Rabu, 14 Mei 2008

Meningkatkan Produktifitas

UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIFITAS

Untuk meningkatkan produktifitas tanah tropis, diperlukan beberapa pendekatan sistem alam (back to nature proces), dengan asumsi bahwa teknologi pertanian modern telah mengeksploitasi alam untuk berproduksi tinggi secara instant dalam jangka waktu cepat, namun dalam jangka panjang telah menyebabkan degradasi lahan dan pencemaran lingkungan. Untuk itu kita perlu mulai beralih menerapkan beberapa cara alam untuk meningkatkan produktifitas ekologi dan ekonomi sebagai berikut :

PENGEMBALIAN BIOMASA TANAMAN SECARA MAKSIMAL

Ø Bahan organik pada tanah-tanah tropis sangat rendah hanya 1-3% dari idealnya 5-10%.
Ø Penambahan bahan organikmutlak dilakukan dalam rangka perbaikan kesuburan tanah.
Ø Caranya adalah semua biomasa seperti jerami dan sekam harus dikembalikan kesawah, termasuk sampah sampah organik rumah tangga. Jumlah biomasa yang berasal dari proses fotosistesis dengan bahan baku sinar matahari, air hujan dan hara tanah jika dihitung secara matematis jauh lebih besar dari hara tanah yang ada, sehingga pengembalian secara maksimal biomasa tanaman bukan hanya akan meningkatkan hara tanah tetapi juga menambah volume/ketebalan tanah daam jangka panjang.


OPTIMALISASI RUANG SAWAH DAN PEMATANG


v Areal persawahan yang terbatas dengan hanya kepemilikan rata-rata 0,5 ha/KK menntut adanya optimalisasi ruang sawah secara optimal. Sistem tumpangsari antara tanaman merambat, tanaman perdu dan tanaman keras merupakan upaya membetuk sebuah ekosistem hutan di lahan sawah dalam rangka optimalisasi energi matahari dan optimalisasi air hujan.
v Pemanfaatan pematang (pada lahan datar luas pematang mencapai rata-rata 5%, dan pada lahan miring mencapai 15%), potensi ruang pematang harus dimanfaatkan dengan tanaman kacang-kacangan atau tanaman pakan ternak seperti rumput gajah dan turi serta tanaman keras dapat meningkatkan nilai ekonomi lahan.


KANDANG TERNAK DIATAS SALURAN IRIGASI TERSIER

¨ Pemanfaaatan jerami sebagai pakan ternak dan pemanfaatan pematang dengan tanaman pakan ternak (rumput gajah dan turi) sebagai pakan ternak merupakan cara alami untuk mempercepat proses dekomposisi bahan organik.
¨ Selain kotoran, urine ternak juga bermanfaat untuk pertanaman padi.
¨ Untuk memindahkan kotoran dan urine ternak ke sawah membutuhkan energi, sehingga penempatan kandang ternak harus ditempatkan didekat sawah di atas saluran irigasi tersier. Air irigasi akan menghayutkan urine dan kotoran ternak larut dalam air irigasi dan secara alami akan terdistribusi ke sawah untuk memperkaya bahan organik dan memungkinkan kehidupan mikroorganisme tanah.


POLA TANAM PADI - TEMBAKAU

Politik tanam padi harus dikurangi, padi hanya optimal ditanam sekali setahun hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga petani, sedangkan penanaman kedua dan ketiga memiliki produktifitas padi yang rendah dan cendrung memasakan lahan sehingga terjadi degradasi lahan. Pada musim tanam pertama sebagian kecil petani juga perlu ada yang tidak menanam padi dan tetapi menanam cabai dan tomat, dengan sistem talud dan mulsa plastik. Ini sangat menguntungkan karena harga produksi yang sangat mahal karena diluar musim.
Pada musim tanam kedua banyak petani memilih menanam tembakau. Petani tembakau terbukti dapat meningkatkan kesejahteraan petani pulau Lombok, dan terbukti banyak petani dapat ber haji dari tanaman tembakau .
Pada musim tanam ketiga, sambil meunggu musim hujan petani banyak menanam jagung, bila hujan datang lebih awal maka tanaman jagung segera dipanen sebagai pakan ternak atau sebagai produksi jagung bakar muda.


INPUT KIMIA DAN PESTISIDA RENDAH

Sistem yang ideal adalah setiap wilayah pertanian pada setiap awal pertanaman perlu dilakukan analisis tanah, sehingga jenis, dosis dan cara pemberian pupuk yang diterapkan lebih tepat, efisien dan efektif.
PHT atau pengendalian hama terpadu adalah konsep yang baik untuk diterapkan, dimana lebih mengutamakan pengendalian hama secara alamiah melalui perbaikan pola tanam dan pemanfaatan musuh alami, serta menjadikan pestisida sebagai alternatif terakhir pada ambang batas kerusakan yang secara ekonomi dan ekologi merugikan petani.



PENANAMAN POHON

¨ Tanaman keras dipematang seperti jati, mahoni atau sengon memang dapat menurunkan produktifitas tanaman padi, tetapi dalam jangka panjang tanaman kayu adalah tabungan jangka panjang petani. Sebagai contoh pada pematang lahan 0,5 Ha ditanami 400 pohon jati pada tahun 2003, kini tanaman jati tersebut sudah bisa laku Rp. 500 ribu atau setara 200 juta rupiah dan pada umur 10 tahun lagi bisa mencapai 5 juta per pohon atau setara 2 milyar, bila dibandingkan dengan penurunan produktifitas padi akibat penanaman jati di pematang, maka nilai jati jauh lebih menguntungkan .
¨ Tanaman keras juga berfungsi sebagai pompa hara atau bajak dalam, dimana akar tanaman membantu pelapukan batuan induk dan menaikannya ke permukaan tanah menjadi humus.
¨ Untuk menekan dampak pengurangi penyinaran tanaman padi oleh tanaman keras secara periodik pada awal musim hujan dilakukan pemangkasan rutin, sehingga tidak terlalu mengganggu tanaman padi dan memang yang kita butuhkan adalah batang pokok bukan ranting dan hasil pemangkasan juga bisa menambah bahan organik tanah .

PENUTUP

Permasalahan produktifitas lahan daerah tropis, merupakan masalah yang sudah lama dan kompleks. Pemaksaan dalam bentuk intervensi teknologi hanya bersifat responsif sesaat, high cost dan high risk. Untuk itu penulis lebih cendrung memilih stategi damai dengan bersahabat dengan alam, dimana proses pemulihan secara alami akan lebih efektif walaupun dalam jangka pendek tidak significant tetapi dalam jangka panjang cara ini penulis yakini mampu secara bertahap akan menaikan produktifitas lahan yang dalam keadaan kelelahan.


## the end of eksploitasi ##