Senin, 23 Juni 2008

the kandidat

MERENUNGKAN MAKNA KEKERINGAN DAN BANJIR

“Sebuah Kritikan Terhadap Pengelolaan Air”

Oleh : aa... the kandidat

Abstrak

Indonesia adalah salah satu negara di khatulistiwa yang unik dan berwajah lembab sehingga disebut sebagai hutan tropis, paru-paru dunia yang basah dengan air di udara, namun sebagian pulau pada sub-bagian selatan terkadang batuk kering karena awan disapu oleh angin dari samudra Indonesia yang kering. Curah hujan yang tinggi pada sebagian tahun menyebabkan kita tertawa dalam banjir dan terik katulistiwa pada sebagian sisa tahun menyebabkan kita menangis dengan kekeringan. Tradisi banjir dan kering yang silih berganti, tak membuat kita sadar, betapa kita hoby, enjoy dan cuek dengan banjir dan kering, bahkan sebagian kita tak mau peduli dengan sebuah makna air sebagai sumber keindahan hidup bila dikelola dengan baik.

Pakar air tanah UGM, Dr. Heru mengatakan bahwa persoalan air pada masa yang akan datang adalah bukan pada hakekat masalah alamiah air, tetapi pada manajemen pengelolaannya, masalah air bukan pada jumlahnya karena jumlah air relatif tetap dalam siklus hidrologi, tetapi yang lebih penting adalah masalah kualitas dan distribusinya. Berangkat dari pernyataan itu, perlu kiranya kita renungkan banjir dan kekeringan dalam sebuh pemikiran yang filosofis akan makna kedua peristiwa itu sebagai proses belajar dalam realitas hari ini untuk masa depan.

Paradigma pengelolaan air bukan hanya holistik antara hulu-hilir, air permukaan-air tanah, antara sektor-sektor lainnya, antara wilayah-wilayah tetangga, tetapi air adalah molekul yang bisa berwujud cair, padat dan gas. Perlu sebuah keseimbangan dalam pengelolaan air bukan hanya pada pengelolaan distribusi tetapi juga produksi (daerah resapan), bukan hanya kuantitas tetapi juga kualitas dan yang paling baru kita harus pikirkan memadukan antara drainase untuk mengeringkan kota dan irigasi untuk mengairi/membasahi tanah sawah.

Pengelolaan irigasi dengan konsep bendung (menahan air sungai) atau bendungan (menampung air) yang kemudian disalurkan melalui saluran induk, saluran sekunder, tersier ( 1 bok tersier + 300 ha) dan kwarter ke petak sawah harus dilihat sebagai sebuah mekanisme yang kompleks. Sebuah debit bendung misalnya dengan debit pada pintu bendung 10 m3 tidak selalu dapat mengairi sawah seluas 10.000 ha dengan asumsi 1 lt/dt/ha setara 1 m3 untuk 1000 ha, banyak faktor internal dan eksternal yang terjadi. Pada dearah hulu terjadi perubahan curah hujan dan terjadi gangguan pada daerah resapan, begitu pula sepanjang saluran banyak terjadi illegal flow baik sengaja melalui pencurian air maupun secara tidak sengaja oleh infiltrasi akibat tanah pasir atau batuan sedimen yang porous, serta pada daerah persawahan yang juga tidak lepas dari mekanisme evapotranpirasi maupun proses –proses lainnya seperti jenis tanah dan tanaman yang berbeda membutuhkan model pengelolaan yang berbeda.

Pengelolaan draenase juga mengalami kendala yang juga tidak sederhana, pada daerah sumber, air draenase mengalami gangguan kualitas yang beragam baik secara kimia, fisika dan biologi, air draenase tersebut mengalami penurunan kualitas yang hampir tidak seindah air lagi. Pada saluran drainase juga terjadi sedimentasi yang sangat hebat, melebihi laju sedimentasi pada saluran irigasi akibat erosi yang misalnya mencapai lebih dari 20 ton/ha/tahun atau sekitar setinggi > 0,8cm/tahun (asumsi luasan 1 ha 100mx100m dengan BD 1,2) yang kemudian terakumulasi di saluran yang tentu saja lebih tebal dan besar.

Menurut pakar konservasi air Dr. Agnes, pengelolaan erosi tanah dan konservasi air adalah bagaimana kita memproteksi atau mengurangi terjadinya dispersi, transportasi dan sedimentasi. Berat jenis air 1gr/cm3 lebih rendah bila dibandingkan tanah 1,2 gr/cm3 artinya harusnya air tidak menggerus tanah, tetapi air meresap ke dalam pori tanah melalui tutupan tajuk yang rapat untuk mencegah dispersi, walaupun pada akhirnya run off harus ada. Pengelolaan transportasi bisa diminimalkan bila kelerengan ideal irigasi 3-5% dan drainase 5-10% dipertahankan, bahkan mungkin akan lebih baik bila kemiringan itu tidak homogen tetapi berjenjang. Sedangkan pengelolaan sedimentasi adalah persoalan alamiah yang harusnya dikelola dimana mestinya sedimentasi itu terakumulasi, bila pada sistem irigasi mungkin akan subur bila sedimentasi itu di sawah sebagai pupuk dan pada sistem draenase, sedimentasi akan baik pada daerah rawa kota yang secara alamiah akan mengurangi biaya timbunan pada pembangunan sebuah infrastruktur kota di daerah lembah atau rawa.

Pada sistem drainase yang memiliki sedimentasi besar dengan kulitas air yang rendah ini diperparah oleh lemahnya desain drainase. Idealnya sistem darainase serupa dengan desain irigasi dengan arah terbalik. Desain drenase harusnya dirancang mulai dari saluran kwarter sekeliling rumah, saluran tersier di depan rumah, saluran sekunder pada sebuah kompleks perumahan dan saluran induk menuju titik buangan berupa sungai, laut atau danau untuk resapan kota. Hitungan produksi air domestik kota 200lt/orang/hari harusnya mampu dijadikan rujukan sebuah ukuran ideal sistem draenase bebas banjir.

Merenungkan kondisi diatas ada beberapa saran dalam rangka megurangi potensi kekeringan dan banjir. Pada pola pengelolaan irigasi akan aman bila dilakukan perancangan modeling pola distribusi air dengan berbagai type pola tanam dan jenis tanaman, dengan mempertimbangkan data debit dalam time series minimal 10 tahunan, dan mempertimbangkan porositas saluran akibat kondisi tanah dan batuan serta faktor lainnya, serta mempertimbangkan kondisi, struktur dan topografi persawahan.
Sedangkan pada sistem draenase kota yang bebas banjir, perlu dilakukan desain saluran yang berjenjang dengan ukuran sesuai debit puncak air buangan ditambah pertimbangan curah hujan maksimum. Hal ini perlu didukung oleh kebijakan penggunaan atap rumah yang menyerap air yang memungkinkan penguapan maksimum air diudara, perlu adanya halaman untuk resapan. Memperbesar infiltrasi melalui penggunaan paping bloc atau rumput dan menghindari adanya rabat beton. Memperbesar perkolasi air tanah melalalui sumur resapan, kebijakan satu rumah satu pohon. Keharusan saluran draenase rumah dan pemukiman serta pemeliharaan drainase, khususnya draenase tertutup. Membangun draenase sekunder dan induk sejajar sungai serta membangun danau resapan dan hutan kota. Konsep kota besar tanpa sekat zona resapan adalah keliru, kita mestinya memimpikan setiap zona kota dikelilingi hutan kota.

Pernyataan terkahir saya adalah memimpikan sebuah keterpaduan irigasi dan draenase. Kota bisa dijadikan sebuah mata air baru untuk irigasi. Setiap rumah adalah pohon yang meneteskan air. Bila ini dikelola maka air draenase dari pemukiman kota akan mampu melahirkan sebuah bendungan dari mata air domestik penduduk, bayangkan saja jika penduduk sebuah kota 1 jt ha, maka produksi air buangan draenase mencapai 200 jt liter/hari, belum ditambah air hujan dalam areal kota.
Mari kita merenungkan sebuah ide tentang gunung adalah menara air, puncak gunung adalah sebuah resapan hujan, dimana gunung menahan awan lalu jadilah hujan kemudian hujan masuk ke hutan. Mata air muncul dipinggir hutan, lalu pemukiman dibangun dilereng dan sawah dibangun di wilayah datar sampai pesisir. Prof. Arifin pakar ilmu sosial menyatakan bahwa kota yang dibangun di daerah pesisir akan menjelma menjadi kota yang banjir, semraut dan kotor dengan budaya yang kasar, tapi semakin ke arah gunung kota akan menjelma menjadi surga dengan masyarakat yang ramah, cobalah bandingkan kota pelabuhan dengan kota diatas bukit mediterania.

“air itu heksagonal yg idah, bila kita kelola ia bisa jadi surga water boom”