Hari kian uban
badan kian bertulang
terbatuk dahak
tersandung nan tersungkur
melanglang lari
darati belukar
pulau sebrang laut
hingga kaki terbelah pinggir
nasip demi apa?
ya sesendok nasi
lalu sebagian basi
menjelma menjadi tanah
senyum sebelas bidadari
satu dua tertelan belang
hingga satu terjatuh hati
dia yang tertakdir
pikuk dunia penuh kereta
asap berbagai mesin
dihiasi terbangan sampah
hijau semakin tak dijumpa
aku lelah jalan
raga kian lemah
hati tak lagi bernyanyi
hanya satu sisa langkah
kemana kan kupergi
ayu tingting juga bingung
apalagi aku yang tak lagi tingting
mungkin tidur akan melupakan sebagiannya
harapku esok asa telah lenyap
Larut dalam iringan waktu
berganti sesuap mimpi
hasil doamu ibu di ka'bah
amien.......