SISTEM INFORMASI ONLINE DAN HIRARKI
UNTUK EVALUASI DAN RE-PLANING WILAYAH
Oleh : Aa.... (the kandidad)
Abstrak
Potensi wilayah di Indonesia menyebar dari sabang sampai merauke pada 33 propinsi dan tiga ratusan kabupaten. Potensi ini seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung program kesejahteran masyarakat dalam suatu sistem negara kesejahteraan. Salah satu kendala pengembangan wilayah di Indonesia adalah keterbatasan sumberdaya manusia, serta wilayah yang terbentang luas dan menyebar. Untuk itu system informasi geografi diharapkan mampu memberikan makna dalam pengelolaan sumberdaya secara spasial sehingga lebih efisien, efektif dan produktif untuk berbagai manfaat.
Indonesia mempunyai asset nasional berupa sumberdaya lahan dan lautan yang sangat luas. Wilayah di Indonesia mempunyai kondisi fisik dan potensi lahan sangat beragam dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat umumnya miskin. Lahan atau space merupakan sumberdaya strategis ditinjau dari segi nilai dan manfaatnya, namun profil setiap koordinat dari lahan kita belum ada, sehingga sebahagian besar wilayah masih diwarnai kasus pencurian, baik illegal logging, illegal fishing, illegal mining atau kasus pencurian sumberdaya lainnya. Hal ini menyebabkan di beberapa daerah telah terjadi degradasi lahan karena kurang cermatnya pengelolaan sumberdaya yang masih dilakukan secara konvensional dan menyebabkan masyarakat dan negara mengalami kerugian dan tidak mampu berproduksi optimal untuk dapat meningkatkan pendapatannya.
Pengembangan wilayah/daerah, dalam keadaan alamiah memiliki berbagai kondisi yang menghambat pengembangannya antara lain; keterbatasan space, kesuburan lahan yang rendah, kepekaan terhadap erosi, topografi bergelombang sampai berbukit, produktivitas lahan rendah, dan ketersediaan infrastruktur yang kurang memadai serta sulit dalam memasarkan hasil, serta kurangnya penataan zona secara konsisten. Namun kendala utama adalah informasi yang akurat, tepat waktu dan cukup, sehingga sering terjadi kondisi sumberdaya limit, kebijakan yang salah akibat input yang salah, manajemen pengelolaan yang kurang optimal, persaingan penggunaan lahan antar sektor, kecendrungan peruntukan lahan (land use) yang keliru, sehingga menyebabkan sering gagal dalam implementasinya.
Kondisi ini menyebabkan kemajuan daerah sangat lambat dan tertinggal jauh dari ibu kota negara.. Kondisi ibu kota yang semakin padat, sesak, kumuh dan macet menunjukkan persoalan pengembangan sumberdaya di daerah telah gagal. Pada sisi pembangunan, memang telah ada upaya untuk mengembangankan wilayah/daerah, namun pada sisi distribusi, terjadi ketimbangan yang tidak selaras antara kota dan daerah serta antara daerah dan daerah. Sistem informasi diharapkan mampu menjadi solusi yang memadukan keterpaduan, analisis informasi dan keruangan secara hirarki.
Konsep pengembangan wilayah di Indonesia, terdapat beberapa landasan teori yang turut mewarnai keberadaannya. Pertama adalah Walter Isard sebagai pelopor Ilmu Wilayah yang mengkaji terjadinya hubungan sebab-akibat dari faktor-faktor utama pembentuk ruang wilayah, yakni faktor fisik, sosial-ekonomi, dan budaya. Kedua adalah Hirschmann yang memunculkan teori polarization effect dan trickling-down effect dengan argumen bahwa perkembangan suatu wilayah tidak terjadi secara bersamaan (unbalanced development). Ketiga adalah Myrdal dengan teori yang menjelaskan hubungan antara wilayah maju dan wilayah belakangnya dengan menggunakan istilah backwash and spread effect.
Pada tulisan ini, lebih fokus untuk membahasan pendapat Friedmann yang lebih menekankan pada pembentukan hirarki guna mempermudah pengembangan sistem pembangunan yang kemudian dikenal dengan teori pusat pertumbuhan. Terakhir adalah Douglass yang memperkenalkan model keterkaitan desa – kota (rural–urban linkages) dalam pengembangan wilayah.
Sistem informasi GIS berbeda dengan sistem informasi pada umumnya dan membuatnya dapat memberikan penjelasan tentang suatu peristiwa (ilegal loging, ilegang mining, ilegal fishing dan peristiwa dinamika lainnya), membuat peramalan kejadian (prediksi kekeringan, prediksi bencana, prediksi keberhasilan dan lainnya), dan perencanaan strategis lainnya untuk pengembangan wilayah perdesaan.
Pada aplikasi pengembangan wilayah terbelakang, GIS bisa digunakan untuk memutuskan di sub-wilayah mana yang perlu dikembangkan, yang memiliki daya ungkit tinggi serta memiliki keserasian dengan sub-wilayah lainnya berdasarkan atas data-data spasial wilayah dan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Keterpaduan sector dan pengelolaan sumberdaya
Sistem informasi dalam pengembangan wilayah diharapkan mampu memberikan keterpaduan pengelolaan antar sector, misalnya keseimbangan antara ruang untuk hutan lindung, hutan produksi, hutan konservasi, wilayah pertambangan, perikanan, pertanian dan wilayah pemukiman. Hal ini memungkinkan terjadinya keserasian ekologis antara sumberdaya, baik sumberdaya terbaharukan, tidak terbaharukan dan sumberdaya buatan.
Meningkatkan pengintegrasian organisasi
Salah satu ciri organisasi birokrasi Indonesia adalah besar dan tersebar, pada suatu wilayah terdapat banyak organisasi, namun tidak terkoordinasi, tumpang tindih dan tidak efisien. Sistem on-line system (wireless), mampu menjadi pusat informasi dan komando sehingga diperoleh keterpaduan kinerja organisasi yang ada dengan menghubungkan berbagai perangkat data secara bersamaan berdasarkan geografis, memfasilitasi informasi antar bagian/wilayah, untuk saling termanfaatkan dan dikomunikasikan.
GIS adalah sebuah sarana untuk pengambilan data, menganalisanya, dari kumpulan data berbasis pemetaan untuk mendukung proses pengambilan keputusan. Teknologi GIS dapat membantu berbagai kegiatan pekerjaan seperti keputusan luas tanam aman berdasarkan informasi debit, membantu memecahkan masalah kompliks peruntukan lahan atau keputusan tentang lokasi pembangunan sebuah infrastruktur.
Membantu mendesain ulang wilayah secara heksagonal
Dimulai dengan membuat database. gambar peta yang sudah ada bisa digambar dengan digitizer, dan informasi tertentu kemudian bisa diterjemahkan ke dalam GIS. Suatu daerah dapat di desain ulang dan dibagi-bagi dalam sub-wilayah berbentuk heksagonal (seperti keterpaduan pada heksagonal molekul air ataupun heksagonal pada sarang lebah). Batas-batas pelayanan suatu wilayah heksagonal dipetakan pada berbagai lokasi, pada skala skala tertentu untuk menjelaskan suatu karakteristik khusus atau fungsi spesifiki suatu sub-wilayah.
Manajemen Infrastruktur Wilayah
GIS digunakan untuk mengelola dan menganalisa berbagai informasi dengan geografi sebagai komponen utamanya. Informasi digunakan untuk mengelola bendung, jalan, bangunan kantor, pabrik, jaringan PDAM, telpon, listrik dan fasilitas lainnya. GIS bisa dimanfaatkan untuk menentukan lokasi dari suatu aset dan keterkaitannya atau kedekatannya antara satu dengan lainnya terhadap peristiwa atau aset yang lainnya.
sebuah benang merah...
Berpijak pada kondisi empiris yang ada, maka perlu dilakukan re-desain dalam pengembangan wilayah perkotaan dan pedesaan, yang seyogyanya pembangunan tidak hanya diselenggarakan untuk memenuhi tujuan-tujuan sektoral yang bersifat parsial, namun lebih dari itu, pembangunan diselenggarakan untuk memenuhi tujuan-tujuan pengembangan wilayah yang bersifat komprehensif dan holistik dengan mempertimbangkan keserasian antara berbagai sumber daya sebagai unsur utama pembentuk ruang (sumberdaya alam, buatan, manusia dan sistem aktivitas), yang didukung oleh sistem hukum yang jelas, tegas dan konsisten serta didukung oleh sistem kelembagaan yang melingkupinya.
///the end of pura-pura bego///