ANALISIS SISTEM HARGA BBM
Oleh Al-Fath Diraja
(Alumni Magister Mining Management)
DASAR ASUMSI
(Catatan 1 barel = 158,98729 liter)
Data Produksi tahun 2002, 1,252 juta barrel per hari, tahun 2003 turun menjadi 1,147 juta barrel per hari, dan tahun 2004 semakin turun dan tinggal 1,094 juta barrel per hari dan pada tahun ini sekitar 1 jt barrel per hari
1. Asumsi kebutuhan minyak 1,2 juta barel per hari = 190.784.753,91 liter
2. Produksi minyak Indonesia 1 juta barel perhari = 158.987.294,93 liter
3. Defisit Produksi dari impor 0,2 juta barel per hari = 31.797.458,986 liter
4. Biaya produksi BBM US$ 15/barrel
5. Harga jual Rp 4.500/liter atau ideal =...?
6. Biaya pengolahan BBM sebesar US$ 15/barel
7. Pembagian keuntungan 70% : 30% untuk pemerintah
8. Biaya "Cost Recovery" US$ 5,5 milyar (Rp 50 trilyun)
SKENARIO HARGA Rp. 4.500/Liter = Rp 715.500/barel, setara 78 US$/barel
1. Total Produksi 1 jt bph, diperoleh harga penjualan = 78 juta US$ = 709 Triliun
2. Jika biaya 15 US$/barel = 150 Triliun, maka masih ada sisa 650 tryliun
3. Jika Cost recovery 1/3 atau 1/2 saja, maka negara masih untung
4. Jadi harga BBM kesimpulannya bisa tidak dinaikkan
5. Persolannya adalah perusahaan minyak adalah perusahaan asing
6. Harga yg dijadikan patokan adalah harga pasar internasional 120 US$/barel
7. Ada selisih 53 US$/barel dari harga dunia,
8. Uang sebesar itulah yg membuat eksekutif kita hilang imannya
9. Dana politik diperlukan untuk tahun 2009 oleh calon dewan dan calon presdien
10. Lebih baik kehilangan muka, ntar dikonpensasi dengan bagi duit "brand kampanye"
ANALISIS SISTEM UNTUK SOLUSI
HULU PRODUKSI BPH MIGAS ---> HILIR PERTAMINA
1. Produksi dapat ditingkatkan menjadi 1,2 jt bph, mana kala cost recovery yg besarnya mencapai tryliunan rupiah, sebagian dipergunakan untuk kegiatan eksplorasi migas untuk menemukan lapangan minyak baru, sehingga kita tidak impor, bahkan mungkin kita akan surplus.
2. Perlu dilakukan upaya pengurangan kebutuhan BBM, misalnya pembatasan jumlah kendaraan, mesin dan peralatan, kita terlalu kapitalis dan hak milik kekayaan tanpa batas, sehingga minimal kebutuhan minyak kita bisa diturunkan hingga 1 jt bph, sehingga tanpa cadangan minyak kita tidak perlu import.
3. Energi alternatif harus dirubah jadi aksi, cadangan batu bara Indonesia sangat besar, PLN adalah lembaga BUMN yg dapat kita paksakan untuk menghentikan penggunaan solar pada unit PLTD dan menggantinya dengan PLTU batubara, bahkan masih dimungkinkan tenaga panas bumi pada hampir semua kawasan gunung berapi kita.
4. Sudah saatnya Indonesia meninjau ulang kontrak migas dengan perusahaan asing, Negara harus mencoba memberdayakan perusahaan Nasional untuk itu, banyak ahli minyak dari ITB, Trisakti, UGM, dan Unhas dengan gelar Doktor yang dapat secara bertahap menghapuskan penjajahan ekonomi di negara kita tercinta.
5.Perusahaan asing seperti Chevron, Exxon, dll, saya pikir tidak kita haramkan menyedot mingas kita, tetapi harusnya lebih beretika, biaya produksi dan biaya cost revovery masih mungkin dihemat, adalah wajar jika biaya-biaya tersebut tidak lagi terstandarisasi tetapi ditetapkan berdasarkan kebutuhan riil. Auditor Pemerintah dan Publik harusnya memiliki hak untuk mengaudit biaya produksi dan cist recovery dalam rangka tranparansi, jika memang perusahaan tersebut bukan lintah yahudi.
BAGAMANA DENGAN SUBSIDI
1. Sy adalah orang yg sangat sosialis dan humanis, namun pada substansi subsidi, sy harus berani katakan itu kesalahan besar masa lalu. Subsidi harus dihapus secara bertahap, karena sangat memanjakan.
2. Subsisdi BBM misalnya memberikan peluang penyeludupan
3. Subsisdi juga tidak selalu jatuh kepada orang miskin, tetapi banyak orang kaya yg bermobil dan bermesin menikmatinya.
4. Negara harus memberlakukan harga pasar pada semua item produks barang dan jasa, adalah tidak mungkin pada era pasar bebas kita mengungkung diri dari dunia internasional.
5. Solusi UUD45 sangat tegas, bumi, air dan isi bumi dikuasai oleh negara bukan asing, termasuk migas, namun keuntungan yg begitu besar, ternyata hari ini terbukti diambil oleh perusahaan migas asing.
6. Jika seandainya negara menguasai bumi, air dan isinya sesuai pasal UUD45, maka negara kita akan menjadi konglomerasi terkaya, dari emas, hutan, batu bara, pertanian dll, namun kita slalu senang disogok perusahaan asing dikasi uang 1 tryliun untuk dana politik, padahal mereka untung ratusan tryliun.
7. Jika seandainya negara kita kapitalis dan menjelma menjadi konglomerasi seperti di atas, maka pasal UUD45 selanjutnya yg menjadi penyeimbang, negara juga dituntut sosialis yaitu pakir, miskin dan anak terlantar dipelihara negara, artinya uang yg ratusan triliun APBN 800 jika sumberdaya seperti migas dikuasai negara bisa menjadi 2000 Try, maka apalah artinya subsidi, apalah artinya BBM naik, negara akan mampu menjamin semua penduduknya yg pakir, miskin, anak yatim dan bahkan pengangguran. Ada 2000 triliun uang yg bisa dibagi untuk 200 jt penduduk bayangkan saja...
8. Saya kira para pendiri negara ini yg mungkin hanya SR menangis meratapi bangsanya yg bodoh, yg penuh dengan profesor, DR, MSc. Ir, namun tak mampu menginterpretasikan bahwa kita adalah negara republik yang kapitalis (bumi, air, isi dikuasai negara untuk kesejahteraan sebasarnya...) sekaligus sosialis (pakir miskin, anak terlantar dipelihara negara...kata dipelihara bukan hanya bermakna subsidi BBM, kita harusnya menuntut dipelihara bayangkanlah jika anda memelihara kucing di rumah), kemudian negara kita juga sekaligus dogmatis (negara menjamin setiap warganya untuk memeluk agama..) negara kita juga demokratis (setiap warga negara berhak dipilih dan memilih..), yaa kita terlalu bego menjadi generasi saat ini. Kita demo untuk harga BBM, harusnya kita demo untuk meluruskan sistem bangsa ini, sistem siapa yg berkuasa atas kekayaan negara ini, siapa yg seharusnya dipelihara negara ini... ya aku tak tau siapa yg bodoh sebenarnya...
the end of demo tukang beca..
the end of debat profesor linglung
the end of menjual harga diri
the end of pro perusahaan asing
the end of all ...