Seorang ahli ekonomi menyatakan bahwa suatu kawasan dikatakan maju bila pertumbuhan ekonomi tinggi, pertumbuhan ekonomi dapat dicapai dengan investasi untuk menaikkan PDRB, menekan inflasi dan menciptakan lapangan kerja.
Namun seorang ahli sosial melihat pertumbuhan ekonomi bukanlah mutlak sebuah kemajuan peradaban manusia, manusia adalah mahluk sosial, sehingga ukuran kemajuan kemanusian subuah kelompok masyarakat ditentukan oleh tingginya akomodasi dan demokrasi dalam pengambilan keputusan, rendahnya komplik dan sengketa, tingginya kebersamaan, toleransi dan gotong royong dan pelesarian gaya hidup lokal dan endemik dalam pergaulan keseharian.
Lalu seorang yang agak sufi beralialiran konservatif dan alumni sarjana lingkungan, menggap bahwa gedung, infrastruktur beserta sampah plastik modernisasi adalah neraka bagi kehancuran bumi, sehingga kemajuan sebuah wilayah diindikasikan oleh natural development, perlindungan biota endemik, stabilitas neraca sumberdaya alam, kebersahajaan, atau bahasa sederhanya bumi yang alami tanpa sentuhan dan rekayasa.
Kemudian ahli infrastruktur datang membangun gedung megah, jalan penghubung untuk mobilisasi, dan bendung untuk mengairi sawah-sawah sehingga produksi pangan berlebih dan menciptakan kemakmuran, ahli tekonogi mengolahnya menjadi berbagai produk pangan instant lalu berubahlah peradaban manusia mulai dari perubahan konsumsi pangan, modernisasi tempat tinggal dan mode-mode busana atau sandang yang terus berubah gaya.
Namun seorang peneliti berdasarkan data statistik memperlihatkan bahwa pada semua tahapan peradaban komposisi orang kaya tetap pada posisi 20% dari jumlah penduduk suatu negara dan menguasai 80% kekayaan negara, hanya 20% kekayaan negara yang terdistribusi pada 80% orang miskin. Pemerintah disetiap negara melakukan berbagai cara penciptaan lapangan kerja, pendidikan gtatis bagi masyrakat miskin, bantuan perumahan sehat, bantuan modal dan dana bergulir, bantuan alat produksi, bantuan beras dan minyak miskin, namun tetap saja angka kemiskinan tinggi, karena karkater sektor hulu seperti petani, nelayan, peternak bukan watak kapitalisme tapi sosok yang qonaah dengan kebersahajaan. Malah dengan pertumbuhan ekonomi dan kapitalisme dan proyek pengentasan kemiskinan, semakin mendorong eksploitasi SDA, peluang pasar dan kesenjangan miskin dan kaya semakin besar, di negara indonesia seorang penduduk kaya memiliki aset 100 triuliun dan seorang penduduk termiskin hanya seorang gelandangan dengan 1 nyawa yang ditawari ginjalnya dibeli 10 juta rupiah.
Apa hasil dari pembangunan peradapan, hanya sebuah perubahan bentuk dan posisi garis kemiskinan, bahkan pajak yang dibanggakan di republik ini yang hampir 800 triliun dari 1000 triul APBN (80%) adalah keringat rakyat yang diambil dari kekayaan pribadi untuk kepentingan 70% gaji dan belanja pegawai, sementara kekayaan bumi, air dan kekayaan dibawah bumi (mineral dan migas) hanya berkontribusi 10% dari APBN yang harusnya dikuasai negara untuk kesejahteraan rakyat, karena sebagian besar 90% dikuasai asing yang hanya dikenakan kewajiban zakat, sehingga amat sulit dapat mensejahterakan rakyat.
Hingga akhirnya kita sadar ternyata hidup ini adalah sandiwara dan pergiliran amanah kekayaan dan kekuasaan, bagi yang amanah ia akan masuk surga dan bagi yang hianat ia akan masuk neraka. Siang malam silih berganti, generasi lahir dan mati, kaya miskin bergiliran, kekuasaan hinggap dimana taqdir berada, lalu akhirnya terus berputar dan berulang seiring waktu dan seorang filosof mengatakan manusia hanya mencari beberapa perubahan dan satu perubahan yang paling berharga yaitu perubahan dari hati yang gerah menjadi hati yang ramah dan itulah kebahagiaan ada didalam diri manusia, sementara diluar dirinya manusia hanya menciptakan perubahan bumi untuk sugesti perubahan hatinya yang juga tidak abadi bahagia, karena ketidak abadian kebahagiaan adalah nilai positif yang harus ada untuk dunia terus berputar.
""""" renungan seorang kandidat yang tak jua bisa dipromosi """""