan logika formal, tanpa menggunakan perhitungan bahwa satu sama dengan satu. Akan tetapi, di sisi lain, kita harus melihat keterbatasan-keterbatasan logika formal – keterbatasan-keterbatasan yang menjadi jelas dalam ilmu pengetahuan jika kita mempelajari proses-proses secara mendalam dan mendetail, dan juga ketika kita mempelajari proses-proses sosial dan politik dengan lebih teliti.
Dialektika sangat jarang diterima oleh para ilmuwan. Beberapa ilmuwan dialektis, tetapi mayoritas, bahkan sampai saat ini, selalu mencampur-adukkan pendekatan materialis dengan segala macam ide-ide formal dan idealistik. Kalau seperti itu yang terjadi di bidang ilmu pengetahuan alam, maka di bidang ilmu pengetahuan sosial adalah jauh lebih parah. Penyebabnya cukup jelas. Jika Anda mencoba meneliti masyarakat dan proses-proses sosial dari sudut pandang ilmiah, maka Anda tidak bisa menghindari untuk sampai pada kontradiksi-kontradiksi dalam masyarakat kapitalis, dan kebutuhan untuk transformasi sosial masyarakat.
Namun perguruan-perguruan tinggi, yang seharusnya menjadi pusatstudi dan penelitian, dibawah sistem kapitalis ini jauh dari independent terhadap kelas yang berkuasa dan negara. Itulah sebabnya mengapa ilmu pengetahuan alam masih memiliki suatu metode ilmiah yang cenderung kepada materialisme dialektis; tetapi ketikasampai pada ilmu pengetahuan sosial, maka Anda akan mendapati di sekolah tinggi dan politeknik, serta universitas-universitas, formalisme dan idealisme yang paling parah. Hal ini bukannya tidak berhubungan dengan kepentingan-kepentingan tertentu dari para profesor dan akademisi yang digaji tinggi. Adalah jelas dan tak bisa dihindari bahwa posisi istimewa mereka di mata masyarakat akan memiliki beberapa cerminan dan pengaruh pada apa yang harus mereka ajarkan. Pandangan dan prasangka-prasangka subyektif mereka sendiri akan disertakan dalam 'pengetahuan' yang mereka sampaikan kepada mahasiswa mereka, dan begitu seterusnya sampai ke tingkat sekolah-sekolah.
Sejarawan borjuis, khususnya, adalah di antara ilmuwan-ilmuwan sosial yang paling berpandangan sempit. Berapa banyak kita telah melihat contoh-contoh sejarawan borjuis yang membayangkan bahwa sejarah berakhir kemarin! Di sini, di Inggris, mereka semua nampaknya mengakui masa-masa mengerikan sewaktu imperialisme Inggris abad ke-17, 18, sampai abad ke-19; bahwa Inggris terlibat dalam lalu lintas perdagangan budak; bahwa Inggris juga bertanggung jawab terhadap penaklukan rakyat di tanah-tanah jajahan yang paling berdarah; bahwa Inggris juga harus bertanggung jawab terhadap eksploitasi paling buruk terhadap buruh Inggris, termasuk wanita dan anak-anak di tambang-tambang batu bara, di pabrik-pabrik pemintalan kapas, dst.
Mereka akan menerima kenyataan adanya kekejaman dan ketidakadilan ini, tetapi hanya sampai kemarin. Namun jika kita bicara tentang masa sekarang, tentu saja, mereka akan menganggap bahwa imperialisme Inggris tiba-tiba jadi demokratis dan progressif.dan hal tersebut sepenuhnya cuma satu sisi saja, satu cara pandang yang sepenuhnya berat sebelah dalam melihat sejarah, yang secara diametris berlawanan dengan metode Marxisme. Marx dan Engels terbiasa untuk memandang proses-proses sosial dari sudut pandang dialektis yang sama sebagaimana mereka memandang alam - yaitu memandangnya dari sudut pandang proses-proses itu sebenarnya terjadi.dalam berbagai diskusi dan debat kita sehari-hari di dalam gerakan buruh, kita akan seringkali menjumpai orang-orang yanf formalis. Bahkan banyak orang kiri akan memandang berbagai hal dalam cara yang kaku dan formal, tanpa pemahaman akan arah yand di dalamnya hal-hal tersebut tadi bergerak.
Sayap kanan di dalam gerakan buruh, dan juga beberapa orang di sayap kiri, percaya bahwa teori Marxis adalah dogma, yakni, mereka percaya bahwa "teori" itu selayaknya beban seberat 600 pound (1 pound = 2,2 kg) di atas pundak seorang aktivis, dan semakin cepat si aktivis itu membuang beban tersebut, maka ia akan bisa makin aktiv dan efektif jadinya namun itu adalah konsepsi yang sepenuhnya keliru mengenai keseluruhan sifat teori Marxis. pada kenyataan yang sesungguhnya, Marxisme adalah lawan dari dogma. Marxisme setepat-tepatnya adalah metode untuk memahami sepenuhnya proses-proses perubahan yang terjadi di sekitar kita.
Tidak ada satupu hal yang ajeg, dan tiada pula sesuatupun yang tetap tak berubah. adalah kaum formalis yang melihat masyarakat sebagai foto yang tak bergerak, mereka dikuasai oleh situasi-situasi yang mereka hadapi sebab mereka tidak mampu melihat bagaimana dan mengapa berbagai hal akan berubah. pendekatan macam beginilah yang dapat dengan mudah menggiring orang pada penerimaan yang dogmatis dari adanya berbagai hal sebagaimanan hal itu ada ataupun telah ada sebagai benda yang ajeg, tanpa pemahaman tentang ketidakmungkinannya perubahan untuk dielakkan.
Oleh karena itu teori Marxis adalah sepenuhnya merupakan sebuah alat esensial bagi aktivitas apapun di dalam gerakan buruh. Kita mesti secara sadar awas terhadap keuatan-kekuatan kontradiktif dalam kerja-kerja kita di dalam perjuangan kelas, agar kita dapat mengorientasikan diri kita ke dalam cara yang di dalamnya berbagai hal tengah berkembang.
Tentu saja, tidaklah senantiasa mudah untuk membebaskan diri kita dari kerangka pikir yang masih mendominasi di dalam masyarakat kapitalis dan menyerap metode Marxis. sebagaimana dikatakan Karl Marx, tidak ada jalan mulus untuk menuju ilmu pengetahuan. Kadang kala kita harus menempuh jalan berliku yang keras dalam usaha menggapai ide-ide politik yang baru.
Namun tetaplah diskusi dan mempelajari teori Marxis adalah sebuah bagian yang sepenuhnya esensial bagi setiap aktivis. Hanyalah teori yang dapat melengkapi kawan-kawan dengan kompas dan peta di tengah-tengah segala rupa kompleksitas perjuangan. sungguh bagus untuk menjadi seorang aktivis, namun tanpa pemahaman yang sadar mengenai proses-proses di mana kita terlibat di dalamnya, kita tidak akan lebih efektif daripada seorang penjelajah tanpa peta dan kompas.
Dan jika kita coba untuk menjelajah tanpa bantuan sains, kita dapat menjadi seenergik yang kita mau tetapi cepat atau lambat akan terjerembab masuk jurang dalam atau pasir hisap dan lalu hilang begitu saja, sebagaimana hal itu terjadi pada banyak aktivis selama tahun-tahun yang sudah berlalu tanpa keberhasilan.
Ide memiliki kompas dan peta adalah untuk memastikan posisi kita setepatnya. kita dapat menerka di mana kita berada pada satu saat tertentu, ke mana kita akan melangkah, dan di mana kita akan beradaa. dan itulah alasan fundamental mengapa kita perlu menggenggam teori Marxis. sebab ia membekali kita dengan sebuah panduan yang sama sekali tak ternilai harganya dalam menuntun aksi dan tindakan seajauh mana perhatian kita adalah untuk gerakan kelas buruh.