Senin, 19 Mei 2008

naiknya harga BBM?

ANALISIS SISTEM HARGA BBM

Oleh Al-Fath Diraja
(Alumni Magister Mining Management)


DASAR ASUMSI
(Catatan 1 barel = 158,98729 liter)

Data Produksi tahun 2002, 1,252 juta barrel per hari, tahun 2003 turun menjadi 1,147 juta barrel per hari, dan tahun 2004 semakin turun dan tinggal 1,094 juta barrel per hari dan pada tahun ini sekitar 1 jt barrel per hari

1. Asumsi kebutuhan minyak 1,2 juta barel per hari = 190.784.753,91 liter
2. Produksi minyak Indonesia 1 juta barel perhari = 158.987.294,93 liter
3. Defisit Produksi dari impor 0,2 juta barel per hari = 31.797.458,986 liter
4. Biaya produksi BBM US$ 15/barrel
5. Harga jual Rp 4.500/liter atau ideal =...?
6. Biaya pengolahan BBM sebesar US$ 15/barel
7. Pembagian keuntungan 70% : 30% untuk pemerintah
8. Biaya "Cost Recovery" US$ 5,5 milyar (Rp 50 trilyun)

SKENARIO HARGA Rp. 4.500/Liter = Rp 715.500/barel, setara 78 US$/barel
1. Total Produksi 1 jt bph, diperoleh harga penjualan = 78 juta US$ = 709 Triliun
2. Jika biaya 15 US$/barel = 150 Triliun, maka masih ada sisa 650 tryliun
3. Jika Cost recovery 1/3 atau 1/2 saja, maka negara masih untung
4. Jadi harga BBM kesimpulannya bisa tidak dinaikkan
5. Persolannya adalah perusahaan minyak adalah perusahaan asing
6. Harga yg dijadikan patokan adalah harga pasar internasional 120 US$/barel
7. Ada selisih 53 US$/barel dari harga dunia,
8. Uang sebesar itulah yg membuat eksekutif kita hilang imannya
9. Dana politik diperlukan untuk tahun 2009 oleh calon dewan dan calon presdien
10. Lebih baik kehilangan muka, ntar dikonpensasi dengan bagi duit "brand kampanye"


ANALISIS SISTEM UNTUK SOLUSI

HULU PRODUKSI BPH MIGAS ---> HILIR PERTAMINA

1. Produksi dapat ditingkatkan menjadi 1,2 jt bph, mana kala cost recovery yg besarnya mencapai tryliunan rupiah, sebagian dipergunakan untuk kegiatan eksplorasi migas untuk menemukan lapangan minyak baru, sehingga kita tidak impor, bahkan mungkin kita akan surplus.
2. Perlu dilakukan upaya pengurangan kebutuhan BBM, misalnya pembatasan jumlah kendaraan, mesin dan peralatan, kita terlalu kapitalis dan hak milik kekayaan tanpa batas, sehingga minimal kebutuhan minyak kita bisa diturunkan hingga 1 jt bph, sehingga tanpa cadangan minyak kita tidak perlu import.
3. Energi alternatif harus dirubah jadi aksi, cadangan batu bara Indonesia sangat besar, PLN adalah lembaga BUMN yg dapat kita paksakan untuk menghentikan penggunaan solar pada unit PLTD dan menggantinya dengan PLTU batubara, bahkan masih dimungkinkan tenaga panas bumi pada hampir semua kawasan gunung berapi kita.
4. Sudah saatnya Indonesia meninjau ulang kontrak migas dengan perusahaan asing, Negara harus mencoba memberdayakan perusahaan Nasional untuk itu, banyak ahli minyak dari ITB, Trisakti, UGM, dan Unhas dengan gelar Doktor yang dapat secara bertahap menghapuskan penjajahan ekonomi di negara kita tercinta.
5.Perusahaan asing seperti Chevron, Exxon, dll, saya pikir tidak kita haramkan menyedot mingas kita, tetapi harusnya lebih beretika, biaya produksi dan biaya cost revovery masih mungkin dihemat, adalah wajar jika biaya-biaya tersebut tidak lagi terstandarisasi tetapi ditetapkan berdasarkan kebutuhan riil. Auditor Pemerintah dan Publik harusnya memiliki hak untuk mengaudit biaya produksi dan cist recovery dalam rangka tranparansi, jika memang perusahaan tersebut bukan lintah yahudi.

BAGAMANA DENGAN SUBSIDI
1. Sy adalah orang yg sangat sosialis dan humanis, namun pada substansi subsidi, sy harus berani katakan itu kesalahan besar masa lalu. Subsidi harus dihapus secara bertahap, karena sangat memanjakan.
2. Subsisdi BBM misalnya memberikan peluang penyeludupan
3. Subsisdi juga tidak selalu jatuh kepada orang miskin, tetapi banyak orang kaya yg bermobil dan bermesin menikmatinya.
4. Negara harus memberlakukan harga pasar pada semua item produks barang dan jasa, adalah tidak mungkin pada era pasar bebas kita mengungkung diri dari dunia internasional.
5. Solusi UUD45 sangat tegas, bumi, air dan isi bumi dikuasai oleh negara bukan asing, termasuk migas, namun keuntungan yg begitu besar, ternyata hari ini terbukti diambil oleh perusahaan migas asing.
6. Jika seandainya negara menguasai bumi, air dan isinya sesuai pasal UUD45, maka negara kita akan menjadi konglomerasi terkaya, dari emas, hutan, batu bara, pertanian dll, namun kita slalu senang disogok perusahaan asing dikasi uang 1 tryliun untuk dana politik, padahal mereka untung ratusan tryliun.
7. Jika seandainya negara kita kapitalis dan menjelma menjadi konglomerasi seperti di atas, maka pasal UUD45 selanjutnya yg menjadi penyeimbang, negara juga dituntut sosialis yaitu pakir, miskin dan anak terlantar dipelihara negara, artinya uang yg ratusan triliun APBN 800 jika sumberdaya seperti migas dikuasai negara bisa menjadi 2000 Try, maka apalah artinya subsidi, apalah artinya BBM naik, negara akan mampu menjamin semua penduduknya yg pakir, miskin, anak yatim dan bahkan pengangguran. Ada 2000 triliun uang yg bisa dibagi untuk 200 jt penduduk bayangkan saja...
8. Saya kira para pendiri negara ini yg mungkin hanya SR menangis meratapi bangsanya yg bodoh, yg penuh dengan profesor, DR, MSc. Ir, namun tak mampu menginterpretasikan bahwa kita adalah negara republik yang kapitalis (bumi, air, isi dikuasai negara untuk kesejahteraan sebasarnya...) sekaligus sosialis (pakir miskin, anak terlantar dipelihara negara...kata dipelihara bukan hanya bermakna subsidi BBM, kita harusnya menuntut dipelihara bayangkanlah jika anda memelihara kucing di rumah), kemudian negara kita juga sekaligus dogmatis (negara menjamin setiap warganya untuk memeluk agama..) negara kita juga demokratis (setiap warga negara berhak dipilih dan memilih..), yaa kita terlalu bego menjadi generasi saat ini. Kita demo untuk harga BBM, harusnya kita demo untuk meluruskan sistem bangsa ini, sistem siapa yg berkuasa atas kekayaan negara ini, siapa yg seharusnya dipelihara negara ini... ya aku tak tau siapa yg bodoh sebenarnya...

the end of demo tukang beca..
the end of debat profesor linglung
the end of menjual harga diri
the end of pro perusahaan asing
the end of all ...

BIOGRAFI AL-FATH DIRAJA

MENGENAL RAKYAT YG BERNAMA aa / Al fAth

Contact Person lebih detail di email : fath_drj@yahoo.com

KELAHIRAN
aa, dilahirkan puluhan tahun yg lalu dari keluarga bersahaja, seorang kakek yg ceritanya turunan arab dan ibu indonesia. Ayah aa seorang pahlawan tanpa jasa, teman dari Mr. Umar Bakri dan ibu seorang pedagang yg mewarisi paham kapitas dari Karl Marx. aa, termasuk anak yg kurang beruntung karena hampir tidak dibesarkan bersama kedua orang tua namun terombang ambing ombak perceraian sejak usia 1.5 tahun.


PENDIDIKAN

aa, tidak memulai pendidikannya dari TK seperti anak kebayakan sekarang, masa kecilnya penuh dengan canda, tawa dan permainan tradisonal, walau hidup dimasa yg sulit ekonomi. aa memulai bangku sekolah dari klas 2 SD. Kemudian smp tanpa prestasi apa-apa, sore hingga malam berkumpul dan bermalam di surau untuk mengaji layaknya anak pesantren kuno. Di masa sma, aa beruntung bernasip menjadi lulusan terbaik 4, karena prestasi itu aa diterima di dua perguruan tinggi tanpa tes.

aa, menempuh s1 bidang land managemen, pada sebuah universitas negeri di celebes, masa-masa itu penuh nostalgia namun hampa karena tanpa cinta karena kesibukan, aa adalah seorang kolumnis kampus, pencinta alam ; SAR dan aktifis HMI sampai level sekum komisariat dengan jenjang intermediate trainang dan TOT. aa juga aktif di perkumpulan mahasiswa daerah sebagai ketua I, di himpunan jurusaan aa menjadi ketua umum dewan perwakilan mahasiwa, begitu juga di fakultas sebagai ketua umum badan perwakilan mahasiswa, dan pada era transisi pernah sebagai presidium dewan mahasiswa universitas. Karier kemahaiswaan aa juga seimbang dengan akademiknya, sebagai asisten dosen, inilah yg mengantar aa sebagai mahasiswa teladan III universitas bahkan kemudian bernasip menjadi wisudawan terbaik di periodenya dengan waktu study, 3 tahun 10 bulan.

aa, kemudia melanjutkan pendidikan beberapa tahun kemudian pada sebuah universitas negeri di tanah java terkenal, s2 konsentrasi mining management, aa bahkan selesai sangat cepat 1 tahun 4 bulan dengan prestasi cumlaude.

aa, akhirnya harus kembali menjalani bangku kuliah pada sebuah univesitas negeri di celebes, untuk program doktor s3 konsentrasi water management dan alhamdulillah dipaksa bisa selesai hampir genap 5 tahun.

PEKERJAAN

aa, memulai kariernya sebagai tenaga surveyor beberapa lama saja, kemudian menjadi aktifis LSM, bahkan pernah menjadi staf peneliti dan tenaga fasilitator pemberdayaan masyarakat. Disamping itu juga kadang-kadang sebagai konsultan lepas untuk land and mining planning, serta saat ini bersyukur sebagai abdi rakyat, serta mengerjakan jasa konsultan lingkungan dan inilah yang membuat asap dapur bisa mengepul. Saat ini aa sedang menginisiasi bisnis syariah, semoga bisa membantu kaum pakir, miskin dan yatim, amein...

CINTA

Berpacaran setelah sarjana, sangat terlambat, namun uraiannya untuk alasan privasi kolom ini disensor.... Trima kasih

PRINSIP
aa, adalah termasuk pekerja keras, bahkan aa hampir pernah menjalani semua jenis usaha kapitalis, namun hati nurani aa terlalu sensitif untuk itu. aa sangat menjujung prinsip sosialisme yg humanism, baik terhadap alam, sesama dan cinta.


#### not end ####

Sabtu, 17 Mei 2008

kala cinta bertahta

KALA CINTA PUTRI BERTAHTA

Karya Al-fath Diraja Airlangga

embun mencair
menatap Putri tersenyum

pipinya sintal
pertanda tidur pulas mimpi

Putri beranjak
menatap sapaan mentari

pagi itu bersahaja
tanpa awan dan hujan
putri menatap kekejauhan

siul suara burung melayu
patahkan ranting tua
daun pinus terserak

putri tersenyum
kala sang teman menggumam
cinta putri "tak ada"

putri menatap langit
bintang samar mengangguk
putri masih juga tersenyum

hati putri bersemi
mencari secercah cinta
cinta sang pangeran dusta

putri berlari disiang terik
mengejar cita tuk cinta
cita sang mahasiswi

cita tuk prahu harta
menuju tahta cinta
dilahan penuh kelam

Hari teruz mengalir
kringat tak lagi asin
namun penuh aroma cinta

sorepun singgah sejenak
membawa mega letih
putri tertunduk lunglai

sang radja tenggelam
memberi salam terkahir
puti tetap berharap

malam penuh purnama
diramaikan sorak binatang
putri bingung mencari sang pangeran

banyak pangeran menyapa
tak satupun bertahta
semua hanya maya

putri bertanya pada khaliq
mana "jodohku tuhan"
namun jawaban blum juga datang

putri kembali tenggelam
bersama selimut malam
bermimipi cinta bertahta

putri bangun tersentak
tatapannya penuh tanya
namun malam masih sunyi
hanya suara cecak menangkap nyamuk
putri terduduk diam

malam itu ditempat lain
sang pujangga duduk bertasbih
istiharah nya untuk sang putri

sang pujangga berbisik lirih
lewat suara angin malam
"putri cintamu bertahta"
putri berdiri dalam kelam malam
kakinya seakan melangkah sendiri
mengejar suara hati malam

fajarpun bersaksi mengirim pesan sang pujangga
"putri biarkan pangeran menjemputmu"
"putri kamu wanita cantik duduklah ditahtamu"
"yakinlah ia akan datang bsok dgn kereta emasnya"
"Pangeran itu kini sedang merakit cinta untukmu"

...... "the end of making love" .....

Jumat, 16 Mei 2008

Kerusakan Hutan?

Managing the Words Forestest

1. Perlunya Manajemen Hutan
2. Kerusakan Hutan
3. Manajemen Hutan Alam
4. Manajemen Hutan Tanaman

1. Perlunya manajemen Hutan



PENDAHULUAN

Hutan adalah suatu sumber ekonomi dan lingkungan berharga untuk pendukung sistem alami dan untuk meningkat;kan kesejahteraan manusia, tetapi di tahun terakhir skala dan intensitas penggunaan hutan sudah meningkat dengan tajam. Perlakukan hutan sebagai sumber daya dapat diperbaharui, melindungi hutan untuk memelihara biodiversitas, untuk mendukung kegiatan ekonomi berkelanjutna. Sebaliknya, pengrusakan hutan telah menyebabkan masalah ekonomi, sosial, dan kerugian lingkungan.

Pada tahun terakhir, isu yang berkenaan dengan kehutanan sudah menjadi lebih komplekss dan status hutan kini menjadi isu perdebatan utama di seluruh dunia. Media masa memberikan perhatian tentang kerusakan hutan dunia, terutama di daerah tropis, dan seluruh dunia terus menuntut perlindungan hutan alami. Pada waktu yang sama, ada perbedaan pendapat yang kuat antar antar negara-negara, masalah bagaimana hutan harus digunakan dan diatur untuk mendukung tujuan pengembangan dan konservasi lingkungan.

Masyarakat dunia saat ini menghadapi tantangan dalam keseimbangan antara pemeliharaan dan pengembangan dari hutan alam dan menjamin stabilitas dan integritas ekosistem hutan. Masyarakat mulai memperbaiki system penebangan hutan yang bersifat merusak, merenoisasi hutan dan meningkatkan sumber daya hutan.


EMPAT PERTANYAAN POKOK

1. Mengapa dan Hutan Pohon Penting?

Hutan meliputi hampir 30 persen dari total areal daratan bumi. Seluruh dunia terus memahami pentingnya pohon dan hutan untuk meningkatkan kesejahteraan manusi. Keduanya hutan tanaman dan hutan alami mempunyai manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan, dan hutan memegang peran penting di menyerap tenaga kerja, pembangunan ekonomi, pendapatan, dan devisa negara.

Hutan menjadi modal dalam pembangunan infrastruktur; hutan juga menyediakan lahan untuk produksi makanan. Hutan berperan untuk pembangunan ekonomi dengan menyediakan produk komersil ( sawnwood, lapisan kayu halus, batang kayu, dan bubur kayu), seperti halnya nonwood produk ( sekrup, buah-buahan, gusi/getah, serabut, getah, daging semak, dan kerajinan tangan). Hutan juga menyediakan material untuk agrikultur, bahan baku industri, dan bahan baku obat. Manfaat ekonomi yang timbul dari penggunaan non kayu bias menunjang kelestrarian hutan. Hutan juga sumber makanan penting, serabut, dan energi untuk masyarakat lokal. Hampir separuh populasi dunia, di negara berkembang, tergantung pada hutan untuk memenuhi barang konsumsinya.

Hutan juga adalah suatu komponen integral dari biosphere, membantu untuk menstabilkan sistem alami. Hutan berperan untuk keaneka ragaman biologi dan membantu menjaga kualitas udara, air, dan mutu lahan. Hutan mempengaruhi proses biogeokimia, mengatur aliran permukaan dan air bawah tanah, mengendalikan erosi lahan, mempengaruhi iklim lokal, dan mengurangi banjir dan sedimentasi. Sebagai penyerap karbon, hutan menyerap gas asam-arang (CO2) dari atmospir, mengurangi efek rumah kaca. Hutan mempunyai nilai estetika dan potensi untuk rekreasi. Hutan mempunyai " nonuse" atau " keberadaan", sebab orang menghargai hutan bahkan ketika mereka tidak menggunakannya langsung saat ini. Hilangnya manfaat lingkungan dari kerusakan hutan dapat dipertimbangkan dalam terminologi ekonomi terutama ketika dampaknya tidak dapat diperbaharui dan biaya perbaikannya sukar untuk diukur

2. What Is the Problem?

Tingkat kerusakan hutan dan tingkat penebangan hutan bersifat merusak. Dalam dekade terbaru, penebangan hutan terus meningkat sebab ada perangsang kuat untuk memanfaatkan hutan. Penebangan hutan akhir-akhir ini kini diperkirakan pada hampir 20 juta hektar tiap-tiap tahun, suatu wilayah yang hampir setara dengan luas Negara Inggris atau Uganda. Banyak negara berkembang menghadapi kekurangan fuel-wood akut, makanan hewan, kayu, dan produk hutan lain. Polusi udara mengancam di banyak negara-negara industri, banyak wilayah dingin dan tropis kekurangan hutan sama sekali.

Pada tahun 2000, populasi dunia akan meningkat 1 milyar, dimana kebayakan negara berkembang memberikan nilai peningkatan itu. Kenaikan pendapatan dan populasi akan meningkatkan permintaan untuk pasar akan hasil-hasil hutan dan jasa lainnya yang menyebabkan tekanan pada hutan ada, terutama sekali di negara berkembang.

Penyalahgunaan hutan mempunyai dampak ekonomi penting, dan membutuhkan biaya-biaya lingkungan lokal, nasional, dan implikasi global. Penghabisan hutan telah mengakibatkan hilangnya biodiversitas, perubahan iklim global, penurunan debit air, dan desertification. Di banyak negara-negara, hutan telah dipindahkan dan keaneka ragaman budaya terancam. Penebangan hutan, bersama-sama dengan kerusakan lahan, memperburuk permasalahan kemiskinan di wilayah pedesaan. Di samping mempunyai konsekwensi sosial dan lingkungan kurang baik, penebangan hutan menghasilkan kerugian ekonomi, mencakup suatu sumber daya tidak dapat diperbaharui, hilangnya keaneka ragaman hayati, dan penurunan produktivitas pertanian.


3. Apakah Penyebab dari Masalah?

Kegiatan ekonomi, seperti pertanian, peternakan, komersil, dan pengembangan infrastruktur, dirasakan sebagai penyebab langsung penebangan hutan. Tetapi faktor penyebab ini dikemudikan oleh kekuatan ekonomi, sosial, dan kekuatan politis. Kekuatan ini menjelma dalam kegagalan kebijakan dan pasar, tekanan populasi, dan kemiskinan.

Faktor sosial ( seperti, budaya, nilai-nilai, praktek tradisional, dan hak milik) mempengaruhi interaksi masyarakat dengan hutan, akses mereka ke hutan, dan penilaian mereka tentang hutan. Faktor ekonomi ( seperti, pasar, dan perdagangan) mempengaruhi produksi jasa dan barang-barang hasil hutan, peran dari sektor hutan dalam ekonomi nasional, dan distribusi pendapatan sebagai hasil aktivitas hutan. Faktor politik ( seperti, sistem politik dan proses pengambilan keputusan, pemilikan negara akan sumber alam, dan kebijakan publik) mempengaruhi tingkat intervensi dalam penetapan harga dan pengambilan produk hutan. Faktor eksternal ( seperti, permintaan dari negara-negara asing untuk permintaan sumber daya dan produk lokal juga mempengaruhi ekonomi dan kebijakan politik pengelolaan hutan.

Kelompok mempunyai suatu peran penting di kerusakan hutan, mempengaruhi kebijakan dan manajemen sumber daya hutan. Pada tingkatan lokal, tujuan untuk kesejahteraan manusia yang meningkatkan, orang-orang menggunakan hutan untuk tujuan komersil dan tujuan penghidupan, dan mereka membuka hutan untuk bertani dan peternakan. Pada tingkatan nasional, hutan sering dijadikan sumber devisa penting, penyerapan tenaga kerja, pendapatan pemerintah, dan untuk lahan pertanian, usaha pertambangan, atau industri. Sebagai jawaban atas masalah sosial dan tekanan politis, meningkatkan minat pengrusakan hutan untuk keuntungan ekonomi jangka pendek. Di tingkatan yang global, orang-orang menuntut produk hutan tetapi juga menuntut konservasi hutan untuk manfaat iklim dan biodiversas. Oleh karena tujuan yang berbeda dan nilai-nilai berbeda pada tingkatan, lokal, nasional, dan global menimbulkan konflik kepentingan.

Kebijakan pemerintah jarang menyediakan perangsang untuk manajemen promosi atau reboisasai hutan reboisasi untuk kelestarian hutan. Kebijakan pemerintah sudah mendukung kerusakan hutan jangka pendek. Banyak negara-negara justru membuat kebijakan alih fungsi hutan untuk pertanian, transmigrasi, perpajakan, dan kebijakan perdagangan. Pemerintah tidak mampu menyediakan kelangkaan lahan, sehingga masyarakat sekitar hutan berpindah ke wilayah hutan.


Di banyak negara-negara pemerintah menjadi pemilik utama hutan, sistem tradisional dalam akses masyarakat sekitar hutan dibatasi oleh pemerintah. Pemerintah tak mengindahkan hak tradisional masyarakat lokal dan kelompok suku hutan, yang menimbulkan permasalahan peka. Lebih dari itu, dalam banyak kejadian, pemerintah tak mampu untuk mengatur hutan yang secara efektif untuk mengendalikan kepemilikan tanah hutan menjadi milik publik. Masyarakat lokal kekurangan teknologi, kelembagaan dan undang-undang untuk pengelolaan hutan yang berkelanjutan.

Hutan dihargai rendah sebab dianggap noncommercial produk, seperti halnya jasa dan produk lingkungan dari hutan diperhitungkan. Oleh karena itu di banyak negara-negara kontribusi dari sektor hutan kepada ekonomi ( dalam kaitan dengan PDRB) dianggap kurang dibandingkan kontribusi sector lainnya seperti industri dan pertanian. Sebagai hasilnya pemerintah cenderung untuk memberikan suatu prioritas rendah kepada sektor hutan dan memberikan investasi relatif rendah dalam manajemen hutan, riset, dan program perkebunan. Oleh karena suatu efek interaksi manusia dan ekologis hutan, pemerintah dan sektor swasta sering mengabaikan manfaat lingkungan dari hutan.

Banyak program pengembangan dan konservasi hutan yang kurang didukung kelembagaan dan lemahnya undang-undang lemah. Institusi kehutanan seperti Departemen kehutanan departemen pada umumnya bekerja dalam suatu kerangka terlalu umum di mana terjadi tumpang tindih sasaran, kebijakan dan peraturan yang mendorong kearah konflik atas penggunaan lahan hutan. Pemerintah juga telah gagal;kan untuk membina masyarakat lokal, kelompok suku hutan, dan sektor swasta di dalam manajemen hutan yang jangka panjang.

Harapan akhirnya, hutan tetap utuh, terutaman hutan tropis sebagai fungsi lingkungan global baik sebagai biodiversitas dan pengaruh hutan pada iklim. Tetapi masyarakat dunia tidak punya kerangka tentang undang-undang dan kelembagaan maupun dana global khusus untuk pelaksanaan manajemen hutan yang berkelanjutan atau untuk membiayai manajemen pemeliharaan hutan dalam skala besar. Masing-Masing Negara mempertahankan hak kedaulatan untuk mengatur sumber daya hutan nya dan hingga kini tidak ada konsensus di dunia masyarakat pada penggunaan hutan yang berkelanjutan.



4. Bagaimana Memecahkan Masalah


Masyarakat dan negara menghadapi dua tantangan terkait dengan hutan: untuk mengatur hutan alami ada dan untuk memperluas sumber daya hutan melalui reboisasi. Perkebunan di wilayah hutan dan penanaman pohon diluar hutan ( seperti, wilayah perkotaan dan kebun) perlu dilakukan untuk menambah produk hutan dan jasa lingkungannya. Suatu pendekatan participatory yang mempertimbangkan kebutuhan local, menjadi prioritas nasional dan bentuk kerjasama internasional, adalah hal penting.

Transisi pengembangan hutan bisa menunjang antara keuntungan ekonomi jangka pendek dan pengembangan jangka panjang, harus dibuat. dengan penyeimbangan tujuan pengembangan dan konservasi, pengembangan bisa mendorong minat generasi sekarang dan yang akan datang di dalam penggunaan sumber daya hutan dan mata rantai konsumsi sesuai dengan kebutuhan masyarakat itu. Pengembangan hutan berkelanjutan juga memerlukan upaya penegntasan kemiskinan dan pertumbuhan populasi, terutama sekali di wilayah sumber alam dan lingkungan yang telah kritis.

Pemikiran ekonomi dan meningkatkan informasi ilmiah akan sangat menolong, tetapi akhirnya masing-masing negara harus memutuskan berapa banyak hutan untuk mengakomodasikan kebutuhan sekarang dan yang akan datang. Idealnya, semua hutan alami perlu tetap utuh, tetapi semua tetap utuh akan bersifat tak realistis karena kebutuhan dari banyak negara berkembang untuk pengembangan sosial dan ekonomi mereka. Kebanyakan negara-negara akan memilih untuk suatu solusi kedua, dengan mempertimbangkan hutan tetap utuh untuk berbagai penggunaan, menjaga keseimbangan pengembangan hutan dan konservasinya.

Masing-masing negara harus segera mengembangkan program pengembangan hutan tanaman dan hutan konservasi sendiri dan menciptakan perangsang untuk penggunaan sumber daya hutan yang berkelanjtan. Negara-Negara perlu memelihara hutan untuk masa depan dalam sebuah keputusan tentang penggunaan lahan hutan dan manajemen ekosistem hutan untuk berbagai penggunaan, termasuk kehutanan untuk tujuan komersil. Strategi penggunaan sumber daya hutan yang efisien harus dikembangkan dalam suatu konteks yang lebih besar.

Negara-negara harus mengembangkan kebijakan nasional menyeluruh tentang tata guna lahan, memperkuat sistem manajemen hutan untuk berbagai penggunaan, membatsi aktifitas masyarakat local pada sumber daya hutan yang bersifat merusak, menciptakan hak milik dan perbaikan undang-undang, mengevaluasi kegagalan kebijakan dan pasar, mengembangkan institusi kehutanan dan sumber daya manusia, melibatkan orang-orang lokal dan sektor swasta dalam manajemen hutan, mengadopsi teknologi ramah lingkungan, membatasi konsumsi barang-barang hutan, dan memperluas pendidikan lingkungan.


dunia Masyarakat dapat membantu negara-negara menstabilkan hutan alami dan berhadapan dengan perhatian lingkungan global. Masyarakat itu juga membawa " beban tanggung jawab" untuk mendukung negara berkembang di (dalam) pengarah mereka untuk menggunakan sumber daya hutan lebih secara efisien. May yang lampau dekade [adalah] masyarakat dunia telah meluncurkan sejumlah prakarsa penting ( seperti Fasilitas Lingkungan Yang global, Ilmu kehutanan Yang tropis Rencana tindakan, dan penetapan dari Yang internasional Kayu Tropis Asosiasi) itu menekankan pemeliharaan dan manajemen hutan bisa menopang, tetapi lebih perlu untuk dilaksanakan melalui/sampai kooperasi internasional.

Masyarakat dunia harus mengembangkan suatu strategi global untuk manajemen hutan dan untuk menyediakan pembiayaan untuk membantu negara-negara. Semua jenis hutan, tidak hanya hutan tropis basah. Masyarakat dunia perlu juga mendukung usaha riset untuk meningkatkan pengetahuan menyangkut ekologis, biologi, dan proses alam hutan ekosistem tropis. Riset tambahan perlu atas pemahaman efek phisik intervensi manusia di dalam hutan tropis dan menciptakan sistem manajemen hutan tropis yg bias berkelanjutan.

Pembiayaan untuk pemeliharaan ekologi ekosistem hutan dan untuk reboisasi terus meningkakan sepanjang tahun 1990. Pemeliharaan hutan mempunyai manfaat di seluruh dunia, masyarakat dunia perlu berperan langsung atau pun tidak untuk biaya-biaya dalam pemeliharaan hutan. Dalam rangka mencapai sasaran pengembangan htan yang berkelanjutan masyarakat perlu juga menyediakan perangsang, terutama bagi pemegang konsesi, mereka harus memberikan dana untuk reboisasi, seperti halnya untuk investasi dalam upaya konservasi dan program lingkungan yang mempunyai manfaat global dan regional penting. Sebagai tambahan, pembiayaan seperti (itu) dipergunakan untuk bantuan teknis, riset, pelatihan, penyelesaian inventaris hutan, pengembangan sistim informasi, dan proyek percobaan.

DIMENSI MASALAH KERUSAKAN HUTAN


Antar tahun 1850 dan 1950, sekitar 15 persen daerah berhutan rusak sebagai hasil aktivitas manusia. Wilayah berhutan dan Hutan Afrika Utara dan Timur Tengah 60 persen; Asia Selatan 43 persen; Afrika 20 persen; dan Amerika Latin, 19 persen (Houghton et al. 1987). Hilangnya hutan kemudian menjadi masalah di wilayah ini.

Pembabatan hutan menjadi penting karena sekitar 2.5 milyar penduduk dunia tergantung pada sumber daya hutan alami untuk banyak jasa dan produk lingkungan dan ekonomi. Faktor sosial, ekonomi, dan faktor politik menjadi pemicu eksploitasi hutan yang cepat dan memperhebat tekanan pada hutan tropis serta sebagian kecil pada hutan non-tropis. Antar tahun 1980 dan 1985 memperkirakan tingkat penebangan hutan tropis sekitar 0.6 persen, atau 11.4 juta hektar ( FAO 1988). Studi terbaru memperkirakan laju kerusakan hutan 20 juta hektar per tahunya.

Penebangan hutan adalah suatu istilah yang digunakan dalam konteks semua gangguan manusia yang dengan serius mengubah suatu hutan. Penebangan hutan menghabiskan hutan, untuk menyediakan suatu arus barang dan jasa. Semua penebangan hutan tidak selalu salah. Beberapa bagian hutan dapat dikonversi menjadi sebuah kota dan areal pertanian yang tidak sebanding dengan jasa hutan yang hilang. Beberapa hutan utama dapat diubah menjadi hutan sekunder atau agroforestry. Masyarakat akan memperoleh manfaat yang lebih jelas bermanfaat bagi dari perubahan ini. Meskipun begitu, penebangan hutan yang tersebar luas, pada akhirnya; akan gagal seperti penurunan debit air, perubahan iklim, dan biodiversas. Penebangan hutan yang berlebihan mengurangi kesejahteraan wilayah misalnya hilangnya manfaat sosial dan ekonomi.













PENYEBAB LANGSUNG

Penyebab utama penebangan hutan menjadi tak terkendalikan adalah perluasan areal pertanian, padang pengembalaan, kayu bakar, penjualan kayu, dan pengembangan industri dan infrastruktur.

1. Perluasan Areal Pertanian

Penghidupan Petani di negara berkembang menyebabkan lebih dari 60 persen hutan tropis hilang setiap tahun. Perluasan areal oleh petani penggarap di Amerika Latin telah menyebakan 35 persen kerusakan hutan. Penebangan hutan tropis misalnya digunakan untuk peternakan lembu. Hutan Amazon, sekitar 70 persen area hutan yang alami dikonversi. Di banyak Negara bagian Amerika, pelanggaran perluasan areal pertanian menjadi yang penyebab utama konversi hutan. Sebagai tambahan, pemburu dan peladang berpindah menjadi penyebab utama penurunan kualitas hutan dan menghalangi regenerasihutan.

2. Padang pengembalaan

Penyebab penting lain kerusakan hutan tropis. Padang pengembalaan menjadi penyebab penebangan hutan yang utama di Afrika Utara, timur tengah, Asia Selatan Asia, dan Afrika. Data Statistik menunjukkan suatu hubungan antara peningkatan penggembalaan ternak dan kerusakan hutan. Masyarakat di Negara tersebut tergantung pada ternak sebagai sumber pendapatan dan makanan utama mereka.

Lebih dari itu, usaha peternakan dengan memagari padang rumput sering bertentangan dengan kehidupan hewan liar yaitu pencegahan migrasi musim dingin binatang. Hal ini memaksa hewan liar kemudian dipelihara dalam padang pengembalaan. Hal ini menyebakan daerah hutan dijadikan areal pengembalaan untuk memaksimalkan pendapatan jangka pendek. Padang pengembalaan mempercepat penurunan kualitas padang rumput dan mengurangi kapasitas dari hutan untuk pulih, ketika padang rumput tiruan menjadi tandus.

3. Kayu Bakar

Hampir 3 milyar orang di seluruh dunia tergantung pada kayu, terutama dari hutan alami dan pohon di luar hutan sebagai sumber energi rumah tangga. Di negara berkembang, rumah tangga terutama dari keluarga miskin, sering membelanjakan 20-30 persen pendapatan mereka untuk membeli kayu bakar.

Kayu baker berperan dalam kerusakan hutan terutama di daerah pertanian. Permasalahan pengambilan kayu bakar terutama sekali mempengaruhi di Afrika timur, dan Himalayan meliputi dataran tinggi Andean, dan Amerika Tengah dan Karibia dimana populasi penduduk memaksa penggunaan kayu baker tidak efisien. Kecenderungan ini memaksa kerusakan sumber daya hutan .


4. Penebangan Kayu Ilegal

Setiap tahun, 4 - 5 juta hektar hutan dibuka untuk tujuan komersial produktif ( FAO 1982). Di Afrika tentang 20 persen hutan tropis produktif pada tahun 1985, sedangkan di Asia dan Amerika Latin sekitar 19 persen dan 9 persen. Hutan tropis Amerika Latin menjadi paling sedikit yang dipengaruhi oleh pembukaan hutan komersil, tetapi batang kayu produksi tumbuh dengan cepat di Asia dan Afrika Hutan dihabiskan kayunya untuk tujuan komersil. Kerusakan hutan secara langsung disebabkan oleh tingkat kepandaian memilih pohon kayu yang tepat untuk ditebang. Efek tidak langsung membuka area hutan ke penghidupan masyarakat sekitar hutan.

5. infrastruktur dan Pengembangan industri

Pembangunann jalan, proyek listrik tenaga air, dan pertambangan mineral, sering memerlukan dampak lingkungan. Proyek infrastruktur sering dilakukan tanpa penilaian dampak lingkungan terhadap konversi hutan, Industrialisasi juga dapat berperan menyebabkan penebangan hutan. udara industri telah merusakkan area hutan .

DASAR PENYEBAB

Penyebab penebangan hutan tak terkendalikan disebabkan oleh kegagalan kebijakan dan pasar bebas, pertumbuhan populasi dan kemiskinan pedesaan, dan kondisi ekonomi. Kebijakan pajak sering menjadi penyebab pengelolan hutan yang tidak sesuai dan tidak efisien penggunaanya. Banyak dari ini penyebab kerusakan hutan di sebabkan oleh kondisi sosial dan ekonomi keluarga.




Pasar dan Kegagalan Kebijakan

Kebijakan publik adalah faktor penentu bagaimana hutan digunakan dan diatur. Kekeliruan pasar sbb :

- Biaya perbaikan hutan, merupakan akibat dari memenuhi kebutuhan hidup dan biaya social ;
- Masalah antara nilai produk hutan dan jasa lingkungan dari hutan yang tidak diperdagangkan;
- Kompliks horizontal anata penduduk sekitar hutan dan kebutuhan generasi yg akan datang, dimana terjadi ekspoitasi hutan sementara perlu konservasi untuk kelangsungan hutan;
- Hak milik, membuka peluang ijin pemanfaatan hutan;

Penebangan hutan lebih dari 80 persen hutan tropis untuk peruntukan multisectoral, dan sering juga berlawanan kebijakan. Sering kali kebijakan public mendorong penebangan hutan untuk tujuan jangka pendek. Kebijakan public sering tidak mampu mendorong manajemen hutan yang berekelanjutan untuk mengembangkan reboisasi. Kebijakan, hutan diperlakukan sebagai suatu sumber daya yang ovem akses, sering berdampak kerusakan dan hilangnya hutan.

Kebijakan ijin pembukaan hutan mengakibatkan penggunaan hutan tidak efisien, yang umumnya kurang dari 20 tahun, lebih pendek dibanding periode regenerasi alami suatu kayu 50 tahun. Kebijakan royalti, pembayaran lisensi, dan pajak reboisasi secara khas sangat sedikit dibanding biaya nyata perbaikan hutan (stock kayu). Sebagai tambahan, pemerintah negara-negara eksportir kayu tidak mampu untuk mengumpulkan mengembalikan 50 persen dari biaya perbaikan hutan melalui pajak dan royalty, dan hanya menimbulkan kerugian lingkungan dan ekonomi.

Kebijakan meningkatkan pajak atas batang kayu ekspor untuk melindungi industri pengolahan kayu sering mendorong pemborosan produksi batang kayu. Di Indonesia, sebagai contoh, indutri kayu bisa mempunyai biaya usaha 2.5 kali lebih tinggi dibanding negara-negara Asia lain dan namun masih menguntungkan dari segi biaya pajaknya. Oleh karena itu, industri kayu di Indonesia memerlukan 15 persen lebih batang kayu dibanding di tempat lain ( Gillis 1990).

Kebijaksanaan harga, pajak, pengeluaran untuk pemerintah, dan biaya lain mendorong investasi di sektor pertanian, energi, pertambangan, industri, dan transportasi. Dorongan perluasan pertanian di negara-negara tropis mempunyai dampak yang besar pada hutan. Kebijakan seperti itu yang mengatur harga dan pajak, untuk subsidi kredit ke peternak dan petani dari hasil hutan alami. Memelihara hutan alami dari biaya perluasan pertanian, tetapi penggunaan hutan Negara untuk budidaya pertanian yang tak teratur dengan alas an ekonomi akan diragukan akan berdampak lingkungan.

Kebijakan tata guna hutan akan meningkatkan reboisasi dan penggunaan hutan, tetapi meningkatkan pasar dan externalitv biaya ( seperti penggantian dan biaya-biaya lingkungan sebagai hasil pemanenan hutan) yang dihubungkan dengan penggunaan hutan tidaklah sepadan dengan konsekwensi dampak global.

Kebijakan agrikultur sudah menciptakan dorongan untuk penebangan hutan. Komercialisasi pertanian telah secara khas mendorong usaha monokultur tanaman perkebunan ekspor pada dataran rendah di Scotlandia yang subur dan memindahkan petani tradisional ke wilayah hutan tropis atau pegunungan lebih peka erosi. Perkebunan skala besar menyebakan pengurangan produktivitas agrikultur, meningkat kerusakan hutan, dan memperburuk kemiskinan pedesaan.

Sebagai contoh, untuk mengurangi tekanan sosial yang timbul dari pertambahan populasi pedesaan, Brazil memulai suatu program penyelesaian perbatasan lahan di Amazon dengan penebangan hutan diperkirakan 24 persen tutup hutan alami.

Penggunaan lahan skala luas, seperti peternakan lembu dan agrikultur diorientasikan ke arah peningkatan ekspor produksi. Kebijakan Intervensi ini sudah cenderung untuk merugikan petani kecil. Program irigasi besar-besaran dengan penekanan utama pada pertanian dan kebijakan untuk mendorong investasi/modal, mengakibatkan konversi hutan dan penebangan hutan tak terkendalikan. Pada akhirnya pemaksaan untuk menghasilkan devisa Negara mendorong kerusakan kembali lahan dan tidak mendukung pembangunan berkelanjutan.

Penebangan hutan juga dipercepat oleh kebijakan pemerintah yang tidak bisa mengendalikan kepemilikan public terhadap hutan Negara. Sistem tradisional dalam hutan adapt kemudian dibagikan menjadi milik pribadi. Penyewa hutan secara khas mencoba melakukan klaim kepemilikan pribadi mereka lahan public. Perundang-undangan, tidak hanya mendorong pembukaan hutan hutan untuk hak kepemilikan pribadi dalam area hutan tetapi juga mengharuskan penduduk sekitar hutan memiliki hak-hak untuk lahan yang dikuasainya.


Pertumbuhan Penduduk dan Kemiskinan Pedesaan

Pertumbuhan penduduk yang cepat sering memperhebat tekanan untuk mengkonversi area hutan ke penggunaan lain, seperti halnya untuk memanfaatkan hutan untuk tujuan jangka pendek. Bahkan di banyak negara ini, isu politis dan isu sosial (distribusi kepemilikan lahan, kebijakan agrikultur, dan kemiskinan). Keluarga miskin mempunyai banyak anak-anak sehinga membutuhkan kebutuhan rumah tangga. Dampak pertumbuhan populasi cepat menyebabkan eksploitasi sumber alam untuk kebutuhan makanan rumah tangga dan energi, dan memiliki kecenderungan ke arah penebangan hutan.

Kemiskinan adalah faktor yang utama yang menyebakan kerusakan hutan. Mayoritas masyarakat miskin pedesaan masih percaya pada daerah berhutan dan hutan untuk penghidupan dan pendapatan. Banyak masyarakat pedesaan tradisional mengembangkan pola penggunaan sumber daya yang berkelanjutan, banyak orang yang lain dipaksa, untuk memanfaatkan hutan yang berkelanjutan untuk keuntungan jangka pendek.

Status Ekonomi

Capaian ekonomi lemah, mengkombinasikan dengan hutang luar negeri yang tinggi, menjadi pemicu untuk memanfaatkan sumber daya hutan untuk keuntungan jangka pendek. Hutang luar negeri tumbuh dari sekitar $ 570 milyar di 1980. Duabelas negara-negara yang berhutang luar negeri 45 persen dan dikembalikan dari 70 persen penebangan hutan tahunan global.. Hutang melayani kebutuhan untuk membayar hutang, dengan ekspor produksi hasil hutan. Oleh karena itu, untuk menghasilkan devisa telah mendorong praktek gagalnya pembangunan berkelanjutan. Kebanyakan negara berkembang sudah mengadopsi kebijakan yang mendorong kearah konversi hutan ke pertanian untuk ekploitasi hutan untuk tujuan jangka pendek.

PERHATIAN

Perhatian Ekonomi

Sebagai pengalaman di banyak negara berkembang, konversi daerah berhutan dan hutan menyebabkan kerugian ekonomi pada skala lokal dan tingkatan nasional. Sedimentasi sebagai hasil aliran permukaan lahan dari pembukaan hutan pada kelengan yang tinggi berpotensi menyebabkan banjir tahunan.

Sedimentasi di lembah sungai dihubungkan dengan batas air, akibat penebangan hutan menggangu pengembangan listrik tenaga air dan membahayakan budidaya perikanan. Konversi hutan tropis Amazon Brazilian, sebagai contoh, secara khas mengakibatkan kerugian lebih dari $ 500 untuk penjualan kayu dan hilangnya biodiversas ( Browder 1989). Ketika kayu tropis dipanen untuk ekspor, pendapatan bahwa pemerintah dari perusahaan banyak lebih rendah dari seharuslah. Di negara Pilipina, pendapatan pemerintah dari memanen batang kayu hanya16 persen dari harga kayu suatu kerugian melebihi $ 850 juta antara tahun 1979 dan 1982 ( Repetto dan Gillis 1988).

Masalah Sosial

Penebangan hutan skala luas mempunyai konsekwensi sosial serius, terutama untuk masyarakat sekitar hutan masyarakat miskin pedesaan. Pemilikan negara, dan penolakan hak hutan adapt di banyak negara-negara. Masyarakat local suku pedalaman telah digeser petani, pengusaha peternakan, dan tukang tebang kayu komersil. Masalah sosial tentang budaya local telah hilang, yaitu tentang hilangnya pengetahuan jenis hutan tradisional dan sumber daya yang mempunyai nilai ekonomi penting yaitu hubungan individu terhadap hutan dan rendah hati. Pertambahan penduduk memaksa perluasan agrikultur, telah mendorong kebutuhan kayu bakar.


Perhatian Lingkungan

Penebangan hutan skala luas telah menghilangkan biodiversitas, perubahan iklim, ancaman kepada budaya local, penurunan debit air, dan kekeringan. Oleh sebab itu efek lingkungan telah tersebar luas dan sering jauh sekali letaknya dari daerah yang mengalami penebangan hutan. Sebagai gantinya, beberapa pola aksi bersama, dorongan pasar, atau peraturan biasanya diperlukan untuk mengurangi permasalahan lingkungan ini.

Hilangnya Biodiversas

Walaupun hutan rendah tropis menutupi hanya 9 persen dari permukaan bumi, tetapi merupakan tempat habitat utama sumber daya biotik , yang berisi 1.4 juta jenis dari keseluruhan dunia biota. Antara 40 dan 60 persen dari jenis tropis di beberapa negara-negara adalah endemic. Kerusakan area hutan dapat menghapuskan keseluruhan jenis. Sekarang, diperkirakan 10,000 jenis telah punah setiap tahun oleh karena penebangan hutan tropis ( Wilson 1988). Banyak dari jenis tersebut mempunyai nilai ekonomi sebagai sumber makanan penting, obat/kedokteran, bahan genetika untuk bibit hybridisasi, dan produk yang dapat dipasarkan lainnya
.

Perubahan Iklim

Karena hutan membantu dalam mengatur temperatur secara global dan distribusi awan, penebangan hutan mempengaruhi perubahaniklim. Lebih dari itu, sekitar 55 persen dari stock karbon organic bumi disimpan di hutan tropis dalam bentuk biomass ( Vhitaker dan Persamakan 1973). Pengurangan dari hutan dunia, sebagian besar merusak fungsi atmosfer menyerap karbon dioksida, dan pembakaran hutan juga melepaskan biomass berupa karbon dioxsida. Hutan tropis membakar 5.6 milyar karbon dari penggunaan bahan bakar fosil, yang sebagian besar dari negara-negara yang industri. Di tahun terakhir, efek rumah kaca dalam atmospir yang global bisa dihubungkan dengan terbakar hutan tropis lebih berat dibanding penggunaan bahan baker fosil.

Perubahan lahan menjadi padang pasir; menyebabkan hilangnya produktivitas biologi penurunan kualitas lahan daratan, dan erosi dan intrusi air laut. Konsekwensi ini meliputi suatu pengurangan fauna dan flora, hilangnya kapasitas untuk mempertahankan air, mengurangi kesuburan lahan, dan erosi air dan kerusakan lahan lainnya, khsusnya pada lahan kering dan semi kering.

Penurunan Debit Air

Banyak orang di negara berkembang tinggal di desa yang tergantung pada air dari hutan. Hilangnya hutan berperan dalam penurunan debit air, Terus meningkat penebangan hutan di Himalayan telah menyebabkan masalah ekonomi serius, dan kerugian lingkungan di India utara, Negeri Nepal, dan Banglades. Di Amazonia, diperkirakan dari semua curah hujan hilang oleh evapotranspiration yang besar.

Penebangan hutan mengganggu silklus hydrological lokal dan menyebabkan penurunan kualitas lahan melalui perubahan temperatur permukaan yang naik. Penebangan hutan skala luas dengan cepat mengganggu ecosystems, mendorong ke arah kerusakan lahan dan mengurangi produktivitas pertanian. Kebijakan sering mendorong penebangan hutan kea rah yang bersifat merusak.




RINGKASAN

Penebangan hutan meningkatkat, walaupun tidak semua berdampak negative. Biaya perbaikan lingkungan dihubungkan dengan penebangan hutan bersifat merusak, perluasan pertanian, pengembalaan, kayu bakar, penebangan kayu komersil dan pengembangan industri dan infrastruktur berperan untuk penebangan hutan tak terkendalikan. Tetapi penyebab ini dikemudikan diperparah oleh oleh pertumbuhan penduduk, kemiskinan pedesaan, kegagalan kebijakan dan pasar, dan damapk pembangunan.

Modifikasi sistem alami dalam interaksi manusia dengan lingkungan dipengaruhi oleh factor ekonomi dan factor social politik. Pada kasus kehutanan, faktor sosial membentuk tekanan demografis pada sumber daya hutan, hak milik dan akses ke sumber daya hutan, dan sikap ke arah penggunaan hutan untuk kepentingan ekonomi. Kekuatan ekonomi mempengaruhi hutan dijual dan digunakan untuk kebutuhan penghidupan. Sektor hutan adalah dalam ekonomi nasional banyak dipengaruhi campur tangan pemerintah dalam penetapan harga. Kebijakan sistem pengelolaan hutan menentukan apakah ada penggunaan sumber daya hutan yang berkelanjutan atau penebangan hutan bersifat merusak.

MANAJEMEN HUTAN ALAM

Ini salah satu dari bayak paradox hutan tropis selama 30 tahun telah mengalami kenaikan untuk berbagai kepentingan public, namun mengalami kemunduran dalam aplikasi manajemen yang sistematis. Pada periode yang sama telah terjadi peningkatan riset pada biologi hutan tropis, namun sangat sedikit riset menghasilkan perbaikan manajemen praktis. Kepentingan publik di negara-negara industri telah mengelola hutan basah, sekalipun begitu penebangan hutan dan penggunaan lahan menjadi permasalahan di hutan yang kering.

Permasalahan besar, yaitu tingkat penebangan hutan telah cenderung untuk melebihi kapasitas kepentingan pembangunan nasional dari negara berkembang sehingga menyebakan degradasi hutan. Beberapa faktor penting dalam konversi hutan ke peruntukan lain menyebabkan degradasi hutan alami di luar kendali negara. faktor Penting lain di luar kawasan hutan seperti tingkat pertambahan penduduk.

Pertimbangan yang umum negara-negara tropis untuk perencanaan peruntukan lahan dan penyebab kerusakan hutan sehingga perlu manajemen hutan yang efektif. Bab ini focus pada factor-faktor yang penting untuk manajamen hutan yag efektif.

Sedikit data yang dapat dipercaya tentang tingkat dan status sumber daya hutan, sehingga departemen kehutanan tidak bisa menyajikan dan melindungi hutan baik produk dan jasanya.

Klaim rimbawan adalah sering tidak dapat dibuktikan, Departemen kehutanan kadang-kadang mengendalikan penurunan hutan melalui peraturan penggunaan hutan lokal telah digantikan dengan pemerintah pusat. Lagipula, manajemen sumber daya hutan negara berkembang yang mencakup Etiopia, Liberia, dan Thailand, telah dengan jelas lebih baik daripada manajemen di (dalam) negara-negara lainnya.

Aturan pemerintah sebagian besar Departemen Kehutanan sangat utama dengan staff yang tinggal dilapangan paling sedikit dikenal kepada masyarakat. Beberapa negara-negara, mengetahui bahwa tidak mungkin masyarakat tradisional dan kebun mereka diluar hutan memiliki batas yang jelas. Peningkatan penduduk dan perubahan di daratan membentuk daerah kantong. Sebagai contoh, daerah kantong berdasar pada modal karena tanah pertanian untuk bahan pokok tanaman menjadi terlalu kecil sekali ketika tanah pertanian dijadikan tumbuhan.

Sebagian besar Departemen Kehutanan berorientasi peladang brepindah pada periode meningkatnya kesukaran pemeliharaan hutan dimana tanah hutan di hadapan permintaan untuk tanah pertanian. Departemen Kehutanan sudah sering membubarkan para peladang berpindah, menyetujui akses istimewa ke jasa dan barang-barang hutan. Ukuran pemerintah untuk membatasi penggunaan hutan oleh masyarakat pedesaan, untuk hutan berkelanjutan. Ketika suatu klaim otoritas pemerintah (di) atas sumber daya sangat melebihi kapasitas managerial pemerintah.

Di negara-negara Amerika latin belum dicoba untuk menciptakan program Departemen kehutanan untuk peladang berpindah. Tetapi negara-negara itu telah menetapkan hutan taman nasional dan hutan konservasi biologi cadangan dan mempunyai banyak permasalahan bagi peladang berpindah di India dan Myanmar (Burma) lebih dari suatu abad yang lalu.

Pemerintah negara-negara tropis akan semakin banyak disubukan dengan permasalahan kaum pendatang. Pertambahan penduduk dan para pendatang menyebabkan beberapa kota melakukan perluasan sekitar 6 pesen. Pertumbuhan penduduk meningkatkan kebutuhan makanan di kota yang akan tergantung pada efisiensi produksi pertanian. Sebagai tambahan, pemerintah akan mengimbangi ekonomi pasar ekspor pertanian untuk memenuhi permintaan pasar. Akan ada tekanan untuk mengkonversi dataran rendah di Scotlandia ke area komersil pertanian untuk menyediakan kebutuhan kota dan pasar ekspor, dan hutan alam dipandang sebagai sumber bahan baku untuk industri kayu dan air bersih perkotaan.

Organisasi kehutanan dan pertanian bangsa-bangsa (FAO) dan Kelompok teknis dari Kelompok Konsultatif untuk Riset Agrikultur internasional (CGIAR), memperikran sekitar 10 juta hektar lahan baru dibutuhkan tiap tahun untuk mendukung peningkatan populasi dunia untuk pemenuhan gizi dan pangan mereka. Kebanyakan lahan baru ini akan dikonversi dari hutan, sebab relatif tak bias dilakukan. Sebagian orang mengakui bahwa sebanyak 85 persen lahan yang sedang dikonversi dari hutan ke pertanian tidak dicatat secara sistematis. Klaim ini dibuktikan dibuktikan oleh riset (IUCN) melalui survei kondisi hutan melengkapi survey FAO tahun 1990 tentang survei hutan global.

Konversi yang tercatata dan tidak, sekitar 10 juta hektar, suatu area yang pada hakekatnya lebih besar dibanding konversi untuk produksi kayu. FAO memperkirakan penggundulan hutan di daerah hutan tropis sekitar 17.8 juta hektar, dan hanya 10 juta hektar yang mempunyai produktifitas untuk produksi makanan. Hal ini yang mendorong perhatian lembaga internasional seperti WWS-US, WWF dan IUCN untuk memperbaiki manajemen lahan dalam strategi konservasi untuk produksi.

Forester harus mendukung pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan urban. Forester harus memastikan:
- argumentasi mereka untuk manajemen hutan mempunyai suatu dasar;
- Metode pengelolaan harus sesuai dengan kebutuhan;
- Dan dukungan kelembagaan yang baik.

Ini penting bagi Departemen kehutanan departemen sebagai pengelola hutan untuk tujuan nasional. Industri dan perusahaan kayu juga mempunyai suatu kepentingan untuk menjamin bahwa bahan baku mereka diatur sewajarnya, tetapi harus tidak diijinkan untuk mendominasi pengambilan keputusan tanpa control negara. Petani pada pinggiran hutan harus memberi penghargaan atas jasa dan barang-barang hutan dalam manajemen hutan alam. Semua orang yang juga menerima dampak dari hutan juga harus memperhatikan nasib hutan. Beberapa pejabat dan pemerintah Negara berkembang' negara-negara tidak memperhatikan masalah ini.

Di dalam pengembangan argumentasi untuk manajemen hutan, skala dan. variasi permasalahan harus diperhatikan. Bagian berikut menguraikan secara singkat tingkat dan jenis hutan tropis dalam hubungan dengan manajemen hutan, dan tentang barang-barang dan jasa hasil hutan yang perlu dilestarikan


LUAS DAN VARIASI HUTAN ALAM TROPIS


Tingkat pertumbuhan dan variasi jenis spesies merupakan pendorong pengunjung asing ke hutan tropis alam, menjadikannya manajemen hutan menjadi penting. Jika dibandingkan dengan hutan wilayah lain, maka, hutan tropis memiliki struktut lebih kompleks, variasi dalam 1 hektar, serta relative tidak dapat diperkirakan pertumbuhan dan umur pohonnya.

Sekitar dua pertiga spesies dunia atau 250.000 spescies tanaman ada di tropis basah. Keaneka ragaman tumbuhan nampak paling tinggi di hutan basah pada lahan subur muda dalam topografi berlereng seperti keserongan barat Dari Amazon dan bagian pedalaman Borneo. Misalnya di Yanamomo Peru terdapat 283 jenis pohon dengan diameter lebih 10 cm.

Keberadaan banyak jenis binatang dan tumbuhan menunjukkan bahwa hilangnya hutan tertentu akan mengakibatkan hilangnya biodiversitas. Spesimen yang dikumpulkan oleh ahli tumbuhan dan penjelajah dari beberapa tempat hutan tropis belum pernah diingat kembali sebab lokasi sudah hilang tutup hutan mereka. Sebagai contoh, koleksi Burkilliodendron album dari bukit batu gamping bukit Parak Malaysia dan tidak mungkin untuk diulangi sebab bukit sudah dutambang untuk batu jalan. Pengurangan hutan alami di Inggris telah menyebabkan sekitar 4 persen bagian Negara telah kehilangan tumbuhan dari hutan alaminya.

Beberapa hutan lembab tropis tidaklah memiliki keanekaragaman yang seragam. Lahan tidak subur atau topografi sulit mennyebabkan beberapa spesies menjadi langka. Beberapa spesies hutan menyesuaikan diri dengan - gangguan seperti angin topan atau angin puyuh atau tanah longsor. Toleransi garam pada hutan bakau menyebabkan spesies menyesuaiakan diri pada pantai tropis berlumpur. Perubahan iklim menyebabkan pengurangan dramatis beberapa spesies.

Walaupun barangkali separuh area hutan tropis telah hilang sejak permulaan abad ini, namun masih tersisa sekitar 1,800 juta hektar secara keseluruhan. Sepertiga adalah hutan kering dan dua pertiga adalah hutan basah. Sekitar 400 juta hektar masih tertutup hutan lebat. 250 juta ha berada di Malasyia dan 180 juta ha berada di Afrika barat dan tengah. Sekitar 80% hutan tropis berada di 20 negara.

BARANG-BARANG DAN JASA DARI HUTAN ALAM

Hanya sedikit negara-negara tropis memberikan perhatian yang besar terhadap produk hutan alami mereka. Kamus Kamus ekonomi tentang Produk India disusun sejak tahun 1884 dan yang diselesaikan di pada 1893,dengan sedikit perubahan. Tujuh tahun kemudian Kamus Dari produk ekonomi Semenanjung Malaysia diterbitkan di 1935 setelah proses penyusunan selama hampir 14 tahun.


Pentingnya produk ini sekarang menjadi indikator potensi dari hutan dengan beribu-ribu jenis kekayaan alam baik yang kurang dikenal atau yang tak dikenal. Survei India, masih jauh dari lengkap. Sedikit perusahaan tertarik untuk mengumpulkan secara langsung dari status spesies liar untuk menggunakan produk yang alami.


Walaupun beberapa produk hutan sekarang ini yang sedang dipuji manfaatnya berkenaan sebagai bahan farmasi mereka, tetapi penggunaan produk hutan lain juga mengalami kemunduran dari waktu ke waktu. Mebel dari rotan dan Bambu kini semakin kurang diminati di negara-negara. Kemudian Amerika dalam perang Vietnam menyebabkan pembuatan mebel dari rotal. Nilai perdagangan internasional produk rotan mendekati US $ 100 juta tiap-tiap tahun. Pengumpulan dan pengolahan rotan adalah membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Oleh karena itu, negara-negara produsen melakukan riset pada metoda dan penanaman rotan dan memproses, tetapi usaha riset di tahun 1980s secara relatif kurang berpengaruh terhadap nilai jual.

Peningkatan manfaat dari jasa hutan alami, telah dihargai sejak Greeks dan Cina memperlihatkan sejak 2000 tahun menyebabkan erosi lahan dan kemunduran hasil panen akibat penebangan hutan. Pertambahan populasi kaum urban membutuhkan lebih banyak, jasa dan barang-barang hutan tiap-tiap orang dibanding masyarakat pedesaan. Pada masa datang, air untuk tujuan industri dan domestik mungkin akan menjadikan peran hutan paling utama.

Ke tiga macam jasa dan barang-barang hasil hutan utama diringkas sebagai berikut:

1. Produk Utama

a. Kayu ( batang kayu, ranting, akar)
b. Poles
c. Kayu bakar ( arang),
d. Obat-obatan
e. Rotan dan Bambu,
f. Makanan ternak
g. Bahan atap

2 Produk lainnya

a. Ekstrak (pewarna, serabut, getah, farfum, minyak, damar, lak, lilin);
b. Bagian-Bagian dari binatang dan tumbuhan untuk dekorasi, obat dan sihir;
c. Makanan (semak, bunga, buah, madu, daun-daun, benih, rempah-rempah).

3. Jasa

a. Pengurangan polusi naik di udara;
b. Fungsi siklus air bersih
c. Mengurangi erosi tanah oleh air dan angina
d. Mengurangi laju aliran dan sedimentasi
e. Perlindungan unturi bahaya perubahan temperatur tinggi dan rendah, tiupan pasir, wabah dan parasit;
f. Perlindungan ecosystems dan konservasi untuk biodiversitas, rekreasi dan Turisme.

Walaupun banyak Departemen kehutanan membuat teori, untuk mengatur hutan, dan tetapi sangat sedikit, mulai yang bekerja untuk mendata koleksi produk hutan mereka. Mereka memiliki estimasi lemah terhadap nilai-nilai holistic dari hutan. Mereka cenderung untuk menghargai hutan tropis pada terminologi pajak yang diukur pada produk. Pengamatan ini memberi kesan bahwa ahli kehutanan tidak mampu untuk membuat kalkulasi ekonomi yang akan membuat manajemen hutan lebih baik.


PERTIMBANGAN UNTUK MANAJEMEN HUTAN

Pertimbangan utama untuk manajemen hutan alam adalah barang-barang dan jasa yang berkelanjutan yang diperlukan oleh manusia agar dapat diproduksi lebih efisien dan efektif. Ini tidak membantah bahwa tiap-tiap hektar hutan secara mampu untuk memproduksi secara efisien keseluruhan cakupan jasa dan barang-barang potensi hasil hutan. Sektor yang mandiri telah menekankan terus pentingnya informasi isi pada atas hutan, ini argumentasi moral bahwa jika kita tidak mengetahui apa yang ada di dalam hutan, maka kita perlu berhati-hati, untuk kepentingan masa depan.
Tugas manajemen mendamaikan antara pilihan masa depan dengan kebutuhan saat ini untuk petani, industri hutan, dan peruntukan lain yang berminat pada lahan hutan, barang-barang, dan jasa.

Banyak strategi tradisional untuk memanen sumber daya yang intensif dan kemudian bergerak ke area yang lain melalui proses siklus alami. Di terminology evolusi, ini adalah suatu strategi menguntungkan bila ada dampak negative diabaikan.

Manajemen produktif adalah mungkin dan mungkin. Adalah suatu fakta hutan itu dapat me-reproduksi diri mereka dan bahwa, dalam ketidakhadiran intervensi manusia, hutan akan mendominasi semua kawasan kecuali lokasi yang paling kritis. Masalah pokok bukanlah apakah manajemen produksi adalah mungkin tetapi bagaimana manusia menuntut hutan dapat me-rekonsiliasi dengan berbagai kemungkinan biologi.


Secara konvensional, pemerintah bersama pimpinan suku lokal, yang berkuasa seperti pendeta atau bangsawan, melakukan pemberdayaan masyarkat untuk memberikan control bagi keberlanjutan masa depan dan generasi berikutnya. Dalam beberapa casus, control pemberian hak pada perusahaan komersil dengan manajemen hutan skala kecil tetapi belum mampu menunjukkan manajemen hutan tropis dalam waktu lama.

Saat ini pemberdayaan penduduk local mengalami kekurangan teknologi dan manajemen hutan untuk berbagai produksi barang-barang dan jasa dan sosial dan struktur administratif untuk tujuan bersama dan efektifitas dunia yang komersil

Dalam banyak kasus, kita menyimpulkan bahwa keseluruhan otoritas. manajemen tentang hutan tropis tergantung pada hukum dan tanggung jawab pemerintah. Alasan pemerintah untuk merencanakan dan mengendalikan penggunaan lahan. Adalah mungkin untuk pemerintah untuk menyerahkan kuasa-kuasa kepada pihak swasta dan ke masyarakat lokal, tetapi intergenerasi manajemen jangka panjang meminta pemerintah untuk melakukannnya secara berkelanjutan


ASPEK TUJUAN KEBERLANJUTAN

Walaupun ahli kehutanan tengah menggunakan konsep keberlanjutana selama berabad-abad, istilah ini hanya baru-baru ini beralih menjadi istilah umum. Definisinya keberlanjutan diperdebatkan. Ada Kelompok yang berkampanye untuk melarang secara total manusia menggunakan hutan tropis. Sebagian mengtakan boleh saja. Organisasi internasional ITTO (1988-1989) tentang kebijakan manajemen hutan dan praktek di Sarawak gagal menunjuk pertimbangan untuk perbedaan antara panenan yang pertama yang berkelanjutan dan siklus penebangan.

Bagian ini mendiskusikan keberlanjutan yang pertama dan kemudian dalam hubungan dengan manajemen hutan untuk produk utama dari hutan. WCS melihat tujuan produksi relevansinya dengan keberlanjutan. Kesimpulan yang utama adalah konservasi itu tergantung pada pembangunan, dan pembangunan yang berkelanjutan itu mustahil tanpa konservasi. tetapi konsep seperti itu jarang dapat dipraktekkan sekarang karena tekanan demografis akan membuat semakin sulit. WCS mengusulkan adanya penggunaan hutan yang bias berkelanjutan melalui pemanfaat spesies dan ecosystems secara bijak.

Lahan dan air dapat digunakan secara berkelanjutan menurut ekologi berbeda. Adalah mungkin untuk memanfaatkan hutan yang alami kurang lebih secara intensif, tergantung pada sejarah dan jenis penggunaannya. Hutan dapat digantikan oleh suatu ecosystem tiruan, yang (mana) juga dapat berfungsi keberlanjutan pada tingkat yang berbeda intensitas, menurut kapasitas pada level sumberdaya fisik yang sesuai dengan kebutuhan manusia.

Konservasi hutan tropis harus oleh terkait, dengan temuan suatu neraca yang bisa diterima di antara intensitas penggunaan yang berbeda. IUCN menggambarkan pembangunan berkelanjutan melalui pertimbangan kapasitas sumber daya phisik dengan tingkat kebutuhan manusia. Komisi pengawas Lingkungan Dunia, lebih menyukai pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengganggu kemampuan masa depan generasi untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Ahli kehutanan secara konvensional mengembangkan rencana untuk jasa dan barang-barang hutan dapat berkelanjutan melalui ;

1. Perlindungan

Hutan alami adalah suatu bank lahan dan sumber daya, yang harus dilindungi dan dipelihara dengan sedikit atau tanpa biaya. Area yang terpilih harus secara permanent diproteksi dari berbagai peruntukan untuk tidak dapat diubah dan dikonversi ke peruntukan lahan lainnya.

2. Sebuah Tempat untuk Masyarkat Lokal

Penduduk local banyak tinggal di banyak hutan tropis. Masyarakat local hanya membutuhkan hutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.. Mereka harus harus dimungkinkan hidup disekitar hutan dan tidak mungkin menggunakan hutan dalam skala luas. Mereka memiliki pengetahuan teknis secara turun temurun tentang konservasi, dalam konteks sosialnya memiliki cara hidup yang mempunyai suatu nilai khusus.

3. Lahan Kritis

Ukur untuk konservasi pada lahan krtisi dan perlindungan sumber daya air yang menjadi prioritas untuk menekan laju erosi atau hilangnya kesuburan tanah. Areal lahan krtisi harus dipetakan dalam rangka kebijakan penggunaan dan pembangunan. Penggunaan area ini harus melalui ijin untuk bisa dilaksanakan, dan diatur kemudiannya, sedemikian sehingga tidak (ada) degradasi lahan akibat pertanian intensive pada lahan kritis.



4. Sumber daya Genetik

Ukuran khusus diperlukan tentang jenis, arti penting ekonomi. Ukuran seperti (itu) akan meliputi beberapa area terutama untuk tujuan ini dan batasan pengelolaan di dalam area di/terpilih di tempat lain. lUCN telah membuat garis besar petunjuk untuk konservasi biodiversas di (dalam) hutan tropis.


5. Ecosystem Percontohan

Memberi kelangkaan pengetahuan sekarang, konservasi berupa ekosistem percontohan yang utuh. Interaksi penting seperti spesies tertentu dalam proses ekologi. Sebagai contoh, pohon mungkin perlu untuk memberi makan pollinators atau disseminators jenis komersil sepanjang musim ketika jenis yang komersil tidaklah berbunga atau buah. Regenerasi dari jenis komersil akan dihalangi jika jenis pohon noncommercial pohon dipindahkan. Ecosystems percontohan bertujuan untuk manfaat lain seperti rekreasi, pendidikan, dan turisme.


6. Wilayah Kaya Spesies

Wilayah yang kaya spesies perlu dilindungi, khusus oleh karena keistimewaannya, karena keadaan mereka atau karakter khusus; rantai makan, cara hidup, dan habitat yang kaya serangga dan burung-burung berpindah dan wilayah cukup bagus dan makanan yang kompleks.

7. Lahan untuk Pertanian

Wilayah yang tidak perlu dilindungi dan untuk fungsi layanan, Lahan yang terbaik harus diperuntukkan untuk pertanian melalui suatu survey kemampuan lahan. Konversi hutan ke pertanian harus dihindarkan untuk seminimal mungkin. Kebutuhan penduduk akan lahan dan degradasi lahan harus dipertimbangkan dalam pembukaan lahan baru. Konversi hutan menjadi lahan pertanian baru harus melalui program ektensifikasi terencana untuk memperoleh produktifitas dan keberlanjutan. Teknik agroforestry dapat mendudkung fungsi perlindungan karakter struktur hutan.





8. Hutan untuk Produksi Berkelanjutan

Suatu area suatu negara untuk hutan produksi dan jasa telah menjadi pokok perdebatan. Pada suatu waktu, perbandingan antar negara-negara dalam berbagai langkah-langkah kelimpahan atau, defisit produk hutan, mengusulkan sekita 20 persen untuk hutan produksi berkelanjutan.

Suatu bagian penting dari sektor kehutanan yang dirancang oleh ADB telah dijadikan perkiraan berdasarkan permintaan pada waktu yang akan datang dan persediaan produk hutan. Negara yang memiliki hutan tropis memprogramkan tindakan pendekatan keseimbangan antara permintaan untuk barang-barang hutan dengan membatasi potensi hutan tropis alami untuk, berlangsungnya siklus produk dengan pemenuhan kebutuhan manusia, khususnya untuk tujuan komersil.

Hutan dalam perubahan iklim sudah pada musim dingin, untuk pertumbuhan. Hutan ini mempunyai dua keuntungan: sepanjang bertumbuh musim temperatur tidak naik sangat tinggi akibat fotosistesis dan hama dan pathogens mati (non-aktip) sepanjang bulan dingin. Sebaliknya, di dataran rendah di Scotlandia radiasi matahari adalah sering dirintangi` oleh lapisan awan, temperatur terus menerus tinggi menyebabkan kerugian dan serangan hama dan pathogens.

Tyfe pohon besar Yang khas pada tahap dewasa dari hutan tropis menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi stabilitas. Keteduhan yang tegas dan pertumbuhan yang lambat. Dengan kondisi-kondisi iklim yang baik dataran rendah di Scotlandia menjadi baik karena suatu proporsi jenis tumbuhan besar. Kebanyakan karakter seperti bertentangan dengan yang diinginkan pemenuhan kebutuhan manusia:

Untuk itu managenment itu untuk hutan produk, tidak akan mengembalikan hutan alami setelah penebangan untuk produksi kayu glondongan dan kayu bakar. Sebaliknya, para manajer akan mencoba untuk mendorong jenis jenis kayu yang sesuai untuk industri pengolahan kayu. Manajer akan mendoring suatu perubahan komposisi hutan masa depan untuk dipanen pada struktur ukuran seragam untuk panenan yang berikutnya.

Hutan yang utama sering berisi pohon yang mungkin ada sejak jaman kuno dan sangat besar dan busuk di dalam.. Pohon yang sangat besar ini juga tumbuh dinatara pohon muda. Oleh karena kehadiran dari pohon besar, yang tua, dan sering juga pohon berharga.


Manajemen hutan basah tropis tidak sama dengan daerah berhutan yang kering. Makanan hewan dari pohon mungkin lebih dapat dicerna dibanding makanan hewan yang diperoleh oleh panenan sistematis yang pertama dari pohon tua. Demikian juga, panenan poles dan kayu bakar dari berbagai pohon dalam hutan kering mungkin memiliki biomass dibanding batang kayu dan cabang. Jumlah maksimum ukuran dari kayu bakar yang dipanen mungkin adalah kecil untuk mendorong kenaikan [tahunan biomass.

Haruslah jelas bahwa, para manajer hutan berniat untuk menghasilkan panenan yang berikut, tingkatan produksi hutan yang berkelanjutan tidak bisa dihitung dari ukuran dari kondisi hutan primer. Industri pengolahan kayu di daerah tropis diperoleh dari hutan primer.

Sebuah pohon di hutan tropis mungkin memiliki laju pertumbuhan seperti yang diatur baik pada perkebunan. Teknik pemanenan intermediate berjarak belum mampu mengarahkan tukang tebang kayu mengambil sebelumnya jenis non-komersil atau ukuran, menjadi sangat merusakkan ke regenerasi lebih dari 35 tahun masih menjadi suatu masalah di banyak negara-negara.

Diskusi ke depan mempunyai terkait sebagian besar tentang hutan basah tropis dan produksi batang kayu besar. permasalahan dan Prinsip volume produk hutan dari hutan basah dan hutan tropis kering. Suatu kemunduran kwantitas dan mutu produk hutan secara luas dilaporkan, akibat harga pasar yang cukup tinggi untuk merangsang terjadinya penebangan hutan muda. Hal ini menunjukkan bahwa jika harga cukup tinggi, masyarakat dan individu tidak mampu menahan diri melakukan penebangan berlebihan. Dalam rangka keberlanjutan hasil, pengendalian harus dilakukan, terutama ketika sumber daya dimiliki oleh banyak orang.

Suatu luas besar, hutan alami yang tersisa hari ini akibat mesin penuai sudah dengan bebasnya, hal ini mempunyai peluang pemasaran atau teknologi menjadikan kerusakan utama dan kemunduran.

Tujuan produksi berkelanjutan dalam hutan tropis alami diperumit oleh variasi jasa dan barang-barang hasil hutan. Variasi itu memberikan contoh oleh berbagai permintaan yang disediakan oleh hutan. Selama waktu ini, hutan akan menyediakan produksi utamanya berupa :

- Gutta-Percha ( Palaquium spp.) untuk bahan baku pembuatan kapal selam dan bola golf;
- kayu keras, secara alami tahan lama untuk rel kereta api dan konstruksi, seperti Balanocarpus heimii;
- Poles dan kayu bakar dari jenis untuk digunakan di tambang timah;
- Kayu setengah keras untuk sawnwood seperti Dipterocarpus, untuk konstruksi pengembangan kota; dan;
- Kulit dari kayu keras untuk lapisan kayu halus, kayu lapis, dan sawnwood, seperti sebagian dari jenis Shorea.


Dua perang dunia, Tahun dari 1930, pemberontakan Komunis 1950, dan pergolakan kemerdekaan sudah menyebabkan ketidakstabilan dan ketidak-pastian kesinambungan manajemen hutan di Malaysia. Keberlanjutan produksi memerlukan monitoring setelah panenan yang pertama di hutan primer. Jika produk utama dari hutan diatur, jenis, pertumbuhan, dll.

Untuk tujuan praktis, kita memerlukan ukuran-ukuran yang khas dan memperkecil kesempatan kesalahan, berdasar pada kondisi sekarang ini. Haruslah jelas nyata dari diskusi ini manajemen hutan yang brekelanjutan perlu berhubungan dengan sasaran hasil lokal yang spesifik, practis dan sumber daya. Argumentasi tentang tingkat keberlanjutan tidak bisa tanpa beberapa pertimbangan: sebab waktu tidak cukup untuk panenan yang pertama di hampir semua hutan tropis alami,


MANAJEMEN BUKAN HANYA UNTUK PRODUKSI

Untuk para penebang kayu dan ahli kehutanan, manajemen hutan bukan hanya membuka hutan. Para hli kehutanan menyebutkan lebih awal, di banyak daerah sebagian besar royalti atau pajak penjualan kayu dari penebang kayu dan industri. Sungguhpun pajak sangat rendah dan hanya proporsi kecil dari harga kayu. Para ahli kehutanan sering dilibatkan di proses perijinan (sekalipun tidak sampai proses mengawasi). Pihak pers mengamati bahwa keberdaan ahli kehutanan dalam pemerintah sering terlambat. Sebuah majalah mingguan populer menguraikan intensifikasi yang cepat dalam pembukaan hutan di Sarawak.

Pemanenan sendiri tidak berdasarkan manajemen, walaupun manajemen juga meliputi pemanenan. Kontroversi, hutan sering diatur tanpa perencanaan dan bahkan tanpa penelitian tentang segala hal. Manajemen hanya diarahkan pada konservasi biologi, debit air atau proteksi lahan, riset, atau turisme.
Manajemen harusnya juga meliputi silvicultur, pemeliharaan perawatan, atau sistem ke arah kepastian masa depan panenan. Suatu sistem kadang-kadang (adalah) eIaborasi, memerlukan kendali ukuran, volume, intensitas, dan frekwensi. Silviculture membawa hubungan manajemen hutan sebagai suatu aktivitas petani (seperti memerah susu).

Di sini, manajemen hutan diambil untuk meliputi kedua-duanya sebagai suatu perusahaan, manajemen hutan melibatkan mengerahkan sumberdaya manusia, keuangan, dan sumber daya material untuk mencapai sasaran hutan yang berkelanjutan. unsur-unsur teknis, silviculture, inventarisasi, dan unsur-unsur lain manajemen adalah penting untuk dua pertimbangan:

1. Di masa lalu, kegagalan manajemen hutan tropis bukan hanya terkait dengan faktor ekologis atau teknis, tetapi lebih ke kegagalan manajemen pengelolaan ( e. g., perencanaan, pengaturan, susunan kepegawaian, pengendalian) seperti halnya juga aspek sosial, ekonomi, administratif, dan pengaruh politis;

2. Banyak usaha telah dilakukan untuk meningkat;an kemampuan teknis, tetapi yang lebih penting adalah meningkatkan managernen sedemikian sehingga keahlian teknis dapat diterapkan lebih secara efektif.

KONDISI UTAMA UNTUK MANAJEMEN BERKELANJUTAN

Hasil atau produksi yang berkelanjutan utamanya tergantung pada unsur teknis dan ecologi, sedangkan manajemen betkelanutan tergantung pada kemampuan manajer dan unsur-unsur lain di luar mengatur kenadali. Empat kondisi yang dianggap sebagai hal yang penting bagi manajemen berkelanjutan untuk jasa dan barang-barang hasil hutan tropis alami dalam jangka panjang yaitu sbb :

1. Keamanan jangka panjang terhadap Operasi dan Kepemilikan

Alasan utama kegagalan manajemen hutan di daerah tropis pada masa lalu adalah tidak adanya jaminan hutan akan tetap menjadi hutan. Tidak adanya perlindungan kepemilikan, menyebabkan ketakutan para manajer hutan menginvestasikan uang dan waktu dalam manajemen untuk produksi masa depan dan mendorong investasi ke arah menghabiskan. Beberapa contoh :

- Manajemen Konversi, regenerasi, di dataran rendah Scotlandia dan Penin Sular Malaysia sejak tahun 1960, dari hutan menjadi kelapa sawit dan karet, adalah suatu keputusan politis untuk Petani melayu berdasar pada survey kemampuan lahan dan prediksi pasar.
- Penundaan sistem konsesi untuk industri hasil hutan dalam kaitan dengan ketidak-mampuan pemerintah untuk pembukaan hutan untuk mencegah transmigrasi untuk tujuan jangka pendek pertanian.
- Di (dalam) Queensland, sistem yang telah diteliti dan didokumentasikan hutan lembab tropis oleh suatu politis tidak sebagai hasil piker ahli kehutanan dan ahli lingkungan.

Suatu kegiatan survey nasional, regional, atau bahkan survai lokal tentang kemampuan lahan menjadi dasar yang penting untuk pengambilan keputusan tentang lokasi dan peruntukan tanah hutan secara permanen. Survei tersebut, tentu saja, harus mengkombinasikan perkiraan tentang gambaran kebutuhan untuk berbagai barang-barang hasil hutan dan jasa yang diperoleh dari hutan dan model alternatif pengunaan lahan hutan.

Suatu pendapat untuk hutan permanen harus didukung dan berdasarkan suatu dasar fakta yang jelas. Beberapa perlu untuk diyakinkan :
- Suatu pertimbangan ekonomi dan perencanaan kementerian pemerintah, akan bagus dan memeberikan arahan tentang hutan Negara dan lahan hutan adalah sangat penting untuk memberikan gambaran masa depan kesejahteraan negeri sebagai kesejateraan dan pemerataannya.
- Penduduk local, mereka dapat memperoleh manfaat lebih besar dari lokasi hutan nasional dibanding peruntukan lahan lainnya.
- Ahli lingkungan mengatakan bahwa ada 3 keuntungan manajamen hutan produksi dan manajemen ini dapat membawa keberlanjutan dan ramah lingkungan

Suatu bagian utama dari suatu pendapat harus focus pada suatu nilai yang baik dan jasa dari hutan termasuk didalamnya pengertian dan apresiasi umum. Beberapa jasa seperti keanekaragaman hayati mungkin susah untuk dinilai secara langsung, tetapi ahli hutan harus belajar untuk menggunakan hasil penelitian tentang nilai keuntungan yang tidak terukur. Selanjutnya manajer harus melihat kembali nilai dari pilihan konversi penggunaan lahan non hutan untuk dijadikan hutan. Perkiraan nilai maksimal dari tanaman pertanian yang dapat mendatangkan hasil yang kontiyu dan berharap hutan lestari. Untuk tanaman-tanaman yang memiliki nilai eksport dan memiliki pasar terbatas, suatu perbandingan keuntungan ekonomi untuk sebuah Negara hanya cukup untuk beberapa tahun saja.

Pada tahun 1988, Badan Internasional dan Lingkungan Pembangunan ( IIED) melakukan suatu survey tentang manajemen hutan operasi di 17 negara-negara produsen untuk mengukur keberlanjutan kemampuan produksi kayu di hutan tropis. (ITTO) dalam Poore et al. 1989). Kebanyakan operasi manajemen hutan yang diamati oleh IIED dilaksanakan oleh departemen kehutanan. Ada suatu anggapan bahwa pemerintah perlu menerapkan kebijakan yang lebih konsisten dibanding organisasi yang dilakukan oleh perusahaan swasta. Fakta menunjukkan bahwa beberapa perusahaan mempunyai suatu catatan manajemen hutan yang menengah, mereka lebih baik daripada departemen kehutanan. Departemen kehutanan tidak memberikan model manajemen hutan dengan jelas. Model kepemilikan bersama dan manajemen, atau hak pakai ke masyarakat, telah diusulkan dan kini berkembang di berbagai negara-negara ( sebagai contoh, di kelompok petani Quintana Roo di Mexico dan di wilayah manajemen terpadu di Honduras), dan pengaturan serupa telah diusulkan untuk wilayh di Indonesia. Mode baru dan system manajemen sangat diperlukan untuk semua sumber alam yang dapat diperbaharui; sistem ini harus sesuai untuk suatu fakta lokal tentang tekanan penduduk, kepemilikan, dan tuntutannya peningkatan barang dan jasa. Pembangunan model ini, dan kebijakan rasional, adalah suatu tugas bersama, pemerintah terkait, LSM, masyarakat lokal, dan para donor yang memiliki peran penting.



2. Keamanan untuk Kegiatan Operasi Hutan

Beberapa dekade, dokumentasi besar telah ada istilah di mana suatu pemerintah mungkin telah memetik hasil dari hutan nasional untuk kebutuhan domestik atau penggunaan komersil oleh masyarakat lokal atau perusahaan swasta. Kekayaan ini suatu informasi masih tidak cukup diterapkan, atau telah salah dipahami dalam konteks sistem undang-undang tertentu. Kekeliruan di atas "resiko" terjadi di Amazonian Brazil pada tahun 1970 yang lalu adalah suatu contoh pengentasan kemiskinan dari departemen kehutanan, dimana suatu sistem cocok untuk suatu area di mana kantor pemerintah mungkin terlalu jauh dan control yang lemah.

Pengendalian dari operasi penebangan menjadi kondisi yang paling untuk manajemen berkelanjutan setelah perlindungan jangka panjang dari hutan sendiri. Seperti disebutkan di, pemerintah harus merupakan agen yang paling dapat dipercaya untuk manajemen hutan jangka panjang, tetapi, peranan pemerintah adalah kecil dan kurang mampu menyediakan jasa seperti itu . Banyak departemen kehutanan terkenal kekurangan tenaga dan lemah, moral rendah, dan system karier yang birokratis dan lingkungan birokrasi tidak ditentukan oleh departemen kehutanan. Bidang pengawasan tidak mampu sebab kurangnya sarana transfortasi, bahan bakar, dan kurangnya peralatan. Pendidikan dan latihan adalah kurang bermanfaat atau penelitian yang terlambat, kurang relevan atau kurang bermanfaat.

Pada saat proyek donor untuk memperkuat institusi departemen kehutanan dan baru-baru ini, untuk menetapkan manajemen hutan kemasyarakat, belum dapat berproduksi secara berkelanjutan. Suatu percepatan kehilangan hutan telah terjadi. Mungkin penyebabnya adalah pasca proyek seperti kurang perhatian pemerintah dalam konteks suatu tinjauan ulang dan revisi (montoring dan review). Untuk ini, dalam kegiatan Program Aksi Hutan Tropis (TFAP) kegiatan sector yang terkait adalah sangat mengecewakan. Ketidakjelasan kapasitas pemerintah dalam usulan proeyek menjadi perhatian pada TFAP di tahun 1990. Beberapa penyempurnaan dilakukan dari dekade sebelumnya, sebab kurangnya mekanisme divisi dalam instansi tersebut.

Jika ini disetujui, manajemen berkelanjutan adalah pentingnya peran pemerintah, untuk kasus perkuatan departemen kehutanan dalam konteks program pembangunan kehutanan dan hal utama lainnya memeriksa secara seksama susunan pemerintah harus betul-betul ditekankan.


3. Nilai yang pantas untuk Lingkungan

Suatu ungkapan nyata bahwa hutan tropis sudah diekspoitasi berlebihan dan disalahgunakan sehingga berdampak secara luas dan cepat. Pengaturan hutan dari pasar komersial secara terus menerus memberikan jasa namun sedikit perhatian atau nilai local, regional dan nasional. Hutan selalu dijadikan jalur pelayaran atau jalan raya dengan bermacam-macam tekanan manusia. Sebagian besar pandangan pengguna atau manajer memperlakukan hutan sebagai suatu sumber daya milik umum yang dapat diambil oleh setiap orang.

Itu menyebabkan pendapat departemen kehutanan menjadi lebih berpikir komersial dan kurang memperhatikan tumbuh-tumbuhan dan ekologi hutan agar kondisi hutan lebih baik. Beribu-ribu kayu tropis telah diuji secara anatomis,mekanik ,phisik, dan kandungan kimia, sekalipun begitu pasar internasional dan nasional dalam partai besar namun memberikan perhatian yang kecil terhadap keberadaan spesies tersebut. Suatu konsekwensi langsung menyangkut kegagalan pasar untuk bersama-sama dalam kelompok besar telah memanen dari pohon kecil yang sangat berharga untuk dijual dengan tidak ada pengembalian ke hutan.

Pemanenan hanya melihat dan tidak melihat dampak dari pohon dan lahan setelah kegiatan penebangan baik aspek biologi dan efektifitas ekonomi. Pemanenan lebih dari 10 pohon per hektar dari sebuah hutan primer tropis memberi manajer dan perusahaan akan dapat ,alakukan pengembangan hutan setelah pemanenan. Suatu skala kecil dari unit hutan pada suatu wilayah Hutan Cadangan di Trinidad dan sistem skala besar yang seragam di operasi di Hutan Mengo Selatan Negara Uganda adalah dua contoh yang mana arahan efektifitas manejemen menjadi sangat penting dalam hutan produksi.

Suatu cara nyata untuk menaikkan intensitas adalah membuat kegiatan pemanenan yang lebih mahal. Sebuah penyelenggara harus membayar lebih untuk memetik hasil di bawah kondisi-kondisi yang dikendalikan lebih efisien. Sekarang, membuka, bahkan di tanah hutan yang permanen, adalah murah, dimana tidak ada perangsang yang memberatkan. Suatu manajemen sederhana, seperti suatu pembayaran tahunan per hektar yang menggunakan cara mudah dalam menilai dan staff tersebut dapat disuap. Rovalties dan pembayaran lain dapat dikumpulkan oleh badan pemerintah yang khusus tetapi bukan bagian dari tugas departemen kehutanan. Suatu tugas manajemen menjadi lebih dengan mudah dilakukan bila claim pembayaran tersebut ditangani oleh departemen kehutanan. Keraguraguan pemerintah untuk memaksakan beban biaya seperti (itu) ke departemen hutan, namun ke pendapatan pusat. Tetapi situasi itu telah menyebabkan departemen kehutanan ceroboh mulai tamak.

Penilaian yang lebih tinggi tentang hutan, dengan prospek lebih baik bagi manajemen, dapat dapat diterapkan nenerapa control dan pembayaran, termasuk :
- suatu kewajiban dari pemanenan kayu adalah cara pantas tetapi tidak menjual spesies yang langka;
- Kombinasi atau percontohan memanen produk non kayu atau non glondongan seperti kayu bakar dari sisa penabangan dan jenis kayu non-commercial seperti rotan dan tumbuhan diatasnya, dan keluaran lain dan makanan hutan;
- Perbedaan royalty pada kayu gelondongan dari nilai-nilai yang berbeda, menghitung atas dasar perkiraan menginventarisasikan dengan rabat untuk bisa diijinkan, dan disesuaikan atas dasar harga pasar; dan
- Paling efisien mengambil sewa hutan, melalui sistem yang tidak percaya pada laporan mereka untuk membayar dan menempatkan beberapa departemen kehutanan di lapangan. Ini sangat peka ke penyuapan.


4. Informasi Cukup


Kebanyakan dari 17 negara ITTO negara-negara produsen berdasarkan survey IIED pada tahun 1988 (Poore et al. 1989) menunjukkan krisis defisiensipengetahuan tentang sumber daya hutan mereka, ukuran pasar produk mereka, dan informasi yang diperlukan untuk manajemen efektif. Itu adalah mungkin sempurna untuk praktek suatu manajemen konservatif pada hutan lembab tropis tanpa melihat pengetahuan silviculturai pada suatu dari jenis komponen. Manajemen seperti (itu) , berdasar pada pengamatan langsung oleh staff dengan suatu pengetahuan biologi yang yang baik. Suatu pengamatan untuk praktek di India dan Burma pada abad 19 dan diterapkan di Negara-Negara lain di Afrika dan Asia, dan sampai taraf tertentu di Caribbean. Terkecuali Suriname jarang-jarang dicoba di Amerika Tengah dan Selatan.





Ketika keluaran yang diinginkan adalah kayu-kayu besar dari spesies yang langka dari hutan polyspecific adalah tentu saja, hasil rendah dan dengan siklus penebangan yang panjang. Jika jenis memiliki pertumbuhan yang cukup tinggi dan memiliki jumlah anakan banyak, maka produktivitas dapat meningkat hasil per hektar dengan biaya juga meningkat. Jika spesies pertumbuhan di perkebunan terbuka, hasil per hektar Barangkali, ditingkatkan lebih lanjut . Bagaimanapun, laju pertumbuhan pohon individu boleh kecil dari sistem yang lain. Perbedaan hasil datang dari, jumlah pohon bisa memanen per hektar. Mayoritas spesies komersil dari hutan lembab yang tropis hari ini mempunyai diameter lebar dan di sana akan bersifat keuntungan sedikit dalam penetapan perkebunan yang luas, sekalipun dana tak terbatas.

Perubahan polycyclic ke manajemen monccyclic, dari tahun 1940 sampai 1960, membendung sebagian besar dari suatu perwujudan yang yang diulangi memotong tanpa kendali kerusakan penggundulan intensive akan merugikan hutan. Bagaimanapun, perusahaan sudah sering mencegah departemen kehutanan nasional dari termasuk limit minimal dalam ketentuan di (dalam) ketentuan ahli kehutanan akan mendorong lebat dan kemudian menutup hutan selagi generasi yang berikutnya tumbuh dari dan pohon kecil. Karena sistem ini untuk bisa efektif suatu species populasi jenis diinginkan harus lebih dulu di survive pencatatan operasi dan menghasilkan suatu dasar cukup kedua. Untuk menyediakan kondisi-kondisi seragam untuk generasi yang kedua , area itu tidak yang dibuka oleh pencatatan adalah sering diberi suatu perawatan untuk memindahkan pohon besar jenis yang tidak diinginkan. Sejumlah kecil eksperimen mengerjakan pada tanaman panenan dibentuk menandai awal dikerjakan bagian dari cara melalui siklus pertumbuhan secara komersial memberi penghargaan pada ujung siklus.

Sejak 1970, beberapa negara-negara sudah mengusulkan menerima jenis pasar adalah mengubah dengan cepat bahwa, sebagai ganti pohon itu. yang ditinggalkan setelah panenan sistematis yang pertama, mesin penebang perlu meninggalkan hasil atau untuk mengemukakan waktunya panenan yang kedua . Ini, memberi alasan menyiratkan suatu hasil lebih heterogen di yang pemanen yang kedua , termasuk di dalamnya tentang komposisi jenis, dan suatu penundaan mungkin di waktu menjadi periode jenis diinginkan, sebab ruang bertumbuh yang tersedia akan diduduki oleh pohon sekarang ini yang tidak diinginkan. Potensi manajemen ini rencana bisa diuji dengan mempelajari sifat sisa , struktur setelah penebangan dan menerapkan tingkat angka kematian dan pertumbuhan. studi seperti itu tidak nampak untuk telah dilaksanakan, kecuali di Queensland ( Vanclay 1989), tetapi argumentasi telah digunakan untuk stop hampir semua silvicultural pekerjaan u Sabah dan di tempat lain.

Studi serupa bisa digunakan untuk menguji pemilihan sistem manajemen pemilihan antar silvicultural melainkan manajemen sistem sekarang berlaku seterusnya. Seluruh Malaysia Merupakan sebuah jasirah kecuali Ohore. Tidak sama dengan cara Orang Melayu yang terdahulu sistem manajemen pemilihan bersandar pada mempertahankan suatu proporsi besar dari pohon setelah pemanenan yang pertama dan kemampuan mereka untuk membentuk suatu panen komersil cukup untuk suatu penen kedua pada sekitar separuh perputaran. Departemen kehutanan di Malaysia masih menyusun (UU) untuk aplikasi sistem ini. Gagasan nampak seperti sistem di Philippine, yang dikembangkan di hutan jauh lebih kaya dibanding Yang orang Melayu lakukan.

Ketetapankan besar dan madanya data time series layak dapat dipercaya, studi simulasi telah pula diselenggarakan untuk meramalkan masa depan komposisi dan struktur hutan. Beberapa telah dilaksanakan di Ghana (Alder 1989), sistem pemilihan yang dikembangkan di tahun 1950 berdasar pada kalkulasi tidak cukup, menyertakan banyak pengelompokan sewenang-wenang dan data keliru. Data lain seperti itu - berpegang kepada perusahaan utama di negara Pilipina, bisa dikerjakan atau dikerjakan lagi dengan teknik computer-assisted modern untuk belajar dari silvicultural dan sistem manajemen yang menurut dugaan berlaku. Studi lapngan, walaupun membosankan dan kompleks, adalah banyak lebih murah dan lebih cepat dari eksperimen bidang baru.

Tak perlu diragukan lagi ada suatu kekurangan silvicultural percobaan diterima baik dan dirancang baik di hutan lembab yang tropis, dan ketiadaan data dapat dipercaya telah sangat menghambat departemen kehutanan dari rencana pengembangan manajemen. Pada waktu yang sama, data bersifat percobaan telah dikumpulkan di tahun terakhir, telah dianalisa salah atau sama sekali salah oleh karena tidak adanya staff yang berkwalitas untuk melakukan analisa itu. Perancangan silvicultural eksperimen tidaklah sulit. Penanganan data yang sangat besar telah menjadi lebih mudah dengan program dan sistem komputasi dapat dipercaya. Sepanjang sasaran yang terkandung menjadi produksi batang kayu besar, waktu diperlukan untuk memperoleh data yang cukup untuk dapat hasilnya dipakai harus eksperimen dibandingkan dengan panjang penebangan pada rotasi kayu bubur dan kayu bakar hutan. departemen kehutanan harus menyelidiki analisa menggunakan multivariate metoda, tetapi analisa seperti (itu) memerlukan penilaian [yang] lebih intensive dibanding teknik biasa.

Pekerjaan pengembangan pemanenan di eskperimen silvicultural besar-besaran harus didukung oleh autecological pada jenis komponen. Walaupun adalah mungkin untuk mengatur hutan dengan bebasnya atas dasar pengetahuan biologi umum, yang lebih intensive sekalipun begitu sistem bisa berkelanjutan mungkin hanya sebagai informasi tentang tanggapan kwantitatif pemeliharaan dari eksperimen formal. Pengetahuan diperlukan adalah; tidak berbeda dari jenis perkebunan. Dengan ahli ilmu biologi dan ahli ilmu lingkungan hidup stludy tentang model tiruan atau alami di hutan nampak untuk mencerminkan suatu analisa dalam kekurangan information fase memanen. Data diperlukan pada daya tahan berbeda dalam hubungan dengan karakteristik individu dan kompetisi area. Karakteristik batang meliputi mahkota dalam hubungan dengan tajuk lokal, dan bentuk batang, dan luas kerusakan selama awal pencatatan.

Ada beberapa pertimbangan untuk kekurangan dari data dari alur cerita lebih tua: Di bagian Tenggudyara Slsia, banyak dibinasakan selama Perang dunia II. Afrika dan Asia, dalam pergolakan penjajahan. Dan di Malaysia, konversi dataran rendah di Scotlandia diperbaharui hutan ke perkebunan kelapa sawit hasilnya direncanakan dan terkait langsung kepada hutan yang sisa sekarang dipusatkan sebagai silvicuiturally. Eksperimen mempunyai beberapa kerugian di dalam pencatatan mempunyai alur cerita karena pertumbuhan jelas. Adalah mustahil untuk menaksir terlalu tinggi pentingnya proting, yaitu alur di dalam kestabilan hutan, sebab adalah kritis untuk pengembangan model dari rejim manajemen. Sekarangpun, banyak alur dari data tinggal tetapi kurang dipelajari.

PENGETAHUAN UNTUK MANAJEMEN BERKELANJUTAN

Ahli ilmu biologi dan ahli ilmu lingkungan hidup cenderung untuk setuju bahwa kekurangan info dapat dipakai dibanding ahli kehutanan seperti biasa mengakui adanya. Posisi dokumen UNESCO-IVIC pertemuan di Venezuela di tahun 1986 diusulkan untuk belajar elements pengetahuan silvicultural bagi para manajer hutan lembab tropis. Sasaran utama manageme produksi kayu secara besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan industri hutan padat modal. Wilayah di bawah kendali siiviculturists atau para manajer hutan lembab tropis memaksa mereka untuk menerima heterogennitas yang lebih tinggi di hutan, berdampak operasi pencatatan. Perbedaan ini, akibat perbedaan pendekatan masalah antar manajer hutan dan ahli ilmu lingkungan hidup. Eriscussion lebih lanjut, membatasi pada tanah hutan yang permanen, adalah, hutan yang dibuat menurut hukum untuk hutan produksi cadangan untuk memenuhikebutuhandomestik nasional sesuai kebijakan hutan nasional.

KOMPONEN-KONPONEN

1. Kebijakan Hutan Nasional. Kebijakan ini memberikan garis besar tugas departemen kehutanan nasional.
2. Kerangka Legislatif. Kerangka ini menempatkan departemen kehutanan dan kegiatan hutan dalam konteks undang-undang. Sungguh sial hukum hutan karena sering hanya dijadikan pertimbangan jangka pendek untuk keuntungan pribadi dan politis (yaitu, korupsi dan penyuapan).
3. Lahan Tenure. departemen kehutanan harus menentukan hak pemilikan atau pemilik sah tanah tradisional, atau mungkin tidak (ada) jawaban sederhana, atau mungkin ada campur tangan politis kaitannya dengan undang-undang tenure.
4. Sasaran khusus Manajemen. Sasaran ini perlu mempertimbangkan permintaan atas hutan dan komitmen untuk menyediakan kebutuhan penduduk lokal seperti halnya industri besar. Sasaran hasil bukanlah yang ditetapkan tetapi harus menekan tinjauan ulang. Sektor kehutanan bekerja dengan rencana pada umumnya memerlukan revisi tiap-tiap 5 atau 10 tahun. Pada saat itu umpan balik dari unsur-unsur untuk memastikan bahwa sasaran disesuaikan untuk mengatasi peningkatan dan perubahan pasar jangka panjang mendasarkan pengetahuan silviculture dan manajemen. Sasaran boleh besar-besaran dan sepanjang tahun operasi, atau kecil-kecilan dan barangkali operasi musiman, atau suatu kombinasi. Berbagai tahap operasi mengijinkan berbagai manfaat diperoleh. Sebagai contoh, suatu perusahaan hutan besar mungkin memindahkan batang kayu yang besar dengan alat berat dan suatu langkah yang kedua mungkin mengijinkan orang-orang lokal untuk memindahkan limbah untuk kayu bakar dan untuk mengumpulkan produk pelengkap hutan lainnya.
5. Data statistik. Unsur ini menghadirkan pengetahuan ilmiah yang mempunyai efek terbesar sebab komputer elektronik sudah mengambil pekerjaan dan menghasilkan susunan tabel dan penyortiran data dan kalkulasi contoh. Inventarisasi kini serbaguna, untuk disesuaikan bagi berbagai sasaran; hanya saja harus ada sasaran pokok, suatu kelompok variabel utama untuk diperkirakan, dalam penyebaran sampling. Subsampling menguji regenerasi saat ini akan meliputi bank benih di tanah.
6. Kandungan dan Penggunaan Spesies dan Prospek Pasar. Setiap waktu di semua negara-negara tropis, banyak spesies diuji dan ditemukan untuk bahan industri oleh laboratorium produk hutan. Perbedaan sebagian pemasaran kayu dijual berdagang dan bisnis industri hutan pada umumnya politis, hak paten. Studi pemasaran oleh organisasi dengan kwalitas baik diperlukan untuk memudahkan negosiasi para pembeli dan para penjual. studi pengujian kandungan kayu, untuk lihat apakah suatu awal panenan akan menyediakan kayu cukup secara teknis. studi juga melihat berbagai kemungkinan pencampuran jenis, seperti chipboard atau kertas, seperti halnya metoda dalam menambahkan nilai oleh industri pengolahan sekunder (seperti melapisi plastik dan film pada pencetakan kayu lapis, atau pencampuran dengan kayu bagus).
7. Data Dinamis. Studi perlu fokus pada dinamika populasi dari jenis diinginkan. Ini digambarkan terutama atas dasar kandungan kayu dan secondarily pada ekologi yang diamati (pertumbuhan, posisi dalam hubungan dengan tajuk setelah pencatatan, dan laju pertumbuhan).
8. Sampling Diagnostik. Sampling diagnostik adalah suatu nilai rata-rata dan berbagai cara metoda sampling linier, dikembangkan di Malaysia, Nigeria, Sabah, Sarawak, dan Uganda. Digunakan untuk mendiagnose status sekarang dari posisi, semaian bibit, anak pohon, dan pohon muda. Manajer kemudian menentukan silvicultural perawatan yang cocok untuk kondisi nya dan sasaran hasil. Sekarang ada suatu penekanan pada awal identifikasi potensi final-crop pohon dan suatu konsentrasi pada pembebasan mereka dari kompetisi. Banyak negara-negara tropis mempunyai kebijakan lahan tegas " Gunakan atau hilangkan" maka ada tekanan kuat untuk departemen kehutanan untuk untuk mengatur hutan setelah suatu operasi penebangan. Bagaimanapun; sebagai tambahan terhadap pembuatan suatu penafsiran sampling yang diagnostik menghasilkan perawatan, departemen kehutanan perlu menetapkan besaran produktif dan hasil yang diinginkan
9. Studi Jangka pendek pada Dinamika. Seperti sampling diagnostik, penekanan pada jenis yang diinginkan itu dikenali di inventori yang dinamis dan mempertimbangkan bersama-sama sebagai panen, dibanding pada jenis individu. Tiga kelas studi terutama ditandai oleh; (1). survai percontohan (mengadakan percobaan); ( 2) siivicultural perawatan hasil sampling diagnostik, termasuk menjawab intervensi yang utama, dan ( 3) efek ditiruan dan nyata pohon dan lahan. Penekanan harus pada eksperimen dibanding pada pengamatan. Pengujian hipotesis kurang perlu; hitungan dari tanggapan yang diperlukan. Hasil percobaan harus disatukan ke dalam model pertumbuhan.
10. Studi Jangka panjang pada Dinamika. Studi ini dimaksudkan untuk menyediakan variasi dari data untuk modeling pertumbuhan dan membuat stratifikasi dan secara teratur mengukur kembali sistem alur hasil; sumber ini harus dilampirkan oleh inventaris untuk meningkatkan pemenuhan ruang dan untuk menyediakan sampling diagnostik rutin. Ttingkat perputaran yang tinggi kini dikenal untuk hutan alami dan hutan buatan menunjukan hampir mustahil dari data yang dikumpulkan. Usaha lebih jauh lebih untuk diinvestasikan di pertumbuhan dan model, sebab kegagalan membuat ramalan masa depan membuat departemen kehutanan memiliki keputusan politis sewenang-wenang mengenai operasi. Tiga kelas studi terutama sekali sangat menolong para manajer hutan: ( 1) kondisi-kondisi kritis untuk pollinators, dispersers, dan pemangsa menyangkut jenis crap-tree, dan interaksi dari tiap pohon dengan satu sama lain;-' ( 2) dinamika bank regenerasi (benih, semaian bibit, anak pohon); dan ( 3) perawatan dan ekologi ; lianes, trepaderos), terutama sekali perihal silvicultural, seperti di bagian tenggara Asia dan barat daya Pacific dan Acacia di Afrika barat. Beberapa rencana silvicultural mempunyai sebab regenerasi dari jenis yang diinginkan.

Beberapa manajer akan menambahkan suatu kebutuhan untuk studi pada yang nutrientocling. Bagaimanapun, sebab 4 meter kubik per hektar per tahun adalah sekitar pertumbuhan perdagangan tingkat terbaik yang bisa diperoleh untuk secara alami kembali, seperti di dataran rendah Scotlandia yang memiliki hutan tropis lembab, dan sebab 10 meter per hektar per tahun sepertinya memerluka pemupukan tiruan untuk hasil berkelanjutan.

Sampling Diagnostik rutin boleh menunjukkan bahwa beberapa area hutan. Tergantung pada bagaimana tingkatan yang kritis yang ditetapkan dalam instruksi sampling, solusi mungkin untuk memperkaya hutan tanaman atau untuk menggantikan seluruhnya dengan perkebunan tiruan. Hutan tanaman boleh juga ditentukan jika permintaan pasar atau tekanan demografis hutan yang alami harus memberi cara yang secara langsung memberikan produk, format penggunaan lahan. Konversi ke perkebunan tidak perlu dalam kegagalan manajemen; hutan mungkin telah dirusakkan memaksa permintaan melebihi kapasitas biologi dari hutan alami atau pohon yang dapat memperbaharui secara berlimpah-limpah.

Awal dari proses managerial diuraikan, menyebabkan sosial, ekonomi, dan tekanan politis. Perkebunan sudah menyebabkan hutan lembab tropis dari kegagalan anggaran dan permasalahan kepemilikan lahan barangkali lmenyebabkan perkebunan menjadi manajemen sistem intensif tidak stabil dan memerlukan intervensi tepat waktu untuk mencegah penurunan dari sistem.

Secara ringkas, walaupun pengetahuan ekologis yang secara implisit digunakan manajemen, itu hanyalah salah satu sejumlah faktor yang mempengaruhi hutan tropis manajemen. Ahli ilmu lingkungan hidup mungkin mempunyai lebih pengaruh jika mereka melakukan penelitian interpretsi dalam kaitan dengan dampak potensi pada manajemen, sedangkan ahli hutan perlu mengartikulasikan kebutuhan riset mereka dengan jelas dan tahap grant-size produk dipahami oleh ahli ilmu lingkungan hidup.


REKOMENDASI KEPADA LEMBAGA DONOR

Bab ini menyimpulkan dengan lima rekomendasi kepada lembaga donor untuk manajemen hutan lebih baik ;

1. Meningkatkan Koordinasi Usaha

Kebanyakan pengalaman masa lalu 40 tahun, FAO Departemen telah menjadi badan internasional melaksanakan kegiatan proyek kehutanan tropis. karena program kehutanan dikumpulkan di organisasi FAO menyebabkan koordinasi antar unit kurang, sedangkan pertemuan-pertemuan IN-FORMAL TFAP untuk diskusi koordinasi lembaga donor dan permasalahan. Bank Dunia adalah penggerak untuk mendorong ke arah versi TFAP yang sekarang dan telah memiliki peran utama.
Piagam dari Organisasi Hutan Tropis Internasional yang diajukan negara-negara yang mengambil bagian dalam perdagangan internasional di sektor kayu tropis, memberi organisasi ini suatu tanggung jawab untuk mempromosikan manajemen hutan, dan ITTO telah mengembangkan proyek sendiri. ITTO diwakili TFAP sebagai Kelompok Penasehat, untuk menetapkan suatu mekanisme untuk tinjauan ulang usulan proyek yang secara teknis menyampaikan persetujuan, dan untuk monitoring dan mengevaluasi kemajuan bidang proyek.
Pada prinsipnya, FAO yang long-established menjadi lebih baik ditempatkan untuk menyediakan pendukung teknis rancangan pembangunan kehutanan. Lembaga Internasional Pembangunan dan Lingkungan telah menunjukkan adanya tumpang-tindih antar FAO dan ITTO adalah sumber potensi kebingungan dan bahwa tanggung jawab pemerintah mengambil bagian di kedua organanisasi untuk memutuskan apa yang seharusnya. lembaga donor mendesak dilakukan dan koordinasi tanggung-jawab antar FAO dan ITTO.

2. Mempromosikan informasi banyak dan dapat dipercaya sebagai metode Manajemen Hutan Alami.

Lembaga donor seperti Bank Dunia dan FAO berkampanye pada satu konsentrasi atau, beberapa isu. Adalah sulit oleh karena kebanyakan kegiatan tentang genotypes dan periode kedewasaan mengharuskan ahli kehutanan yang akan bekerja bersama lingkungan yang ada; memiliki teknologi informasi tentang situasi yang berbeda informasi pertanian.

Meskipun demikian, peneliti sudah mengumpulkan banyak informasi dapat dipercaya pada teknik dan kondisi-kondisi penting bagi keberhasilan kehutanan tropis. Orang tidak familier dengan pengembangan kehutanan tropis untuk perlakukan sistem silvikuture sebagai sistem managemen; mereka juga tidak mengembangkan sistem silvicultural dan pelatihan kehutanan tropis mengembangkan lingkungan sangat lemah dan buku teks kolonial tidak tersedia lagi atau sedang kekurangan revisi, sejumlah negara-negara ini menggunakan teknik dari ahli kehutanan. Lembaga donor diharapakan memberikan beberapa hal :
1. Pengetahuan tentang laporan status kawasan pada manajemen hutan alam tropis;
2. suatu versi popuiar menyangkut laporan penggunaan kawasan oleh, organisasi non pemerintah, direktur eksekutif dari Dunia Bank, Pers dan lainnya;
3. Menstandardisasi, dan studi kasus pada hutan tropis untuk manajemen berkelanjutan, dan suatu pemilihan sistem manajemen. Studi kasus ini akan mengidentifikasi, sistem hutan buatan bisa berkelanjutan dan . ITTO tertarik dalam studi kasus yang sedemikian dan menyediakan pembiayaan untuk itu;
4. satu set pedoman teknik atau manual untuk praktisi manajemen hutan tropis manajemen, yang diperlukan oleh para manajer. Panduan yang dikembangkan oleh IIED dan diadopsi oleh ITTO adalah suatu permulaan bermanfaat. Tujuan negara-negara produsen perlu disesuaikan dengan petunjuk ITTO kepada keadaan yang spesifik, tentu saja, dapat direkomendasikan, tetapi kebanyakan negara-negara akan memerlukan suatu dasar lebih jelas dan luas untuk konversi seperti itu. pedoman teknis terutama penting karena sering] berkenaan dengan kota. Hal seperti itu adalah tidak cocok dengan keaneka ragaman dari hutan alami.


2. Rencana dan Pelaksanaan Proyek Pembangunan Hutan


Suatu penyebab utama kegagalan dari banyak proyek kehutanan proyek, seperti halnya pekerjaan rutin, di negara-negara tropis telah gagal untuk merencanakan dan melaksanakan pekerjaan, akibat faktor sosial; budaya, kelembagaan, dan politis. Kehutanan telah diperlakukan sebagai sesuatu terlepas dari hidup suatu negeri, barangkali oleh karena secara relatif periode kedewasaan produknya. Pendekatan ini menurut ilmu sosiologi sederhana mungkin di negara-negara ini semua yang mempunyai kesadaran nasional, penting dikembangkan yang bersifat melindungi; dan fungsi hutan produktif, tetapi pendekatan seperti itu nampaknya jarang akan sukses di hutan, karena merubah kebiasaan dipandang sebagai suatu rintangan pengembangan atau sebagai suatu wilayah terbuka untuk umum dan sumberdaya yang bisa diambil siapa saja. Ahli kehutanan harus mempromosikan dengan membuat keputusan pada semua tingkat masyarakat, dari presiden kepada petani.

Kesia-siaan rencana pembangunan kehutanan itu bukanlah seperti telah berulang-kali diperlihatkan. Rancangan itu secara teknis berambisi atau secara sosial tidak spesifik untuk hutan tersebut. Kegiatan penebangan kayu atau keuangan negara. Organisasi non-pemerintah sudah pada tempatnya mengkritik banyak dari proyek kehutanan untuk pengembangan industri hutan utama. Kritik profil dan rencana tidak menyediakan penguatan atau penetapan sosial dan ukuran kelembagaan dan undang-undang yang diperlukan untuk tercapainya manajemen berkelanjutan dari hutan.

Usulan proyek, itu meliputi manajemen hutan oleh masyarakat lokal mungkin ditempatkan lebih baik dibanding proyek yang dirancang oleh departemen kehutanan dan perusahaan kehutanan; tetapi klaim organisasi non pemerintah bahwa hanya masyarakat yang berkompeten untuk mengatur hutan tropis alami harus diperlakukan dengan hati-hati. Kehutanan tropis, sebagai fungsi pemerintah, sebab orang-orang lokal tidaklah selalu wali yang baik menyangkut sumber alam. NGO nampak berpikir semata-mata keberadaan hutan hanya untuk orang-orang tinggal dekat hutan untuk memelihara hutan.

4.Penggunaan Kriteria IIED Manajemen berkelanjutan

Untuk mempertunjukkan ketahanan suatu sistem produksi, bahkan oleh ukuran-ukuran sederhana yang diusulkan oleh Dawkins ( 1488), lebih awal yang disebut kembali barangkali untuk konfirmasi keberhasilan. Keputusan penggunaan lahan,. yang ditekan oleh peningkatan penduduk, tidak bisa lama. Kondisi-Kondisi yang harus dijumpai untuk manajemen berkelanjutan untuk sebagai berikut :

a. Sebagai bagian dari suatu keseluruhan rencana land-use, pemerintah harus membuat rencana lahan hutan permanen dengan jaminan jangka panjang sebagai hutan alami;
b. Pemerintah harus menciptakan mengamankan kondisi-kondisi untuk para manajer [adalah] hutan;
c. Pemerintah harus menetapkan standard untuk ijin penebangan, siklus penebangan, pohon yang boleh ditebang, teknik memanen, perlindungan lingkungan dan semacamnya;
d. Kelompok dan Orang-Orang itu yang secara langsung dilibatkan harus mengendalikan semua aspek pemanenan dan perawatan dari hutan adalah suatu pemanenan untuk memastikan bahwa masa depan tanaman panenan dan bahwa tidak terjadi kerusakan lingkungan.
e. kebijakan keuangan dan ekonomi harus tidak menuntut lebih dari_ hutan dibanding untuk fungsi keberlanjutan (Kondisi ini memerlukan suatu pasar, suatu kebijakan pemerintah yang memperlakukan hutan sebagai sumber daya untuk tidak dieksploitasi.
f. Kebijakan lingkungan harus menyadarkan publik akan permasalahan lingkungan.


Faktor lain yang penting bagi operasi yang efektif dari semua kondisi-kondisi di depan meliputi yang berikut :

a. Pemerintah harus dengan jelas menggambarkan sasaran hasilnya untuk masa hutan dan kayu sebagai komoditas;
b. Informasi harus tersedia pada tingkat dan mutu hutan, tanah mereka, mutu kayu mereka, dan lingkungan mereka, nilai-nilai, untuk definisi hutan permanen dan hutan produksi dan hutan konservasi;
c. Pertumbuhan, hasil, dan data regenerasi dari contoh tetap. harus tersedia untuk memudahkan pengembangan model yang dapat digunakan untuk menentukan pola terbaik pemanenan, tanda-tanda pohon yang terperinci untuk ingatan, sistem silvicultural untuk diterapkan, panjang siklus penebangan, dan sifat alami masa depan panen.
d. data Keuangan akurat yang mencakup semua aspek yang menyangkut operasi harus tersedia.
e. peramalan masa depan yang terbaik dan permintaan yang harus dilaksanakan.
f. Perencana harus mempunyai pengetahuan dampak operasi kayu terhadap lingkungan dari pandangan masyarakat lokal.

Ukuran-Ukuran ini secara implisit mengenali keaneka ragaman dari hutan alami memerlukan fleksibilitas dalam perawatan managerial. lembaga donor perlu didasarkan berbagai kemungkinan biologi dari hutan, bukan pada beberapa gagasan yang diduga, sebagai contoh, orang Melayu ' atau Sistem Barat dari Afrika Tropis `- Sistem unit pengelolaan hutan harus diterapkan sebagai satuan aturan kaku. Tentu saja, manajemen paling tahan lama dan silvicultural sistem telah ditandai pada kenyataannya dan fleksibilitas.

5. Penggunaan Proyek Pembangunan Hutan dan Manajemen Baik

Buku IIED ( Poore et a1. 1989) merekomendasikan beberapa jalan untuk mempromosikan' manajemen berkelanjutan berupa rekomendasi mengusulkan pada manajemen hutan perlu untuk disiapkan, tetapi tidak ada keraguan bahwa demonstrasi jauh lebih meyakinkan banyak orang-orang. Banyak badan kini mempromosikan atau melaksanakan proyek bertujuan untuk mempertunjukkan manajemen yang baik, banyak proposal ke ITTO membuat ketetapan kecil untuk usaha yang diperlukan untuk menciptakan dan mempromosikan suatu demonstrasi, (di) atas tingkatan manajemen komersil.

Karena suatu demonstrasi berharga pelaksanaan kerja, fasilitas dan staff ekstra diperlukan, seperti halnya monitoring intensif untuk semua aspek manajemen hutan. Arahan manajemen ahli kehutanan bisa banyak dari para manajer taman nasional dan hutan konservasi serupa di dalam perensentasi masyarakat tentang aktivitas mereka.

Poore et al. ( 1989) lebih dari 1 juta ha hutan alam di bawah format manajemen yang ditetapkan oleh IIED. Pandangan ini lebih rendah dari data pejabat pemerintah dibandingkan FAO sebagai hasil survey tahun 1980. FAO melihat negara-negara yang tidak turut menandatangani perjanjian 1983 tentang ITTA meskipun demikian, terjadi pertentangan.

Duncan Poore ( 1990) mempunyai gambaran 1 juta ha telah secara luas salah dimengerti oleh beberapa negara-negara yang mempunyai area hutan alami yang tidak sungguh mengkwalifikasikan menjadi manajemen berkelanjutan.

Hal Itu tidak mengikuti ajakan pihak luar untuk memperbaharui hutan, bebas tanpa kendali, tanah pertanian yang memenuhi syarat dari konversi hutan sekunder. Kebanyakan ini siklus yang jatuh pertama setelah panenan di hutan utama dan tidak dapat dipanen lagi.

Adalah layak untuk menyimpulkan dengan suatu kata atas pentingnya memperluas pelatihan dan riset. Peningkatan bisa berkelanjutan dalam produktivitas di hutan tropis seperti di semua bidang yang lain , pada riset. Tidak ada ahli agronomi yang diharapkan dapat membuat sejenis tanaman jagung menjadi 10 hari dari 90 hari panen, maupun ahli kehutanan bisa membuat sejenis pohon berdiameter 90 cm dari 10 cm.
Prinsip umum manajemen hutan belum mengubah organisasi kehutanan tropis sejak 130 tahun yang lalu. Tidak ada teknik maupun prinsip cukup diberikan oleh ahli kehutanan banyak negara-negara dengan hutan lembab tropis. ahli dengan situasi ini dan mestinya tidak mencari kambing hitam di luar profesi itu., Tekanan akibat meningkatnya penggunaan lahan intensif, dari ahli kehutanan menjadi lebih dapat menyesuaikan diri dan trampil jika mereka akan menyelamatkanhutan. Semua negara-negara yang sangat ingin mempertahankan hutan tropis harus meningkatkan arah kegiatan kehutanan mereka dan pengembangan ahli kehutanan profesional.

KONDISI UTAMA UNTUK MANAJEMEN BERKELANJUTAN

Hasil atau produksi yang berkelanjutan utamanya tergantung pada unsur teknis dan ecologi, sedangkan manajemen betkelanutan tergantung pada kemampuan manajer dan unsur-unsur lain di luar mengatur kenadali. Empat kondisi yang dianggap sebagai hal yang penting bagi manajemen berkelanjutan untuk jasa dan barang-barang hasil hutan tropis alami dalam jangka panjang yaitu sbb :

1. Keamanan jangka panjang terhadap Operasi dan Kepemilikan

Alasan utama kegagalan manajemen hutan di daerah tropis pada masa lalu adalah tidak adanya jaminan hutan akan tetap menjadi hutan. Tidak adanya perlindungan kepemilikan, menyebabkan ketakutan para manajer hutan menginvestasikan uang dan waktu dalam manajemen untuk produksi masa depan dan mendorong investasi ke arah menghabiskan. Beberapa contoh :

- Manajemen Konversi, regenerasi, di dataran rendah Scotlandia dan Penin Sular Malaysia sejak tahun 1960, dari hutan menjadi kelapa sawit dan karet, adalah suatu keputusan politis untuk Petani melayu berdasar pada survey kemampuan lahan dan prediksi pasar.
- Penundaan sistem konsesi untuk industri hasil hutan dalam kaitan dengan ketidak-mampuan pemerintah untuk pembukaan hutan untuk mencegah transmigrasi untuk tujuan jangka pendek pertanian.
- Di (dalam) Queensland, sistem yang telah diteliti dan didokumentasikan hutan lembab tropis oleh suatu politis tidak sebagai hasil piker ahli kehutanan dan ahli lingkungan.

Suatu kegiatan survey nasional, regional, atau bahkan survai lokal tentang kemampuan lahan menjadi dasar yang penting untuk pengambilan keputusan tentang lokasi dan peruntukan tanah hutan secara permanen. Survei tersebut, tentu saja, harus mengkombinasikan perkiraan tentang gambaran kebutuhan untuk berbagai barang-barang hasil hutan dan jasa yang diperoleh dari hutan dan model alternatif pengunaan lahan hutan.

Suatu pendapat untuk hutan permanen harus didukung dan berdasarkan suatu dasar fakta yang jelas. Beberapa perlu untuk diyakinkan :
- Suatu pertimbangan ekonomi dan perencanaan kementerian pemerintah, akan bagus dan memeberikan arahan tentang hutan Negara dan lahan hutan adalah sangat penting untuk memberikan gambaran masa depan kesejahteraan negeri sebagai kesejateraan dan pemerataannya.
- Penduduk local, mereka dapat memperoleh manfaat lebih besar dari lokasi hutan nasional dibanding peruntukan lahan lainnya.
- Ahli lingkungan mengatakan bahwa ada 3 keuntungan manajamen hutan produksi dan manajemen ini dapat membawa keberlanjutan dan ramah lingkungan

Suatu bagian utama dari suatu pendapat harus focus pada suatu nilai yang baik dan jasa dari hutan termasuk didalamnya pengertian dan apresiasi umum. Beberapa jasa seperti keanekaragaman hayati mungkin susah untuk dinilai secara langsung, tetapi ahli hutan harus belajar untuk menggunakan hasil penelitian tentang nilai keuntungan yang tidak terukur. Selanjutnya manajer harus melihat kembali nilai dari pilihan konversi penggunaan lahan non hutan untuk dijadikan hutan. Perkiraan nilai maksimal dari tanaman pertanian yang dapat mendatangkan hasil yang kontiyu dan berharap hutan lestari. Untuk tanaman-tanaman yang memiliki nilai eksport dan memiliki pasar terbatas, suatu perbandingan keuntungan ekonomi untuk sebuah Negara hanya cukup untuk beberapa tahun saja.

Pada tahun 1988, Badan Internasional dan Lingkungan Pembangunan ( IIED) melakukan suatu survey tentang manajemen hutan operasi di 17 negara-negara produsen untuk mengukur keberlanjutan kemampuan produksi kayu di hutan tropis. (ITTO) dalam Poore et al. 1989). Kebanyakan operasi manajemen hutan yang diamati oleh IIED dilaksanakan oleh departemen kehutanan. Ada suatu anggapan bahwa pemerintah perlu menerapkan kebijakan yang lebih konsisten dibanding organisasi yang dilakukan oleh perusahaan swasta. Fakta menunjukkan bahwa beberapa perusahaan mempunyai suatu catatan manajemen hutan yang menengah, mereka lebih baik daripada departemen kehutanan. Departemen kehutanan tidak memberikan model manajemen hutan dengan jelas. Model kepemilikan bersama dan manajemen, atau hak pakai ke masyarakat, telah diusulkan dan kini berkembang di berbagai negara-negara ( sebagai contoh, di kelompok petani Quintana Roo di Mexico dan di wilayah manajemen terpadu di Honduras), dan pengaturan serupa telah diusulkan untuk wilayh di Indonesia. Mode baru dan system manajemen sangat diperlukan untuk semua sumber alam yang dapat diperbaharui; sistem ini harus sesuai untuk suatu fakta lokal tentang tekanan penduduk, kepemilikan, dan tuntutannya peningkatan barang dan jasa. Pembangunan model ini, dan kebijakan rasional, adalah suatu tugas bersama, pemerintah terkait, LSM, masyarakat lokal, dan para donor yang memiliki peran penting.



2. Keamanan untuk Kegiatan Operasi Hutan

Beberapa dekade, dokumentasi besar telah ada istilah di mana suatu pemerintah mungkin telah memetik hasil dari hutan nasional untuk kebutuhan domestik atau penggunaan komersil oleh masyarakat lokal atau perusahaan swasta. Kekayaan ini suatu informasi masih tidak cukup diterapkan, atau telah salah dipahami dalam konteks sistem undang-undang tertentu. Kekeliruan di atas "resiko" terjadi di Amazonian Brazil pada tahun 1970 yang lalu adalah suatu contoh pengentasan kemiskinan dari departemen kehutanan, dimana suatu sistem cocok untuk suatu area di mana kantor pemerintah mungkin terlalu jauh dan control yang lemah.

Pengendalian dari operasi penebangan menjadi kondisi yang paling untuk manajemen berkelanjutan setelah perlindungan jangka panjang dari hutan sendiri. Seperti disebutkan di, pemerintah harus merupakan agen yang paling dapat dipercaya untuk manajemen hutan jangka panjang, tetapi, peranan pemerintah adalah kecil dan kurang mampu menyediakan jasa seperti itu . Banyak departemen kehutanan terkenal kekurangan tenaga dan lemah, moral rendah, dan system karier yang birokratis dan lingkungan birokrasi tidak ditentukan oleh departemen kehutanan. Bidang pengawasan tidak mampu sebab kurangnya sarana transfortasi, bahan bakar, dan kurangnya peralatan. Pendidikan dan latihan adalah kurang bermanfaat atau penelitian yang terlambat, kurang relevan atau kurang bermanfaat.

Pada saat proyek donor untuk memperkuat institusi departemen kehutanan dan baru-baru ini, untuk menetapkan manajemen hutan kemasyarakat, belum dapat berproduksi secara berkelanjutan. Suatu percepatan kehilangan hutan telah terjadi. Mungkin penyebabnya adalah pasca proyek seperti kurang perhatian pemerintah dalam konteks suatu tinjauan ulang dan revisi (montoring dan review). Untuk ini, dalam kegiatan Program Aksi Hutan Tropis (TFAP) kegiatan sector yang terkait adalah sangat mengecewakan. Ketidakjelasan kapasitas pemerintah dalam usulan proeyek menjadi perhatian pada TFAP di tahun 1990. Beberapa penyempurnaan dilakukan dari dekade sebelumnya, sebab kurangnya mekanisme divisi dalam instansi tersebut.

Jika ini disetujui, manajemen berkelanjutan adalah pentingnya peran pemerintah, untuk kasus perkuatan departemen kehutanan dalam konteks program pembangunan kehutanan dan hal utama lainnya memeriksa secara seksama susunan pemerintah harus betul-betul ditekankan.


3. Nilai yang pantas untuk Lingkungan

Suatu ungkapan nyata bahwa hutan tropis sudah diekspoitasi berlebihan dan disalahgunakan sehingga berdampak secara luas dan cepat. Pengaturan hutan dari pasar komersial secara terus menerus memberikan jasa namun sedikit perhatian atau nilai local, regional dan nasional. Hutan selalu dijadikan jalur pelayaran atau jalan raya dengan bermacam-macam tekanan manusia. Sebagian besar pandangan pengguna atau manajer memperlakukan hutan sebagai suatu sumber daya milik umum yang dapat diambil oleh setiap orang.

Itu menyebabkan pendapat departemen kehutanan menjadi lebih berpikir komersial dan kurang memperhatikan tumbuh-tumbuhan dan ekologi hutan agar kondisi hutan lebih baik. Beribu-ribu kayu tropis telah diuji secara anatomis,mekanik ,phisik, dan kandungan kimia, sekalipun begitu pasar internasional dan nasional dalam partai besar namun memberikan perhatian yang kecil terhadap keberadaan spesies tersebut. Suatu konsekwensi langsung menyangkut kegagalan pasar untuk bersama-sama dalam kelompok besar telah memanen dari pohon kecil yang sangat berharga untuk dijual dengan tidak ada pengembalian ke hutan.

Pemanenan hanya melihat dan tidak melihat dampak dari pohon dan lahan setelah kegiatan penebangan baik aspek biologi dan efektifitas ekonomi. Pemanenan lebih dari 10 pohon per hektar dari sebuah hutan primer tropis memberi manajer dan perusahaan akan dapat ,alakukan pengembangan hutan setelah pemanenan. Suatu skala kecil dari unit hutan pada suatu wilayah Hutan Cadangan di Trinidad dan sistem skala besar yang seragam di operasi di Hutan Mengo Selatan Negara Uganda adalah dua contoh yang mana arahan efektifitas manejemen menjadi sangat penting dalam hutan produksi.

Suatu cara nyata untuk menaikkan intensitas adalah membuat kegiatan pemanenan yang lebih mahal. Sebuah penyelenggara harus membayar lebih untuk memetik hasil di bawah kondisi-kondisi yang dikendalikan lebih efisien. Sekarang, membuka, bahkan di tanah hutan yang permanen, adalah murah, dimana tidak ada perangsang yang memberatkan. Suatu manajemen sederhana, seperti suatu pembayaran tahunan per hektar yang menggunakan cara mudah dalam menilai dan staff tersebut dapat disuap. Rovalties dan pembayaran lain dapat dikumpulkan oleh badan pemerintah yang khusus tetapi bukan bagian dari tugas departemen kehutanan. Suatu tugas manajemen menjadi lebih dengan mudah dilakukan bila claim pembayaran tersebut ditangani oleh departemen kehutanan. Keraguraguan pemerintah untuk memaksakan beban biaya seperti (itu) ke departemen hutan, namun ke pendapatan pusat. Tetapi situasi itu telah menyebabkan departemen kehutanan ceroboh mulai tamak.

Penilaian yang lebih tinggi tentang hutan, dengan prospek lebih baik bagi manajemen, dapat dapat diterapkan nenerapa control dan pembayaran, termasuk :
- suatu kewajiban dari pemanenan kayu adalah cara pantas tetapi tidak menjual spesies yang langka;
- Kombinasi atau percontohan memanen produk non kayu atau non glondongan seperti kayu bakar dari sisa penabangan dan jenis kayu non-commercial seperti rotan dan tumbuhan diatasnya, dan keluaran lain dan makanan hutan;
- Perbedaan royalty pada kayu gelondongan dari nilai-nilai yang berbeda, menghitung atas dasar perkiraan menginventarisasikan dengan rabat untuk bisa diijinkan, dan disesuaikan atas dasar harga pasar; dan
- Paling efisien mengambil sewa hutan, melalui sistem yang tidak percaya pada laporan mereka untuk membayar dan menempatkan beberapa departemen kehutanan di lapangan. Ini sangat peka ke penyuapan.


4. Informasi Cukup


Kebanyakan dari 17 negara ITTO negara-negara produsen berdasarkan survey IIED pada tahun 1988 (Poore et al. 1989) menunjukkan krisis defisiensipengetahuan tentang sumber daya hutan mereka, ukuran pasar produk mereka, dan informasi yang diperlukan untuk manajemen efektif. Itu adalah mungkin sempurna untuk praktek suatu manajemen konservatif pada hutan lembab tropis tanpa melihat pengetahuan silviculturai pada suatu dari jenis komponen. Manajemen seperti (itu) , berdasar pada pengamatan langsung oleh staff dengan suatu pengetahuan biologi yang yang baik. Suatu pengamatan untuk praktek di India dan Burma pada abad 19 dan diterapkan di Negara-Negara lain di Afrika dan Asia, dan sampai taraf tertentu di Caribbean. Terkecuali Suriname jarang-jarang dicoba di Amerika Tengah dan Selatan.





Ketika keluaran yang diinginkan adalah kayu-kayu besar dari spesies yang langka dari hutan polyspecific adalah tentu saja, hasil rendah dan dengan siklus penebangan yang panjang. Jika jenis memiliki pertumbuhan yang cukup tinggi dan memiliki jumlah anakan banyak, maka produktivitas dapat meningkat hasil per hektar dengan biaya juga meningkat. Jika spesies pertumbuhan di perkebunan terbuka, hasil per hektar Barangkali, ditingkatkan lebih lanjut . Bagaimanapun, laju pertumbuhan pohon individu boleh kecil dari sistem yang lain. Perbedaan hasil datang dari, jumlah pohon bisa memanen per hektar. Mayoritas spesies komersil dari hutan lembab yang tropis hari ini mempunyai diameter lebar dan di sana akan bersifat keuntungan sedikit dalam penetapan perkebunan yang luas, sekalipun dana tak terbatas.

Perubahan polycyclic ke manajemen monccyclic, dari tahun 1940 sampai 1960, membendung sebagian besar dari suatu perwujudan yang yang diulangi memotong tanpa kendali kerusakan penggundulan intensive akan merugikan hutan. Bagaimanapun, perusahaan sudah sering mencegah departemen kehutanan nasional dari termasuk limit minimal dalam ketentuan di (dalam) ketentuan ahli kehutanan akan mendorong lebat dan kemudian menutup hutan selagi generasi yang berikutnya tumbuh dari dan pohon kecil. Karena sistem ini untuk bisa efektif suatu species populasi jenis diinginkan harus lebih dulu di survive pencatatan operasi dan menghasilkan suatu dasar cukup kedua. Untuk menyediakan kondisi-kondisi seragam untuk generasi yang kedua , area itu tidak yang dibuka oleh pencatatan adalah sering diberi suatu perawatan untuk memindahkan pohon besar jenis yang tidak diinginkan. Sejumlah kecil eksperimen mengerjakan pada tanaman panenan dibentuk menandai awal dikerjakan bagian dari cara melalui siklus pertumbuhan secara komersial memberi penghargaan pada ujung siklus.

Sejak 1970, beberapa negara-negara sudah mengusulkan menerima jenis pasar adalah mengubah dengan cepat bahwa, sebagai ganti pohon itu. yang ditinggalkan setelah panenan sistematis yang pertama, mesin penebang perlu meninggalkan hasil atau untuk mengemukakan waktunya panenan yang kedua . Ini, memberi alasan menyiratkan suatu hasil lebih heterogen di yang pemanen yang kedua , termasuk di dalamnya tentang komposisi jenis, dan suatu penundaan mungkin di waktu menjadi periode jenis diinginkan, sebab ruang bertumbuh yang tersedia akan diduduki oleh pohon sekarang ini yang tidak diinginkan. Potensi manajemen ini rencana bisa diuji dengan mempelajari sifat sisa , struktur setelah penebangan dan menerapkan tingkat angka kematian dan pertumbuhan. studi seperti itu tidak nampak untuk telah dilaksanakan, kecuali di Queensland ( Vanclay 1989), tetapi argumentasi telah digunakan untuk stop hampir semua silvicultural pekerjaan u Sabah dan di tempat lain.

Studi serupa bisa digunakan untuk menguji pemilihan sistem manajemen pemilihan antar silvicultural melainkan manajemen sistem sekarang berlaku seterusnya. Seluruh Malaysia Merupakan sebuah jasirah kecuali Ohore. Tidak sama dengan cara Orang Melayu yang terdahulu sistem manajemen pemilihan bersandar pada mempertahankan suatu proporsi besar dari pohon setelah pemanenan yang pertama dan kemampuan mereka untuk membentuk suatu panen komersil cukup untuk suatu penen kedua pada sekitar separuh perputaran. Departemen kehutanan di Malaysia masih menyusun (UU) untuk aplikasi sistem ini. Gagasan nampak seperti sistem di Philippine, yang dikembangkan di hutan jauh lebih kaya dibanding Yang orang Melayu lakukan.

Ketetapankan besar dan madanya data time series layak dapat dipercaya, studi simulasi telah pula diselenggarakan untuk meramalkan masa depan komposisi dan struktur hutan. Beberapa telah dilaksanakan di Ghana (Alder 1989), sistem pemilihan yang dikembangkan di tahun 1950 berdasar pada kalkulasi tidak cukup, menyertakan banyak pengelompokan sewenang-wenang dan data keliru. Data lain seperti itu - berpegang kepada perusahaan utama di negara Pilipina, bisa dikerjakan atau dikerjakan lagi dengan teknik computer-assisted modern untuk belajar dari silvicultural dan sistem manajemen yang menurut dugaan berlaku. Studi lapngan, walaupun membosankan dan kompleks, adalah banyak lebih murah dan lebih cepat dari eksperimen bidang baru.

Tak perlu diragukan lagi ada suatu kekurangan silvicultural percobaan diterima baik dan dirancang baik di hutan lembab yang tropis, dan ketiadaan data dapat dipercaya telah sangat menghambat departemen kehutanan dari rencana pengembangan manajemen. Pada waktu yang sama, data bersifat percobaan telah dikumpulkan di tahun terakhir, telah dianalisa salah atau sama sekali salah oleh karena tidak adanya staff yang berkwalitas untuk melakukan analisa itu. Perancangan silvicultural eksperimen tidaklah sulit. Penanganan data yang sangat besar telah menjadi lebih mudah dengan program dan sistem komputasi dapat dipercaya. Sepanjang sasaran yang terkandung menjadi produksi batang kayu besar, waktu diperlukan untuk memperoleh data yang cukup untuk dapat hasilnya dipakai harus eksperimen dibandingkan dengan panjang penebangan pada rotasi kayu bubur dan kayu bakar hutan. departemen kehutanan harus menyelidiki analisa menggunakan multivariate metoda, tetapi analisa seperti (itu) memerlukan penilaian [yang] lebih intensive dibanding teknik biasa.

Pekerjaan pengembangan pemanenan di eskperimen silvicultural besar-besaran harus didukung oleh autecological pada jenis komponen. Walaupun adalah mungkin untuk mengatur hutan dengan bebasnya atas dasar pengetahuan biologi umum, yang lebih intensive sekalipun begitu sistem bisa berkelanjutan mungkin hanya sebagai informasi tentang tanggapan kwantitatif pemeliharaan dari eksperimen formal. Pengetahuan diperlukan adalah; tidak berbeda dari jenis perkebunan. Dengan ahli ilmu biologi dan ahli ilmu lingkungan hidup stludy tentang model tiruan atau alami di hutan nampak untuk mencerminkan suatu analisa dalam kekurangan information fase memanen. Data diperlukan pada daya tahan berbeda dalam hubungan dengan karakteristik individu dan kompetisi area. Karakteristik batang meliputi mahkota dalam hubungan dengan tajuk lokal, dan bentuk batang, dan luas kerusakan selama awal pencatatan.

Ada beberapa pertimbangan untuk kekurangan dari data dari alur cerita lebih tua: Di bagian Tenggudyara Slsia, banyak dibinasakan selama Perang dunia II. Afrika dan Asia, dalam pergolakan penjajahan. Dan di Malaysia, konversi dataran rendah di Scotlandia diperbaharui hutan ke perkebunan kelapa sawit hasilnya direncanakan dan terkait langsung kepada hutan yang sisa sekarang dipusatkan sebagai silvicuiturally. Eksperimen mempunyai beberapa kerugian di dalam pencatatan mempunyai alur cerita karena pertumbuhan jelas. Adalah mustahil untuk menaksir terlalu tinggi pentingnya proting, yaitu alur di dalam kestabilan hutan, sebab adalah kritis untuk pengembangan model dari rejim manajemen. Sekarangpun, banyak alur dari data tinggal tetapi kurang dipelajari.

PENGETAHUAN UNTUK MANAJEMEN BERKELANJUTAN

Ahli ilmu biologi dan ahli ilmu lingkungan hidup cenderung untuk setuju bahwa kekurangan info dapat dipakai dibanding ahli kehutanan seperti biasa mengakui adanya. Posisi dokumen UNESCO-IVIC pertemuan di Venezuela di tahun 1986 diusulkan untuk belajar elements pengetahuan silvicultural bagi para manajer hutan lembab tropis. Sasaran utama manageme produksi kayu secara besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan industri hutan padat modal. Wilayah di bawah kendali siiviculturists atau para manajer hutan lembab tropis memaksa mereka untuk menerima heterogennitas yang lebih tinggi di hutan, berdampak operasi pencatatan. Perbedaan ini, akibat perbedaan pendekatan masalah antar manajer hutan dan ahli ilmu lingkungan hidup. Eriscussion lebih lanjut, membatasi pada tanah hutan yang permanen, adalah, hutan yang dibuat menurut hukum untuk hutan produksi cadangan untuk memenuhikebutuhandomestik nasional sesuai kebijakan hutan nasional.

KOMPONEN-KONPONEN

1. Kebijakan Hutan Nasional. Kebijakan ini memberikan garis besar tugas departemen kehutanan nasional.
2. Kerangka Legislatif. Kerangka ini menempatkan departemen kehutanan dan kegiatan hutan dalam konteks undang-undang. Sungguh sial hukum hutan karena sering hanya dijadikan pertimbangan jangka pendek untuk keuntungan pribadi dan politis (yaitu, korupsi dan penyuapan).
3. Lahan Tenure. departemen kehutanan harus menentukan hak pemilikan atau pemilik sah tanah tradisional, atau mungkin tidak (ada) jawaban sederhana, atau mungkin ada campur tangan politis kaitannya dengan undang-undang tenure.
4. Sasaran khusus Manajemen. Sasaran ini perlu mempertimbangkan permintaan atas hutan dan komitmen untuk menyediakan kebutuhan penduduk lokal seperti halnya industri besar. Sasaran hasil bukanlah yang ditetapkan tetapi harus menekan tinjauan ulang. Sektor kehutanan bekerja dengan rencana pada umumnya memerlukan revisi tiap-tiap 5 atau 10 tahun. Pada saat itu umpan balik dari unsur-unsur untuk memastikan bahwa sasaran disesuaikan untuk mengatasi peningkatan dan perubahan pasar jangka panjang mendasarkan pengetahuan silviculture dan manajemen. Sasaran boleh besar-besaran dan sepanjang tahun operasi, atau kecil-kecilan dan barangkali operasi musiman, atau suatu kombinasi. Berbagai tahap operasi mengijinkan berbagai manfaat diperoleh. Sebagai contoh, suatu perusahaan hutan besar mungkin memindahkan batang kayu yang besar dengan alat berat dan suatu langkah yang kedua mungkin mengijinkan orang-orang lokal untuk memindahkan limbah untuk kayu bakar dan untuk mengumpulkan produk pelengkap hutan lainnya.
5. Data statistik. Unsur ini menghadirkan pengetahuan ilmiah yang mempunyai efek terbesar sebab komputer elektronik sudah mengambil pekerjaan dan menghasilkan susunan tabel dan penyortiran data dan kalkulasi contoh. Inventarisasi kini serbaguna, untuk disesuaikan bagi berbagai sasaran; hanya saja harus ada sasaran pokok, suatu kelompok variabel utama untuk diperkirakan, dalam penyebaran sampling. Subsampling menguji regenerasi saat ini akan meliputi bank benih di tanah.
6. Kandungan dan Penggunaan Spesies dan Prospek Pasar. Setiap waktu di semua negara-negara tropis, banyak spesies diuji dan ditemukan untuk bahan industri oleh laboratorium produk hutan. Perbedaan sebagian pemasaran kayu dijual berdagang dan bisnis industri hutan pada umumnya politis, hak paten. Studi pemasaran oleh organisasi dengan kwalitas baik diperlukan untuk memudahkan negosiasi para pembeli dan para penjual. studi pengujian kandungan kayu, untuk lihat apakah suatu awal panenan akan menyediakan kayu cukup secara teknis. studi juga melihat berbagai kemungkinan pencampuran jenis, seperti chipboard atau kertas, seperti halnya metoda dalam menambahkan nilai oleh industri pengolahan sekunder (seperti melapisi plastik dan film pada pencetakan kayu lapis, atau pencampuran dengan kayu bagus).
7. Data Dinamis. Studi perlu fokus pada dinamika populasi dari jenis diinginkan. Ini digambarkan terutama atas dasar kandungan kayu dan secondarily pada ekologi yang diamati (pertumbuhan, posisi dalam hubungan dengan tajuk setelah pencatatan, dan laju pertumbuhan).
8. Sampling Diagnostik. Sampling diagnostik adalah suatu nilai rata-rata dan berbagai cara metoda sampling linier, dikembangkan di Malaysia, Nigeria, Sabah, Sarawak, dan Uganda. Digunakan untuk mendiagnose status sekarang dari posisi, semaian bibit, anak pohon, dan pohon muda. Manajer kemudian menentukan silvicultural perawatan yang cocok untuk kondisi nya dan sasaran hasil. Sekarang ada suatu penekanan pada awal identifikasi potensi final-crop pohon dan suatu konsentrasi pada pembebasan mereka dari kompetisi. Banyak negara-negara tropis mempunyai kebijakan lahan tegas " Gunakan atau hilangkan" maka ada tekanan kuat untuk departemen kehutanan untuk untuk mengatur hutan setelah suatu operasi penebangan. Bagaimanapun; sebagai tambahan terhadap pembuatan suatu penafsiran sampling yang diagnostik menghasilkan perawatan, departemen kehutanan perlu menetapkan besaran produktif dan hasil yang diinginkan
9. Studi Jangka pendek pada Dinamika. Seperti sampling diagnostik, penekanan pada jenis yang diinginkan itu dikenali di inventori yang dinamis dan mempertimbangkan bersama-sama sebagai panen, dibanding pada jenis individu. Tiga kelas studi terutama ditandai oleh; (1). survai percontohan (mengadakan percobaan); ( 2) siivicultural perawatan hasil sampling diagnostik, termasuk menjawab intervensi yang utama, dan ( 3) efek ditiruan dan nyata pohon dan lahan. Penekanan harus pada eksperimen dibanding pada pengamatan. Pengujian hipotesis kurang perlu; hitungan dari tanggapan yang diperlukan. Hasil percobaan harus disatukan ke dalam model pertumbuhan.
10. Studi Jangka panjang pada Dinamika. Studi ini dimaksudkan untuk menyediakan variasi dari data untuk modeling pertumbuhan dan membuat stratifikasi dan secara teratur mengukur kembali sistem alur hasil; sumber ini harus dilampirkan oleh inventaris untuk meningkatkan pemenuhan ruang dan untuk menyediakan sampling diagnostik rutin. Ttingkat perputaran yang tinggi kini dikenal untuk hutan alami dan hutan buatan menunjukan hampir mustahil dari data yang dikumpulkan. Usaha lebih jauh lebih untuk diinvestasikan di pertumbuhan dan model, sebab kegagalan membuat ramalan masa depan membuat departemen kehutanan memiliki keputusan politis sewenang-wenang mengenai operasi. Tiga kelas studi terutama sekali sangat menolong para manajer hutan: ( 1) kondisi-kondisi kritis untuk pollinators, dispersers, dan pemangsa menyangkut jenis crap-tree, dan interaksi dari tiap pohon dengan satu sama lain;-' ( 2) dinamika bank regenerasi (benih, semaian bibit, anak pohon); dan ( 3) perawatan dan ekologi ; lianes, trepaderos), terutama sekali perihal silvicultural, seperti di bagian tenggara Asia dan barat daya Pacific dan Acacia di Afrika barat. Beberapa rencana silvicultural mempunyai sebab regenerasi dari jenis yang diinginkan.

Beberapa manajer akan menambahkan suatu kebutuhan untuk studi pada yang nutrientocling. Bagaimanapun, sebab 4 meter kubik per hektar per tahun adalah sekitar pertumbuhan perdagangan tingkat terbaik yang bisa diperoleh untuk secara alami kembali, seperti di dataran rendah Scotlandia yang memiliki hutan tropis lembab, dan sebab 10 meter per hektar per tahun sepertinya memerluka pemupukan tiruan untuk hasil berkelanjutan.

Sampling Diagnostik rutin boleh menunjukkan bahwa beberapa area hutan. Tergantung pada bagaimana tingkatan yang kritis yang ditetapkan dalam instruksi sampling, solusi mungkin untuk memperkaya hutan tanaman atau untuk menggantikan seluruhnya dengan perkebunan tiruan. Hutan tanaman boleh juga ditentukan jika permintaan pasar atau tekanan demografis hutan yang alami harus memberi cara yang secara langsung memberikan produk, format penggunaan lahan. Konversi ke perkebunan tidak perlu dalam kegagalan manajemen; hutan mungkin telah dirusakkan memaksa permintaan melebihi kapasitas biologi dari hutan alami atau pohon yang dapat memperbaharui secara berlimpah-limpah.

Awal dari proses managerial diuraikan, menyebabkan sosial, ekonomi, dan tekanan politis. Perkebunan sudah menyebabkan hutan lembab tropis dari kegagalan anggaran dan permasalahan kepemilikan lahan barangkali lmenyebabkan perkebunan menjadi manajemen sistem intensif tidak stabil dan memerlukan intervensi tepat waktu untuk mencegah penurunan dari sistem.

Secara ringkas, walaupun pengetahuan ekologis yang secara implisit digunakan manajemen, itu hanyalah salah satu sejumlah faktor yang mempengaruhi hutan tropis manajemen. Ahli ilmu lingkungan hidup mungkin mempunyai lebih pengaruh jika mereka melakukan penelitian interpretsi dalam kaitan dengan dampak potensi pada manajemen, sedangkan ahli hutan perlu mengartikulasikan kebutuhan riset mereka dengan jelas dan tahap grant-size produk dipahami oleh ahli ilmu lingkungan hidup.


REKOMENDASI KEPADA LEMBAGA DONOR

Bab ini menyimpulkan dengan lima rekomendasi kepada lembaga donor untuk manajemen hutan lebih baik ;

1. Meningkatkan Koordinasi Usaha

Kebanyakan pengalaman masa lalu 40 tahun, FAO Departemen telah menjadi badan internasional melaksanakan kegiatan proyek kehutanan tropis. karena program kehutanan dikumpulkan di organisasi FAO menyebabkan koordinasi antar unit kurang, sedangkan pertemuan-pertemuan IN-FORMAL TFAP untuk diskusi koordinasi lembaga donor dan permasalahan. Bank Dunia adalah penggerak untuk mendorong ke arah versi TFAP yang sekarang dan telah memiliki peran utama.
Piagam dari Organisasi Hutan Tropis Internasional yang diajukan negara-negara yang mengambil bagian dalam perdagangan internasional di sektor kayu tropis, memberi organisasi ini suatu tanggung jawab untuk mempromosikan manajemen hutan, dan ITTO telah mengembangkan proyek sendiri. ITTO diwakili TFAP sebagai Kelompok Penasehat, untuk menetapkan suatu mekanisme untuk tinjauan ulang usulan proyek yang secara teknis menyampaikan persetujuan, dan untuk monitoring dan mengevaluasi kemajuan bidang proyek.
Pada prinsipnya, FAO yang long-established menjadi lebih baik ditempatkan untuk menyediakan pendukung teknis rancangan pembangunan kehutanan. Lembaga Internasional Pembangunan dan Lingkungan telah menunjukkan adanya tumpang-tindih antar FAO dan ITTO adalah sumber potensi kebingungan dan bahwa tanggung jawab pemerintah mengambil bagian di kedua organanisasi untuk memutuskan apa yang seharusnya. lembaga donor mendesak dilakukan dan koordinasi tanggung-jawab antar FAO dan ITTO.

2. Mempromosikan informasi banyak dan dapat dipercaya sebagai metode Manajemen Hutan Alami.

Lembaga donor seperti Bank Dunia dan FAO berkampanye pada satu konsentrasi atau, beberapa isu. Adalah sulit oleh karena kebanyakan kegiatan tentang genotypes dan periode kedewasaan mengharuskan ahli kehutanan yang akan bekerja bersama lingkungan yang ada; memiliki teknologi informasi tentang situasi yang berbeda informasi pertanian.

Meskipun demikian, peneliti sudah mengumpulkan banyak informasi dapat dipercaya pada teknik dan kondisi-kondisi penting bagi keberhasilan kehutanan tropis. Orang tidak familier dengan pengembangan kehutanan tropis untuk perlakukan sistem silvikuture sebagai sistem managemen; mereka juga tidak mengembangkan sistem silvicultural dan pelatihan kehutanan tropis mengembangkan lingkungan sangat lemah dan buku teks kolonial tidak tersedia lagi atau sedang kekurangan revisi, sejumlah negara-negara ini menggunakan teknik dari ahli kehutanan. Lembaga donor diharapakan memberikan beberapa hal :
1. Pengetahuan tentang laporan status kawasan pada manajemen hutan alam tropis;
2. suatu versi popuiar menyangkut laporan penggunaan kawasan oleh, organisasi non pemerintah, direktur eksekutif dari Dunia Bank, Pers dan lainnya;
3. Menstandardisasi, dan studi kasus pada hutan tropis untuk manajemen berkelanjutan, dan suatu pemilihan sistem manajemen. Studi kasus ini akan mengidentifikasi, sistem hutan buatan bisa berkelanjutan dan . ITTO tertarik dalam studi kasus yang sedemikian dan menyediakan pembiayaan untuk itu;
4. satu set pedoman teknik atau manual untuk praktisi manajemen hutan tropis manajemen, yang diperlukan oleh para manajer. Panduan yang dikembangkan oleh IIED dan diadopsi oleh ITTO adalah suatu permulaan bermanfaat. Tujuan negara-negara produsen perlu disesuaikan dengan petunjuk ITTO kepada keadaan yang spesifik, tentu saja, dapat direkomendasikan, tetapi kebanyakan negara-negara akan memerlukan suatu dasar lebih jelas dan luas untuk konversi seperti itu. pedoman teknis terutama penting karena sering] berkenaan dengan kota. Hal seperti itu adalah tidak cocok dengan keaneka ragaman dari hutan alami.


2. Rencana dan Pelaksanaan Proyek Pembangunan Hutan


Suatu penyebab utama kegagalan dari banyak proyek kehutanan proyek, seperti halnya pekerjaan rutin, di negara-negara tropis telah gagal untuk merencanakan dan melaksanakan pekerjaan, akibat faktor sosial; budaya, kelembagaan, dan politis. Kehutanan telah diperlakukan sebagai sesuatu terlepas dari hidup suatu negeri, barangkali oleh karena secara relatif periode kedewasaan produknya. Pendekatan ini menurut ilmu sosiologi sederhana mungkin di negara-negara ini semua yang mempunyai kesadaran nasional, penting dikembangkan yang bersifat melindungi; dan fungsi hutan produktif, tetapi pendekatan seperti itu nampaknya jarang akan sukses di hutan, karena merubah kebiasaan dipandang sebagai suatu rintangan pengembangan atau sebagai suatu wilayah terbuka untuk umum dan sumberdaya yang bisa diambil siapa saja. Ahli kehutanan harus mempromosikan dengan membuat keputusan pada semua tingkat masyarakat, dari presiden kepada petani.

Kesia-siaan rencana pembangunan kehutanan itu bukanlah seperti telah berulang-kali diperlihatkan. Rancangan itu secara teknis berambisi atau secara sosial tidak spesifik untuk hutan tersebut. Kegiatan penebangan kayu atau keuangan negara. Organisasi non-pemerintah sudah pada tempatnya mengkritik banyak dari proyek kehutanan untuk pengembangan industri hutan utama. Kritik profil dan rencana tidak menyediakan penguatan atau penetapan sosial dan ukuran kelembagaan dan undang-undang yang diperlukan untuk tercapainya manajemen berkelanjutan dari hutan.

Usulan proyek, itu meliputi manajemen hutan oleh masyarakat lokal mungkin ditempatkan lebih baik dibanding proyek yang dirancang oleh departemen kehutanan dan perusahaan kehutanan; tetapi klaim organisasi non pemerintah bahwa hanya masyarakat yang berkompeten untuk mengatur hutan tropis alami harus diperlakukan dengan hati-hati. Kehutanan tropis, sebagai fungsi pemerintah, sebab orang-orang lokal tidaklah selalu wali yang baik menyangkut sumber alam. NGO nampak berpikir semata-mata keberadaan hutan hanya untuk orang-orang tinggal dekat hutan untuk memelihara hutan.

4.Penggunaan Kriteria IIED Manajemen berkelanjutan

Untuk mempertunjukkan ketahanan suatu sistem produksi, bahkan oleh ukuran-ukuran sederhana yang diusulkan oleh Dawkins ( 1488), lebih awal yang disebut kembali barangkali untuk konfirmasi keberhasilan. Keputusan penggunaan lahan,. yang ditekan oleh peningkatan penduduk, tidak bisa lama. Kondisi-Kondisi yang harus dijumpai untuk manajemen berkelanjutan untuk sebagai berikut :

a. Sebagai bagian dari suatu keseluruhan rencana land-use, pemerintah harus membuat rencana lahan hutan permanen dengan jaminan jangka panjang sebagai hutan alami;
b. Pemerintah harus menciptakan mengamankan kondisi-kondisi untuk para manajer [adalah] hutan;
c. Pemerintah harus menetapkan standard untuk ijin penebangan, siklus penebangan, pohon yang boleh ditebang, teknik memanen, perlindungan lingkungan dan semacamnya;
d. Kelompok dan Orang-Orang itu yang secara langsung dilibatkan harus mengendalikan semua aspek pemanenan dan perawatan dari hutan adalah suatu pemanenan untuk memastikan bahwa masa depan tanaman panenan dan bahwa tidak terjadi kerusakan lingkungan.
e. kebijakan keuangan dan ekonomi harus tidak menuntut lebih dari_ hutan dibanding untuk fungsi keberlanjutan (Kondisi ini memerlukan suatu pasar, suatu kebijakan pemerintah yang memperlakukan hutan sebagai sumber daya untuk tidak dieksploitasi.
f. Kebijakan lingkungan harus menyadarkan publik akan permasalahan lingkungan.


Faktor lain yang penting bagi operasi yang efektif dari semua kondisi-kondisi di depan meliputi yang berikut :

a. Pemerintah harus dengan jelas menggambarkan sasaran hasilnya untuk masa hutan dan kayu sebagai komoditas;
b. Informasi harus tersedia pada tingkat dan mutu hutan, tanah mereka, mutu kayu mereka, dan lingkungan mereka, nilai-nilai, untuk definisi hutan permanen dan hutan produksi dan hutan konservasi;
c. Pertumbuhan, hasil, dan data regenerasi dari contoh tetap. harus tersedia untuk memudahkan pengembangan model yang dapat digunakan untuk menentukan pola terbaik pemanenan, tanda-tanda pohon yang terperinci untuk ingatan, sistem silvicultural untuk diterapkan, panjang siklus penebangan, dan sifat alami masa depan panen.
d. data Keuangan akurat yang mencakup semua aspek yang menyangkut operasi harus tersedia.
e. peramalan masa depan yang terbaik dan permintaan yang harus dilaksanakan.
f. Perencana harus mempunyai pengetahuan dampak operasi kayu terhadap lingkungan dari pandangan masyarakat lokal.

Ukuran-Ukuran ini secara implisit mengenali keaneka ragaman dari hutan alami memerlukan fleksibilitas dalam perawatan managerial. lembaga donor perlu didasarkan berbagai kemungkinan biologi dari hutan, bukan pada beberapa gagasan yang diduga, sebagai contoh, orang Melayu ' atau Sistem Barat dari Afrika Tropis `- Sistem unit pengelolaan hutan harus diterapkan sebagai satuan aturan kaku. Tentu saja, manajemen paling tahan lama dan silvicultural sistem telah ditandai pada kenyataannya dan fleksibilitas.

5. Penggunaan Proyek Pembangunan Hutan dan Manajemen Baik

Buku IIED ( Poore et a1. 1989) merekomendasikan beberapa jalan untuk mempromosikan' manajemen berkelanjutan berupa rekomendasi mengusulkan pada manajemen hutan perlu untuk disiapkan, tetapi tidak ada keraguan bahwa demonstrasi jauh lebih meyakinkan banyak orang-orang. Banyak badan kini mempromosikan atau melaksanakan proyek bertujuan untuk mempertunjukkan manajemen yang baik, banyak proposal ke ITTO membuat ketetapan kecil untuk usaha yang diperlukan untuk menciptakan dan mempromosikan suatu demonstrasi, (di) atas tingkatan manajemen komersil.

Karena suatu demonstrasi berharga pelaksanaan kerja, fasilitas dan staff ekstra diperlukan, seperti halnya monitoring intensif untuk semua aspek manajemen hutan. Arahan manajemen ahli kehutanan bisa banyak dari para manajer taman nasional dan hutan konservasi serupa di dalam perensentasi masyarakat tentang aktivitas mereka.

Poore et al. ( 1989) lebih dari 1 juta ha hutan alam di bawah format manajemen yang ditetapkan oleh IIED. Pandangan ini lebih rendah dari data pejabat pemerintah dibandingkan FAO sebagai hasil survey tahun 1980. FAO melihat negara-negara yang tidak turut menandatangani perjanjian 1983 tentang ITTA meskipun demikian, terjadi pertentangan.

Duncan Poore ( 1990) mempunyai gambaran 1 juta ha telah secara luas salah dimengerti oleh beberapa negara-negara yang mempunyai area hutan alami yang tidak sungguh mengkwalifikasikan menjadi manajemen berkelanjutan.

Hal Itu tidak mengikuti ajakan pihak luar untuk memperbaharui hutan, bebas tanpa kendali, tanah pertanian yang memenuhi syarat dari konversi hutan sekunder. Kebanyakan ini siklus yang jatuh pertama setelah panenan di hutan utama dan tidak dapat dipanen lagi.

Adalah layak untuk menyimpulkan dengan suatu kata atas pentingnya memperluas pelatihan dan riset. Peningkatan bisa berkelanjutan dalam produktivitas di hutan tropis seperti di semua bidang yang lain , pada riset. Tidak ada ahli agronomi yang diharapkan dapat membuat sejenis tanaman jagung menjadi 10 hari dari 90 hari panen, maupun ahli kehutanan bisa membuat sejenis pohon berdiameter 90 cm dari 10 cm.
Prinsip umum manajemen hutan belum mengubah organisasi kehutanan tropis sejak 130 tahun yang lalu. Tidak ada teknik maupun prinsip cukup diberikan oleh ahli kehutanan banyak negara-negara dengan hutan lembab tropis. ahli dengan situasi ini dan mestinya tidak mencari kambing hitam di luar profesi itu., Tekanan akibat meningkatnya penggunaan lahan intensif, dari ahli kehutanan menjadi lebih dapat menyesuaikan diri dan trampil jika mereka akan menyelamatkanhutan. Semua negara-negara yang sangat ingin mempertahankan hutan tropis harus meningkatkan arah kegiatan kehutanan mereka dan pengembangan ahli kehutanan profesional.

4. MANAJEMEN HUTAN TANAMAN


Hutan tanaman merupakan sebuah tren baru; kebanyakan penanaman baru dimulai sejak tahun 1950. Sebelum periode ini; kekeliruan penanaman dan beberapa tanaman industri didirikan di daerah dingin dan daerah tropis, tetapi hanya sedikit negara melakukan hutan tanaman sebagai suatu alat penting dalam kebijakan kehutanan. Ketiadaan sumber daya hutan alami menjadi alasan utama untuk pengembangannya pada tempat seperti Australia, Austria, Selandia Baru, Afrika Selatan, dan Inggris.

Disampng suatu permintaan terbatas untuk hutan tanaman dalam beberapa waktu sebelumnya, pelajaran penting dari kekeliruan awal menjadi dasar pengbasis yang jauh pengembangan hutan tanaman dapat sukses masa kini. Kesimpulan utama yang dapat mendukung hutan tanaman ke depan adalah sbb:

- Jenis yang dikembangkan, dapat tumbuh dan eucalypts di daerah subtropis dan tropis, umumnya lebih baik hutan tanaman dibanding yang kondisi asli, jika tumbuh-tumbuhan yang asli tidak ada sebelumnya. Spesies yang dikembankan harus memiliki ketahanan dari penyakit dan hama serius untuk masa pertumbuhan awal setelah penanaman dan teknik manajemen dapat diharapkan menjaga keseimbangannya. Isu ini diteliti secara detail oleh Zobel et al. (1987).
- Jenis yang dikembangkan harus sesuai dengan kondisi iklim antara habitat asal dan daerah penanaman, terutama temperatur ekstrim (e.g., pola priodik dan jumlah dan hari curah hujan). Pemilihan sumber bibit pada umumnya sangat meningkatkan potensi suatu jenis tanaman.
- Umunya, spesies jenis baru sangat baik untuk hutan tanaman dibandingkan dengan menirukan hutan tanaman dari kodisi hutan alami dan kondisi-kondisi untuk pertumbuhan alami. Banyak jenis kayu keras sangat sulit untuk menyebarkan dan pengembangan monoculture.
- Pada daerah tropis, masalah pencegahan hama dan penyakit sangat sulit pada setiap masa pertumbuhan di hutan tanaman; suatu persoalan terkemuka kayu jati. Kebanyakan jenis kayu mahoni yang penting (Meliaceae) sudah terbukti sulit dikembangkan dalam hutan tananaman. Disamping usaha dilakukan untuk mengembangkannya di dalam dan di luar habitat aslinya.
- Pada padang rumput Tropis, termasuk lahan dari bekas hutan lembab tropis dan bekas konversi pertanian untuk dijadikan menjadi hutan tanaman perlu diperhatikan pengendalian gulma dan pemupukan. Wilayah seperti ini didominasi oleh Imperata cyliodrica.
- Pada suatu pertumbuhan awal pembangunan hutan tanaman ada dua cara budidaya hutan untuk dapat sukses: ( 1) perlunya pemberian spesies mikrooganisme tanah yang sesuai (seperti pinus dengan mikoriza, Tanaman legume dengan rizobium atau Casuarina dengan Frankia dan (2) pemahaman secara luas terhadap kebutuhan hara makro dan hara mikro yang kurang, khususnya pospor dan boron.
- Prinsip manajemen pengembangan adalah pembersihan lahan, pembuatan lubang tanam, dan penanaman, hampir sama baik di daerah dingin dan daerah tropis dan pada hutan tanaman maupun hutan alami.
- Keberhasilan Proyek hutan tanaman memerlukan waktu dan stabilitas sumberdaya pada kepastian hak kepemilikan lahan, kepemilikan hasil pohon, input teknis sangat penting.

Gambaran nyata dari sulitnya hutan tanaman, suatu areal 100 juta hektar pada hutan tanaman di daerah dingin dan 35 juta ha di daerah tropis dan sub tropis ( lihat tabel 3, catatan statistik). Antar negara berkembang, Brazil, China, dan India memilki sumber daya hutan tanaman untuk bahan baku industri, sosial, dan fungsi lingkungan, sementara yang lain mengalami kekurangan produksi kayu seperti Negara Lesotho, Swaziland, dan Trinidad-yang sekarang sangat tergantung kebutuhan kayunya dari hutan tanaman.

Ini sangat sulit dalam pengembangan hutan tanaman untuk memenuhi kebutuhan kayu dunia. Kontribusi hutan tanaman telah meningkat secara absolute dan relative sepanjnag abad 20, dan diproyeksikan akan berperan dalam pemenuhan persediaan kayu dunia di tahun 2000 ( Sedjo 1987). Menurut Askalio Dykstra dan Binkley (1987), tercatat beberapa konstribusi dari hutan tanaman dalam pembangunan dunia menuju perdagangan internsional, dalam produk hutan yang cendrung meningkat akibat pertambahan kebutuhan penduduk.

Untuk waktu yang lama, menanam pohon untuk penggunaan industri menjadi perhatian utama. Tetapi sejak tahun 1970, kebutuhan untuk mencukupi kebutuhan domestik (khususnya untuk fuelwood, bahan bangunan, dan makanan ternak) telah menyebabkan banyak pohon ditanam di daerah tropis. Suatu prinspi silvicultural prinsip dasar hutan tanaman industri dapat menyesuaikan diri yang “baru" produksi pohon, walaupun, perbedaan spesies dan rejim adalah lebih untuk tujuan tertentu. Sistem manajemen yang membandingkan dua pohon dan kebutuhan pohon memerlukan pemahaman yang menyeluruh tentang sistem dan komponen yang mereka miliki.
Sebab pohon menanam sekarang didalamnya meliputi dimensi sosial dan lingkungan, ini penting dalam pembangunan masyarakat desa dewasa ini. Hutan tidak lagi dilihat secara sempit hanya sektoral tetapi menjadi isu nasional penting di banyak negara-negara. Lebih dari itu, perhatian telah bergeser dari kayu glondongan menjadi kayu dalam banyak manfaat pohon dan dari suatu pandangan hutan tananaman untuk serat ke berbagai penggunaan hutan, seperti agroforestry. Perubahan ini sudah mengubar hutan cagar alam eksklusif dari professional ke pelibatan orang-orang lokal dalam perencanaan partisipatif. Kedua-Duanya Negara kaya kayu dan Negara kekurangan kayu melihatat hutan tanaman sebagai alat berfungsi banyak, berperan penting dalam pembangunan nasional (Seperti Wiersum 1984). Kecenderungan ini mungkin akan berkembang pesat di 1990-an dengan pertimbangan bahwa prosuk hutan tanaman sebagai penyerap gas CO2 untuk mengurangi pemanasan global (Myers 1989a). Suatu area dapat berdampak pada penyerapan gas C02 pada berbagai level di atmosfir, bagaimanapun, kebutuhannya akan semakin besar diperkirakan diusulkan 300 juta hektar (Myers 1989b). Suatu dampak ekonomi, politis, dan sosial dari penghutanan pada skala seperti itu akan bersifat sangat penting.


REVIEW STRATEGI MANAJEMEN TERBAIK

Bagian ini, mendiskusikan prinsip hutan tanaman untuk memperoleh sasaran hasil terbaik, yang dapat lebih memberikan pemahaman kita. Definisi manajemen hutan telah meningkatkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan hutan ; walaupun awalnya hanya sangat sedikit yang membahas rekyasa silvicultural, sekarang ini dipahami sebagai sesuatu yang lebih luas, mencakup pengambilan kebijakan dalam penggunaan sumberdaya biologi, keuangan, dan sumber daya manusia. Maka strategi manajemen yang terbaik untuk unit hutan tanaman manapun akan tergantung pada sasaran hasil manajemen, sumber daya tersedia, hal lain yang tidak bisa dipisahkan, dan kebijakan lingkungan. Diskusi ini diarahkan pada identifikasi tentang Prinsip umum manajemen hutan tanaman, adalah bagaimana menghasilkan produksi kayu sebagai sasaran utama.

Hutan tanaman dapat dikembangkan dalam skala besar secara monocultural, penanaman pohon secara intensive untuk memenuhi industri kayu. Model ini dapat dikembangkan pada wilayah dingin dan wilayah tropis dengan tanaman Eucalyptus. Strategi manajemen yang terbaik, untuk pengembangan hutan tanaman dan seperti itu. Menurut sejarah, kebanyakan hutan tanaman bergairah untuk mengembangkan kondisi asli untuk hutan tanaman industri seperti yang diusulkan oleh ahli ekonomi pembanguan Westoby ( 1962) dan sesuai dengan teori pembangunan. Sejak tahun 1978, tujuan teori pembangunan dan pengembangan perhutanan sosial dan hutan kemasyarakatan (Arnold 1991), walaupun dalam pelaksanaannya masih dalam skala kecil dalam pengembangan hutan tanaman industri. Pada priode ini bahwa pengembangan pembangunan, kelembagaan dan pengakuan model agroforestry. Bagaimanapun hutan tanaman dan agroforestry sudah umum dainggap sebagai sesuatu penting dan menjadi kegiatan mandiri.

Melihat kebelakang, system model hutan tanaman tradisional sangat mementingkan pelibatan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya lahan secara luas. Sekarang pengetahuan ini memberikan kondisi social pedesaan dan menjadi langka di banyak industri dunia dalam kaitannya hutan untuk menghasilkan produk hutan tanaman secara sukses. (Sargent 1990). Pengembangan strategi manajemen yang baik untuk hutan tanaman memiliki banyak tantangan, beberapa diantaranya melupakan pendekatan tradisional.

Kesimpulannya karakteristik pohon dapat berproduksi dan prinsip untuk keberhasilan manajemen hutan tanaman dan ciri dari dari strategi manajemen yang baik untuk program hutan tanaman.


KARAKTERISTIK KEUANGAN PASAR DARI HASIL POHON

Pada kasus hutan tanaman yang paling sederhana, pertumbuhan tanaman untuk produksi kayu membutuhkan biaya perencanaan, pemanenan dan pemeliharaan tanaman; persiapan dan evaluasi lokasi; penanaman dan pemeliharaan pada awal tahap, dan pasca pemanenan dalam upaya yang terlambat tentang periode produksi. Sebab evaluasi keuangan berdasarkan pada ukuran-ukuran nilai sekarang untuk menghitung investasi dan pengembaliannya, periode ini (pendekatan ini penting untuk hutan tanaman dengan siklus yang panjang) kemudian mengamati penentuan pengembalian keuangan dari produksi pohon. Hal utama dalam investasi pribadi dalam hutan tanaman tanaman mungkin diharapkan hanya nilai ekonomi yang dianggap penting dalam investasi (Yoho, 1985), dan untuk. lokasi dan jenis dari imbalan keuangan yang paling dinyakini baik.

Pemerintah memiliki suatu peran utama atau menyediakan fasilitas reklamasi hutan tanaman. (Hurditch 1992). Bagaimana, keuntungan keuangan dari hutan tanaman tidaklah terlalu kecil McGaughey dan Gregersen ( 1988) yang mengatakan bahwa rasio laba modal untuk manajemen yang baik pada hutan tanaman industri sangat cepat pengembaliannya mecapai 10 - 15 Persen, didukung juga oleh hasil penelitian Elliott et al. ( 1984) sebesar 8 -12 persen dan Whiteside (1989) di Selandia Baru pada hutan tanaman Eucalyptus dan Pinus radiata. Pada akhir dari hutan tanaman pertumbuhan lambat mungkin pengembalian hanya 2 - 5 persen (Wilson 1989; Spilsbury 1990), meskipun demikian masih lebih baik bila dibandingkan dengan tingkat pengembalian riil dari investasi jangka panjang lainnya (Leslie 1989). Tingkat pengembalian dari program tanaman apapun tertentu akan tergantung pada sifat biologi (laju pertumbuhan) dan faktor ekonomi (biaya tenaga kerja dan modal), dampak lingkungan dan biaya sosial dan keuntungan lainnya.

Walaupun isu kepemilikan pribadi atau publik telah diperdebatkan di banyak negara-negara (Selandia Baru, Kirkland ( 1989]; Britain, Rickman [1991]), itu lebih berbau politik dibanding ekonomi. Keberhasilan investor kecil dan besar pada hutan tanaman dibanyak Negara (Chile Hurditch 1992: India; Srivastava et al. [ 1986], Indian Forester [ 1991]; Selandia Baru, Elliott et al. [ 1989) faktor pendorong selain karakteristik ekonomi dari pohon menjadi faktor penentu utama dari sumber dan tingkatan investasi. Suatu jaminan lingkungan investasi dan investasi mungkin paling kritis. Ketergantungan kepemilikan saham individu atau perusahaan, pengaturan perpajakan, atau ketersediaan kredit yang sesuai untuk pohon, mungkin penting mendukung pengembangan hutan tanaman (Arnold 1983; Mcgaughey dan Gregersen 1988; Brunton 1987).

Diskusi kedepan berasumsi bahwa kebijakan investasi dibuat terutama semata atas dasar manfaat, yang mana mungkin untuk dibutuhkan banyak investor besar. Pendapat dipertimbangkan atas dasar relevansi umum dan criteria aplikasinya (Leslie 1987, 1989; Price In Press); Pada banyak kasus untuk banyak hutan tanaman skala kecil, arus kas dan resiko dihubungkan dengan hutan tanaman dibandingkan dengan evaluasi pendapatan netto dalam periode waktu yang lama. Rencana dengan kebutuhan industri kayu masuk dalam persetujuan dengan pemilik lahan untuk kesuksesan persediaan kayu (Pilipina, Mcgaughey dan Gregersen [1988]; Portugal, Cotteriil [1992), dan melibatkan pembeli di dalam penetapan dan manajemen hutan tanaman. Dalam kasus yang sedemikian , pada umumnya keuntungan yang ditambahkan pada operasi lebih memuaskan dan efisien, dalam terminologi sosial dan lingkungan.

KEBIJAKAN LINGKUNGAN

Pengambilan kebijakan Lingkungan untuk strategi manajemen hutan sebagian besar oleh penggagas atau secara defakto dalam perijinan pemanfaatan lahan, hak kepemilikan lahan, kegiatan hutan, dan hutan industri hutan dan pasar. Keadaan yang paling baik dalam pembangunan hutan tanaman dalam strategi koordinasi pemanfaatan lahan telah diformulasi dan disetujui, tenur yang jelas dan tidak ganda, memperlakukan hutan sebagai suatu penggunaan lahan yang tidak produktif, dan hutan industri atau pasar untuk memenuhi permintaan dan stabilitas untuk produk hutan.

Konflik antar legislative dan pengguna atau hak kebenaran terbukti sering membuktikan sebagai suatu penghalang dalam pengembangan hutan tanaman. Contoh hutan yang dimiliki oleh banyak orang menyebabkan degradasi lahan dalam penetapan tanaman. Pada keadaan ini, hak penduduk local atau kebutuhan perlu untuk dipelajari dan diakomodasikan dalam implementasi dan disain proyek hutan tanaman, dan pengintegrasian praktek agroforestry dalam manajemen hutan tanaman (Sargent 1990).

Walaupun hutan tanaman umumnya dikembangkan pada lahan hak milik oleh Negara atau industri hutan atau status miliki pribadi dalam sakala lahan sempit telah menjadi penentuk dalam peningkatan perluasan lahan. Ada sangat banyak informasi karateristik, perilaku, dan kebutuhan penanam hutan di masyarakat industri dan non-industrial (Arnold 1983; Blatner dan Greene 1989 FAO 1985a; Mcgaughev dan Gregersen 1988). Keberhasilan seperti landholders di penanaman pohon tergantung pada jaminan hak kepemilikan lahan atas pohon diatasnya, dan akses pasar ketika panen. Banyak rencana industri kayu memperlakukan perjanjian dengan penduduk landholders untuk kesuksesan persediaan kayu. Rencana yang melibatkan pembeli di (dalam) pengaturan dan manajemen hutan tanaman pada umumnya lebih efisien dan ramah lingkungan. Ketergantungan saham individu atau perusahaan, pengaturan perpajakan yang tidak discriminan atau ketersediaan kredit untuk pohon adalah sangat penting.



PENGGUNAAN LAHAN DAN PERENCANAAN PENGELOLAAN

Kelayakan baik, atau sedikitnya antagonistic, kebijkan lingkungan, perihal pembukaan lahan untuk suksesnya pembangunan hutan tanaman sangat dibutuhkan. Prinsip dari pembukaan lahan adalah akurasi informasi tentang gambaran sumber daya lahan. Survei detail diperlukan untuk mengidentifikasi jenis tumbuh-tumbuhan dan tanah dan distribusinya, topografi, pola pemanfaatan lahan, kepemilikan dan informasi lain yang relevan. Informasi yang akurat akan menggambarkan karakteristik tanah yang cocok untuk pertumbuhan pohon dan factor pembatasnya, sebab itu perlu sebagai dasar untuk semua kebijakan silviculturai dan untuk hutan tanaman dan desain infrastruktur. Pengembangan system informasi geografi telah sangat memudahkan pengolahan dan presentasi informasi ini, yang dapat dipetakan pada suatu skala 1:10,000 atau lebih kecil; Data ini perlu membentuk untuk persiapan suatu rencana manajemen untuk review dengan pendekatan sesuai keinginan pemiliknya dan oleh ahli individu atau kelompok yang terlibat langsung atau dengan suatu tujuan usulan pengembangan.

UNSUR-UNSUR HUTAN MANAJEMEN

Manajemen hutan kontemporer mempunyai suatu dualisme: Unsur pertama adalah pengetahuan manajemen yang canggih, pengembangan ilmu manajemen kuantitatif untuk manajemen sumber daya yang besar-besaran dan industri yang menggunakan kayu. Pendekatan seperti itu adalah karakteristik manajemen hutan di dalam masyarakat industri dimana metodologi, berdasarkan pemanfatan mathematical telah dikembangkan untuk tujuan seperti perencanaan multi-use, jadwal panenan, dan evaluasi alternative silvicultural. Unsur Kedua; pengenalan sistem manajemen yang mirip dengan manajemen yang canggih, sekalipun hanya kwalitatif, dan pengembangan manajemen praktis itu berdasar pada kondisi local.

Pertumbuhan tanaman semata-mata atau terutama semata untuk menghasilkan kayu adalah umumnya diatur untuk memaksimalkan keuntungan keuangan, tunduk kepada tingkatan pemelihraan untuk memelihara industri. Karakteristik umum untuk strategi manajemen yang terbaik meliputi perencanaan substansil; persiapan lokasi sesuai; penetapan dengan jenis tanaman; pengendalian gulma dan pemupukan yang cukup untuk pemeliharaan awal pertumbuhan; dan, jika produk selain dari bubur kayu, awal penjarangan dan pemangkasan untuk memaksimalkan nilai dari hasil akhir. Pengelolaan dimulai sejak dini, kemudian dimonitor secara teratur dan penyesuaian silviculture sebagaimana diperlukan; pemadaman kebakaran; inventarisasi data digunakan untuk model pertumbuhan dan pemilihan hasil.

Pada manajemen intensif untuk produksi kayu hutan tanaman, ada gambaran kebutuhan untuk peluang untuk beberapa manfaat antara sebelum penjarangan hasil. Satu perkecualian yang tidak bias dilakukan adalah pemanfaatan untuk penggembalaan, terutama sekali dari system silvicultural yang menggunakan rumput sebagai alat pembatasan erosi (Queensland Departemen kehutanan, 1987). Terutama sekali di kasus shortasi tanaman untuk produksi kayu lapis.

Pada kenyataannya, strategi manajemen untuk hutan tanaman yang memaksimalkan manfaat sosial dibanding produksi kayu didalam pengembangannya. Dalam beberapa kasus, suatu modifikasi silvicultural sesuai prinsip tradisional (Gilmour et al. 1990); di pihak lain, suatu sintese agroforestry dan hutan tanaman dibutuhkan pendekatan yang diinginkan (Sargent 1990); dengan penggantian jenis yang menghasilkan hanya kayu dengan manfaat antara adalah solusi yang terbaik.

Berbagai variasi agroforestry praktis (tanaman sela, pemanfaatan tanaman, atau rotasi tanaman) mungkin dilakukan. Manfaat dari setiap bentuknya tergantung dari karakteristik biologi dan karakteristik ekonomi dan interkasi pohon dan non pohon, keberlanjutan system pemanfaatan lahan dengan penduduk local dan dapat diterima dan resiko dan keuntungan ekonomi dari setiap alternative agroforestry. Penggantian jenis produksi sering tergantung pada pengembangan teknologi untuk berbagai penggunaan.

Apapun strategi manajemen yang diadopsi, perlu memelihara mutu lingkungan dan terintegrasi dalam masyarakat lokal dan penggunaan lahan praktis. Mutu lingkungan pada umumnya didefinisikan oleh standard kegiatan dan petunjuk praktek, seperti tertuang dalam Juknis ITTO 1990a. Program hutan tananaman terintegrasi dalam konteks sosial secara luas adalah tantangan, walaupun dinilai dan dianggat hanya metodolgis (Formby: 1986; Prosiding 1987; Raintree 1987; Molnar 1989) sudah mengembangkan untuk beberapa pelatihan.









REVIEW DAMPAK LINGKUNGAN

Keberlanjutan

Peran hutan tanaman dalam lingkungan harus dilegalkan dalam pasal-pasal untuk keberlanjutan. Sistem pertanian dan kehutanan mungkin bisa berkelanjtan manakala produktivitas dipelihara dari tahun ke tahun atau perputaran, perputaran tanpa suatu peningkatan input hara dan pengolahan tanah. Sistem seperti ini menyebabkan erosi tanah oleh air atau angin, longsor dan alur drainase, dan pencemaran sungai, yang tidak bisa disebut bisa berkelanjutan dari segi ekologis, dan hanya mementingkan hasil banyaknya produk semata.

Produksi berkelanjutan dari suatu lokasi tergantung pada pemeliharaan phisik tanah, termasuk pemberian bahan organik dan mikroorganisme. Ketika hutan tanaman atau kegiatan operasinya mendorong kearah hilangnya bahan organik, suatu retakan longoran atau erosi oleh air atau angin, maka sistem manajemen dikatakan tidak berkelanjutan dan oleh karena itu tak dapat diterima.

Efek hutan tanaman terhadap siklus hidrologi, sangat tergantung dari sistem alami tidak bisa dipertukarkan dengan keseimbangan dalam evavotranpirasi, infiltrasi, run-off, perkolasi, dan menyebabkan penurunan aliran sungai dan iklim dalam wilayah hutan tanaman. Kekeliruan dalam penggunaan lahan praktis memeberikan konstribusi dalam perubahan iklim yang tidak dapat dipulihkan kembali.


Erosi Tanah

Pohon yang tertutup rapat dapat mengurangi erosi, tetapi rencana penanaman hutan tanaman harus diatur tidak dengan fungsi perlindungan kerapan yang baik. Mereka membuat perlindungan tanah dengan penutup tanah, sebagian besar menggunakan sampah; yang sangat kecil pengaruhnya dibandingkan penggunaan jenis tanaman yang berbeda. Contoh Pohon kayu putih, dipikirkan ternyata menimbulkan erosi sebagai konsekwensi pohon yang jarang yang posisi kurang tebal. Pada sebagian India di pedesaan miskin mengumpulkan ranting daun sebagai bahan bakar, sisa penebangan dan selanjutnya hutan menjadi berkurang.

Lundgren (1978) sebagai contoh, penutupan tanah dari erosi pada tanaman pohon jarum di Afrika timur. Belukar diantara tanaman kayu jati dan menahan tetes air dari daun-daun yang besar berperan untuk menekan erosi lahan permukaan (Champiob and seth 1968). Membakar rumput di hutan jati anaman pada ujung musim kemarau, membuat tanah terbuka dari serangan air ari hujan.

Sebagian besar literatur berisi data berlawanan, sering kurang saling memperkuat. Sebagai contoh, suatu studi hutan tanaman Pohon kayu putih di Portugal (Kardel, Stein, dan Fabiao 1984) yang diusulkan E. globulus sungguh dapat mengendalikan erosi pada lahan yang baik, suatu sistem perakaran terdiri atas akar serabut dan akar tunjang antara 10-15 15 meter. Dari Bukit Nilgiri di selatan India, bagaimanapun, Mathur, Raj, dan Naithani (1984) yang diklaim memiliki spesies yang sama adalah suatu perakaran dangkal dengan suatu sistem akar terbatas pada suatu kedalaman sekitar 3 meter.

Manajamen hutan tanaman menjadi kunci dalam konservasi air dan lahan dengan jenis tertentu . Umunya pertimbangan variabel (iklim, edapic, dan hydrologi) tidaklah sangat menolong. Pemanenan hutan tanaman pada priode pendek 8 - 10 tahun atau rotasi sangat pendek 3-5 tahun, sering dilaksanakan di daearh tropis yang dapat menekan angka erosi, kehilangan bahan organik, erosi tanah dan pemadatan.

Ketika erosi lahan dikenal sebagai suatu resiko, para pemegang HPH perlu membuat kebijakan tentang konservasi tanah, rincian tindakan yang spesifik yang harus diambil. Departemen Kehutanan Queensland, (1987), sebagai contoh, negara yang melarang hutan tanaman pada kemiringan 15-20% atau lebih. Sistem strip sejajar kontur akan membentuk vegetasi alam dapat menahan arus air dan pengaturan drainase pada lahan kurang stabil ke arah muara dari titik wilayah resapan lebih 100 hektar, dan pada semua bentuk drainase pada tanah tidak stabil. Suatu Departemen menekankan pentingnya penanaman tanaman kedua, mungkin dibutuhkan untuk penanaman sepanjang kontur dan perlunya mengendalikan runoff, dan mengurangi erosi oleh, sebagai contoh, menaburkan tanaman padi-padian atau sejenis gandum.

Pemeliharaan Produktivitas Jangka panjang

Pada setiap sistem pertanian, manajemen hutan tanaman dengan rotasi yang pendek memerlukan banyak pengolahan tanah dan pemberian pupuk. Produktifitas monokulture dengan pertumbuhan pada rotasi pendek selalu memperhatikan pemeliharaan untuk menghasilkan produksi tanaman. Pada percobaan di beberapa hutan daerah dingin, [khususnya di Saxon Jerman dan Lande Perancis, memberikan hasil produksi akan merosot ketika lahan sedikit jenis tanamannya. Perhatian ini, lebih awal tersebar luas namun belum membuktikan hasil , dan sangat sedikit studi yang telah dilakukan (Denmark dan Netherlands) belum menunjukkan perubahan penting di (dalam) Hasil rotasi dari hutan itu sendiri (Evans 1976,, 1990).

Pada type iklum Di Mediterranean, suatu kemunduran serius di produktivitas dilaporkan di tahun 1960-an untuk rotasi kedua. Pinus radiata di Australia Selatan, Austria dan Nelson area di Selandia Baru. Kebanyakan tanaman In Australia selatan memiliki iklmim yang marginal, terutama curah hujan rendah, menyebabkan kemerosotan rotasi pertama dan rotasi kedua yang mengakibatkan kegagalan untuk mempertahankan bahan organik pada saat pemanenan pada rotasi pertama dan dari kompetisi gulma tebal pada awal tahun kedua (Boardman 1988). Tentu saja, suatu kombinasi silviculture dan tanaman ternak sekarang mengakibatkan rotasi kedua dapat lebih produktif dibandingkan dengan rotasi pertama.

Fungsi Hutan Tanaman dalam Mengurangi Penggundulan hutan Tropis

Pembukaan lahan pada hutan basah tropis memberikan penurunan populasi dan suatu konsekuensi kebutuhan sebagai akibat pembukaan lahan untuk produksi pertanian. Penyebab utama dari kerusakan hutan kurangnya penanaman. Pada umumnya, hutan tanaman tidak mungkin untuk mengurangi jumlah Hutan. Justru untuk menghasilkan produk yang berbeda (industri kayu lapis dan kertas) sehingga peluang hutan tanaman untuk menggantikan bahan baku kualitas kayu keras dari hutan alam.

Kayu bakar dan kayu bangunan dari hutan tanaman dapat mengurangi tekanan pada daerah berhutan yang alami di daerah kering, tetapi wilayah itu banyak gagal dalam pengembangan hutan tanaman akibat masalah sosial dan ketiadaan teknis.


Pengaruh Iklim

Hutan tanaman, seperti hutan lainya, dapat menyebabkan efek pada iklim mikro pada wilayah disekitarnya. Menahan angin dan kawasan penyanggah terutama sekali berfungsi dalam mengurangi erosi lahan dengan menurun kecepatan angin, memperkuat lahan yang labil dan lahan semakin lambat mengeringkan. Daerah penyanggah juga mengurangi tingkat evapotranspiration dari daun-daun dan tanaman. Mempengaruhi iklim, pada peningkatan tutupan lahan 20 - 150 persen seperti dikutif dari beberapa literatur. Di antara efek yang penting dari kawasan ini di Dataran Tinggi Amerika Serikat.,

Hal ini kemudian berkaitan dengan iklim di dalam suatu hutan dengan yang berbeda dengan iklim pada lahan yang terbuka. Suatu dampak umum dari mahkota pohon akan memberi ruang di bawah pohon, mempengaruhi variabel iklim dibanding pada lahan tyang terbuka erbuka. Perubahan diluar udara, mengurangi pemanasan dan perubahan di dalam hutan terjadi hanya suatu waktu yang dapat dipertimbangkan.Perbandingan iklim di bawah tajuk hutan dengan lahan yang terbuka pada umumnya sebagai berikut:

- temperatur udara dan tanah berubah-ubah sangat sedikit.
- Kelembaban relatif yang tinggi dan air hujan tidak dapat menembus kepada tanah hutan.
- radiasi Matahari sedikit menjangkau tanah hutan.
- Konsentrasi CO2 menurun sepanjang hari akibat pengambilan oleh fotosintesis tanaman (kecuali di dasar tanah, terdapat gas CO2 dari respirasi tanah).

Suatu topik banyak mendapat perhatian sekarang adalah apakah hutan masyarakat menghadapi gangguan, dan penduduk terancam, dengan suatu peningkatan gas rumah kaca" gas, terutama sekali gas karbon dan gas metana. Sebab pohon mempunyai suatu peran mengurangi karbon dalam pengendalian bahaya pemanasan global. Isu sosial dan biologi yang kompleks yang telah secara ekstensif untuk meninjau beberapa tempat lain (Grainger 7991), dan dibahas lebih lanjut di bab 5 buku ini.

**** the end from al-fath diraja airlangga******