PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI
UNTUK PENGELOLAAN IRIGASI
PADA LAHAN KERING DI INDONESIA
Oleh : aa...kandidat doktor bidang air aja...
Abstrak
Potensi lahan kering di Indonesia cukup luas yaitu 58,5% total luas lahan yang ada. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung program ketahanan pangan Nasional. Salah satu kendala pengembangan lahan kering di Indonesia adalah keterbatasan air irigasi. Untuk itu system informasi geografi diharapkan mampu memberikan solusi dalam pengelolaan air irigasi secara keruangan sehingga lebih efisien, efektif dan produktif untuk produksi pertanian.
Sistem informasi Geografi untuk aplikasi irigasi dibangun dengan menyediakan komponen perangkat keras, perangkat lunak, data dan informasi, manajemen dan penggunanya (user). Sistem ini dibangun pada sebuah wilayah propinsi atau kabupaten, kemudian diperkuat di beberapa lokasi simpul seperti kecamatan atau kantor bendung, sehingga diperoleh komunikasi yang baik antara pusat data dan operasi lapangan.
Sistem informasi diharapkan mampu menjawab tantangan pengelolaan air irigasi yang selama ini dilakukan secara manual dan tradisional. Sistem irigasi dikelola melalui input data lokasi pelanggan (sawah), unsur bangunan bendung, daerah resapan air, unsur debit air tersedia, unsur jaringan irigasi (saluran primer, sekunder dan tersier) serta realitas social dan ekonomi masyrakat.
Data-data tersebut kemudian dianalisis melalui sebuah analisis modeling untuk berbagai penggunaan. Aplikasi GIS untuk manajemen irigasi dapat dimanfaatkan untuk perencanaan konservasi daerah resapan, pembangunan dan pengembangan bendung, perencanaan rehabilitasi dan pemeliharaan jaringan irigasi, kegiatan operasi distribusi air irigasi, optimalisasi organisasi irigasi, pengambilan keputusan strategis, manajemen transit air irigasi antar bendung, dan manajemen penanganan kekeringan.
Beberapa Aplikasi GIS Irigasi
Meningkatkan pengintegrasian organisasi
Salah satu ciri organisasi irigasi adalah besar dan tersebar, pada suatu wilayah terdapat banyak daerah irigasi, banyak petugas juru pintu bendung, juru irigasi, penjaga pintu air dan masyarakat pemakai air (P3A). Sistem on-line system (wireless), GIS mampu menjadi pusat informasi dan komando sehingga diperoleh keterpaduan dalam peningkatan kinerja manajemen terhadap organisasi maupun pengelolaan sumberdayanya air yang terbatas. GIS memiliki kemampuan untuk menghubungkan berbagai perangkat data secara bersamaan berdasarkan geografis, memfasilitasi informasi antar bagian/wilayah, untuk saling termanfaatkan dan dikomunikasikan.
Membuat keputusan-keputusan lebih sempurna
GIS bukan sebuah sistem yang mampu membuat keputusan secara otomatis. GIS hanya sebuah sarana untuk pengambilan data, menganalisanya, dari kumpulan data berbasis pemetaan untuk mendukung proses pengambilan keputusan. Teknologi GIS irigasi dapat membantu berbagai kegiatan pekerjaan seperti keputusan luas tanam aman berdasrkan informasi debit, membantu memecahkan masalah yang berkaitan dengan kekeringan, atau keputusan tentang lokasi jaringan irigasi mana yang perlu direhabilitasi. GIS juga bisa digunakan untuk membantu meraih keputusan mengenai lokasi bendung baru yang memiliki sesedikit mungkin dampak lingkungan atau minimal dalam pembebasan lahan pemukiman, berada di lokasi yang memiliki resiko paling sedikit, dan berada pada posisi topografi yang optimal untuk mengairi areal yang paling luas.
Membantu membuat peta daerah irigasi.
Peta merupakan kunci pada GIS. Proses untuk membuat (menggambar) peta dengan GIS jauh lebih fleksibel, bahkan dibanding dengan menggambar peta secara manual, atau dengan pendekatan kartografi yang serba otomatis.
Dimulai dengan membuat database. gambar peta yang sudah ada bisa digambar dengan digitizer, dan informasi tertentu kemudian bisa diterjemahkan ke dalam GIS. Database kartografi daerah irigasi berbasis GIS dapat bersambungan dan bebas skala. Peta-peta kemudian bisa diciptakan terpusat di berbagai lokasi, dengan sembarang skala, dan menunjukkan informasi terpilih, yang mencerminkan secara efektif untuk menjelaskan suatu karakteristik khusus suatu daerah irigasi.
Manajemen Prasarana irigasi
GIS digunakan untuk mengelola dan menganalisa berbagai informasi dengan geografi sebagai komponen utamanya. Informasi digunakan untuk mengelola bendung, jalan inspeksi irigasi, rumah jaga pengairan, daerah pasang surut bendung, dan fasilitas lainnya. GIS bisa dimanfaatkan untuk menentukan lokasi dari suatu aset dan keterkaitannya atau kedekatannya antara satu dengan lainnya terhadap peristiwa atau aset yang lainnya, di mana hal tersebut merupakan faktor-faktor kritis yang harus diperhatikan untuk memutuskan suatu kelestarian asset yang begitu berharga, sebagai contoh harga satu pintu buah pintu air type A kalau hilang sekitar 15 juta, dapat dibayangkan bila satu daerah irigasi ada 25 pintu air, maka satu kabupaten bisa memiliki 250 pintu air yang harus dipantau keberadaannya.
Manajemen distribusi air
Sebuah kegiatan operasi irigasi yang efisien membutuhkan sebuah jadwal distribusi air yang adil, cukup, akurat dan tepat waktu. Misalnya untuk mengetahui sudah sampai di manakah sebuah aliran air irigasi, memungkinkan untuk pemantauan air, sehingga asset air dan staf yang terbatas dapat lebih optimal dan hemat. Kepuasan pelanggan (petani), posisi, respons yang cepat, pendayagunaan yang efektif, serta kemungkinan untuk mengalihkan kelebihan air dan berbagai kemungkinan yang bisa diraih secara cepat. GIS dapat membantu memantau kapasitas sistem, katup-katup, efisiensi, serta distribusi menyeluruh dari air di dalam sistem. Misalnya debit pintu bendung 1 M3 per detik, setara dengan 1000 liter/detik, maka dapat mengairi 1000 ha per harinya (standar kebutuhan padi 1 liter/detik/hari).
Manajemen Transit air
Perencanaan rute air irigasi, pengiriman bantuan cepat untuk kekeringan, analisa pelayanan mendesak, dan pola transit antar bendung, akan diperoleh keuntungan dengan cara melakukan pemahaman sebaik-baiknya terhadap model jalur transit, rute air, dan lokasi. Rute perjalanan air dapat dikelola secara langsung melalui database jaringan irigasi dan dikaitkan terhadap areal persawahan seperti pada sistem database dari sebuah skedul.
Mengelola Gagal Tanam dan Gagal Panen
GIS dapat digunakan untuk membantu mengelola sumberdaya pertanian dan perkebunan skala kawasan yang luas secara optimal dengan resiko gagal tanam dan gagal panen minimum. GIS menetapkan masa tanam yang tepat, memprediksi masa panen, mengembangkan sistem rotasi tanam, dan melakukan perhitungan secara tahunan terhadap debit, curah hujan dan scenario pola tanam dan jenis tanaman yang paling menguntungkan secara ekonomi dan teknis.